
Setelah menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk memilih pakaian yang cocok, Stefani akhirnya siap untuk pergi ke pertemuan dengan Charlie. Pakaiannya berwarna kuning dengan rok setengah tiang, meskipun agak tidak nyambung, tapi pakaian ini adalah pakaian mahal yang cocok dengan usianya yang muda.
Stefani hanya bisa menarik nafas panjang dan mengeluh di dalam hatinya, "Orang cuman ke cafe kok ribet amat."
Bukan itu saja, Stephanie juga diantar dengan mobil oleh sopir perusahaan. Siapa lagi yang mengirimnya jika bukan Jonathan.
Tiba di kafe, asisten yang tadi memilih baju masih ikut mendampinginya. Ini membuat Stephanie resah dan berkata pelan, "Tolong ya, ini adalah privasi. Tidak perlu juga sampai diikutin ke cafe."
Asisten itu tidak mau mengalah, dia khawatir dipecat hanya masalah sepele, jadi dia berkata, "Saya cuma akan melihat dari kursi lain, nggak akan ngintip dan juga nggak akan nguping. Ini sudah perintah dari tuan, jadi tolong kerjasamanya, Ibu Stefani, agar saya tidak dipecat."
Stephanie memang kesal dengan perlakuan semacam ini. Dia berkata di dalam hati, "Apakah kejadian penculikan kemarin memiliki dampak tertentu untuk Jonathan sehingga dia terlalu ketat. Padahal perginya cuma ke cafe dan itu pun paling 1 jam."
Meskipun dia mengeluh, Stephanie tidak bisa berbuat apa-apa. Jadilah dia masuk ke dalam cafe dan melihat Charlie sudah ada di sana.
Charlie yang duduk di salah satu sudut cafe, tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Stefani.
"Bibi,di sini"
Stefani menjawab sambutan Charlie dengan senyuman hangat, lalu mendekatinya.
"Charlie!" sapa Stefani sambil mencoba memeriksa sekitar. "Sudah lama di sini?"
Charlie tersenyum sambil menjawab, "Tidak, aku juga baru tiba. Tungguin bibi."
Begitu duduk di kursinya tiba-tiba saja Stephanie merasa sedikit gugup, tetapi dia memaksakan diri untuk membicarakan topik yang cukup sensitif.
"jangan gugup dulu Ayo minum tadi aku sudah pesenin kopi latte untuk bibi"kata Charlie yang mengangkat gelas miliknya.
Bagaimana mungkin dia tidak gugup, ketemu bukan dengan pacar tapi ketemuan dengan anak tiri.
Ahh rasanya tidak terkatakan
"Charlie, sebenarnya aku ingin berbicara tentang hubunganku dengan papahmu, Jonathan."
Charlie memandang Stefani dengan penuh perhatian, "Tentang papa Jho? apa Papa sakit lagi?"
Yang paling dikhawatirkan oleh Charlie dan Charlos adalah penyakit papanya yang akan kambuh. Mereka memang mengambil misi ini tanpa berpikir panjang, tapi misi ini juga tidak akan lama lagi sudah 60% proyek diselesaikan.
"Oh bukan begitu,dia ..Hem dia baik-baik aja kok"kata Stefani yang tangannya sedikit gemetar itu bisa dilihat dengan gerakan gelas yang tidak stabil.
Charlie melihat itu tapi tidak menganggapnya sesuatu yang aneh. Yang aneh adalah jika Stefani tidak gugup.
Sebenarnya Charlie sudah memantau keberadaan sebuah kamera mini yang menghadap pada tempat yang sekarang mereka duduki.
Tadi dia khawatir ada sesuatu yang besar di belakang Tapi setelah diteliti, pada akhirnya itu hanyalah kamera mini dari papa Jho.
Charlie tidak tahu apa tujuan papa Jho melakukan itu, tapi Charlie tidak peduli sama sekali. Yang penting papa jho tidak terganggu mentalnya karena urusan Carlos.
Mana dia mengerti jika kamera mini itu diselipkan hanya untuk memantau pergerakan Stefanie. Apakah stefani akan jatuh cinta dengan anak tirinya atau tidak.
__ADS_1
Stephanie khawatir jika Charlie akan menolak, tapi dia perlu mengungkapkannya juga
" Charlie" pada saat penyebutan itu agar terlihat serius Stefani menepuk punggung tangannya Charlie. mana dia tahu orang yang melihat dari kamera mini itu kelabakan seperti kebakaran jenggot.
Segera jhonathan mengirim pesan singkat pada asisten yang mengikuti Stefani.
"Sebenarnya kami mulai memiliki hubungan yang lebih serius dan aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu tentang ini. Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman." kata Stefani yang akhirnya lega karena dia sudah mengeluarkan unek-uneknya.
"Hahaha hanya itu kah?"
"Ya hanya itu.Apa..hen.. apa kau tidak akan mempermasalahkan itu?"
Charlie tersenyum dengan tulus, " bibi, sejujurnya aku hanya ingin papah bahagia. Mama juga sedikit khawatir jika papa Jo tidak pernah merasakan apa itu bahagia. jadi selagi papajo bahagia tidak masalah sih"
"Sekarang kalau bibi juga bahagia bersamanya, aku tidak memiliki masalah dengan itu. Yang terpenting, aku ingin bibi tahu bahwa ini adalah pilihanmu sendiri, dan ini tidak dipaksa juga."
Stephanie merasa lega mendengar tanggapan Charlie, tapi dia masih tidak percaya. "Kamu serius?" tanyanya.
Charlie mengangguk, "Ya, aku serius. Selain itu, di Amsterdam juga banyak yang memiliki istri beda usia. Tidak apa-apa bagi saya."
Saat mereka berdua sedang berbicara asisten itu datang lagi dan berdehem sebentar.
Stephanie menatapnya seolah-olah bertanya ,ngapain kamu di sini.
"Ibu maaf ya"asisten mengambil tangan Stefani masih saja berada di atas tangan Charlie.
Setelah itu sang asisten pura-pura tidak tahu dan pergi untuk duduk di kursinya seperti semula.
Beda lagi dengan Charli dia justru mengetahui apa yang mereka lakukan saat ini dipantau oleh papanya lewat kamera.
Dalam sekejap dia menyadari jika Papa Jho juga memiliki kekhawatiran tertentu untuk Stefani.
Jadi tanpa sadar, Charlie tertawa kecil.
"Apa yang lucu Hem" Kata Stefanie heran.
"tidak apa-apa lanjutkan aja" jawab charlie yang hampir aja tidak bisa menahan tawanya sendiri
" Kamu tidak masalah tapi Blbagaimana dengan pendapat Carlos, ? Aku khawatir dia akan marah, kau tahu sekarang jiwanya sedang labil "
Charlie agak ragu sejenak, lalu menjawab, "Sebenarnya, yang aku tahu, Charlos punya sedikit perasaan untukmu, bibi, jadi aku tidak yakin bagaimana pendapat Carlos tentang ini."
"kami pernah menertawakan masalah ini dan malah membuka Google untuk mencari tau.Apakah ada cara untuk dia menyalip papa. Jadi bibi mengerti kan maksud ku " tambah nya lagi.
"Eh ca.. Charlos ada hati sama aku "
"Hem,pusing kan,nah inilah yang aku bingungkan sampai sekarang? apa papa Jho harus bersaing dengan putranya sendiri?" bisik Charlie ke telinga Stefani.
Gerakan ini bagi orang yang sedang mengintip di balik kamera benar-benar sebuah gerakan yang vulgar.
__ADS_1
Dia adalah Jhonatan yang sedang melihat komputernya di apartemen.
Urat nadinya mendidih, sehingga kepalanya jadi nyut-nyutan.
" Charlos ada hati sama ibu tirinya sendiri? sial ,anak itu memang benar-benar ya.Ahh lebih baik dia nggak pulang aja sekalian"katanya kesal.
Karena sedikit marah dia tidak tahu harus melakukan apa Jadi dia mengirimkan pesan singkat dengan asistennya tadi.
"suruh ibu pulang sekarang juga"
giliran asistennya lah yang cenat-cenut sekarang. Stephanie baru masuk beberapa menit bahkan segelas kopi latte juga belum diminum habis. tapi malahan sudah disuruh pulang.
Perlakuan ini lebih ganas jika di dipikirkan ulang. Seperti seorang ayah yang benar-benar tidak sudi ,putri tersayangnya pergi berkencan dengan pria asing.
Tapi sekarang pria yang ditemui, Stefani bukanlah pria asing,melainkan putra Jhonatan sendiri.
Merasa sedikit gugup asisten ini masih belum gerak jadi dia mendapatkan pesan singkat lagi dari atasannya.
"keluar dari situ, lewat 5 menit kamu dipecat"
khawatir dipecat asisten ini bergerak lagi dan menepuk meja. Stephanie belum selesai dengan pembicaraannya yang membahas ketertarikan Charlos pada dirinya. Melihat kedatangan asisten ini tentu saja dia terganggu dan mengangkat kepala dan mengarahkan pandangan tajam ke arahnya.
" eh itu Bu,tuan suruh pulang sekarang juga"
"Tapi gimana sih orang baru saja nyampe juga "
Asisten itu merasa pekerjaannya terancam, jadi dia memaksa sedikit memaksakan kehendak.
Stefani tentu tidak suka diperlakukan dengan cara seperti itu, tapi sebelum dia menjawab tiba-tiba Charlie berkata"nggak apa-apa bibi kita bisa ketemuan lagi dan berbicara lagi mengenai masalah ini. mungkin papa itu sedang tidak sehat"
Setelah candi mengatakan seperti itu tidak ada alasan untuk Stefani tetap tinggal di cafe.
Jadi dia kembali dengan mobil perusahaan yang belum bergerak dari parkir.
hanya setelah Stephanie menghilang dari sana baru kemudian Charlie keluar dari cafe. tadi dia harus menahan segalanya karena ada kamera mini.
Tapi sekarang dia tidak lagi masa mendeteksi adanya kamera di sini jadi dia segera tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, aku akan melaporkan masalah ini dengan Carlos hahaha "
Dalam sekejap mata informasi itu sudah tiba pada Carlos. sama seperti Charly kalau sudah tertawa terbahak-bahak.
"Ohh akhirnya papa Jo jatuh cinta juga. Akhirnya Papa gue normal hahahaha"
"Tapi.. Kenapa Charlie mengatakan aku menyukai Stephanie sih? Ahh charlie....
Lalu pesan singkat dari Charlie datang.
"jangan marah ,itu sengaja biar papa itu nggak khawatir kamu itu nggak ngabarin dia lagi.Kan jadi nyambung hehe"
__ADS_1
Charlos tercengang...
Baru sekarang dia menyadari apa rasanya menjadi kambing hitam.