Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Manjanya Dira


__ADS_3

Dira sudah di pindahkan ke ruang perawatan, dan saat ini Dira kedatangan Bu Kokom, Seril dan juga uwa Salim beserta istrinya yang bernama uwa Inah. Semua keluarga Dira sangat bahagia mendengar kalau Dira tengah berbadan dua. Semuanya mengucapkan rasa syukur atas kabar yang membahagiakan ini.


"Ingat pesan dokter, Ra. Kamu kan habis mengalami pendarahan, jadi kamu harus banyak-banyak istirahat." Nasehat uwa Inah yang duduk di kursi samping tempat tidur.


"Iya, wa...." jawab Dira.


"Jangan kerja yang berat-berat dulu. Urusan rumah biar Darren yang ngerjainnya," lanjut uwa Inah sembari menepuk tangan Dira.


"Iya...."


"Uwa, doain. Semoga kandungan neng Dira selalu sehat dan tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan sampai saatnya neng lahiran," imbuh uwa Inah.


"Aamiin...."


Sedangkan Darren dan uwa Salim duduk di luar kamar rawat Dira, mereka bergantian masuk menjenguk Dira dan membicarakan perihal kejadian saat Dira mengalami pendarahan.


Darren menceritakan semuanya kepada uwa Salim soal muasal masalah ini terjadi. Darren menceritakan semuanya dengan rasa kesal, apalagi saat Darren menceritakan tentang Dira yang di dorong oleh Siska. Semakin bertambah lah kekesalan Darren.


"Terus, apa yang akan kamu lakukan?" tanya uwa Salim.


"Aku akan melaporkan mereka ke polisi, terutama Siska dan Andi," berang Darren berucap.


"Kalau menurut uwa, jangan kamu laporkan mereka. Memang tindakan mereka sangat keterlaluan dan hampir saja membuat Dira keguguran."

__ADS_1


"Nggak bisa begitu uwa. Bagaimana kalau mereka berulah lagi," sergah Darren yang tak ingin kejadian ini terulang lagi.


"Biar uwa yang akan menyelesaikan masalah ini dan uwa janji, mereka nggak akan mengganggu Dira lagi. Tugas kamu adalah menjaga Dira dengan baik, karena hanya kamu harapan uwa dan satu lagi... tolong jangan sakiti Dira."


"Kalau soal itu jangan di ragukan, wa. Aku pasti akan menjaga Dira dengan segenap hatiku."


"Bagiku, Dira adalah nyawaku, tulang rusukku yang Tuhan kirim hanya untukku, dan aku berjanji akan selalu membahagiakan Dira, sampai akhir hayatku," lanjut Darren.


"Terima kasih, uwa berharap kamu bisa menepati janjimu," sambung uwa Salim.


Darren dan uwa Salim kemudian tersenyum bersama, tangan uwa Salim beberapa kali menepuk bahu Darren.


Uwa Inah, Bu Kokom dan Seril keluar dari ruang rawat Dira.


"Pak, ayo kita pulang, nanti keburu malam lagi," ajak uwa Inah kepada suaminya.


"Ren, tolong jaga Dira. Maaf, kami semua tidak bisa menemani kamu dan Dira disini," ucap Bu Kokom.


" Iya, nggak apa-apa bi. Kata dokter juga besok Dira sudah di perbolehkan pulang," timpal Darren sembari tersenyum.


"Kami pulang dulu," pamit uwa Inah.


"Iya... hati-hati di jalan."

__ADS_1


Setelah semuanya pergi, Darren segera masuk dan melihat Dira tengah tidur meringkuk. Darren tersenyum dan mendekati Dira yang sudah tidur, Darren membenarkan selimutnya dan mencium kepala Dira.


"Selamat malam istriku sayang. Semoga mimpi indah...." bisik Darren.


Darren akan melangkah menuju sofa dan berniat untuk beristirahat, tapi langkahnya di cekal oleh Dira yang kini menatapnya sayu.


"Aku pikir sudah tidur," tukas Darren.


"Mana mungkin aku bisa tidur nyenyak, sebab guling hidupku nggak ada di samping aku," sahut Dira dengan nada manja.


Darren tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya, biasanya dirinya yang selalu berucap seperti itu.


Dira menggeserkan tubuhnya. "Sini...." pinta Dira seraya menepuk ranjang agar Darren tidur di sampingnya.


"Tapi sebelum tidur, buka baju kamu."


"Kenapa harus buka baju?" tanya Darren bingung.


"Karena aku suka peluk kamu tanpa mengenakan baju, apalagi aku bisa mencium wangi ketek kamu. Ayo... cepat, buka bajunya," pinta Dira tak sabaran.


"Demi bumil, aku rela melakukannya. Asal jangan minta yang aneh-aneh."


Darren segera membuka bajunya, setelah itu Darren berbaring di samping Dira dan langsung memeluknya.

__ADS_1


Dira tersenyum senang, dan segera menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Darren yang tak mengenakan baju. Tangan Dira mengusap lengan berotot Darren, seraya mencium bau ketiak Darren yang menurut Dira wangi ketiak Darren selalu membuatnya rileks. Dira terus mengusap tubuh kulit Darren seraya mencium dada Darren. Lama Dira mengelus kulit tubuh Darren dan lama-kelamaan membuatnya mulai merasakan ngantuk dan terlelap tidur. Sedangkan Darren masih terjaga memeluk Dira, yang menurutnya Dira semakin manja dan juga mudah ngambek juga cengeng.


Aku nggak nyangka, kalau sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Aku jadi teringat akan kedua orang tuaku yang selalu menginginkan aku segera menikah dan menginginkan cucu. Apa mereka akan senang bila mendengar kabar kalau sebentar lagi akan segera memiliki cucu? Bagaimana kabar mami sama papi, aku jadi merindukan mereka.


__ADS_2