Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Siap membuka sarang


__ADS_3

Darren meminjam mobil Mateo, karena Darren ingin mengajak Dira jalan-jalan menghabiskan quality time bersama di hari ulang tahun Dira yang ke dua puluh tahun.


Darren tiba di sebuah rumah makan yang tempatnya di kelilingi kolam ikan, bahkan tempat yang mereka tempati di atas kolam ikan. Pelayan rumah makan menghampiri Dira dan dan Darren, sembari mengulurkan buku menu kepada keduanya.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Darren sembari melihat buku menu.


"Ikan cobek, kayaknya enak," jawab Dira.


"Terus apa lagi?" tanya Darren lagi.


"Eemm... apa ya? terserah kamu deh, apa yang kamu pesan pasti aku makan," sambung Dira bingung memilih menu makanan.


"Aku pesan ikan nila goreng, ikan cobek, cah kangkung, tahu dan tempe. Untuk minumannya es teh manis, dua." Pesan Darren kepada pelayan tersebut.


Setelah itu, pelayan pergi meninggalkan Dira dan Darren. Dira menatap sekeliling tempat makan itu sembari bersandar di pagar. Darren berpindah tempat duduknya dan memeluk pinggang Dira dari samping, keduanya tersenyum lalu kepala Dira bersandar di bahu Darren.


"Aku mau bertanya, kenapa kamu mengadakan ulang tahunku di kebun singkong, bukan di rumah atau di taman gitu?" tanya Dira karena Darren merayakan ulang tahunnya di tempat yang sangat jauh dari ekspektasinya.


"Ya... karena aku ingin yang berbeda dari yang lain. Bukan berarti aku tidak mampu menyewa tempat tapi aku hanya ingin menjadikan kebun adalah tempat kenangan kita. Di awali dari kita terjebak di gubuk karena hujan, bukannya itu juga di kebun orang. Maka dari itu, buat aku kebun adalah awal kita memulai kehidupan baru kita."


"Oh...."


"Apa kamu keberatan?" tanya Darren.


Dira menggeleng cepat. " Nggak kok, justru aku mau mengucapkan terima kasih, karena sudah memberi kejutan untukku, bahkan aku sendiri lupa kalau aku hari ini ulang tahun."


"Tenang saja, aku akan selalu jadi alarm buat kamu di setiap tahunnya. Agar kamu selalu ingat hari ulang tahun kamu."


Dira tersenyum, begitupun juga Darren.


***


Selesai mengisi perut, Darren mengajak Dira bermalam di hotel Bagus. Bukan Darren tak mampu menyewa hotel mewah, akan tetapi di kota kecil itu tidak ada hotel seperti di ibu kota.


Dira menurut saja, karena memang sudah lelah dan ingin segera beristirahat. Dira dan Darren tiba di hotel yang sudah di pesannya. Dira langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari memejamkan matanya. Sedangkan Darren memilih membersihkan diri.


Selama Darren mandi, Dira bangun dan pandangan tertuju kepada kado yang di kasih oleh Mateo. Dira meraih kado tersebut dan membuka isi kado yang di berikan untuknya.

__ADS_1


"Kira-kira apa ya isinya? tapi kenapa hanya kado dari kang Teo, sedangkan kado dari yang lainnya nggak ada?" gumam Dira sembari membuka kadonya.


"Ternyata baju? tapi kenapa bajunya sangat tipis seperti jaring ikan?" gumam Dira heran dan mengangkat baju super tipis. Di dalam kado tersebut ada sepucuk surat, Dira mengambil dan membaca isi surat dari Mateo.


...'Jangan lupa pakailah saat kamu akan dinas malam. Jika kamu mengenakan pakaian ini, kamu akan dapat pahala karena menyenangkan hati suami kamu.'...


Dira kembali menyimpan lingerie ke dalam kardusnya dan menutup kembali.


" Pakai ngga ya...." lirih Dira ragu untuk mengenakannya.


Ceklek.


Darren keluar dari kamar mandi hanya memakai celana bokser, dengan rambut basahnya yang menetes ke tubuhnya.


" Sini...." pinta Dira.


Darren mendekati Dira dan duduk di samping Dira. Tangan Dira mengambil handuk yang bertengger di lehernya Darren, kemudian Dira berdiri dan mengeringkan rambut Darren yang basah.


Darren tersenyum, atas perhatian kecil Dira. Kedua tangan Darren memegang pinggang Dira dengan senyum terus tersungging di bibirnya.


"Terima kasih, Ra," jawab Darren sembari mengadahkan pandangannya menatap Dira yang berdiri di hadapannya itu. Dira hanya mengangguk kecil dan juga tersenyum.


"Aku juga mau bersih-bersih, badan aku sudah lengket banget," ujar Dira yang mundur dari hadapan Darren, lalu Dira membawa kado dari Mateo.


Dira melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, kini Dira sudah berdiri di depan cermin westafel dan hanya menggunakan handuk. Dira melirik lingerie yang masih tersimpan di tempatnya. Dira membuka dan mengangkat lingerie itu.


"Pakai nggak ya...." ujar Dira ragu.


"Bismillah... sudah saatnya aku harus menyerahkan haknya Darren dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri," gumamnya.


Dira mengenakan lingerie itu, serta di buka ikatan rambutnya, di biarkan rambutnya tergerai. Kemudian Dira melangkah menuju pintu dan menekan handle pintu dengan perasaan yang campur aduk.


Dira membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar dengan menggigit bibir bawahnya. Dira melihat Darren masih duduk di tepi kasur.


Darren yang sibuk berbalas pesan dengan Mateo, tidak memperhatikan Dira yang kini sudah berdiri tidak jauh dari kasur.


"Ren...." panggil Dira pelan, bahkan sangat pelan.

__ADS_1


"Hem... apa?" jawab Darren yang belum mengangkat kepalanya karena belum selesai berbalas pesan dengan Mateo.


Selesai berbalas pesan, kepala Darren terangkat dan menatap Dira yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ra, kamu...."


Darren terpaku melihat penampilan Dira yang hanya mengenakan lingerie yang benar-benar sangat terawang, bahkan Darren bisa melihat lekuk tubuh Dira. Darren menelan Salivanya melihat Dira yang terlihat sangat seksi.


Dengan ragu Dira melangkah mendekati Darren yang masih terpaku di tempatnya. Kini Dira sudah berdiri di hadapan Darren.


Pandangan keduanya bertemu. Darren menatap Dira lekat, bahkan Darren memandangi Dira dari atas sampai bawah.


"Malam ini, aku serahkan sesuatu yang berharga di tubuhku kepada kamu. Suamiku." Dira berucap lirih.


Darren berdiri dari duduknya dan tersenyum menatap wajah cantik Dira yang kini menundukkan kepalanya.


Tangannya terulur menyentuh dagu Dira dan mengangkat kepala Dira agar dirinya dapat melihat kedua bola mata Dira.


"Dengan senang hati aku menerimanya, wahai istriku yang paling cantik dan yang paling aku cintai."


Darren mengusap pipi Dira lembut, lalu Darren mencium kedua mata Dira, lanjut mencium kedua pipi, setelah itu Darren mencium hidung Dira dan terakhir berlabuh di bibir Dira.


Ciuman yang sangat lembut agar bisa menikmati manisnya bibir sang istri, yang memang sudah menjadi candunya.


Darren menarik pinggang Dira agar merapat ke tubuhnya, sedangkan satu tangannya berada di belakang kepala Dira.


Keduanya terus saling memagut dan saling berbalas ciuman. Darren menggigit bibir bawahnya Dira dan menerobos masuk untuk membelit lidah Dira dan juga saling bertukar salivanya.


Dira dan Darren hanyut dalam ciuman yang semakin membara. Bahkan kini, kedua tangan Dira melingkar di leher Darren. Ciuman mereka semakin dalam dan memabukkan, membangunkan gelora gai rah yang kini sudah saling menginginkan.


Darren menghentikan ciumannya dan berbisik di depan bibir Dira.


"Ra, apa kamu sudah siap?"


Dira membuka matanya, menatap bola mata Darren yang sudah berkabut gai rah.


"Iya... aku sudah siap menyerahkan seluruh tubuh ini hanya untukmu."

__ADS_1


__ADS_2