
Stefani merenung sejenak di rumahnya setelah mendengar dari Charlie tentang kekhawatiran Jonathan terhadap Carlos. Sebuah keputusan tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.
Dia merasa perlu melakukan sesuatu untuk menghibur Jonathan, terutama karena dia merasa bertanggung jawab atas situasi yang melibatkan Carlos.
"Mama, Ani pikir kasihan deh sama Tuan Jonathan. dia sendirian di apartemennya dan tidak bisa mengungkapkan masalah ini dengan keluarganya Jadi Ani khawatir jika kondisi mentalnya makin memburuk karena ini mama.Jadi Ani ingin pergi ke sana untuk menghiburnya? Mama apakah boleh?"kata Stefani pada Mama nya.
Sari juga sudah mendengar situasi calos dari perbincangan putrinya ini. Dia juga sering khawatir ini akan mengganggu mental Jonathan.
setahunya Jonathan sudah lebih baik dibandingkan dengan beberapa tahun belakangan ini penyakitnya sudah tidak kambuh lagi tapi kemungkinan besar masih akan terganggu jika memiliki masaalah.
Sari juga sudah menyarankan jika Jonathan pulang ke rumahnya untuk berbicara dari hati ke hati dengan keluarganya paling tidak ini pasti akan meringankan beban pikirannya.
Yah setiap orang harus memiliki seseorang tempat dia bisa mencurahkan segalanya agar tidak membebani pemikiran.
istilahnya adalah curhat.
sekarang putrinya mengusulkan untuk pergi menemani Jhonathan. Sari langsung tersenyum mendengarnya bukannya dia menolak Tapi dia cenderung mendorong ke arah itu.
Mereka adalah pasangan yang sudah sah, hanya saja takdir belum berbicara sehingga mereka masih dipisahkan oleh pemikiran-pemikiran yang aneh.
Ah sampai kapan Stephanie bisa menyadari statusnya sekarang.
"Ani pergilah temui dia, mama paling kenal dengan Tuan Jonathan. jadi Mama tidak akan khawatir Jika kamu di apartemen nya "kata sari.
Di sini Stefani malah berpikir mamanya terkesan tidak khawatir karena jhonathan jelas ada indikasi tidak bisa melakukan hal itu kan.
Ini juga yang membuat Stefani merasa nyaman untuk menemani Jonathan. dia tidak akan pernah mengalami masalah wanita dan pria selagi bersama Jhonatan kan.
" Hem kalau gitu Ani siap-siap dulu ya mah, Tuan Jonathan jangan dikabarin biar surprise gitu hahaha"kata Stefani tertawa.
Dia masuk ke dalam kamar nya dan segera berpakaian dengan rapi demi memastikan penampilannya cukup baik untuk menghadapi jhonathan.
Tidak perlu repot-repot mengunakan kosmetik, jadi semua nya tidak berlangsung lama dan dia sudah siap.
"Ma , Ani pergi mah, assalamualaikum"kata Ani pada mamanya ketika dia akan berangkat dengan sepeda motor kesayangan.
" Waalaikumsalam, hati hati ya nak jangan ngebut ya"
Sari memandang kepergian Putri satu-satunya itu dengan mata yang sedikit redup.
sekarang dia tidak perlu lagi menggunakan kursi roda dia sudah bisa melakukan aktivitas ringan di sekitar rumahnya.
Dalam pikirannya Stefani pergi mencari Jonathan itu baik-baik saja Dan dia bahkan berharap agar putrinya bahkan bisa menginap di sana.
__ADS_1
Tapi biarkan saja segala sesuatunya berjalan mengikut takdir Allah.
Tidak lama kemudian Stephanie sudah tiba di depan pintu apartemen Jonathan, Stefani menghela napas dalam-dalam untuk mengatasi gugupnya.
dirinya adalah gadis muda tapi tidak pernah tinggal lama berduaan dengan lawan jenis.Untung saja Jonathan ini tidak normal, ah jadi Stefani bisa percaya diri untuk bertemu dengannya dengan alasan menghibur.
Jika majikan sakit ,maka maka karyawan juga akan kehilangan pekerjaan. Itu artinya kartu unlimited nya pasti akan menjadi kenangan saja.
Jadi apa yang dilakukan oleh Stefani hari ini adalah murni karena kartu kreditnya saja.
Dia membunyikan lonceng dan menunggu dengan harap-harap cemas. Setelah beberapa saat, pintu terbuka, Jonathan muncul di depannya dengan ekspresi campuran antara terkejut dan kebingungan.
"Ani? kenapa kesini?"
Stefani mencoba tersenyum dengan ramah untuk menciptakan suasana yang lebih santai. Dia mengucapkan salam dengan lembut dan menjelaskan niatnya untuk datang.
"Oh tuan Jhonatan, tadi Charlie sempat cerita jika Tuan Jonathan itu sedang tidak nyaman. Ah Tuan , apa Ani tidak diizinkan untuk masuk?" katanya.
Jonathan tampak ragu sejenak, tetapi dengan sedikit tersenyum, dia mengundang Stefani masuk.
Ruang tamu apartemen Jonathan dipenuhi dengan keindahan dan kemewahan yang memancar dari setiap sudutnya. Cahaya alami masuk melalui jendela besar, menerangi furnitur mewah yang terletak dengan rapi. Lantai marmer yang bersih berkilauan di bawah sinar matahari, mencerminkan keindahan ruangan ini.
Di tengah ruang tamu, terdapat sofa berwarna krem yang elegan dan empuk, dikelilingi oleh meja-meja kaca yang indah dengan ornamen-ornamen berbentuk geometris yang artistik. Di sekitar ruangan, terdapat hiasan-hiasan seni lukis mahal yang menghiasi dinding-dindingnya, memberikan nuansa seni dan keanggunan.
Ketika Stefani memasuki ruangan ini, matanya melebar kagum melihat keindahan dan kemewahan yang ada di hadapannya. Dia mengamati setiap detail dengan rasa terkagum-kagum, terpana oleh furnitur-furnitur mewah dan hiasan-hiasan seni yang begitu indah. Ekspresi terkesannya jelas terlihat di wajahnya yang masih muda, memberikan sentuhan imut pada karakter cerianya.
"Wow, ruang tamu ini begitu cantik dan mewah," ucap Stefani dengan gemetar kekaguman di suaranya. " Ani tidak pernah melihat ruangan seindah ini sebelumnya."
Dia bahkan berkeliling ruangan dengan lincah.
"Tuan ,ini beli dimana sih,ohh cantik nya,eh kalau Ani sih bakalan betah tinggal di sini , sofa nya aja empuk , Tuan "
Jonathan yang awalnya terlihat murung, merasakan perubahan suasana hatinya saat mendengar komentar ceria Stefani. Dia merasa senyum tersungging di bibirnya ketika melihat ekspresi terkagum Stefani.
"Terima kasih," kata Jonathan dengan senyum lembut.
Stefani melihat Jonathan dengan keprihatinan saat dia memperhatikan bahwa wajahnya semakin tirus dan pucat. Dia mengambil inisiatif untuk mendekatinya dengan langkah yang perlahan. Dengan matanya yang penuh perhatian, dia memeriksa kondisi wajah Jonathan dengan serius.
Jonathan merasakan kehadiran Stefani yang semakin mendekat membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Matanya sedikit terbelalak oleh perasaan kaget.dan dia merasa aroma segar dan khas remaja Stefani yang menyelimuti udara sekitarnya, menambah daya tarik yang tak terelakkan.
Tanpa di duga, Stefani berani meletakkan tangan nya di dahi jhonathan. Dia tidak tau jika apa yang dilakukannya sekarang sebenarnya membuat Jonathan menjadi gugup sesaat.
Stefani mengamati dengan cermat wajah Jonathan, mengamati tanda-tanda kelelahan yang mungkin terjadi.
__ADS_1
"Tuan Jonathan," Stefani berkata dengan nada lembut, "apakah Anda merasa baik-baik saja?"
Jonathan mencoba tersenyum meskipun merasa sedikit lemah. "Aku baik-baik saja, Stefani. Hanya sedikit lelah."
Stefani kembali menaruh tangan di dahi Jonathan dengan lembut, seakan merasa panasnya suhu kulitnya. " Tuan tampak agak pucat. Sudahkah Tuan makan obat?"
Jonathan menggelengkan kepala dengan perasaan gugup yang belum pernah ada dalam seumur hidup nya. bersama Yana dulu dia hanya merasakan ketergantungan rasa bersalah dan tanggung jawab.
Tapi bersama Stefani dia malah merasakan sesuatu yang berbeda. Jonathan sendiri tidak tahu apa itu yang jelas saat ini dia gugup bahkan ketika Stefani sekedar bertanya.
"Belum, aku..aku belum makan siang."
Stefani mendongakkan kepalanya dengan ekspresi campuran antara kekesalan dan kepedulian.
" tuan Jonathan, ini sudah jam makan siang! Tuan tidak boleh meremehkan makanan dan obat Anda," tegas Stefani. Namun di mata Jhonatan ekspresi marahnya itu,lebih cenderung terlihat imut dan menggemaskan.
Ini aneh dan jhonathan merasa takut dengan perasaan nya sendiri.Apa benar dia menyukai Stefani?
Tidak mungkin kan
Tapi tidak ada alergi padahal tadi Stefani sempat menyentuh dahi nya.
" kalau begitu tuan harus makan sekarang," kata Stefani dengan tegas sambil mengacungkan jarinya ke arah meja makan.
Jonathan tertawa ringan. "Baik, baik. tapi tidak da yang bisa di makan sekarang.Hem bagaimana jika takewey aja "
"Tuan Jho, itu tidak sehat,eh gimana kalau Ani yang masakin. Ani sih nggak pintar masak tapi kalau sekedar untuk masakan rumahan sih, masih bisa di makan lah "
Jonathan belum menjawab tapi Stefani sudah berjalan ke arah dapur.
Sekarang dia sibuk dengan urusan dapur dan sebentar-sebentar dia teriak lagi.
"Tuan Jho,kulkas atau mini market sih, isinya penuh benget"
"Hah emangnya kamu mau masak apa sih Ani?"kata Jhonatan lagi.
Jhonatan segera melupakan masalah Carlos yang menghilang. Dia buru-buru pergi ke arah dapur dan mulai mengikuti Stefani untuk memasak.
Dulu bersama Yana dia bahkan tidak pernah memasuki dapur, ohh salahkan Jonathan karena pernikahan mereka begitu singkat dan tidak pernah merasakan bagaimana rasanya masakan Yana.
Jadi hari ini adalah pengalaman pertama Jonathan untuk masak bersama seorang gadis.
Sayangnya gadis ini masih terlalu muda dan itu pakai banget lagi.
__ADS_1