
"Jenis kelaminnya apa, dok?" Tiba-tiba Oma Ros bersuara.
Seketika semua mata tertuju kepada Oma Ros. Mami Yuli dan Darren tidak menyangka kalau Oma Ros menanyakan jenis kelamin sang baby. Mami Yuli dan Darren saling pandang dan saling mengulum senyum.
"Kita coba lihat, ya...." Timpal sang dokter. Alat USG tersebut di gerakkan lagi untuk melihat jenis kelamin sang baby. Tapi sayang seribu sayang, paha dan kakinya menghalanginya.
"Baby-nya masih malu-malu memperlihatkan jenis kelaminnya," seloroh dokter.
"Jadi...?" Tanya Darren yang penasaran soal jenis kelamin anaknya.
"Jadi, ya... Tidak terlihat karena terhalang sama kakinya," kata dokter. "Mungkin pemeriksaan bulan depan, baby-nya tidak malu lagi," sambungnya.
Selesai pemeriksaan lewat USG, Dira bangun dari pembaringannya di bantu oleh Darren dan setelah itu berjalan ke kursi yang berada di depan meja dokter.
"Gimana... ibu senang kan melihat cicit ibu?" Bisik mami Yuli kepada Oma Ros sembari melangkah bersama mendekati Dira dan Darren.
"Biasa aja," jawab Oma Ros seraya memalingkan wajahnya. Oma Ros menghindari tatapan mengejek menantunya itu.
Dasar ibu ini... jelas-jelas tadi aku melihat ibu tersenyum samar saat melihat cucuku di layar monitor. Batin mami Yuli.
***
Tiba di rumah, Oma Ros segera masuk ke dalam kamarnya. Usianya yang memang sudah tua membuat Oma Ros sering kelelahan dan kakinya sering terasa pegal-pegal bila terlalu lama di bawa berjalan.
Oma Ros duduk bersandar di kepala ranjang seraya meluruskan kedua kakinya yang pegal.
"Siti...!!" Teriak Oma Ros.
"Siti...!!" Teriak Oma Ros lagi.
Mba Siti datang tergopoh-gopoh dari arah dapur.
"Iya, nyonya Oma. Ada apa?" Tanya Siti yang sudah tiba di dalam kamar Oma Ros.
"Tolong ambilkan minum, setelah itu pijit kakiku," suruh Oma Ros.
__ADS_1
"Baik Nyonya Oma," jawab Siti yang langsung bergegas keluar.
Tiba di dapur Siti mengisi segelas air minum, tapi tiba-tiba perutnya merasa mules. Dira datang ke dapur untuk meletakkan piring kotor ke westafel.
"Kebetulan non Dira datang," cetus Siti seraya meringis menahan mulesnya
"Kebetulan apa memangnya?" Tanya Dira.
"Ini, non. Saya boleh minta tolong," ucap Siti tak enak hati.
"Minta tolong apa?"
"Tolong antarkan minuman ini ke kamar nyonya Oma. Perut saya mules, apa nona bersedia mengantarkan minuman ini." Ucap Siti.
"Baiklah. Siniin minumannya," jawab Dira yang langsung menerima gelas tersebut.
"Terima kasih non. Sekali lagi saya minta maaf sudah berani menyuruh non Dira." Kata Siti tak enak hati.
"Iya...." Jawab Dira dan Siti pun langsung melesat pergi ke kamar mandi.
Tok tok tok.
"Masuk," kata Oma Ros.
Dira masuk ke dalam kamar dengan langkah ragu-ragu.
" Kamu! Kenapa kamu yang mengantarkan minuman itu?!" Bentak Oma Ros yang begitu sinis menatap Dira.
"Mba Siti-nya ke kamar mandi dan katanya perutnya mules. Masa iya aku biarkan mba Siti menahan mulesnya," jawab Dira sembari meletakkan minuman tersebut di nakas.
"Ya sudah sana keluar!" Usirnya ketus.
Dira segera melangkah keluar, tiba di ambang pintu Dira mendengar gumaman Oma Ros.
" Pegalnya telapak kakiku ini," gumam Oma Ros seraya memijat telapak kakinya.
__ADS_1
Dira yang mendengar perkataan Oma Ros, membalikkan badannya dan kembali melangkah mendekati Oma Ros.
"Kenapa balik lagi," ketus Oma Ros.
Tanpa menyahuti perkataan Oma Ros, Dira langsung mendudukkan dirinya di dekat kaki Oma Ros.
"Eh... eh... eh... Siapa yang menyuruh kamu duduk di situ!" Sentak Oma Ros seraya menuding telunjuknya kepada Dira.
Dira mendengus, dan kini kedua tangannya terulur menyentuh kaki Oma Ros.
"Stop!" Bentak Oma Ros. "Berani-beraninya kamu menyentuh kakiku!"
Dira memutarkan bola matanya dan Dira malas berdebat dengan Oma Ros. Dira tetap melanjutkan memijit telapak kaki Oma Ros.
"Stop! Kamu dengar nggak sih," sentak Oma Ros yang terlihat sangat kesal.
"Dengar kok," jawab Dira cuek.
" Terus ngapain masih di sini!" sentaknya lagi.
"Ngapain masih di sini? Ya... karena aku mau memijit telapak kaki Oma yang katanya terasa sangat pegal. Harusnya Oma bersyukur karena ada aku di sini mau memijit kaki Oma dengan ikhlas dan aku minta Oma berhenti membentak aku untuk sekarang ini. Lebih baik nikmati saja pijatan yang akan Oma rasakan."
Oma Ros semakin mendengus sebal melihat Dira yang sok akrab dengannya.
Dira terus memijit kaki Oma Ros di bawah tatapan tajam Oma Ros, tapi Dira tidak memperdulikannya. Lama kelamaan Oma Ros menikmati pijatan lembut tangan Dira sembari memejamkan matanya.
Ternyata pijatannya enak juga. Batin Oma Ros yang begitu menikmati pijatan Dira.
Tanpa terasa dan juga saking menikmati pijatan lembut di kakinya, membuat Oma Ros terlena dan tertidur lelap. Dira tersenyum memandang wajah Oma Ros yang tertidur lelap. Dira bangkit dari duduknya dan menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh Oma Ros, setelah itu Dira keluar dari kamar Oma Ros.
_____***_____
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....
__ADS_1