
Stephanie merasa hampir saja menangis ketika mendengar bahwa mamanya tidak memberinya izin untuk kembali ke rumah. Dengan hati yang berat, ia berjongkok di sudut kamar Jonathan, membiarkan air mata jatuh dengan diam agar tidak mengganggu Jonathan.
Dalam tangisnya, Stephanie terus mengingat momen saat Jonathan mengucapkan ijab kabul. Dulu, ia tidak menyadari seberapa kuat pengikatan itu, namun sekarang ia merasakannya dengan penuh. Ia merenung tentang betapa pentingnya simbol itu, yang sekarang menjaga dia terikat pada hubungan yang tak bisa ia hindari.
Stephanie merenung dalam hati tentang bagaimana waktu itu ia menganggap ijab kabul hanya sebagai penutup aibnya. Namun, kini ia merasakan penyesalan yang mendalam. Dalam tangisnya yang tak terbendung, Stephanie menggumam, "Ani tidak mau begini, huhuhu, Ani masih ingin sekolah, Ani masih ingin bersenang-senang, Mama, huhuhu."
Di ujung ranjang, Jonathan merasa matanya berkedip beberapa kali saat ia mendengar suara isak tangis yang merayap di kamar. Secara perlahan, ia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Stephanie.
Dalam pikirannya, Jonathan dikuasai oleh adegan-adegan ketika ia menghadapi situasi yang melibatkan Carlos. Rasa bersalah membakar pikirannya, terutama mengingat tudingan-tudingan pedas yang dilayangkan Carlos padanya.
"Aku bahkan belum pernah makan sebutir beras pun dari tanganmu, Papa Jho..." kata-kata itu terus menggema di benaknya, tapi tiba-tiba kesedihan itu tergantikan oleh isakan Stephanie yang terdengar dari sudut kamar.
Secara perlahan, telinga Jonathan mulai menangkap suara tangisan Stephanie yang semakin nyaring. Suara isakan itu meresap ke dalam hatinya, menggugah perasaannya.
"Ani masih begitu muda. Ani ingin merasakan jatuh cinta, ingin kuliah juga. Huhuhu, mengapa Ani harus menikah begitu muda, Mama, huhuhu," Stephanie merintih di sudut kamar.
Tiba-tiba, gambaran wajah marah Carlos di pikiran Jonathan perlahan memudar, digantikan oleh bayangan Stephanie yang menangis. Dia merasakan gelombang empati mengalir ke dalam dirinya, mendekati Stephanie yang berbicara tentang keinginan dan kerinduan yang tumpah di hatinya.
Jonathan merasakan ada sesuatu yang menarik dan memukau dalam kepribadian Stephanie. Meskipun dalam kesedihannya, dia tetap memancarkan pesona yang luar biasa. Matanya yang basah dan wajahnya yang memerah hanya menambah kecantikan alaminya.
Jonathan merasa seolah-olah dirinya terhipnotis oleh ekspresi Stephanie yang tulus. Sejenak, ia terdiam, merenungkan kecantikan dalam kesederhanaan dan tiba-tiba saja mengalami dorongan kuat untuk ingin melindungi Stephanie dan menghapus air mata dari wajahnya.
Jonathan dengan gerakan hati-hati bangkit dari ranjangnya, perlahan mendekati Stephanie yang tengah sibuk menangis. Dengan perlahan, dia duduk di samping Stephanie untuk menyamakan ketinggian mereka berdua. Awalnya, Stephanie tak sadar akan kehadiran Jonathan, tetapi saat dia akhirnya memandang ke arahnya, mata mereka bertemu.
Dalam suasana yang hening, detak jantung keduanya terdengar seperti lonceng yang berdenting dengan cepat. Setiap denyut nadi mereka seolah menggambarkan kecemasan dan ketegangan yang mereka rasakan dalam momen itu.
Stephanie secara perlahan menghentikan tangisnya, tetapi air matanya masih basah di pipinya yang kemerahan. Matanya terbuka lebar, terperangah oleh tatapan intens dari Jonathan. Mereka berdua seakan terhubung oleh aliran energi yang tak terlihat, sebuah cahaya yang memancar di antara mereka.
__ADS_1
"Ani," bisik Jonathan dengan suara yang lembut, menyebut nama panggilan Stephanie.
"Tu... Tuan," Stephanie menjawab terbata-bata, tatapan matanya terus terkunci pada wajah Jonathan.
Jonathan tersenyum dengan lembut, "Ani, berhentilah memanggilku dengan sebutan Tuan. Terimalah kenyataan,suka atau tidak suka, aku adalah suamimu," ucapnya dengan penuh pengertian.
Dengan lembut, Jonathan menggerakkan ujung jarinya untuk menghapus air mata yang masih melekat di pipi Stephanie. Sentuhan itu seolah mengirimkan gelombang listrik melalui tubuh Stephanie. Detak jantungnya semakin cepat, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
Stephanie pernah merasakan perasaan yang kuat terhadap seseorang, seperti yang dia rasakan terhadap Ridho. Namun, apa yang dia rasakan sekarang jauh berbeda. Ini adalah perasaan yang mengguncangkan seluruh dunianya, mengambil alih pikirannya dengan kelembutan dan intensitas yang luar biasa.
Namun, dalam hati Stephanie, dia enggan mengakuinya sebagai "cinta". Dia merasa tak siap untuk mengatakan kata itu, bahkan hanya kepada dirinya sendiri.
"Tidak, Tuan, kau salah, Ani..." Stephanie terhenti saat suaranya terbata-bata. Dia tidak bisa merasakan kebenaran dari kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Jonathan. Pernikahan ini, dengan perbedaan usia yang begitu mencolok dan kenyataan bahwa dia seumuran dengan putra Jonathan, membuatnya sulit menerima kenyataan ini.
Jonathan tidak tersenyum, tetapi tiba-tiba merengkuh Stephanie dalam pelukannya. Dia mendekapnya dengan lembut, lalu berbisik pelan di telinga Stephanie, kata demi kata meresap ke dalam hatinya.
Jonathan melanjutkan, "Ani, walaupun perbedaan usia kita begitu besar, aku akan membuktikan bahwa aku bisa membuatmu bahagia. Izinkan aku menjadi egois, Ani. Aku ingin memilikimu sebagai suami, bukan sebagai majikan. Berilah aku waktu untuk membuatmu jatuh cinta pada pria tua ini."
Dia meraih wajah Stephanie, menatap matanya dengan tulus, lalu melanjutkan, "Tapi, Ani, tolong, jangan mencoba pergi dariku. Tanpa dirimu, aku akan merasa gila. Dunia dalam diriku akan runtuh tanpamu, Ani. Aku tak bisa mengatakan ini adalah cinta, tapi satu hal yang pasti, aku membutuhmu untuk bernafas. Kau adalah udara bagiku dan tanpamu, aku akan mati."
Dengan kata-kata itu, Stephanie yang masih dipeluk dan terbisikkan oleh kata-kata romantis Jonathan merasa kaku . Matanya membelalak, tak percaya akan apa yang dia dengar. Dia tidak bisa bergerak, bahkan jantungnya terasa seolah berhenti berdetak, tertangkap dalam momen intens ini.
Tanpa menunggu jawaban Stephanie, Jonathan mendengus dengan lembut dan menggendong Stephanie ala bridal style dalam pelukannya. Dengan langkah hati-hati, dia mengangkatnya dan meletakkannya dengan penuh kelembutan di atas ranjang. Stephanie hanya bisa menatap Jonathan dengan mata terbuka lebar, tidak bisa memercayai bahwa ini benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, dia merasa seolah-olah dia sedang bermimpi, dengan perasaan campur aduk yang memenuhi dadanya. Wajah tercengang dan bingung Stephani menjadi gambaran nyata dari perubahan yang begitu tiba-tiba dalam hidupnya.
"Ani, aku akan mandi sebentar. Tapi jangan pernah terlintas untuk meminta kamar yang lain. Mulai malam ini, Ani tidur di sini. Kamar ini, rumah ini, dan segala isinya, semuanya untuk Ani," kata Jonathan dengan suara pelan namun penuh ketegasan.
__ADS_1
Dalam hati, Jonathan tahu dia harus memperjuangkan kebahagiaannya sendiri. Dia telah memutuskan untuk menghadapi kenyataan ini, dan dia yakin bahwa hari ini Stephanie mungkin tidak menganggapnya sebagai suaminya, tetapi dia akan bekerja untuk merubah pandangan itu, secara perlahan.
Jonathan bertekad bahwa tidak akan ada kata talak yang akan dia lontarkan untuk Stephanie. Dia telah memutuskan untuk menemukan cara untuk menciptakan hubungan yang lebih dalam, meskipun dengan perbedaan usia yang begitu besar.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Jonathan meninggalkan Stephanie sendirian di kamar, menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar itu sendiri.
Stephanie, yang kini ditinggal sendiri, mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna apakah ini semua nyata atau hanya sebuah mimpi. Namun, kebenaran segera menyadarinya dan dia tahu bahwa ini bukanlah ilusi, melainkan kenyataan yang harus dihadapinya.
Dalam keheningan kamar, Stephanie berusaha untuk merasakan apa yang ada di dalam hatinya. "Apakah ini cinta?" batinnya, "Terlepas dari adanya cinta atau tidak, aku adalah istri Jonathan. Apakah ini adalah tindakan gila?"
Stefanie terperangah dengan pikiran yang kacau. "Apakah Tuan Jonathan berpikir untuk melakukan hubungan suami istri malam ini?" Pikirannya berputar-putar dalam kebingungan. "Tidak, aku masih di bawah umur, eh, sudah lewat 17, tapi aku masih anak-anak, kan? Oh, gimana ini?" Tidak seperti biasanya, dia merasakan adrenalin berdenyut-denyut dalam dirinya, membuat hatinya berdetak lebih cepat.
Dia duduk berpikir lama, terjebak dalam pertimbangan aneh tentang hubungan mereka berdua. Setelah beberapa saat, Jonathan akhirnya keluar dari kamar mandi dengan mengganti pakaian ke dalam pakaian tidur.
Stefanie merasa malu dan memutuskan untuk pura-pura tidur dengan pakaian yang masih terpasang rapi. Pikirannya masih terhanyut oleh percakapan sebelumnya.
Jonathan hanya tersenyum sebentar melihat Stefanie, kemudian berbaring di sampingnya. Tanpa kata-kata, ia merangkul Stephanie dengan lembut. Ada sebuah ciuman singkat yang diberikan pada rambut panjang Stefanie, memberikan kehangatan tanpa memberikan tekanan lebih.
Stefanie menutup matanya, membiarkan dirinya merasakan kedekatan ini. Dia berharap segera tidur, tetapi pikirannya masih penuh dengan tanya-tanya dan kegelisahan.
Tidak lama kemudian, dia mendengar suara napas Jonathan yang semakin dalam, menandakan bahwa dia telah tidur. Sementara Stephanie, meskipun merasa tegang dalam pelukan Jonathan, merasakan dirinya perlahan-lahan terlelap ke dalam alam mimpi.
Namun, di dalam mimpinya, suasana berubah menjadi lebih indah dan lembut. Stephanie berjalan di taman bunga yang penuh dengan warna-warni yang memukau. Dan di tengah-tengah taman, ada Jonathan, mengulurkan tangannya kepadanya dengan senyum lembut di wajahnya.
Stephanie merasa detak jantungnya melambat, seolah-olah waktu berhenti dalam momen ini. Dia meraih tangan Jonathan dengan perasaan damai dan senang. Mereka berjalan bersama, menghirup aroma bunga-bunga dan merasakan kenyamanan yang hangat.
Ketika malam tiba, mereka duduk di bawah bintang-bintang yang bersinar terang. Jonathan meraih tangan Stephanie, menggenggamnya dengan lembut. Tatapan mereka saling bertemu, mengirimkan getaran perasaan yang tak terucapkan di antara mereka.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba suasana berubah dan mimpi Stephanie mulai memudar. Ini karena hari sudah pagi.