
Stephanie adalah seorang gadis muda yang memiliki semangat dan kebebasan yang meledak-ledak di dalam jiwanya. Dia juga perlu ruang untuk dirinya sendiri, dan ketika dia marah, dia tidak menyadari bahwa Jonathan sangat menderita akibat ulahnya sendiri.
Tidak ada Sari, sebagai ibu, yang bisa memberikan pendapat. Di sini, Jonathan juga tidak berpengalaman dalam membujuk seorang istri yang marah. Tidak apa-apa jika ini hanya berlangsung satu atau dua hari, tetapi bagaimana jika berlarut-larut selama lebih dari satu minggu, membuat Jonathan merasa kebingungan.
Asisten Jonathan sendiri beranggapan bahwa situasi ini sudah di luar nalar dan melaporkan hal ini kepada ayah Jonathan. Jadi hari itu, ayah Jonathan menghubungi putranya secara pribadi untuk bertanya dan memberikan kesempatan padanya untuk merilekskan diri sejenak dari masalah-masalah yang sedang dihadapinya.
Ketika ditanya, Jonathan menjelaskan pemikirannya tentang Stephanie yang sedang marah. "Aku sudah meminta maaf padanya, ayah. Sudah kubeli hadiah untuknya dan memberikannya beberapa kebebasan, meskipun ada beberapa pengawal yang mengikuti dari belakang. Tapi bagaimana bisa aku membiarkan dia pergi tanpa pengawasan? Siapa tahu ada ancaman kepadanya karena statusnya yang tidak biasa, bukan nyonya Aldelis, pah," kata Jonathan sambil duduk di sofa sambil memijat dahinya sendiri.
Ayah Jonathan menarik nafas panjang, merasa lega, tetapi juga merasa ada emosi yang aneh dalam dirinya. Untuk sesaat, dia berpikir masalah yang sedang dialami oleh putranya ini adalah masalah terbesar, sehingga hampir saja mengacaukan perusahaan mereka.
Namun, sebenarnya masalah utamanya hanya terkait dengan Stephanie. Tetapi begitu dia mengingat penyakit mental yang diderita Jonathan sejak muda, dia berbicara dengan lembut untuk menenangkannya. "Jonathan, Papa tahu kamu khawatir. Tapi dia masih remaja, masih labil. Mungkin dia berpikir bahwa dia belum cukup untuk bersenang-senang di luar sana. Tolong berikan dia sedikit waktu untuk memahami kamu. Jangan sampai dia kabur lagi karena kamu terlalu posesif. Jika dia kabur, siapa yang akan susah?"
Jonathan menatap papanya dan berkata, "Tapi aku khawatir, Pah, Dia masih muda dan..."
Jonathan tidak melanjutkan kata-katanya, dan dia merasa terlalu ngeri untuk memberikan kata-kata selanjutnya. Kejadian di masa lalu, ketika dia diculik oleh kelompok penjual organ manusia, meninggalkan trauma yang sangat mendalam dalam dirinya. Dia kemudian mengembangkan ketergantungannya pada mantan istrinya, yang meskipun sudah dilepaskannya, masih meninggalkan gejala trauma yang tersisa.
Sama seperti Stephanie sekarang, dia tidak bisa melepaskan gadis itu begitu saja tanpa pengawalan. Dia takut ada yang akan menculiknya untuk uang. Uang memang tidak apa-apa, karena Jonathan memiliki segalanya, termasuk uang. Tetapi bagaimana dengan nyawa Stephanie? Jika sesuatu buruk terjadi padanya, itu akan terlambat.
Jadi, sebelum terlambat, dia lebih suka mengirim penjaga untuk mengawal Stephanie. "Jonathan, Papa memahami. Tetapi bagaimana jika kamu mengirim penjaga itu secara diam-diam, tanpa sepengetahuan Stephanie?"
Jonathan merasa Stephanie cukup cerdas dan sulit untuk dibohongi. Namun, pada akhirnya, ayah dan anak ini berbicara banyak, tetapi mereka sama sekali tidak memiliki solusi yang jelas. Karena takut permasalahan semakin rumit, Jonathan memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter Khans.
Di lapangan bola yang ramai itu, Ana dan Stefani duduk di sudut yang paling terpencil. Matahari sore menghiasi langit dengan cahaya hangatnya, menciptakan suasana yang nyaman di antara kerumunan orang yang bermain bola.
Ana, dengan tatapan prihatin, memulai percakapan dengan tekad yang lebih kuat, "Ani,aku mengerti perasaanmu, tapi kamu harus ingat, pernikahan bukanlah akhirnya. Jangan terlalu keras kepala dalam menghadapinya. Ada banyak cara untuk mengatasi cobaan ini."
Stefani, yang masih keras kepala, menjawab dengan kecewa, "Ana, kamu tidak paham. Pernikahan ini terasa seperti penjara yang menutup semua pilihan yang ada. Aku kecewa dengan semua ini."
__ADS_1
Air mata Stephanie mulai mengalir ketika dia berbicara dengan Ana, suaranya penuh dengan kesedihan. "Hidupku belum lengkap, Ana. Aku belum mengenal cinta, dan aku juga belum mengenal dunia. Sekarang aku dihadapkan dengan pernikahan dan dua anak tiri. Ana, kau tidak akan pernah mengerti karena kau tidak pernah mengalami."
Ana memeluknya erat, merasa sedih melihat sahabatnya seperti ini. "Tapi pada waktu itu, kau juga akan menikah dengan Ridho, jadi pernikahan tetaplah pernikahan pada akhirnya. Jadi, kupikir yang kau sesali sekarang adalah menikah dengan pria yang lebih tua. Apakah itu benar?"
Stefani tidak bisa menjawab, dia hanya terdiam, membiarkan air matanya mengalir. Mungkinkah apa yang dipikirkan Ana benar? Menikah dini adalah pilihannya sendiri, tanpa paksaan dari manapun. Namun, ketika pilihan itu berubah menjadi Jonathan, dia merasa tidak nyaman dan hidupnya terasa teraniaya.
Sementara Ana mencoba meyakinkan Stefani untuk berbicara dengan Jonathan dan mencari solusi bersama, seseorang yang tidak dikenal sedang memotret mereka dari kejauhan dan mengirimkan beberapa informasi melalui telepon genggamnya.
Tidak tahu apa yang dibicarakan oleh orang di seberang yang jelas, orang yang memotret tadi mengangguk kepala dan menyimpan telepon genggamnya di saku celana.
Lalu dia datang untuk menyapa Stefani dan ana tentunya.
Dia tiba-tiba muncul di dekat Ana dan Stefani, dengan senyum cerah di wajahnya. "Hei, kalian berdua! Aku punya berita bagus. Aku akan mengadakan ulang tahunku setelah sekolah di rumahku. Kalian berdua diundang!"
"Mira? Ah aku ulang tahun?"kata Ana terkejut.
"memangnya orang gak punya seperti aku dilarang ulang tahun? nggak tahu jika Indonesia memiliki pengaturan seperti itu"kata mirae yang bernada ketus.
"Nah itulah maksudku ini adalah tahun terakhir kita jadi aku ingin mengingat ulang tahun ini sebagai ulang tahun yang istimewa. jadi aku pikir kalian berdua tidak menolak undanganku"kata nya lagi.
Stefani awalnya terlihat ragu, tapi kemudian dia berpikir bahwa ini mungkin waktu yang baik untuk merilekskan pikirannya.Dia dengan ragu berkata, "Baiklah, aku akan datang. Aku akan pergi dengan ana ,ya kan na!"
Tapi Ana menggeleng kepala dengan lembut dan berkata, "Maaf, Ani, Aku tidak bisa datang. Ada urusan yang harus aku selesaikan setelah sekolah."
Ana juga memiliki permasalahan tersendiri di rumahnya, tapi tidak perlu juga mengungkapkannya kepada teman-teman. tapi dia benar-benar tidak bisa datang ke acara ulang tahun mirae.
Segera suasana menjadi aneh ketika ana menolak.
__ADS_1
Karena Ana tidak pergi jadi seharusnya secara emosional Stefani juga tidak pergi.
Mirae segera menyadari jika Stefani akan menolak jadi dia mencoba meredakan situasi dengan senyum. "Tidak apa-apa, Ana. Mungkin kau bisa hadir untuk ulang tahunku tahun depan. Udah baik Ani mau datang ke acara ulang tahunku.Tapi ni, Aku nebeng ya.jadi bisa irit ongkos lah kan"
Stefani akhirnya tersenyum dan mengangguk. "Oke tidak masalah jika kau tidak malu dengan sepeda motor ku yang jelek"
Dengan undangan diterima, mereka melanjutkan percakapan mereka dengan semangat yang lebih cerah, berencana untuk merayakan ulang tahun Mirae bersama-sama.
Charlie, sejak insiden gagal penculikan Stefani kemarin, telah menjadi pria yang sangat protektif terhadap Stefani dan Jonathan. Meskipun dia tidak menunjukkannya secara terang-terangan, dia mengawasi pasangan itu melalui teknologi canggih yang sedang dia kembangkan.
Sebagai contoh, pada telepon genggam Stefani, Charlie telah menginstal aplikasi GPRS hantu yang baru-baru ini dikembangkannya dan juga digunakan oleh Carlos. Aplikasi ini tidak hanya dapat melacak lokasi dengan presisi, tetapi juga mampu mendengarkan percakapan, bahkan jika telepon dalam keadaan mati total.
Saat ini, Charlie sedang memantau adegan di mana Stefani, Ana, dan Mirae tertawa bahagia seperti anak muda pada umumnya.
Dengan melihat mereka begitu bersemangat, dia merasa agak lega dan mengendurkan kewaspadaannya sebentar. Dia tahu bahwa sekolah akan segera berakhir dan Stefani akan pulang ke apartemen.
Namun, tanpa dia sadari, Stefani sebenarnya memiliki janji lain dengan Mirae setelah pulang sekolah, yang bisa mengubah jalannya peristiwa.
Pada saat yang sama Jhonatan keluar dari rumah ruang dokter Khans.
Menurut dokter Khans, bila tidak ada usaha secara sadar untuk berkomunikasi empatis, maka suami istri cenderung saling menjauh dalam hidup modern yang lebih menomorsatukan prestasi dan kenikmatan daripada hubungan dalam perkawinan.
"Memberi umpan balik dengan komunikasi yang baik mampu memperkaya diri sendiri dan orang lain. Keterbukaan diri dan empati dapat dilatih," tuturnya.
Caranya, bicaralah dari hati ke hati, saling curhat ,bicaralah dengan perasaan. Hilangkan kesan menyudutkan pasangan dan tempatkanlah diri sendiri pada situasi Stefani.
"Komunikasi dengan perasaan akan menimbulkan relasi yang akrab, hangat, dan intim. Sediakan waktu untuk berkomunikasi dari hati ke hati dengan Stefani" urainya.
__ADS_1
Jadi Jonathan bener-bener keluar dari kantornya dan tidak masuk kantor lagi setelah itu dia kembali ke rumah untuk menyambut kepulangan istrinya kembali dari sekolah.
Buatlah sebuah makanan romantis yang dibuat dari tangan sendiri.