
Malam itu , sesuai dengan kesepakatan Stefani akan pergi ke apartemen Carlos dan Charlie.
Malam itu, Stefani berdiri di depan lemari pakaiannya yang penuh dengan pakaian berbagai macam warna dan gaya. Dia ingin memastikan bahwa penampilannya sempurna saat pergi ke apartemen Carlos dan Charlie. Stefani mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari dan meletakkannya di tempat tidur untuk dipilih.
Dia memutuskan untuk mengenakan sebuah blus putih yang simpel namun elegan. Blus tersebut memiliki kerah rendah yang memberikan kesan anggun namun tidak berlebihan. Untuk bagian bawah, Stefani memilih celana jeans hitam yang pas di tubuhnya. Celana jeans tersebut membuatnya terlihat lebih ramping dan cocok untuk suasana santai.
Stefani memutuskan untuk tidak mengenakan banyak aksesori. Dia hanya mengenakan kalung perak tipis dan gelang sederhana di pergelangan tangannya. Tidak ingin ribet, dia memilih sepatu slip-on berwarna hitam yang nyaman untuk dipakai.
Setelah memilih pakaian, Stefani beranjak ke cermin untuk melihat penampilannya. Dia merapikan rambutnya yang panjang dan hitam, memberikan sedikit gaya pada ujungnya. Wajahnya yang cerah tersenyum puas saat melihat dirinya yang rapi dan cantik.
Terakhir, Stefani menyemprotkan sedikit parfum ke leher dan pergelangan tangannya, memberikan sentuhan harum yang menyegarkan. Dia merasa percaya diri dengan penampilannya dan siap untuk bertemu dengan Carlos dan Charlie.
Setelah mengambil kunci dan tasnya, Stefani keluar dari kamarnya.
Stefani keluar dari kamarnya dengan pakaian terbaiknya, siap untuk pergi ke apartemen Carlos dan Charlie. Namun, dia terhenti ketika mama memanggilnya.
"Sayang, tadi mama mendapat telepon dari Jonathan. Dia berkata akan menjemputmu dan kalian berdua pergi ke apartemen Carlos dan Charlie bersama-sama." kata Sari dengan senyuman.
"Serius, Mama? Wah, bagus banget! Aku bisa bersama Tuan Jonathan dan tidak perlu naik sepeda motor. lagian mas sejak mendapatkan kartu kredit kemarin aku itu belum berterima kasih secara langsung loh mah. Beda kan terima kasih dari telepon dengan berterima kasih secara tatap muka"
Sari mengelus rambut putrinya itu dengan sayang ,dia berkata "Iya, sayang. Tuan Jonathan sudah berjanji akan menjemputmu. Kamu duduk saja manis di ruang tamu dan tunggu dia datang."
"Oke Mama"
Sari melirik penampilan putrinya dengan raut bangga di wajahnya. Dia menghela nafas seraya merasa kagum dengan pertumbuhan Stefani.
" Sayang kamu terlihat begitu cantik dan dewasa, sayang. Sudah tumbuh menjadi gadis yang hebat. Mama bangga padamu."
Stefani tersenyum malu-malu dan memeluk mamanya dengan erat"Terima kasih, Mama. Aku berusaha menjadi yang terbaik."
__ADS_1
" Tidak nak,Kamu sudah menjadi yang terbaik bagi mama,tetaplah jadi dirimu sendiri dan selalu jaga diri, ya." kata Sari lagi.
Stefani tersenyum dan memberikan ciuman singkat di pipi ibunya sebelum pergi ke teras untuk menunggu Jonathan.
Tidak lama kemudian Jonathan tiba di rumah Stefani dengan mobil mewah yang biasa dia kemudikan sebagai seorang CEO.
Namun, kali ini dia terlihat santai dengan pakaian kasualnya. Dia mengenakan kemeja lengan pendek yang rapi namun tetap santai, dipadukan dengan celana jeans dan sepatu kulit.
Rambutnya sedikit berantakan dengan gaya yang lebih santai dari biasanya. Dalam penampilan ini, Jonathan terlihat segar dan bersahaja.
Stefani, yang sudah duduk di teras, terpana melihat penampilan Jonathan yang berbeda dari biasanya. Dia sudah terbiasa melihat Jonathan selalu mengenakan setelan kantor yang formal dan rapi. Namun, kali ini Jonathan terlihat begitu nyaman dengan pakaian kasualnya, membuatnya semakin menarik di mata Stefani.
"Ohh keren sih tapi tua Ckckck"
Jonathan keluar dari mobil dengan senyum lembut di wajahnya. Dia langsung menyapa Stefani dan Sari dengan ramah.
"Halo, Jonathan! Kabar baik, terima kasih. Kamu juga terlihat segar hari ini." kata Sari yang sekarang sudah bisa berjalan tanpa bantuan namun dia tidak bisa berdiri lama seperti biasanya.
"Terima kasih. Saya pikir suasana hari ini cocok untuk pakaian santai. lagian bukan pergi ke kantor malah ingin pergi melihat anak-anak"
Stephanie dan Jonathan sepakat untuk tidak membicarakan masalah Carlos dan Charlie yang bertengkar di sekolah pada Sari. Jadi Sari tidak tahu tujuan sebenarnya Stefani pergi ke sana.
Karena yang menjemput adalah Jonathan jadi dia langsung menganggukkan kepala tanpa bertanya lebih lanjut.
"Benar sekali tuh.Oh Jhonatan kamu pasti sibuk dengan pekerjaan kebelakang ini kan ?"
Sebagai seorang asisten tentu saja sehari mengetahui bagaimana padatnya pekerjaan seorang CEO. dengan dirinya pekerjaan Jonathan bisa dipangkas setengah tapi sekarang dia tidak bisa mendampingi jadi bisa dilihat bagaimana sibuknya Jonathan sekarang.
Padahal Sari sudah meminta agar Jonathan mencari pengganti dirinya karena dia harus berhenti dengan alasan usia.
__ADS_1
Tapi Jonathan masih menolak sampai sekarang dan menunggu agar dia pulih dan kembali ke kantornya lagi sebagai asisten pribadi.
"Sari sepertinya aku harus pergi deh nanti kemalaman di jalan.Jangan khawatir tentang putri mu,ntar aku kembali kan kok dalam kondisi utuh hahaha"kata Jhonatan tertawa.
Sari langsung mengangguk namun di dalam hati, sari juga tidak mempermasalahkan putrinya tidak pulang sepanjang malam. Karena Jonathan sebenarnya sudah resmi menjadi suami putrinya itu.
Hanya saja keduanya sampai saat ini belum benar-benar mengakui hubungan tersebut. Bahkan terkesan membuat hal itu seperti sebuah mimpi yang tidak pernah terjadi.
Di sisi lain Stefani tersenyum melihat Jonathan dan ibunya berbincang dengan ramah. Setelah memberikan salam pada ibunya, dia masuk ke dalam mobil bersama Jonathan.
Mobil Jonathan yang terparkir di depan rumah , tampak mewah dan elegan. Interior mobil itu tertata dengan rapi, kursi kulit yang nyaman dan panel kendali yang canggih. Cahaya dari lampu luar kota memantul di kaca depan mobil, menciptakan suasana hangat di dalamnya.
Stefani dan Jonathan duduk berdampingan di dalam mobil, siap untuk berangkat. Stefani memulai percakapan dengan serius, ekspresi wajahnya menunjukkan kekhawatiran dan perhatian.
"Tuan jonathan, aku benar-benar khawatir tentang Carlos dan Charlie. Mereka semakin sering terlibat dalam pertengkaran dan bergaul dengan orang-orang yang tidak baik. Aku cuman takut mereka terbawa arus dan terjerumus pada hal-hal yang salah."
Di sini Stefani juga mengeluhkan tentang Jonathan yang seperti tidak ambil peduli dengan perkembangan anak-anaknya sendiri.
Jonathan berkilah jika dirinya tidak bukan tidak peduli tapi terlalu disibukkan dengan pekerjaan. Lagi pula charlie dan Carlos bukan lagi anak kecil yang perlu perhatian.
"Ya, aku mengerti. Tapi tuan bisa mencoba lebih memperhatikan mereka. Aku tahu, uang dan kesuksesan adalah hal yang penting, tapi kebahagiaan dan keselamatan anak anak juga tidak kalah pentingnya. Tuan bisa berusaha mendekati mereka dengan bijaksana dan memberikan dukungan."
Dalam diam, Ekspresi di wajah Jonathan menunjukkan rasa kagum dan penghargaannya pada Stefani. Dia mengakui bahwa Stefani masih begitu muda.
Tapi dia memiliki pemikiran yang sangat dewasa mungkin karena dia harus mengandalkan diri sendiri dan ibunya saja untuk hidup.Ini lah yang mendorong pemikiran dewasa itu.
Dalam perjalanan ke apartemen Carlos dan Charlie, mereka berdua berbicara banyak dan Jhonatan sendiri tidak sadar jika dia tidak merasakan reaksi jijik nya pada lawan jenis.
Sangking santai dan fokus pada masalah Carlos dan charlie,dia lupa dengan kebiasaan alergi nya itu.
__ADS_1