
Akibat insiden di cafe tersebut, Stefani sama sekali tidak bertegur sapa dengan Jonathan. Dia merasa bingung mengapa harus pulang lebih awal dari jadwal yang seharusnya.
Jika Stephanie bersama ibunya, dia memiliki lebih banyak kebebasan dan segala macam pembatasan seperti ini tidak pernah ada. Bagaimana mungkin dia akan menerima pengekangan ini seumur hidup saat dia harus menjalani pernikahannya ini?
Karena pertimbangan ini, Stephanie mulai meragukan hubungannya dengan Jonathan.
"Ani...ni ..masih marah?" tanya Jonathan khawatir.
"Enggak, bete aja!" jawab Stefani dengan nada tegas.
"Ooh, gimana kalau kita pergi belanja untuk menghilangkan bete, Ani Hem?"bujuk Jhonatan
"Nggak perlu, nggak butuh juga," jawab Stefani dengan keras.
Jonathan biasanya memeluk Stefani ketika mereka akan tidur, tapi malam ini Stefani benar-benar marah dan tidak ingin tidur di kamar bersamanya. Dia lebih suka menghabiskan malam di sofa yang lembut di ruang tamu.
Jonathan mencoba memaksa membawa Stefani ke dalam kamar, tetapi Stefani memberontak dan keluar lagi dengan cepat.
"Ahh lepaskan, lepaskan akhh..
Jonathan tidak bisa menyerah pada sikap kekanak-kanakan Stefani. Dia menariknya lagi dan membiarkan gadis itu menyerah secara sadar.
Tapi pada percobaan ke dua Stefani keluar lagi dari pintu, dan dia mengunci kamar tidur itu dari luar.
"Tok tok.... tok... tok...
"Ani, Ani, buka pintu nya ni,kok pakai dikunci segala!" teriak Jonathan dari dalam kamar.
Dia tidak percaya jika Stefani berani menguncinya dari luar. Inilah jadi nya saat anda memiliki istri yang lebih muda.
"Nggak, besok pagi aja bukanya," jawab Stefani sambil mengambil handset dan meletakkannya di telinganya agar tidak mendengar teriakan Jonathan dari dalam kamar.
"Dasar pria tua, nggak tahu gimana orang muda mau bersantai. Udah kubilang kita tuh nggak cocok. Ini buktinya kan," komentar Stefani, yang tidak lagi peduli dengan suara berisik yang dihasilkan oleh Jonathan.
Stephanie merasa kesal dengan situasi dan memutuskan untuk mengambil telepon genggamnya dan menelepon Ana.
Setelah Ana mengangkat telepon, Stephanie mulai menceritakan kekesalannya, "Ana, aku benar-benar kesal dengan Jonathan."
Ana di seberang telepon segera bertanya, "Apa yang terjadi, Ani sayang?"
"Tadi aku ,punya janji dengan Charlie untuk memperjelas hubungan antara aku dan Jonathan. Tapi Jonathan seperti tidak percaya padaku. Dia bahkan mengirim pegawai untuk mengikutiku dari awal sampai akhir, dan pertemuan itu juga tidak berlangsung lebih dari 15 menit. Aku harus pulang lagi."
Mendengar penjelasan ini, Ana tertawa di seberang sana yang membuat Stephanie semakin kesal. "Kok kamu ketawa sih? Apa yang lucu?"
Ana masih tertawa ketika dia menjawab, "Sepertinya Tuan Jonathan merasa terancam dengan putranya sendiri."
__ADS_1
Stephanie tercengang mendengarnya, tapi setelah beberapa menit, dia mulai memahami dan berkata, "Apakah kamu pikir Jonathan itu cemburu dengan putranya sendiri?"
"Kemungkinan sih, tapi nggak dijamin. Soalnya, kan Charlie juga tampan, malah aku juga sepertinya jatuh cinta sama dia."
Stephanie dengan tegas membantah, "Nggak mungkin lah, itu cuman ilusi doang. Jonathan itu nggak pernah percaya dengan siapapun, apalagi aku yang hanya memiliki hubungan seujung kuku."
Stephanie dan Ana terus berbicara lama di telepon, sehingga Stephanie lupa dengan Jonathan yang masih berteriak di luar pintu kamar.
Malam berlalu, dan Stephanie tetap asyik mengobrol dengan Ana. Mereka bercerita tentang berbagai hal, termasuk rencana mereka untuk liburan bersama.
Stephanie berkata kepada Ana, "Kamu tahu Ana, Jonathan terlalu posesif. Dia selalu ingin tahu apa yang aku lakukan dan dengan siapa. Ini cukup membuatku frustasi."
Ana merespons "Memang sulit jika pasangan terlalu posesif. Tapi kamu harus bicarakan dengan dia, ni. Komunikasi itu penting."
Stephanie setuju, "Iya, kamu benar. Aku harus bicarakan ini dengan Jonathan. Tapi saat ini, rasanya aku butuh sedikit waktu sendiri."
Saat Stephanie berbicara dengan Ana, Jonathan masih mencoba membuka pintu kamar berkali-kali, berteriak agar dia diberi perhatian. Namun, Stephanie semakin tenggelam dalam percakapannya dengan Ana, dan suara Jonathan menjadi latar belakang yang diabaikannya.
Jonathan mencoba untuk bersabar, tetapi frustrasinya semakin meningkat. Dia akhirnya memutuskan untuk meredakan diri dengan tidur di depan pintu.
Jonathan tutup berharap jika Stefani pada akhirnya berubah pikiran dan masuk ke dalam kamar tapi sayangnya harapannya itu pudar.
Memang benar jika Stefani akan membuka pintu .Tapi saat itu hari sudah siang.
Stephanie berjongkok di samping Jonathan, tiba-tiba terkejut saat merasakan tubuhnya yang begitu panas. "Mas, ngapain kamu tidur di sini? Tidurlah di ranjang. Kamu udah demam, ckckck."
Jonathan membuka mata perlahan dan melihat Stefani dengan riak kesedihan di wajahnya. "Ani, apa kamu marah lagi?" tanya Jonathan dengan serius.
Stefani melongos dan bangkit lalu berkata, "Aku memang sedang marah dan belum bisa dibujuk. Sekarang, Mas ini demam, berbaring di kasur ,nanti aku kasih obat."
Jonathan merasa sedikit kecewa karena Stefani tidak mencoba membantunya untuk naik ke ranjang, tapi dia tetap berpikir bahwa ini lebih baik daripada diabaikan seperti malam sebelumnya.
Stefani mengingatkan, "Udah tahu tubuhnya rapuh, pake tidur di lantai yang dingin lagi. Nanti udah sarapan langsung bobok lagi. Jangan ngantor dulu." Stephanie cemberut dan berbicara panjang lebar sambil mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, dia masih terus mengeluh dan Jonathan mendengarnya dari luar.
Meskipun kepalanya sedikit berat, dia menggapai telepon genggamnya yang berada di atas nakas,kemudian memutar nomor asisten. Hanya perlu satu panggilan asisten itu sudah mengangkat dan berteriak di ujung sana
"Halo, Tuan."
"Hari ini, aku mungkin masuk setengah hari, tapi kirimkan beberapa email yang bisa aku lakukan di rumah. Kau tahu kan berkas yang warna merah itu."
Asisten dengan sigap menjawab, "Mengerti, Tuan."
Awalnya, Jonathan ingin menutup telepon setelah memberikan instruksi tersebut, tetapi tiba-tiba saja dia ingin mengajukan satu pertanyaan lagi. "Joseph, jika istri mu marah, apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
Asisten itu bingung, karena menjawab pertanyaan ini bisa menjadi risiko. Tentu saja dia memahami situasi majikannya yang memiliki istri yang jauh lebih muda dan mungkin lebih sulit dipahami. Tapi jika jawabannya salah, dia bisa berisiko kehilangan pekerjaannya.
Jonathan bertanya lagi ketika melihat asistennya diam. "Kenapa kamu diam, Joseph?"
Asisten dengan hati-hati menjawab, "Istri saya seumuran saya Tuan, jadi saya tahu apa yang dia suka dan apa yang dia tidak suka. Tapi tentu saja, itu berbeda dengan istri Tuan. Saya sarankan untuk mencari tahu apa yang dia suka dan memberikannya sebagai hadiah."
Jonathan berpikir lama setelah mendengar saran asistennya, tetapi sampai saat ini, dia belum tahu dengan pasti apa yang disukai oleh Stefani.
Jonathan duduk di meja kerjanya, merenungkan nasihat dari asistennya tentang bagaimana menghadapi Stefani yang sering kali marah. Dia berpikir, "Stefani sudah memiliki kartu kredit yang memungkinkannya membeli apapun yang dia suka."
Jonathan pernah mencoba mengikuti Stefani ke mall atau pusat perbelanjaan lainnya, tetapi kebanyakan yang dibelinya adalah pakaian, paling-paling juga sepatu. Tas tidak cocok sama sekali untuk Stefani.
"oke kalau gitu pikirkan sebuah cara agar aku bisa membujuk dia jika ini gagal maka siap-siap aku akan transfer kamu ke Sumatera. tapi jika berhasil ada bonus 1 bulan gaji"kata Jonathan pada akhirnya ketika dia menutup telepon.
Di sisi lain ada asistennya yang membeku di tempat.
Dulu dia khawatir kenapa majikan tidak memiliki pasangan. Tapi sekarang lebih khawatir lagi ketika majikan memiliki pasangan.
Stephanie telah keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap untuk pergi ke sekolah. Jonathan menatapnya dengan mata seperti anak anjing yang menyedihkan.
"Ani suamimu ini sakit, kok kamu tega ninggalin gitu aja"
Stephanie menarik ujung bibirnya sedikit dengan sini. Dalam hati dia berkata "udah tua gayanya seperti anak-anak"
"Yang suruh yang suruh Mas tidur di lantai itu siapa? Ani itu nggak bisa libur lagi udah berapa hari nggak pergi sekolah. Udah banyak pelajaran yang ketinggalan juga, orang juga mau ujian lagi"
Stephanie hanya melihat dari sudut matanya lalu dia berkata,"tadi aku udah pesan sarapan online bentar lagi juga datang. tapi aku nggak sempat sarapan di rumah, jadi mau sarapan sendirian aja ya"
Deg...
Apa rasanya ketika anda ditolak terang-terangan oleh gadis yang anda sukai.Nah inilah yang dirasakan Jonathan saat ini.
Jika di imbas lagi ,yana dulu juga pernah menolak untuk kembali padanya, tapi rasanya nggak pernah sesakit ini.
Tanpa disadari Stefani sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Jonathan saat itu masih bingung dengan apa yang dia rasakan Jadi dia tidak begitu sadar.
Ketika sadar Stefani sudah mengulurkan tangannya untuk salim.
"aku pergi dulu ya Mas, jangan lupa minum obatnya, assalamualaikum"
"Eh Ani..an.."
Dalam sekejap mata, Stefani menghilang dari kamar bahkan ada bunyi ketika Stefani menutup pintu apartemen.
Di sini Jhonatan termenung.
__ADS_1