Terjebak Pernikahan Dadakan.

Terjebak Pernikahan Dadakan.
Siapa takut


__ADS_3

Meskipun Charlos merasa tidak nyaman, dia tetap melanjutkan misi yang sudah direncanakan sebelumnya. Hari ini, Tommy akan membawanya ke pertemuan lain di sebuah klub malam yang buka 24 jam. Meskipun matahari masih pagi, klub malam ini sudah beroperasi dengan penuh aktivitas.


Charlos tiba di tempat pertemuan dengan mobilnya, sebuah mobil mewah dengan desain yang modern. Meskipun mobil tersebut mencerminkan kemewahan, tetapi Charlos masih bisa dinilai sebagai pria muda di bawah umur. Dia turun dari mobilnya dengan gaya santai, memakai pakaian yang sedikit kasual namun tetap terlihat stylish.


Dengan langkah pelan ,Charlos masuk ke dalam klub malam tersebut.


Tanpa di sadari oleh Charlos,Stefani, dengan wajah yang penuh kejutan, berdiri tidak jauh darinya. Matanya melebar saat melihat Carlos, tetapi cepat berubah menjadi ekspresi heran.


"ngapain nih anak pagi-pagi sudah pergi ke klub malam?"pikir nya geram.


Stefani adalah sosok yang cerdas dan cepat berpikir. Dalam sekejap, dia merasa tertarik untuk masuk ke dalam klub malam ini juga, mengabaikan niat awalnya untuk berbelanja. Dengan cepat, dia berjalan menuju tepi jalan yang dekat dan melihat beberapa penjual barang-barang aksesoris. Dia mengambil topi yang cukup besar dan kacamata hitam yang melindunginya dari sorotan cahaya klub malam.


Dengan topi yang menutupi sebagian wajahnya dan kacamata besar, Stefani merasa lebih nyaman untuk menyelinap masuk ke dalam klub malam. Dia berjalan dengan langkah hati-hati, berusaha tetap tak terlihat di antara keramaian yang semarak.


"mana dia ya?"pikir Stefani dalam hati


Lehernya bergerak untuk meneliti di manakah Charlos sekarang.


Meskipun masih pagi, suasana di dalam klub begitu gelap sehingga terasa seolah-olah matahari belum pernah bersinar. Sorotan cahaya warna-warni dari lampu-lampu panggung memantul di dinding dan lantai, menciptakan efek yang menghipnotis.


Kebisingan dari musik yang berdentum-dentum menggema di seluruh ruangan, menggetarkan udara dan merasuki setiap sudut. Orang-orang bergerombol di lantai dansa, bergerak dalam irama yang sama dengan musik yang menghentak. Udara penuh dengan aroma minuman keras dan kegembiraan.


Stephanie merasa sedikit tersesat di dalam keramaian ini. Dia berjalan dengan hati-hati, mencoba melihat sekeliling mencari keberadaan Carlos.


Namun, tiba-tiba dia merasa sekelilingnya menjadi semakin padat dengan orang-orang yang tak dikenal. Beberapa pemuda yang mabuk berdiri di dekatnya, dengan mata yang sayu dan senyum yang nakal.


"Hey, cantik! Kamu kesini sendirian?" seru salah satu dari mereka dengan nada yang agak serak.


Stephanie mendongak, merasa terkejut oleh kehadiran mereka. Dia mencoba tersenyum sopan, berusaha untuk tidak terlihat gugup. Namun, jantungnya berdegup kencang dan tiba-tiba tubuhnya mulai gemetar.


"Uh, ya. Saya mencari seseorang," jawab Stephanie dengan suara lembut.


"Kamu terlihat kesepian. Mari, turunlah dan berdansa bersama kami!" kata pemuda lainnya sambil mencoba meraih tangannya.


"Suit suit,lumayan kan, hei cari siapa?sugar Daddy kah,aku bisa jika untuk satu malam"


Stefani segera menarik paksa tangannya lagi.Dia menggeleng-geleng kan kepala nya.


" maaf,aku bukan perempuan gampangan"


Tubuh Stephanie mulai gemetar lebih kuat, dan wajahnya memucat. tiba-tiba saja dia merasa keputusannya untuk mengikuti Carlos adalah keputusan yang salah.

__ADS_1


"sialan Carlos aku harus keluar dari sini, di sini mengerikan"pikir nya.


Pandangannya mencari jalan keluar, tetapi tampaknya semakin sulit baginya untuk bergerak di antara kerumunan ini.


Saat itulah, Stefani merasa semakin terjepit oleh para pemuda mabuk di sekitarnya. Dia merasa kian terpojok dan cemas, berusaha keras untuk tetap menjaga ketenangan walaupun detak jantungnya semakin cepat. Para pemuda itu berbicara dengan suara keras, berusaha menarik perhatiannya.


"Hey, jangan takut ya. Kami hanya ingin berkenalan," kata salah satu dari mereka dengan suara serak.


Stefani mencoba tersenyum lemah, mencari jalan keluar dari situasi yang semakin membuatnya tidak nyaman. Matanya melirik ke sekitar, mencari bantuan atau peluang untuk kabur dari kerumunan ini.


"Sudahlah, kita hanya ingin berbincang santai. Jangan terlalu tegang," kata pemuda lain sambil mencoba meraih tangan Stefani.


Namun, sebelum dia bisa bereaksi, salah satu dari mereka, seorang pria muda dengan tatapan nakal, melirik Stefani dari atas ke bawah dengan cara yang membuatnya merasa tidak nyaman. Dia merasa tatapan itu meraba-raba dirinya, menciptakan perasaan yang sangat tidak mengenakan.


Sementara itu, Stefani tetap mencoba menjaga ketenangan dan berbicara dengan suara lembut, "Maaf, saya tidak bisa lama di sini. Saya harus pergi."


Namun, pria yang sebelumnya melihatnya dengan tatapan tak pantas itu tiba-tiba meraih topi besar yang dikenakan Stefani dan kacamata besar yang menutupi sebagian wajahnya. "Hei, apa yang kamu sembunyikan di balik ini? Mari kita lihat kecantikan aslimu," katanya dengan nada merendahkan.


Stefani merasa marah dan tidak nyaman dengan perlakuan pria tersebut. Dia merasa kehadirannya dicemooh dan dihina, dan rasa takutnya semakin meningkat. Namun, dia masih berusaha menjaga ketenangan dan dengan tegas mencoba meraih kembali topi dan kacamata itu, "Tolong berikan lagi topi saya! Saya ingin pergi sekarang"


"Wow cantik sekali hahaha, sepertinya kita malam ini mendapat ikan segar hahaha "


"Hei baby, Ayo lah sama Daddy Hem "


Hahaha..


Gelak tawa mereka menyatu dengan dentingan musik, menciptakan suasana yang semakin mencekam bagi Stefani.


Dia ingin menangis sekarang Tapi sebelumnya dia harus keluar dari neraka ini dulu terlebih dulu. Matanya mencari pelarian, tetapi tampaknya tidak ada jalan keluar dari situasi ini.


"Tolong minggirlah,aku wanita baik baik"Kata Stefanie dengan getir. sekarang Stephanie sudah hampir menangis dan menyesal dengan tindakannya yang begitu berani mencari Carlos.


Tiba-tiba saja, di tengah kekacauan itu, sebuah suara menyembul di antara keramaian. Suara itu mengandung kehangatan dan keakraban, seolah-olah menghadirkan kelegaan di tengah kegelapan yang membelit. "Bibi, kenapa kau ada di sini?"


Stefani membelalakkan matanya, mencari sumber suara itu. Dan di antara kerumunan orang-orang yang bergerak dan bergoyang di tengah klub malam yang gemerlap, dia melihat seseorang yang dikenalnya dengan baik.


Itu charlos.


Charlos berjalan mendekatinya dengan langkah cepat, melewati orang-orang yang masih tetap terhanyut dalam euforia klub malam. Dia mencapai Stefani, memandangnya dengan penuh perhatian, lalu membimbingnya keluar dari kerumunan yang mencekam.


"Bibi ngapain sih di sini. ini bukan tempatnya gadis baik-baik loh"kata Carlos dengan keras.

__ADS_1


Tapi suara nya segera terhenti ketika Stefani dengan tiba-tiba memeluknya dengan erat. Tangisan yang ditahannya sejak tadi akhirnya pecah dalam pelukan Carlos


Saat dia memeluk Carlos, Stefani merasa emosi campur aduk mengalir dalam dirinya. Dia merasakan getaran kehangatan dari tubuh Carlos, dan itu memberinya perasaan perlindungan yang luar biasa.


Tangisnya merayap keluar dari dalam, terbawa oleh hembusan napas yang dalam dan tak terkontrol. Perlahan, ia merasa Carlos merespons pelukannya dengan lembut, menunjukkan bahwa ia hadir dan siap untuk mendengarkan.


Namun, di balik rasa syukur dan kenyamanan itu, ada rasa marah yang tumbuh dalam diri Stefani. Marah karena Carlos membuatnya terjebak dalam klub malam ini, di tempat yang tidak nyaman dan membuatnya merasa takut.


Buk... Buk.. Buk...


Stephanie melayangkan tinjunya ke dada Carlos beberapa kali seraya menangis.


"ini semua gara-gara kau, hiks..hiks.. ngapain pergi ke tempat ini pagi-pagi, sial Charlos huhuhu"


Buk... buk.. buk...


Stefani memukul dada Carlos berkali-kali tapi dia tidak menyadari jika saat ini Carlos tidak bergerak ,tapi sebenarnya dia sedang tercengang.


Ada momen singkat ketika waktu berhenti berputar dan semuanya tampak membeku. Carlos merasa kaku, dia merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan saat matanya terpaku pada wajah Stefani yang masih memerah dan basah oleh air mata.


Perasaan aneh ini membuat jantung Carlos berdebar lebih cepat, dan dia merasakan jantung nya akan jatuh melompat keluar, sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Tetapi sebelum perasaan itu bisa dijelaskan lebih jauh, Stefani sudah melepaskan diri dari pelukan dan tangisnya mereda.


"Pulang Charlos, pulang"Kata Stefanie pelan seraya menghapus air matanya.


Tapi Tommy segera menepuk-nepuk pundak Charlos. Baru setelah itu kalau ingat akan misi yang harus dia lakukan hari ini.


"sorry bibi aku tidak besok pulang aku ada janji dengan temanku"Katanya


Stephanie jelas melihat jika teman yang dimaksudkan oleh Carlos ini adalah Tommy dan dia tidak menyukai Tommy.


Karena itu Stefani pura-pura kuat dan bercekak pinggang sebelum berkata."kau tidak pulang maka aku juga tetap di sini.Ayo pergi"


Eh ini...


"Oke Ani,kau berani,maka ikut lah " kata Tommy terkekeh kekeh.


"Eh siapa takut". jawab Stefani dengan garang.


Sebenarnya dia hanya berkata dengan mengancam ,dia pikir karena itu nantinya Charlos tidak akan mengikuti Tommy .Tapi siapa sangka jika Charlos tidak sejalan dengan apa yang dia pikirkan.


Dia dengan patuh berjalan di belakang Tommy, jadi terpaksa Stefani juga ikut.

__ADS_1


Sialan Tommy.


__ADS_2