Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Mendapatkan pekerjaan


__ADS_3

Dira tengah termenung seorang diri di teras, di temani germicik suara hujan. Sejak pertemuannya dengan Andi membuat Dira menjadi sedikit galau. Di dalam hatinya masih terselip rasa cinta untuk Andi. Lelaki yang kini masih merajai hatinya dan belum hilang dari relung hatinya.


"Huft..." Dira menghembuskan nafasnya pelan kemudian mengambil handphonenya di atas meja dan Dira pun membuka galeri. Dira menatap foto dirinya dan Andi yang tengah tersenyum penuh bahagia di kala itu.


"Seandainya kakak tahu, kalau aku masih mencintaimu. Kalau bukan karena ancaman ibu kamu, mana mungkin aku memutuskan hubungan kita." gumam Dira memandangi foto Andi di handphonenya sembari mengelus gambar Andi.


Darren yang mendengar Dira masih mencintai mantan pacarnya, merasa sesak di dadanya. Darren tidak tahu kenapa dadanya merasa sesak melihat Dira masih mencintai mantan pacarnya. Darren menyentuh dadanya dan Darren sedikit menepuk dadanya yang terasa sesak.


"Lagi ngapain berdiri di situ?" tanya Dira yang akan masuk ke dalam rumah dan melihat Darren berdiri di dekat pintu.


Darren terkejut mendengar suara Dira yang kini sudah berdiri di ambang pintu.


"Lagi... lagi nyari cicak yang sedang kawin," ucap Darren asal sembari memperluas pandanganya ke setiap sudut ruangan seolah sedang mencari cicak.


"Cicak? Ngapain cari cicak?"


"Ya... untuk dilihat. Bagaimana cicak kalau sedang kawin." Ucap Darren sedikit tergagap.


"Jawaban yang aneh...." Sembari menggelengkan kepalanya.


Dira melangkah masuk ke kamar dan di ikuti oleh Darren. Dira langsung merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. Darren juga iku masuk ke dalam selimut dan merentangkan tangannya.


Dira mengernyitkan dahinya melihat Darren yang merentangkan tangannya.


"Kok, diem aja sih," cetus Darren.


"Sini gue peluk. Gue tahu kalau elo butuh tempat untuk berbagi kegalauan yang sedang elo rasakan. Makanya gue rela tubuh ini menjadi tempat bersandar buat elo," lanjut Darren penuh percaya diri.


"Siapa juga yang lagi galau."


"Ck, nggak ngaku lagi. Tadi siapa yang berkata kalau dirinya masih mencintai mantannya."

__ADS_1


"Berarti tadi kamu nguping omongan aku, iya!" Desak Dira.


"Tadi gue nggak sengaja denger elo ngomong kalau elo masih mencintai mantan elo, yang gantengnya masih di bawah gue. Bahkan levelnya masih sangat jauh dengan gue."


Darren langsung menarik tangan Dira dan langsung memeluknya seperti guling. Darren mengusap punggung Dira dan membuat Dira merasakan kehangatan dari tubuh Darren apalagi dada bidangnya.


"Tidurlah, mumpung tubuh yang penuh kehangatan ini masih bersedia memberi rasa nyaman buat elo yang sedang galau."


"Terserah kamu saja mau ngomong apa. Yang jelas aku tidak galau."


Dira memilih memejamkan matanya dan segera tidur dari pada mendengar ocehan Darren. Melihat Dira sudah mulai tidur, Darren juga ikut menyusul Dira menjemput sang mimpi, apalagi Darren sudah merasakan rasa nyaman berada di dekat Dira. Apa lagi saat tidur Darren merasakan hangatnya memeluk Dira yang dia anggap sebagai gulingnya.


***


Pagi-pagi sekali Darren sudah pergi untuk berolah raga. Darren berjoging di sekitar kampung. Banyak para warga menyapa Darren, bahkan tidak sedikit para emak-emak maupun para gadis tebar pesona kepada Darren.


Darren menanggapinya dengan senyuman manisnya, yang mampu membuat hati para emak-emak meleleh di buatnya, tak terkecuali para gadis.


"Kenapa mobilnya, pak?" tanya Darren.


"Nggak tahu, tiba-tiba mobilnya mati."


Darren hanya mengangguk kecil, "Boleh gu... eh, maksud saya boleh saya membantu anda, pak."


"Memang akang bisa benerin mobil?"


"Bisa, apa sih yang nggak bisa." Sombong Darren.


Darren segera ke depan mobil dan membuka kap mobil. Darren begitu serius membetulkan mesin mobil, dan kurang dari lima belas menit mobil tersebut sudah di perbaiki oleh Darren.


"Coba nyalakan mobilnya, pak," seru Darren yang masih berdiri di depan kap mobil.

__ADS_1


Bapak tersebut langsung menyalakan mobilnya, dan ternyata mobilnya langsung hidup. Darren tersenyum saat mobil tersebut kembali menyala.


"Terima kasih, kang. Sudah membantu saya membetulkan mobil saya."


"Sama-sama, pak," timpal Darren.


" Kebetulan sekali, saya mempunyai bengkel di ujung sana dan saya lagi membutuhkan tukang montir di bengkel saya. Apa akang mau bekerja di bengkel saya?"" tanyanya penuh harap.


"Bengkel yang di ujung jalan sana?" tanya Darren, seraya menunjuk ke arah ujung jalan di mana letak bengkel tersebut.


"Iya, bagaimana? Apa akang mau?"


"Mau, pak!"


"Kalau begitu, mulai besok akang langsung masuk kerja saja. Saya tunggu akang di bengkel."


"Siap, pak."


"Kalau boleh tahu nama akang siapa?"


"Nama saya Darren, si bule ganteng di kampung ini." Sembari mengulurkan tangannya dan di sambut oleh calon bosnya itu.


"Kalau saya pak Riswan."


Darren menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kepada pak Riswan.


"Oke, kang Darren kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa besok, saya tunggu akang besok di bengkel." ucapnya seraya menepuk bahu lebar Darren.


"Siap, pak."


Bapak Riswan segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Darren yang kini masih berdiri di sana.

__ADS_1


Darren pun segera pulang dan harus memberi tahu ke Dira soal dirinya yang kini sudah menemukan pekerjaan.


__ADS_2