
Di rumah keluarga Yana di Amsterdam, Belanda.
Meja makan yang terbuat dari kayu solid dengan kursi-kursi yang elegan. Ruangan itu dipenuhi dengan cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar, memberikan suasana hangat dan nyaman.
Yana, sudah berusia berusia 38 tahun dengan kecantikan dan kesegaran yang membuatnya terlihat lebih muda, duduk dengan anggun di meja makan. Dia adalah seorang istri dan ibu yang penuh kasih sayang bagi tiga anaknya. Wajahnya terpancar kegembiraan saat dia menyapa keluarganya.
Rudi, suaminya yang tampan dan berpenampilan rapi, duduk di sebelah Yana. Dia adalah seorang pria yang bijaksana dan penyayang, dengan kehadiran yang kuat sebagai kepala keluarga.
Carlo Aldelis dan Charly Aldelis, anak kembar identik berusia 14 tahun, duduk bersebelahan di sisi meja makan. Mereka mirip satu sama lain dengan wajah tampan dan ekspresi penuh semangat. Mereka merupakan anak-anak dari pernikahan Yana sebelumnya dengan Jonathan.
Stefani Andara, anak berusia sepuluh tahun yang ceria dan penuh kecerdasan, duduk di sisi lain meja. Dia adalah anak hasil pernikahan Yana dengan Rudi, dan semangatnya menyebar ke seluruh ruangan.
Sarapan pagi yang disajikan di meja makan adalah perpaduan sempurna antara cita rasa Belanda dan kelezatan internasional. Ada roti segar yang diiris dengan sempurna, dihiasi dengan berbagai macam keju yang lezat. Selain itu, ada juga selai, mentega, dan beberapa macam sereal dan yoghurt. Untuk minuman, mereka menikmati segelas jus jeruk segar dan secangkir kopi hangat.
Percakapan di meja makan berkisar tentang masalah umum di Belanda, termasuk isu-isu lingkungan, kebijakan pendidikan, dan kehidupan kota. Semua anggota keluarga saling berbagi pandangan mereka dengan penuh kecerdasan dan rasa hormat.
Di tengah suasana yang hangat dan harmonis, mereka menikmati sarapan pagi mereka sambil saling bercanda dan tertawa.
Adegan dimulai di ruang keluarga, Yana sedang duduk bersama putra kembarnya, Carlo Aldelis dan Charly Aldelis.
"Weet je wat, jongens? Ik heb net gehoord dat jullie vader, Jonathan, weer getrouwd is!"
(Tahukah kalian, anak-anak? Barusan aku mendengar bahwa ayah kalian, Jonathan, menikah lagi!)
Carlo terkejut "Serieus? Dat is wel een verrassing! Wie is de nieuwe vrouw van papa?"
(Serius? Itu mengejutkan! Siapa wanita baru yang menjadi istri papa?")
"Haar naam is Stefanie. Grappig, hè? Het klinkt bijna hetzelfde als de naam van jullie zusje, Stefani"
(Namanya Stefanie. Lucu, kan? Hampir mirip dengan nama adik perempuan kalian, Stefani.)
Charly juga tertawa renyah sekali."Dat is inderdaad grappig, mama! Ik vraag me af hoe ze eruitziet"
(Memang lucu, Mama! Aku penasaran bagaimana penampilannya.)
__ADS_1
Nou, volgens de berichten is ze nog steeds op de middelbare school. Een behoorlijk groot leeftijdsverschil, nietwaar?"
("Nah, menurut laporan, dia masih duduk di SMA. Perbedaan usia yang cukup besar, bukan?)
Carlo mengangguk dengan ringan,"Ja, dat is wel opmerkelijk. Maar liefde kent geen leeftijd, toch?
(Ya, itu memang mencolok. Tapi cinta tidak mengenal usia, kan?)
" Dat is waar, jongens. Liefde kan op de meest onverwachte momenten en tussen de meest onwaarschijnlijke mensen bloeien. Het belangrijkste is dat ze gelukkig zijn"
( Itu benar, anak-anak. Cinta bisa tumbuh pada saat-saat yang tak terduga dan antara orang-orang yang tidak mungkin. Yang penting adalah bahwa mereka bahagia.)
"Nou, ik hoop dat papa gelukkig is met zijn nieuwe vrouw. Misschien kunnen we haar binnenkort ontmoeten!"kata Charly.
( Yah, aku harap papa bahagia dengan istrinya yang baru. Mungkin kita bisa segera bertemu dengannya!")
"Dat zou geweldig zijn, jongen. We zullen zien wat de toekomst brengt. Laten we hopen dat papa en Stefanie een mooie toekomst samen hebben"
( Itu akan menjadi hal yang baik, Nak. Kita akan melihat apa yang masa depan bawa. Semoga papa dan Stefanie memiliki masa depan yang indah bersama.)
"Ohh mama.ehm tahun ini kebetulan usia kami cocok untuk masuk ke SMA di Indonesia jadi Mama bolehkah aku melanjutkan sekolah di SMA . kalau bisa aku ingin satu sekolah dengan ibu tiri itu"Kata Carlos yang tiba-tiba merubah bahasanya menjadi bahasa Indonesia.
Ini menyiratkan jika dirinya benar-benar ingin mengenal apa itu Indonesia dan ingin mengenal karakter dari ibu tiri kecilnya itu.
Yana yang sedang menggigit rotinya meletakkan rotinya dan memandang ke arah Charlos dengan serius.
"Mama aku juga ingin pergi lagian sejak kecil kami jarang bersama papa. Aku juga ingin mengenal bagaimana papa Mama kan bilang dia sakit tapi sekarang kan sudah sembuh. kasihan banget deh aku sama papa setiap kali mama cerita"kata Charlie pula.
Mereka adalah kembar identik yang jika orang sekali pandang sulit untuk membedakannya. Tapi sebagai seorang ibu yana tentu saja bisa membedakan itu dalam satu detik.
Begitu juga dengan Rudi yang sudah hafal telah algorit mereka, meskipun kapasitasnya hanya sebagai seorang ayah tiri.
"Rudi...
Yana memandang ke arah Rudi seolah-olah mengharapkan jawaban dari pria itu. Rudi juga memandang Yana dan mengangkat bahu.
__ADS_1
"Yan mereka sudah dewasa sampai kapan kau menahan mereka di sisimu.hem ,lagian Jonathan mestinya juga ingin bersama anak-anaknya sendiri bukan"kata Rudi.
Stephanie kecil masih begitu muda dan bahasa Indonesianya masih lamat lamat. dia tidak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan dalam bahasa Indonesia.
Jadi dia tidak begitu peduli dan terus makan dan mengoceh dalam bahasa Belanda tentang makanan yang dia makan hari ini.
Yana masih menatap dua putra kembarnya ini dengan pandangan yang sayu dan berpikir tentang beberapa hal. mereka memang sudah besar.
Hidup di Amsterdam membuat karyanya lebih terbuka dalam segala hal. Terkadang dia juga membuat dua putranya ini lebih mandiri.
Ohh dua kembar ini lebih mandiri daripada dirinya dulu di usia yang sama.
Mengingat itu dengan berarti dia menganggukkan kepala dan berkata,"ohh Oke tapi telepon dulu papa Jonathan mu. Kalau dia bersedia maka Mama juga oke"
Carlos segera berseri-seri ,"Mam, terima kasih banyak atas izinmu untuk pergi ke Indonesia dan bertemu dengan papa Jonathan. Aku benar-benar bersemangat!
Charly juga senang dan segera sorak sorai."Ya, terima kasih, Mam! Ini adalah kesempatan yang luar biasa"
Yana tersenyum penuh kebahagiaan, dua putra kembarnya ini tidak kekurangan kasih sayang ayah ketika mereka tinggal bersama Rudi .Tapi walau bagaimanapun ayah mereka bukan Rudi tapi Jonathan.
"Kalian berdua sangat berharga bagiku, anak-anak. Aku tahu betapa pentingnya bagimu untuk bertemu dengan papa Jonathan dan mengenalnya lebih baik. Aku senang bisa mendukung keinginan kalian"
Carlos dan Charly berpelukan erat dengan Yana, mencium pipi ibu mereka dengan penuh kasih sayang.
"Dank je wel, mam! Je bent de beste moeder ter wereld!"
("Terima kasih banyak, Mam! Kamu adalah ibu terbaik di dunia!")
Charly juga mencium pipi Yana dan berkata."Ja, Mam! We zijn zo dankbaar voor alles wat je voor ons doet!"
(" Ya, Mam! Kami sangat berterima kasih atas segala yang kamu lakukan untuk kami!")
" Jullie zijn mijn alles. Ga en geniet van jullie tijd met papa Jonathan. Belangrijkste is dat jullie gelukkig zijn"kata yana pula.
("Kalian adalah segalanya bagiku. Pergilah dan nikmati waktu kalian bersama papa Jonathan. Yang penting adalah kalian bahagia".)
__ADS_1
Carlos dan Charly merasa begitu bersyukur dan berterima kasih kepada ibu mereka atas izin dan dukungannya. Mereka mengucapkan terima kasih dalam bahasa Belanda, mengungkapkan rasa terima kasih dan cinta mereka dengan penuh kegembiraan. Yana merasa bahagia melihat kegembiraan dan antusiasme anak-anaknya.