
Secara perlahan, Stefani mulai merangkul hubungannya dengan Jonathan sebagai pasangan suami istri, meskipun ada perbedaan usia yang signifikan di antara mereka. Namun, Jonathan merasa bahwa Stefani masih terlalu muda untuk menjalani hubungan yang lebih intim.
Hari ini,Stephanie dan Jonathan duduk berbicara di ruang tamu. Stefani menanyakan kabar Carlos dan Jonathan menjawab bahwa Carlos baik-baik saja. Charlie selalu memberikan informasi terbaru tentang Carlos.
"Charlie itu sepertinya tahu segalanya tentang kehidupan Charlos," ujar Stefani sambil tertawa.
Jonathan mengangguk. "Ya, dia memang canggih dalam mencari informasi."
Jhonatan menepuk sofa agar Stefani duduk di sisi nya.Stefani yang awalnya duduk di kursi lain, tidak menolak ajakan jadi dia segera berpindah tempat duduk di samping Jhonatan.
Jhonatan menarik nya sampai dia bersandar ke dada Jhonatan yang bidang.
"Mas...
"Hahaha... kenapa ?marah Hem?"
"Nggak kok, risih aja "
"Ya biasakan aja lah"
Segera wajah Stefani semerah tomat,dia berusaha menenangkan jantung nya yang berdetak cepat.
Stefani kemudian mengelak dengan memperingatkan Jonathan tentang pentingnya tidak meremehkan Carlos.
"mas, jangan mengambil enteng ya. Carlos sudah mulai belajar tentang hal-hal yang tidak baik. Kita harus memberinya perhatian ekstra."
Jonathan mengangguk setuju. "Iya, Ani benar. Mas akan lebih perhatian lagi padanya."
Percakapan pun beralih ke topik lain. Jonathan memberitahu Stefani bahwa ibunya mengundang Stefani untuk berkunjung ke rumah mereka akhir pekan ini.
" Mas, aku tidak tahu. Aku merasa gugup. Apa mas yakin aku bisa datang?"
Jonathan tersenyum lembut dengan merusak rambut stefani. "Tentu kamu bisa, ni. mas yakin kamu akan merasa nyaman di sana. Ani juga sudah kenal kan dengan mana dan papa?"
"Iya sih tapi dulu kan beda, sekarang... Hem..
"Sekarang Ani menantu aldelis kan, jangan takut mama nggak makan orang kok"
Jhonathan masih ingat bagaimana reaksi mamanya ketika dia menikah dengan Yana dulu. Dengan identitas Yana sebagai penari telanjang ,dia tidak menyukainya. Tapi menantu yang dia suka malah menghianati kepercayaan mama .Jadi mungkin Mama tidak akan mengecewakan Jonatan lagi kali ini.
"Mas janji ni, kita akan menjalani pernikahan kita tanpa ikut campur orang tua. palingan kita pergi ke sana ujung minggu atau 1 bulan sekali.Kau mengerti kan ni?"
Mana mungkin Stephanie tidak tahu bagaimana Jonathan bisa bercerai dengan istri pertamanya. Ini semua karena campur tangan dari mama Jonathan yang tidak menyukai Yana.
Semua kisah sudah disebutkan oleh mamanya Sari .Jadi Stefani hanya takut jika mama Jonathan juga tidak menyukainya karena usianya yang terlalu muda.
"Iya mas tapi aku masih khawatir!"
Jonathan menepuk kepala Stefani dan berkata," jangan khawatir prioritas mas adalah Ani, kita tidak akan selalu pulang ke rumah. Jadi Mama tidak bisa masuk campur Hem mas janji "
Meskipun masih ragu, Stefani akhirnya setuju.
Pada saat itulah tiba-tiba saja telepon genggam Stefani berbunyi ketika dilirik itu adalah panggilan mamanya.
Stephanie menarik telepon genggam dan permisi kepada Jonathan lalu dia kabur ke dalam kamar untuk menjawab telepon dari mamanya.
__ADS_1
"mama kapan mama pulang? Ani merindukanmu." kata stefani dengan manja.
"Sayang,mama kemungkinan besar tidak akan pulang dalam dua atau tiga bulan, mama butuh waktu untuk memanjakan diri sendiri setelah bekerja keras selama ini."
Stefani merasa sedikit kesal. "Tapi mama itu tidak adil. Kenapa mama harus pergi begitu lama sih?"
Sari tertawa di seberang telepon. "Eh, jangan marah ya. mama selama sudah bekerja keras, sekarang waktunya mama memanjakan diri sendiri. Lagian mama itu memberikan kamu waktu untuk mengenal Jonathan sebagai pribadi. jika mama tidak pergi Gimana kalian bisa saling kan"
"Tapi mah...
"Udah sayang, memang ini agak merepotkan dan sedikit menyusahkan tapi satu hari Ani pasti tahu apa pilihan yang terbaik untuk Ani cobalah untuk terus maju sayang jika kalian tidak cocok Mama tidak akan pernah menolak permintaanmu untuk bercerai. tapi sekarang kamu itu harus belajar banyak dan belajar juga bagaimana cara merawat diri agar bisa tetap cantik di mata suami oke"
Stefani merasa gelisah ,dia cemberut tapi dia hanya bisa tertawa. "Baiklah,mama benar. Aku juga harus belajar merawat diriku sendiri."
"Bagus, sayang itu dia. Oh ya, jangan lupa menjadi istri yang baik untuk Jonathan, ya!"
Mama berkata beberapa hal lagi dan dia menyebutkan jika perjalanan kali ini 100% dibayar oleh Jonathan.
Jadi Stefani tidak perlu khawatir jika mamanya kekurangan uang.
Setelah telepon ditutup Stefani kembali duduk di tempatnya semula dan dia menatap Jonathan diam-diam.
"Ada apa, Hem?"
"Hem kapan Mas membayar biaya perjalanan mama?" tanya Stefani.
jhonathan tersenyum kecil melihat tingkah lucu Stefani.Stefani seperti kelinci lucu yang sedang menyimpan wortel di mulutnya.
Dia menarik Stefani dalam pelukan dengan gemas dan berkata,"tidak ada pembayaran gratis ,itu adalah hutang dan hutangnya perlu dibayar oleh putrinya"
Begitu Jhonatan lengah, Stefani langsung kabur ke dalam kamar.
"Ani...!"
"Mau mandi dulu mas"pekik nya dari dalam kamar.
"Barengan ya ni,mas juga gerah nih " Jhonatan berlari ke dalam kamar dan pergi ke pintu kamar mandi.Segera suara balasan dari Stefani terdengar.
"Nggak..."
Tidak ada yang tahu jika di apartemen itu terjadi adegan seperti itu.Tapi Jhonatan tidak berniat macam-macam hanya ingin Stefani bisa menerima dia pelan pelan.
Seperti malam itu, mereka tidur bersama,di ranjang yang sama tapi cuman tidur, tidak lebih.
Ke esokan hari nya , masih hari sekolah.Stefani ke sekolah pergi dengan sepeda motornya seperti biasa.
Dia merasa takut teman teman akan curiga, tidak semua teman seperti ana yang mau mengerti.
Jhonathan naik ke dalam mobilnya dengan santai, tetapi dia tidak segera memulai mesin mobil. Sebaliknya, dia menunggu Stefani yang sedang berusaha menyalakan sepeda motornya.
Ketika akhirnya Stefani berhasil membuat sepeda motornya hidup, Jonathan dengan senyum meledek berkata, " Ani benar-benar sepeda motor yang... menarik.Beli yang baru lah atau beli mobil sekalian"
Stephanie mengangkat alisnya dan memalingkan wajah dengan ekspresi polos. "Eh, jelek ya, nggak apa-apa, aku suka kok?"
Jonathan tertawa. "Maksud mas,lihat saja bentuknya. Tidak bisa dipungkiri kalau sudah sangat tua, emang keluaran tahun berapa sih ni."
__ADS_1
"Benar, jelek sih. Tapi jelek jelak begini,dia memiliki begitu banyak kenangan, mas. Aku merasa sayang untuk menggantinya"
Jonathan mengangguk mengerti, tetapi tidak melepaskan kesempatan untuk bercanda. "Rupanya kamu suka yang antik dan vintage ya?"
Stephanie tertawa. "Bukan begitu juga, mas Tapi memang terkadang hal-hal tua itu masih memiliki daya tariknya sendiri. Selain itu, meski sudah tua, sepeda motor ini masih cukup gesit."
Jonathan tersenyum. "Benar-benar antik dan gesit. Kamu memang memiliki selera yang unik."
Stephani menimpali dengan senyum. "Iya, antik dan unik, seperti mas kan"
Mereka berdua tertawa sebelum akhirnya memulai perjalanan mereka menuju tujuan yang mereka rencanakan.
Tapi tidak tau jika ada Rhidho yang melihat ini.
Dia masih tidak percaya jika Stefani bisa bahagia menikah dengan pria tua.Tapi yang dia lihat hari ini sudah menjelaskan itu.
Tapi Rhidho tidak bermaksud untuk menyerah begitu cepat.
Mobil Jonathan tetap mengikuti sepeda motor Stefani dari belakang, keduanya melaju seiring di jalanan yang padat. Keduanya berpisah saat lampu merah menyala merah
Di tengah perjalanan, Stefani melambaikan tangan kepada Jonathan dengan ceria dan Jonathan membalas sambil tersenyum hangat. Setelah itu, mereka berpisah, mobil Jonathan mengambil jalur yang berbeda.
Tanpa mereka sadari, sepeda motor Ridho terus mengikuti arah perjalanan Stefani, memantau dari belakang. Di suatu titik, Ridho melihat kesempatan untuk menyalip Stefani di jalan yang cukup luas. Dia mempercepat motornya dan berhasil berada di depan Stefani, menghentikan sepeda motornya tiba-tiba di tengah jalan.
Chiiiit....
Stefani yang sedang berkendara terkejut dan segera menginjak rem dengan tegas. Dia berhenti tepat di belakang sepeda motor Ridho, memandang heran. Ridho melepaskan helmnya dan menatap Stefani dengan penuh penyesalan.
"Ani .. Ani maafkan aku ni ," ujarnya dengan nada rendah.
Stefani memandang Ridho dengan rasa tidak nyaman. "Ridho, apa yang kamu lakukan di sini?"
Ridho memamerkan senyum sebelum berbicara lagi. "Ani ,aku tahu aku telah membuat banyak kesalahan, tetapi aku masih mencintaimu Ani. Aku ingin meminta kesempatan kedua, Aku tahu kamu sudah menikah, tapi aku tidak bisa menahan perasaanku. Aku ingin kita kembali bersama."
"Sakit otak nih anak "pikir Stefani.
"Ridho, aku sudah menikah Aku tidak ingin kembali ke masa lalu. kau juga punya sudah punya istri maka berbahagialah dengan istrimu."
Ridho terlihat kesal dan dia menggeleng. " Ani apa yang kamu lihat dari lelaki tua itu? Dia tidak cocok untukmu. Aku yang seharusnya bersamamu. Dia...dia pasti tidak akan bisa membuat kau puas ni, pasti begitu kan"
"Apa?apa kau pikir kebahagiaan itu di ukur dengan *****?gila Rhidho,kau gila "
Ridho terlihat seperti orang yang frustasi dia langsung menarik Ani untuk dipeluk tapi Ani mendorongnya dengan keras.
segera matanya menatap Stefani seperti ingin menelannya bulat-bulat "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi. Aku akan membuatmu menyadari bahwa kamu milikku dulu, sekarang dan bahkan di masa depan."
Stefani merasa terkejut dan terganggu oleh kata-kata Ridho yang keras.Dia dulu berpikir jika itu adalah cowok keren yang memberinya perasaan jatuh cinta tapi kenapa sekarang Ridho seperti pria gila yang baru lepas dari rumah sakit jiwa.
"Ridho, apa pun yang kamu katakan, aku tidak peduli. Kami telah memilih jalan kami masing-masing. pergilah menjauh jika tidak aku akan melaporkan kepada polisi kau mengganggu kenyamanan umum"
Ridho tetap memandang Stefani dengan mata penuh tekad,ini adalah gadis yang dia suka tidak seperti istrinya di rumah. semakin stephani marah maka dia semakin menjadi terobsesi "Aku tidak akan menyerah, Ani Kamu akan melihat jika hanya aku yang mencintaimu dengan tulus."
Setelah mengatakan itu, Ridho mengenakan kembali helmnya dan memacu sepeda motornya menjauh. Stefani ditinggalkan dengan perasaan benci tapi terbebani dengan kata-kata dan tindakan Ridho.
"Kenapa aku seperti tidak pernah mengenal Rhidho atau memang inilah dia yang asli"
__ADS_1
Stefani memandang ke arah di mana Rhidho pergi, setelah itu dia kembali berangkat ke arah sekolah nya.