
Mateo mendengus menatap lurus ke depan, dirinya tengah terduduk seorang diri di teras dan hanya di temani secangkir kopi buatannya.
Lelaki itu kesepian, karena sampai siang hari kedua suami istri itu tak kunjung pulang. Mateo mengusap perutnya yang sedari tadi berdendang ria meminta di isi.
"Gue lapar banget, kapan sih tuh Darren dan Dira pulang. Seneng banget sih nyetak anak sampai melupakan gue di rumah. Masa iya gue makan Indomie lagi. Huh... nasib-nasib! begini amat hidup gue," keluh Mateo.
Mateo beranjak, lalu menutup pintu rumah dan tidak lupa menguncinya. Dia memutuskan pergi ke warteg, meski letak warteg nya cukup jauh dari rumah dan juga dirinya terpaksa harus berjalan kaki karena mobilnya di pakai oleh Darren.
Di pertengahan jalan, Mateo bertemu dengan Anin yang baru pulang dari pasar. Mateo tersenyum simpul melihat Anin dan segera melangkah menghampiri Anin yang sedang berjalan sendiri sembari membawa satu kantong plastik hitam di tangannya.
"Hai... baru pulang dari pasar, ya?" sapa Mateo.
Anin mengangguk dan tersenyum menatap Mateo.
"Kamu mau nggak nemenin aku makan, soalnya aku malas jalan sendirian dan juga nggak ada teman untuk mengobrol."
Anin mengernyitkan dahinya, kemudian satu tangannya terangkat dan mengucupkan kelima jarinya lalu membukanya dengan gerakan mengulang, setelah itu menggerakkan tangannya ke kana dan ke kiri.
Mateo bertepuk jidat, dia lupa kalau Anin tidak bisa berbicara, bagaimana mungkin dirinya mengajak Anin mengobrol seperti orang normal.
"Maaf, aku lupa. Tapi kamu mau kan nemenin aku makan, aku malas kalau harus makan sendiri," ujar Mateo memohon agar Anin menerima ajakannya.
Anin mengangguk kecil dan tersenyum simpul.
"Kalau gitu, kamu tunjukkan dimana warung nasi yang menurut kamu enak."
Anin mengangguk lagi, mereka berdua berjalan dan Anin menunjukkan ke salah satu warung nasi di sebrang jalan. Mateo menarik tangan Anin dan menggenggamnya saat akan menyebrang jalan, Anin menatap tangannya yang di genggam oleh Mateo dan hal itu membuat jantungnya berdegup kencang.
Tiba di warteg, Mateo langsung memilih makanan lalu melirik Anin yang berdiri di sampingnya. Mateo tidak sadar kalau dirinya masih menggenggam tangan Anin.
"Kamu mau makan pakai apa?" tanya Mateo, Anin melirik tangannya yang masih di genggam oleh Mateo.
Mateo mengikuti arah pandangan Anin dan seketika langsung melepaskan tangan Anin.
"Maaf, aku lupa," ringis Mateo dan hanya di balas senyuman saja oleh Anin.
"Kamu makan apa?" tanya ulang Mateo. Anin menunjuk orek tempe dan telur balado.
__ADS_1
"Ada lagi?" tanya Mateo lagi dan Anin menggeleng.
Mereka berdua duduk berdampingan, setelah itu makanannya sudah tersaji di hadapan mereka. Mateo dan Anin segera memakannya. Selesai makan, Mateo langsung membayarnya.
"Anin, aku mau menawarkan kerjaan sama kamu. Apa kamu mau kerja di restoran aku, kebetulan aku punya restoran. Daripada kamu kerja jadi tukang buruh angkut barang di pasar mending kerja di restoran aku."
Anin terdiam, kemudian tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
Anin merogoh buku kecil dan pensil di saku rok yang di kenakannya dan menulis di atas buku tersebut, setelah itu di serahkan kepada Mateo.
Mateo menerima tulisan Anin dan membacanya.
"Maaf, bukannya tidak mau bekerja di restoran tuan, tapi saya tidak bisa meninggalkan ibu saya yang sering sakit-sakitan. Kalau saya kerja jauh dari kampung ini, saya tidak bisa merawat ibu saya, sedangkan saya adalah tumpuan harapan ibu saya. Sedangkan bapak tiri saya tidak pernah merawat ibu saya, jadi maaf kalau saya menolak tawaran tuan."
"Begitu ya... kalau boleh tau ibu kamu sakit apa? maaf jika aku banyak bertanya," ucap Mateo.
Anin kembali menulis dan di serahkan lagi ke Mateo.
"Ibu saya sakit radang paru-paru dan juga liver." Baca Mateo pelan.
Anin menggeleng dan air mukanya berubah muram.
Mateo menatap prihatin, kemudian tangan Mateo menggenggam tangan Anin di atas meja.
"Kalau begitu, besok kita bawa ibu kamu ke rumah sakit agar mendapatkan pengobatan yang tepat dan juga bisa sembuh total," ujar Mateo.
Anin menulis lagi, setelah itu di serahkan kepada Mateo.
"Saya tidak punya uang untuk membawa ibu saya ke dokter. " Mateo membaca lagi tulisan Anin.
"Kamu nggak usah mikirin soal biaya pengobatan ibu kamu, biar aku yang menanggungnya. Asal ibu kamu cepat sembuh dan kamu bisa bekerja di restoran aku."
"Terima kasih." Mateo tersenyum saat Anin mengucapkan kata terima kasih, walau hanya gerakan bibirnya saja dan tanpa suara.
"Sama-sama." Mateo mengangguk kecil seraya mengacak rambut Anin.
__ADS_1
Deg deg deg.
Detak jantung Anin, saat Mateo mengacak rambutnya. Semburat merah di pipi Anin tapi Anin memalingkan wajahnya agar Mateo tidak melihat wajahnya yang merona.
"Ayo, aku akan mengantar kamu pulang," ujar Mateo serta membawa kantong plastik hitam milik Anin.
Anin bangkit dan mengikuti langkah panjang Mateo. Di genggam lagi tangan Anin saat akan menyebrang jalan. Jantung Anin semakin berdebar-debar, ada rasa hangat menjalar ke hatinya ketika Mateo menggenggam tangannya.
Mateo terus menggenggam tangan Anin, meski sudah tidak menyebrang lagi. Mateo terus menggenggamnya sampai tiba di depan rumah Anin.
"Terima kasih, sudah mau menemani aku makan siang. Sekarang masuklah," suruh Mateo dan melepaskan genggaman tangannya.
Anin mengangguk kecil seraya tersenyum simpul mengadahkan pandangannya menatap Mateo.
"Aku langsung pulang ya," pamit Mateo seraya menyerahkan kantong plastik milik Anin.
Mateo melangkah meninggalkan Anin yang masih berdiri di depan rumahnya, setelah itu Anin masuk ke dalam rumah dan mendapati ibunya tengah di siksa oleh bapak tirinya.
Anin berlari menghampiri ibunya yang tergeletak di lantai dengan wajah memar bekas pukulan bapaknya.
"Dasar istri tidak berguna!! sudah tua, penyakitan lagi!!" hardik Supri.
"Kamu juga, anak tidak bisa di andalkan! Sekarang serahkan hasil kerja kamu!!" Hardiknya seraya mengadahkan tangannya kepada Anin, tapi Anin menggeleng dan tidak mau menyerahkan uang hasil kerjanya menjadi buruh angkut barang di pasar.
Supri mendengus, melihat Anin tidak menyerahkan uangnya. Supri menarik rambut Anin dan menekan kedua pipinya kencang.
"Kalau kamu tidak mau menyerahkan uang hasil kerja kamu, bapak akan semakin menyiksa ibu kamu yang penyakitan itu atau bapak akan menggadaikan tubuh kamu ke lelaki hidung belang. Apa kamu mau?!" Ancam Supri yang semakin menarik rambut Anin, sedangkan Anin menggeleng cepat mendengar setiap omongan yang terlontar dari mulut Supri.
"Makanya, sekarang serahkan duitnya."
Dengan sangat terpaksa Anin, menyerahkan uang hasil kerjanya kepada bapaknya. Supri melepaskan cengkeramannya di pipinya, di ambil uang tersebut setelah itu Supri melepaskan tarikan rambut Anin dan mendorong kepala Anin sampai tubuh Anin jatuh ke lantai.
Supri menghitung jumlah uang yang di dapati oleh Anin, kemudian mendengus melirik Anin yang kini memeluk ibunya yang sedang menangis.
"Kamu kerja cuman dapet tiga puluh ribu," cibirnya menatap Anin.
" Besok-besok kamu harus lebih banyak lagi mencari duitnya, kalau perlu pulangnya sore agar dapat duitnya lebih banyak." Sentak Supri sembari melangkah keluar rumah.
__ADS_1
"Lumayan buat beli ciu atau bir," seloroh Supri sembari mengantongi uang tersebut.