
Saat ini Dira sudah berada di rumah sakit dan sudah mendapatkan perawatan intensif paska melahirkan. Darren juga sudah memberi tahu orang tuanya tentang Dira yang sudah melahirkan.
Dira yang sudah di pindahkan ke ruang rawat, tengah tersenyum penuh bahagia melihat sang buah hatinya yang berjenis kelamin laki-laki. Bayi yang sehat dengan berat badan 3 kg dan panjangnya 53 cm. Bayinya itu sangatlah mirip dengan Darren. Bayi laki-laki yang belum di beri nama itu tengah di beri ASI.
Darren yang duduk di samping Dira menatap haru melihat malaikat kecilnya itu yang begitu lahap memompa ASI nya langsung dari sumbernya.
"Sayang, terima kasih ya... Sudah berjuang melahirkan anakku," ucap Darren, kemudian Darren merangkul pundak Dira dan mencium pucuk kepala Dira lalu berpindah menciumi sang buah hati.
"Anakku sangat lucu dan ganteng kaya papanya," puji Darren seraya mengelus pipi merah sang buah hatinya.
Dira mengangguk sembari tersenyum, setelah itu Dira melepaskan diri dari mulut bayinya karena bayinya sudah berhenti meminum ASI-nya dan tertidur pulas di gendongannya.
Tok tok tok
Darren segera membukakan pintunya, dan ternyata yang datang adalah Anin dan Mateo.
"Ayo masuk," suruh Darren membukakan pintunya lebar. Anin mengangguk dan segera melangkah menghampiri Dira yang tengah menggendong bayinya.
Sampai saat ini Anin belum menyadari kalau dirinya sudah bisa berbicara. Anin tetap berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
Anin tersenyum sumringah melihat bayinya Dira. Anin memberi isyarat kepada Dira meminta untuk menggendong bayinya itu.
Dira mengernyitkan dahinya, karena Anin meminta menggendong bayinya itu menggunakan bahasa isyarat. Akan tetapi Dira tetap memberikan bayinya itu untuk di gendong oleh Anin.
"Anin...."
Dira menyentuh tangan Anin dan Anin menatapnya.
"Coba kamu ucapkan kata bayi," pinta Dira sembari menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang.
__ADS_1
"Kenapa kamu meminta Anin mengucapkan kata bayi?" Tanya Mateo heran dengan permintaan Dira. Jelas saja Anin tidak bisa mengucapkannya. Pikir Mateo.
"Karena sewaktu bayiku sudah lahir dan berada di pangkuan Anin. Aku mendengar Anin mengeluarkan suaranya dan berucap kata bayi dan itu sangat jelas di telingaku," terang Dira dan di anggukan juga oleh Darren.
"Masa...!" Mateo tidak percaya, karena sejak tiba di rumah sakit Anin tetap berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
"Beneran, aku nggak bohong."
"Ayo, Nin. Coba katakan bayi," ulang Dira memintanya.
Anin mencobanya, tapi Anin belum mengeluarkan suaranya, hanya gerakan bibirnya saja.
"Sudahlah. Jangan paksa dan mana mungkin Anin bicara," kata Mateo.
"Ayo coba lagi, Nin," tukas Dira dan mengabaikan ucapan Mateo.
"Tarik nafas dalam-dalam lalu buang pelan-pelan," instruksi Dira kepada Anin dan Anin mengikutinya.
"Ba... yi...." Ucap Anin pelan.
"Lebih keras lagi," pinta Dira dengan mata berbinar.
"Bayi...!" Lantang Anin.
Mateo terperangah mendengar sang istri bisa bicara, bahkan Anin sendiri sama tidak percayanya dengan apa yang di ucapkannya. Anin membekap mulutnya dan matanya mulai berembun. Anin menatap satu persatu orang yang di dekatnya, seolah ini semua hanyalah sebuah mimpi.
"Sa-sayang...." Mateo terbata-bata dan tak menyangka kalau istrinya itu bisa bicara dan ini adalah sebuah keajaiban.
"A-aku... bi-bisa... bi-cara," ucap Anin terbata-bata dan tak menyangka.
__ADS_1
Dira dan Darren mengangguk, lalu Mateo langsung memeluk Anin dengan rasa yang sangat bahagia. Mateo tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya dengan kata-kata.
"Kamu bisa bicara sayang. Terima kasih ya Tuhan, terima kasih... akhirnya istriku bisa bicara."
Anin menangis di pelukan Mateo, kali ini adalah tangisan kebahagiaan. Mateo tak henti-hentinya menciumi pucuk kepala Anin.
Oek... Oek... Oek....
Sang bayi yang berada di gendongan Anin menangis kencang karena merasa tidurnya terganggu dengan pelukan Mateo terhadap Anin.
"Maaf-maaf! Om lupa," tukas Mateo sembari menepuk-nepuk pelan tubuh sang bayi.
"Sini... biar aku saja yang gendong," pinta Darren dan Anin menyerahkannya kepada Darren. Setelah itu Mateo kembali memeluk Anin.
Darren mendekati Dira dan duduk di samping Dira. Mateo menyentuh dagu Anin dan mengadahkan kepala istrinya itu lalu Mateo menyambar bibir ranum Anin.
Darren dan Dira membulatkan bola matanya melihat aksi Mateo yang mencium bibir Anin di depannya.
"Cih... Bisa-bisanya ciuman di depan anak bayi," cibir Darren seraya menutupi mata sang anak.
"Biarkan saja, mereka tengah berbahagia," bisik Dira seraya menangkubkan kedua tangannya di pipinya. Dira juga ikut bahagia melihat sahabatnya itu bisa sembuh dari tunawicara yang di deritanya sedari kecil.
________***_________
Terima kasih masih setia menunggu cerita ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
Salam sayang ππ
__ADS_1
To be continued....