
Dalam sebuah kelas di sekolah, suasana tenang diisi oleh suara guru yang memberikan pelajaran. Di tengah-tengah ruangan, Stefani duduk dengan tatapan kosong yang terpaku pada Carlos dan Charlie. Dia terlihat absen dari pelajaran dan lebih memperhatikan setiap gerak dan tingkah laku dua saudara kembar tersebut.
Teman-teman Stefani mulai merasa heran dengan perilakunya yang agak aneh. Mereka saling berbisik, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan Stefani. Namun, perhatian Stefani sepenuhnya tertuju pada Carlos dan Charlie, yang duduk beberapa kursi di depannya.
Kemudian, saat pelajaran berlangsung, Carlos tiba-tiba mengangkat tangannya dan memberi isyarat pada guru bahwa dia ingin izin ke toilet. Stefani seketika menoleh dan melihat gerakan itu dengan perhatian penuh.
"Jangan jangan mau janjian sama si kutu kampret itu dengan alasan ke toilet.Ini tidak bisa di biarkan sama sekali"pikir Stefani dalam hati.
Saat Carlos berdiri dan berjalan menuju pintu kelas, tanpa ragu Stefani pun ikut berdiri dan bergerak mengikuti Carlos.
Ketika Stefani berjalan di belakang Carlos menuju pintu, Carlos merasa ada yang mengikuti dan mendekat. Dia berbalik dengan wajah yang agak kaget dan kesal, menemukan Stefani di belakangnya.
"bibi kenapa kamu ikut-ikut sih?" tanya Carlos dengan nada kesal.
Stefani tersentak, sadar bahwa dia telah terlalu jelas dalam mengamati setiap gerakan Carlos. Dia merasa canggung dan tersipu malu. "Oh, maaf. Aku hanya ingin... ke toilet juga," ucapnya sambil berusaha tersenyum.
Carlos mengernyitkan kening, tetapi tampaknya menerima penjelasan yang cukup masuk akal. "Baiklah, tapi tolong jangan mengikuti aku seperti ini lagi. Aku merasa agak aneh."
Stefani hanya mengangguk cepat, masih merasa canggung. Mereka berdua menuju toilet.dan begitu tiba di sana, Stefani memilih jalur yang berbeda untuk menghindari terlihat seperti menguntit. Ketika Carlos sudah di dalam toilet, Stefani merasa sedikit lega dan menyesal atas tindakannya yang agak berlebihan.
Jadi Carlos benar-benar ingin ke toilet kan"pikir nya.
"Eh apa nggak keterlaluan ya?"
Tapi rasa bersalah yang dialami oleh Stefani ini benar-benar hilang mengingat kejadian tadi malam di mana Dia melihat betapa terpukulnya Jonathan.
Flash back.
Tuan Jonathan hanya berdiam diri sepanjang jalan sampai mobil yang dikendarainya tiba di apartemen miliknya sendiri.
Awalnya Jonathan ingin mengantar Stefani pulang tapi Stefani menolak. Dia bilang Jonathan harus istirahat lebih awal karena tidak ingin penyakitnya kambuh.
__ADS_1
Jadilah Stephanie menemani Jonathan pulang ke apartemennya.
Jonathan memasuki apartemennya dengan langkah yang terasa berat. Ekspresi wajahnya mencerminkan kelelahan dan rasa tidak nyaman yang begitu mendalam. Matanya tampak sayu dan raut wajahnya terlihat pucat, seolah-olah sedang mengalami sakit yang ekstrem.
Stefani berjalan di sampingnya, dan meskipun dia sudah menolak untuk dikirim pulang, Jonathan tidak memiliki energi untuk berbicara banyak. Perjalanan dari apartemen Carlos dan Charlie ke apartemennya sendiri terasa begitu berat baginya. Dia merasa sedikit terbebani oleh semua masalah dan situasi yang sedang dihadapinya.
"Ani, mereka adalah harapanku untuk hidup tapi carlos sepertinya sudah menjauh lebih daripada yang aku kira" gumam nya pelan.
Ketika mereka tiba di depan pintu apartemen Jonathan, dia membuka pintu dengan gerakan yang canggung. Dengan langkah ragu, dia memasuki apartemen dan merasa begitu lega bisa duduk di sofa yang nyaman.
Stefani tetap berada di dekatnya, tetapi dia memberikan Jonathan ruang untuk merenung. Meskipun dia bisa merasakan bahwa Jonathan sedang dalam keadaan yang sulit, dia memilih untuk memberi dukungan dengan kehadirannya daripada mencoba untuk menggali lebih dalam.
Jonathan menghela nafas panjang dan memejamkan mata sejenak. Dia merasa lelah, bukan hanya fisik, tetapi juga secara emosional.
"Tuan...
Kata mama, setiap kali ada masalah, Jhonatan lebih suka di bujuk seperti anak anak.Stefani merasa sedih tapi dia memeluk Jhonatan yang tubuh nya sedingin es.
Segera pundak pria itu di tepuk tepuk beberapa kali.Ini persis seperti seorang ibu yang sedang membujuk anak nya.
"Ani,apa mereka membenci ku?aku..aku adalah papa yang tidak kompeten kan?"Bisik Jhonatan.
"Tuan apa yang kau bicarakan? Kau adalah ayah terbaik yang mereka punya.Percaya lah tuan " kata Stefani pelan.
Terkadang orang tidak bisa menghargai apa yang ada dalam depan mata.Tapi ketika semua nya sudah tidak ada lagi,baru mereka sadar,apa yang sudah mereka lewat kan.
Seperti Stefani yang tidak memiliki ayah kan.Dia merasa Charlie dan Charlos cukup beruntung memiliki Jhonatan.
Paling tidak ,papa mereka masih hidup.
Jhonatan benar-benar jatuh dalam sebuah penyesalan yang tidak pernah bisa dia maaf kan.
__ADS_1
Dia melepaskan pelukan Stefani dan tersentak ketika sadar jika Stefani , gadis yang dia ajak bicara begitu muda.
Untuk sesaat, Jhonatan ingin tertawa tapi segera muram lagi.
" kau salah Ani, mereka punya Rudi sebagai papa terbaik nya"
"Ya tuan, tapi percaya lah, hubungan darah itu adalah sebuah hal yang misterius.Walau sebaik mana Tuan Rudi,kau masih berada di hati mereka.Ayolah Tuan, semangat lah.Tunjukkan jika kau juga bisa membuat mereka bangga telah menjadi papa mereka "kata Stefani.
Segera Jhonatan tersenyum, dia berkata."hubungan darah ya?"
"Yah aku percaya pada Tuan Jhonatan.Mereka hanya Belum mengenal tuan aja kok.Makanya , luang kan waktu dan buat lah quality time bersama dengan mereka"
Selagi berbicara, Stefani menggenggam tangan Jhonatan dengan maksud menenangkan nya.
Tapi baru kemudian Jhonatan ingat jika alerginya tidak kambuh seperti sebelumnya.
Jonathan masih merenungkan perasaan bingung yang tengah menghantuinya. Matanya terus menatap ke arah stefani yang sedang berbicara dan menasehatinya.
Sementara pikirannya terus berputar mengenai momen yang baru saja terjadi. Seolah-olah ada misteri di balik segala hal yang ia alami hari ini.
"Dalam semua tahun ini, tak pernah terjadi ini sebelumnya," batin Jonathan dengan heran. "Mengapa alergi itu tidak kambuh ketika aku bersentuhan dengan Stefani? Bahkan saat dia memelukku tadi, tidak ada reaksi alergi sedikit pun."
Pandangannya melayang ke luar , tetapi pikirannya masih terus memutar pertanyaan-pertanyaan yang menggelitiknya. Ia memeriksa ingatannya, mencoba mengingat kembali setiap momen bersentuhan dengan Stefani sepanjang hari ini. Semua itu terasa begitu berbeda, begitu tidak seperti biasanya.
"Apakah ini berarti ada perubahan dalam tubuhku? Ataukah ini hanya kebetulan semata?" pikir Jonathan dalam hati, semakin penasaran dan bingung dengan apa yang terjadi.
Sementara itu Stefani tidak tahu apa yang di pikir kan oleh Jhonatan.Dia murni tidak ingin Jhonatan kambuh.
Hei kartu kredit unlimited nya akan terancam punah,kan.
"Tuan Jho... hello Tuan Jhonatan"
__ADS_1
Ah kasihan tuan Jho, ckckck.
Flash back end