
Stephanie duduk dengan tenang di taman kota Jakarta, suara gemercik air dan cahaya matahari yang lembut melingkupinya. Matanya terfokus ke kejauhan, merenungkan peristiwa hari ini yang benar-benar membuat dirinya bingung.
Di sekitarnya, taman penuh dengan adegan yang membuatnya hidup. sekelompok anak-anak riang bermain di taman bermain, pasangan tua berjalan-jalan santai dengan tersenyum, seorang seniman jalanan menggambar di atas kanvasnydan pejalan kaki yang sibuk melintas, menciptakan suasana kota yang sibuk namun tetap beriringan dengan ketenangan alam taman.
Meskipun ada kehidupan yang berpuluh-puluh di sekitarnya, Stephanie masih terlihat tenggelam dalam pemikirannya yang dalam.
Tak berselang lama, pandangan Stephanie terhenti pada Tommy, seseorang yang diyakininya telah membawa Charlos pergi dari ibukota.
"Tommy? apa yang dilakukan di sini Jika Tommy ada sini apakah Charlos juga ada di sini?"
Hatinya berdebar cepat dan matanya tidak berkedip saat memperhatikan gerak-gerik Tommy yang tengah berbicara dengan seorang teman di dekat bangku taman. Dalam hati, Stephanie merasa ini adalah peluang untuk menyelidiki keberadaan Charlos yang hilang.
Dengan tekad bulat, Stephanie memutuskan untuk mengikuti Tommy dari belakang. Dia berpikir, "Aku harus tahu kemana Charlos pergi. Jika Tommy adalah kunci untuk menemukannya, aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini." Dengan hati-hati, dia melangkah perlahan-lahan, berusaha untuk tidak menimbulkan kecurigaan. Pandangannya terus tertuju pada Tommy yang berjalan menuju sudut taman yang lebih sepi.
"Aku harus tetap tidak terlihat mencurigakan. Siapa tahu apa yang akan kudapati di tempat ini. Charlos, aku berjanji akan menemukanmu, dan aku tidak akan membiarkan apapun menghalangiku." Dengan langkah hati-hati, Stephanie mengikuti Tommy yang semakin menjauh.
Kali ini Stefani tidak berpikir untuk memberi tahu siapa pun termasuk dengan Jhonatan sendiri.
Dengan langkah berhati-hati, Stephanie terus mengikuti Tommy melalui jalan-jalan yang semakin sepi, hingga akhirnya dia melihat Tommy masuk ke sebuah apartemen yang terletak tidak jauh dari taman kota.
Apartemen ini terlihat cukup tua, dengan cat yang mulai terkelupas di beberapa bagian dindingnya. Stephanie merasa adrenalin mengalir deras dalam dirinya, karena dia merasa semakin dekat dengan mengungkap keberadaan Charlos.
Dia melihat Tommy berjalan menuju pintu apartemen dan memasukkan kunci. Tanpa ragu, Stephanie memutuskan untuk mengikuti Tommy hingga ke pintu apartemen tersebut. Dia berusaha berjalan seperti seorang penghuni yang tidak curiga, meskipun jantungnya berdetak kencang.
Percakapan batin Stephanie pun bergulir dengan berbagai pertanyaan yang tak terelakkan, "Kemana Tommy akan pergi? Apakah Charlos berada di sini juga?" Pikirannya berputar-putar mencari jawaban
Ketika pintu apartemen dibuka, Stephanie tanpa disadari memang sedikit terlalu lengah dalam mengikuti Tommy. Saat itulah, Tommy yang sebenarnya telah menyadari bahwa dia diikuti, berpura-pura tidak tahu dan dengan cepat berbalik. Tanpa memberikan kesempatan bagi Stephanie untuk bereaksi, Tommy tiba-tiba mencoba menarik Stephanie masuk ke dalam apartemen.
Stephanie terkejut dan berusaha melepaskan diri, "Apa yang kamu lakukan?!" serunya, sambil mencoba untuk menjauh dari cengkeraman Tommy.
__ADS_1
Tommy tiba-tiba tertawa dengan nada mengejek, menciptakan ketegangan di udara. Meskipun Stefani mencoba untuk menjaga ketenangan, tatapannya penuh kecurigaan pada Tommy. Namun, sebelum dia bisa bereaksi lebih lanjut, Tommy tetap berpegangan pada lengannya dan mulai menariknya masuk ke dalam apartemen.
"Ayo, jangan jadi keras kepala," Tommy berkata dengan suara yang memaksanya untuk masuk lebih jauh.
Stephanie merasa hatinya berdebar semakin cepat, dan dia berteriak, "Lepaskan aku! Aku tidak mau masuk ke dalam apartemen ini!"
Dia berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman Tommy dan mendorongnya menjauh. "Tolong! tolong ,ada penculik, tolong!" jeritnya dengan penuh ketakutan, berharap ada yang mendengar dan datang untuk membantunya.
Ditarik masuk secara paksa oleh Tommy, Stephanie merasa hatinya berdegup kencang karena ketakutan dan kebingungan. Namun, kejutannya semakin besar ketika dia melangkah masuk ke dalam apartemen.
Kondisi di dalam benar-benar berbeda jauh dari suasana di luar. Suara musik mengalun keras, cahaya berkilauan memenuhi ruangan yang terasa hidup dan riuh rendah. Para gadis muda yang berpakaian minim sedang menari di tengah ruangan, memberikan hiburan bagi para tamu yang hadir.
Stephanie terperangah sejenak, matanya melipat melihat pemandangan yang sama sekali tak terduga. Di antara kerumunan orang yang tengah menikmati pesta, dia melihat Charlos duduk di pojok ruangan.
"Charlos!" teriak Stephanie dengan suara yang teredam oleh suara musik dan kerumunan. Dia berusaha mendekati Charlos, tetapi Tommy masih berdiri di dekatnya, mencegahnya untuk mendekat.
Tommy tersenyum dengan sinis, "Sepertinya kamu benar-benar ingin tahu, bukan? Selamat datang di pesta eksklusif ini."
Charlos seperti nya sedikit sakau.
Carlos dengan suara terbata-bata karena pengaruh obat terlarang, sedang menyapa Stefani " bibi..? Kamu... kamu lakukan apa di sini?"
Tommy tersenyum dengan penuh arti dan dia menepuk-nepuk pundak Carlos dengan ringan seraya berkata "Carlos, Carlos. Jangan terlalu khawatir. Stefani adalah bagian dari hiburan malam ini. Mari nikmati pesta."
Carlos terlihat bingung, matanya juga sudah terlihat lebih sayu. "Hiburan...? bibi, ini benar?"
Stefani segera menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara gemetar."Carlos, aku... Aku tidak tahu apa yang terjadi"
Tommi segera menyeringai "Jangan khawatir, semuanya akan dijelaskan. Kita semua hanya mencari jawaban tapi is Time to party beb hahaha ."
__ADS_1
Carlos tertawa lemah "Jawaban... ya, jawaban..."
"Carlos, bisakah kamu membantuku? Aku merasa bingung dan takut, Charlos aku mau pulang..."
Carlos melihat Stefani dengan tatapan yang sedikit kabur "Tentu, tentu saja... kita harus keluar dari sini."
Saat Carlos berusaha bangkit, tubuhnya sedikit bergoyang dan dia menopang dirinya dengan dinding. Stefani meraih lengannya, berusaha memberinya dukungan.
Tomi dengan cepat menghalangi Charlos yang berusaha membawa Stefani keluar dari apartemen. Dia berdiri tegak di depan mereka, wajahnya serius dan tanpa ampun.
"Charlos, saya rasa Stefani adalah bagian dari hiburan malam ini. Dia tidak bisa pergi begitu saja."
Stefani semakin takut mendengarnya dan dia semakin mendekatkan diri pada Carlos dan menarik ujung pakaian Carlos. "Tapi aku... aku tidak tahu mau di sini , kau yang menarik aku masuk bukan? aku tidak ingin ikut dalam pesta ini."
Tomi melihat Stefani dengan sikap mencemooh dan dia menjilat bibirnya sendiri dengan gaya mengejek."Mungkin, tapi kau sudah di sini sekarang. Dan kami membutuhkan gadis secantik kamu Stefani."
Stefani merasa terjepit dalam situasi yang semakin sulit. Dia ingin keluar dari sana, tetapi Tomi menghalanginya, sementara Charlos tampak bingung dan tidak berdaya.
Namun, pada saat yang sama,Charlos sebenarnya meremas tangannya sendiri dengan erat. Meskipun dia tidak dalam pengaruh obat atau narkoba apapun, dia berusaha untuk menjaga kepala dingin dan tetap waspada.
Charlos merasa gelisah, merasa misinya semakin dekat dengan kata selesai, tetapi kehadiran Stephanie di sini adalah ancaman yang tak terduga. Dia merasa dilema antara ingin menyelesaikan misi dan juga melindungi Stefani dari bahaya yang mungkin menimpanya.
Namun, dia tidak bisa menunjukkan perasaannya. Dengan hati-hati, dia mencoba mempertahankan penampilan seolah-olah terpengaruh oleh narkoba. Matanya terlihat sayu dan gerakannya sedikit tak menentu saat dia mencoba berbicara.
Charlos dengan suara yang gemetar berkara "Eh... bibi, benar kan? Kita... harus tetap di sini... menikmati pesta..."
Stefani memandang Charlos ,meskipun dia merasa ada yang tidak beres, dia tidak bisa sepenuhnya memahami situasi ini. Tapi apapun itu,dia harus bisa keluar dari tempat ini.
Jika Charlos tidak mau pergi,dia juga tidak akan memaksa nya.
__ADS_1
Tempat ini bukan tempat yang baik.