Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Harus melakukannya


__ADS_3

Regan mendekati Seril disaat Seril tengah duduk sendirian di meja makan. Sedangkan Dira dan Darren berada di kamarnya untuk menidurkan baby Rendi, dan untuk para sesepuh duduk di ruang keluarga.


Seril yang tengah menikmati puding rasa coklat begitu sangat menikmatinya. Regan duduk di samping Seril seraya menampilkan senyuman manisnya.


"Kamu suka puding?" Tanya Regan seraya memiringkan tubuhnya ke arah Seril.


Seril mengangguk sembari menghabiskan pudingnya. Kemudian Regan mengulurkan tangannya.


"Aku Regan," ucap Regan memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya.


"Seril," balas Seril menjabat tangan Regan.


Mang Ujang yang mau ke kamar mandi, melihat Regan tengah mendekati putrinya. Mang Ujang terus memperhatikan gelagat Regan yang sepertinya menyukai putrinya. Mang Ujang mendelik menatap Regan. Mang Ujang yang niat awalnya mau ke kamar mandi, menjadi berbelok menghampiri Seril dan Regan.


"Ehem...." Dehem mang Ujang.


"Eh... Mang Ujang," ucap Regan sopan dan mang Ujang mengangguk pelan dengan tatapan dingin.


"Ril, sana temani ibumu di depan," titah mang Ujang.


"Iya, pa." Seril pun mengangguk dan menuruti ucapan bapaknya. Seril pun meninggalkan Regan begitu saja dan tanpa melihatnya.


Mang Ujang melirik tak suka terhadap Regan yang terlihat jelas menyukai putrinya itu. Kemudian mang Ujang berlalui dari hadapan Regan dan melanjutkan niatnya ke kamar mandi.


Very, Arga dan Mateo menemui Regan.


"Sepertinya elo harus berjuang meraih hati bapaknya dulu," seloroh Very sembari tertawa kecil sembari menepuk-nepuk bahu Regan. Arga dan Mateo juga ikut tertawa.


Regan mendengus sebal dengan ejekan temannya itu.


"Eh, gue lupa. Selamat ya bro, akhirnya sekarang istri elo bisa bicara dan gue sudah dengar ceritanya dari Darren. Soal tiba-tiba istri elo bisa bicara," ucap Regan kepada Mateo.


"Iya, sama-sama. Buat gue, kelahiran baby Rendi membawa keajaiban buat istri gue," tukas Mateo.

__ADS_1


"Semoga istri elo juga cepat hamil," timpal Arga.


"Aamiin... Doain ya," jawabnya dengan senyum simpul.


***


Darren terus menggoyangkan tubuhnya sembari menggendong malaikat kecilnya yang saat ini tengah mengerjap-ngerjapkan matanya, sedangkan Dira tengah tidur siang.


Wajah baby Rendi berubah memerah dan sedikit mengeden.


"Kok bau ya...." Gumam Darren mengendus bokong baby Rendi.


"Ade pup ya," ucap Darren.


Darren melangkah ke meja panjang dan meletakkan baby Rendi di kasur kecil yang beralas karpet kecil khusus buat bayi. Darren bingung gimana membersihkannya, sedangkan Dira tengah terlelap tidur.


"Aduh! Gimana ini? Aku nggak tahu caranya dan mana mungkin aku ngebangunin Dira." Darren bimbang tak tahu harus bagaimana.


Dengan terpaksa Darren membuka bedongnya dan membuka celananya, setelah itu membuka diapers nya. Darren langsung menutup hidungnya melihat pup baby Rendi, lalu Darren kembali menutup diapers nya. Selain karena bau, Darren merasa jijik jika dirinya harus membersihkannya.


"Apa aku bangunin Dira aja ya, tapi... kasihan Dira kan semalam kurang tidur dan bergadang menjaga anakku." Darren dilema. "Apa aku panggil mami aja kalu." Tukas Darren mengangguk-angguk, secepat kilat Darren mengambil handphonenya yang sedang di isi daya di meja rias.


Sambil jalan Darren mendial nomor mami Yuli, tapi sayang panggilan teleponnya tidak di angkat-angkat.


Karena kelamaan dan juga baby Rendi sudah merasa tidak nyaman karena pup nya. Baby Rendi pun mulai merengek dan menangis.


"Jangan nangis dong sayang," ucap Darren seraya menepuk-nepuk pelan perutnya baby Rendi.


"Iya-iya... Papa bersihkan."


Walau bau dan jijik, Darren harus membersihkannya. Darren mengambil tisu basah dan mengangkat kedua kaki anaknya itu lalu mulai membersihkannya pelan-pelan. Darren menahan nafasnya ketika tangannya bergerak membersihkan bokong baby Rendi.


Dira terbangun karena mendengar suara tangis baby Rendi. Dira tersenyum melihat Darren tengah membersihkan bokong anaknya itu. Dira bergegas turun dari ranjang dan menghampiri Darren.

__ADS_1


"Kenapa nggak bangunin aku," seloroh Dira.


"Eh! Kok sudah bangun?"


"Gimana nggak bangun, kalau telingaku menangkap suara tangisan anakku. Sini biar aku saja." Dira mengambil alih membersihkan baby Rendi dan Darren segera mencuci tangannya.


"Kamu mau lanjut istirahat lagi," ucap Darren, lalu mencium pipi baby Rendi.


Dira menggeleng, lalu Dira duduk di atas ranjang dan memberi ASI untuk baby Rendi.


"Kalau gitu aku temui teman-temanku."


"Iya..." Dira mengangguk tanpa melihat Darren, karena tatapan Dira tengah fokus memperhatikan bayinya yang tengah meminum ASI-nya langsung dari sumbernya.


Darren keluar dan segera turun menemui sahabat somplaknya itu.


Darren langsung duduk di samping Mateo. "Regan sudah pulang?" Tanya Darren karena tidak melihat Regan.


"Belum. Dia lagi deketin Seril terus, padahal tadi kami melihat kalau mang Ujang tidak suka kalau Regan mendekati Seril," kata Very.


"O ya...."


"Iyalah," lanjut Very.


"Bagaimana nggak suka, sedangkan mang Ujang tahu kelakuan Regan seperti apa," sambung Darren.


"Iya sih...." Very membenarkan perkataan Darren.


"Dan kali ini Regan harus berjuang meminta restu mang Ujang," sambar Mateo.


"Kita lihat saja nanti, apa Regan berhasil mendapatkan Seril dan bisa menaklukkan hati mang Ujang," pungkas Darren.


_______***______

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘


To be continued....


__ADS_2