Terjebak Pernikahan Dadakan.

Terjebak Pernikahan Dadakan.
Carlos aldelis


__ADS_3

Stefani tiba di sekolah dengan sepeda motornya dan memarkirkannya di area parkir yang terletak di samping bangunan sekolah. Area parkir ini terdiri dari beberapa deretan tempat parkir yang ditandai dengan garis putih yang jelas. Terdapat pencahayaan yang cukup di area ini, memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para pengendara.


Ketika Stefani memarkir sepeda motornya, dia melihat Ana yang sedang menunggu di dekatnya. Ana dengan antusias dan senyum cerahnya segera menghampiri Stefani dengan gaya yang penuh semangat. "Hai, bibi Stefani! Kamu datang dengan gaya hari ini!" ujar Ana dengan nada bermain-main.


Mendengar panggilan "bibi" dari Ana, Stefani merasa kesal. Mereka berdua memiliki perbedaan usia yang tidak terlalu jauh, Stefani tidak ingin dipanggil dengan sebutan "bibi" .


Ini adalah kata-kata yang menghina banget untuk Stefani.


Stefani menjawab dengan sedikit kesal, "Hei, Ana! Panggil aku ani saja, tidak perlu pakai 'bibi'." Dia mencoba menunjukkan ketegasannya dalam permintaannya, meskipun masih dengan senyum yang terpaksa.


Ana langsung menyadari bahwa Stefani tidak senang dengan sebutan itu. Dia menyampaikan permintaan maafnya dengan cepat, "Maaf ya, ani. Aku lupa kalau kamu tidak suka dipanggil 'bibi'. Aku hanya bercanda kok, tidak ada niatan jahat."


Stefani melihat sikap jujur dan tulus dari Ana, dan kemarahannya pun segera mereda. Dia tersenyum dan berkata, "Tidak masalah, Ana. Aku tahu kamu tidak bermaksud jahat"


"Oke Ani,hei jadi nggak kita shoping untuk makan makan di apartemen Carlos?"


Selagi berbicara kedua gadis itu kemudian melangkah bersama menuju gerbang sekolah, meninggalkan area parkir yang ramai dengan suara tawa mereka yang menggema di sekitarnya.


Stefani dan Ana yang tiba di dalam kelas, menyambut beberapa teman sekelas yang telah masuk ke dalam ruangan. Namun begitu , Stefani belum melihat keberadaan Carlos dan Charlie. Wajah Stefani segera gelisah saat dia mencari-cari keberadaan kedua kembar tersebut.


"Sial,jam segini belom masuk?apa aja kerjaan mereka sih?"pikir Stefani.


Stefani mencoba mengalihkan perhatian dengan berbincang-bincang ringan dengan Ana. Dia berusaha menjaga suasana hatinya tetap tenang dan menyenangkan, meskipun dalam hati masih ada kekhawatiran yang mengganggu.


"Yanti apa kabar kamu? Ada kabar apa hari ini?" tanya Stefani mencoba menenangkan dirinya sendiri sambil tersenyum pada temannya.


Yanti sudah tiba lebih awal daripada Stefani tapi dia masih menjawab dengan riang, "Aku baik-baik saja, ani! Tadi pagi aku makan sarapan enak di rumah. Oh ya, kamu tahu tidak apa yang sedang dibahas di grup kelas kita? Ada proyek baru yang akan diberikan oleh guru kita."


Stefani mendengar cerita dari Yanti dengan serius


Dia benar-benar sedang berusaha memusatkan perhatiannya pada pembicaraan tersebut. Namun, kegelisahan di dalam hatinya masih terasa, seiring dengan kekhawatiran tentang keberadaan Carlos dan Charlie.


Tiba-tiba pintu kelas terbuka dan Carlos serta Charlie masuk ke dalam ruangan dengan langkah ceria. Hatinya sedikit merasa lega melihat mereka hadir di kelas. Stefani menghela nafas lega dan senyumnya kembali merekah.


"Mereka akhirnya datang!" bisik Stefani kepada dirinya sendiri dengan senyum lega di wajahnya.


Carlos dan Charlie berjalan menuju bangku mereka dan bergabung dengan teman sekelas yang lain. Kegelisahan Stefani perlahan menghilang, digantikan dengan semangat dan konsentrasi untuk memulai pelajaran.


Tapi sebelum itu Stefani mengirimkan pesan pada Jhonatan dengan kata-kata, mereka tiba jam 7 kurang 5 menit.


Hanya setelah pesan itu terkirim hati Stefani bisa lega.


"Ngapain telat Hem,kalian pakai mobil kan?"bisik Stefani pada Carlos.Mereka kan bangkunya di belakang Stefani tuh.


Carlos terkejut ketika di tanya tapi hanya sebentar saja sebelum dia menjawab."Udah dari tadi kok,bi.Tadi bicara dulu dengan yang lain di koridor"


"Oh tadi aku sempat khawatir loh, Hem mulai sekarang kalian itu harus beritahu kalau kemana-mana ntar papa kalian nggak nyalahin aku "kata Stefani lagi.


"Hei kalau ke toilet juga harus bilang? Hehehe emang kita anak TK apa?"kata Charlie yang langsung mencibir.


Mamanya saja di rumah nggak seketat itu kok. Ini ke mana-mana harus lapor, padahal cuman telat masuk ke kelas.


"aku itu dapat mandat dari bapak kalian dan sekarang kalian itu ada datang tanggung jawab aku. Jadi kalian itu jangan macam-macam ya. jangan ngerokok apalagi mencoba untuk minum atau pergi ke klub malam. jangan juga berteman dengan yang nakal. makan tuh harus tepat waktu.eh kalian tadi sarapannya apa.hem apa kurang yang aku beliin semalam?"


Tanpa sadar Stefani mulai mengkhawatirkan dua kembar ini. Tapi Ana yang duduk tidak jauh dari Stefani mendengarnya.


Dia segera mencolek Stefani dan berkata."Hei jadi pembokat nggak boleh galak-galak, ntar kartu kreditnya ditarik lagi sama si bos"


Stephanie mendengar itu jadi gagap sendiri. Dia nggak kepikiran jika apa yang disebutkan ini kelewatan batas dengan kapasitasnya sekarang. Segera Stephanie menutup mulut dan fokus dengan tasnya yang tadi belum diletakkan di atas meja.Pura-pura saja Stefani memeriksa hal-hal di dalam tas itu.

__ADS_1


Sementara itu Carlos dan Charly juga melihat bagaimana Stefani sedikit gugup. Mereka hanya menertawakan itu dan diam ketika ada guru yang masuk.


Tapi semua ini masih berlanjut ketika bel istirahat berbunyi dan semua orang bergegas pergi ke kantin.


Beberapa teman sekelas tentu sudah mengetahui tentang Stefani yang menjadi pembokat untuk Charlos dan juga Charlie.


Mereka juga tahu tugasnya diembankan tidak ringan namun begitu mereka tetap menertawakan Stefani yang sedang menghayati profesinya.


Bagaimana tidak Stefani harus mati-matian memesan beberapa makanan sementara dua kembar itu duduk santai di meja.


Stephanie bahkan tidak repot untuk bertanya menu apa yang diinginkan oleh kedua kembar itu dia hanya memesan dan meletakkan semuanya di atas meja.


Hanya ada kata "terima kasih" di mulut Charlos dan juga Charlie. Atau sekali Mereka berkata "senang punya bibi"di sekolah.


Yang anehnya lagi setelah menyaksikan dua kembar ini makan Stefani langsung memotret itu dan mengirimkannya kepada Jonathan.


Dengan caption, mereka makan enak hari ini,apakah bos juga sudah makan?"


Jonathan yang sedang bekerja saat itu belum fokus Tapi dia juga menyempatkan diri untuk melihat caption dan foto yang dikirimkan oleh Stefani.


Pesannya agak lucu dan menggelitik namun di sini Jonathan bersyukur atas inisiatif Stefani. Paling tidak dia mengetahui apa yang dilakukan oleh jagoannya ini.


Jadi Jonathan segera menjawab."terima kasih Ani, Hem belum sempat makan masih banyak kerjaan"


Entah kenapa dia mulai menyebut Stefani dengan nama panggilannya yaitu Ani.


Ini adalah kiriman pesan ketiga kalinya hari ini. Sekarang Jonathan merasa tertarik untuk menunggu pesan selanjutnya.


Dan itu adalah ketika Stefani sedang duduk di area parkir. bukan lagi sebuah screenshot atau foto melainkan sebuah video .


Di dalam video tersebut Stefani melambaikan tangannya dengan senyum manisnya khas seorang remaja.


Dalam video itu Jonathan juga bisa melihat dua jagoannya keluar bersama beberapa pemuda lain yang menurut Stephanie adalah teman baru Carlos.


Mau tidak mau Jonathan sangat puas dengan kinerja Stefani. dengan cara ini dia juga bisa melihat bagaimana dua putra kembar ini bergaul dengan teman-temannya yang lain.


Oh baru sekarang Jonathan mengetahui karakter dua putranya. Padahal Stefani baru mengenal mereka satu hari dan dia juga sudah mengidentifikasi karakter mereka masing-masing.


Sungguh tidak rugi melepaskan kartu kredit unlimited untuk Stefani.


Ketika Stefani mematikan video tersebut dia sebenarnya datang menemukan Carlos beserta Charlie.


Stephanie menyipitkan matanya ketika melihat siapa teman baru dari Carlos tersebut.


Meskipun Stefani tidak sekelas dengan pemuda itu tapi dia mengetahui karakter dari Tommy, ya nama pemuda itu adalah Tommy.


Menurut yang diketahui oleh Stefani, Tommy bukanlah pemuda yang baik-baik dia memiliki kegemaran tersendiri dalam dunia malam. Cara pergaulannya juga bukanlah pergaulan yang sehat .Jadi sedapat mungkin, dia ingin menghentikan Carlos untuk berteman dengan Tommy.


"Carlos tunggu sebentar"panggil Stefani yang membuat semua orang memandang ke arahnya.


Stephanie bukanlah gadis yang suka berinteraksi dengan lawan jenis tapi ini membuat dirinya sedikit bergidik namun mengingat tugas yang diembankan oleh Jonathan dia berusaha untuk kuat.


"Carlos ,kau harus pulang lebih awal. jangan keluyuran dan jangan pergi ke klub malam oke"


mendengar perkataan Stefani itu para pemuda yang bersama Carlos tiba-tiba tertawa dengan serempak.


"Carlos aku tidak tahu kau punya pegawai di sini.Hem Ani kan? ngapain kau ikut campur ,ku dengar kau adalah pembokat. Pergi sana Ini bukan urusan wanita"kata Tomi yang mendelik.


Stefani awal agak takut tapi ketika dia di usir dengan cara kasar, tentu saja jiwa muda Stefani bergejolak.

__ADS_1


Dia balas menatap Tommy kemudian berbalik ke arah Carlos dan Charlie.


"Ups menakutkan sekali, Ani kau punya sinar laser ya .."kata Tommy bercanda.


"Carlos sebaik nya kita pulang, kita bisa pergi kapan-kapan dengan tommy kan" kata Charlie.


"Hei kau takut dengan bibi?hahah Charlie ,aku baru tau kau itu..Hem Cemen "kata Tommy dengan menurunkan jempolnya ke bawah.


Pandangan seorang tommy ketika melihat sosok remaja dari luar negeri yang baru tiba di Indonesia dapat dipenuhi dengan berbagai perasaan dan reaksi.


Dia lebih condong mengagumi gaya dan kepribadian mereka mengenai masalah kebebasan dalam cara bergaul.


Bukankah kebiasaan di luar negeri itu mengadaptasi dengan kemerdekaan seperti ini.


Seperti yang dipikirkan oleh Stefani, sebenarnya Tommy mengajak Carlos dan juga Charlie pergi ke klub malam.


Walaupun sekarang masih siang tapi sebenarnya ada klub malam yang buka selama 24 jam dan Tommy sangat hafal dengan lokasi-lokasi yang seperti itu.


Tidak apa-apa dengan Carlos tapi bagaimana dengan Charlie, sepertinya dia bukanlah orang yang menyukai klub malam seperti yang dia pikirkan.


Apakah Charlie ini adalah tipikal anak mama.


Uh bener-bener nggak asik jika berteman dengan pria seperti itu. Nggak cocok banget dengan karakternya yang berasal dari luar negeri.


Di sisi lain Carlos benar-benar memikirkan apa yang disebutkan oleh Charlie tadi .Dia melengus sebentar dan berkata kepada Tommy."Tommy is not today oke, gimana kalau kita buat janjian, Kamu kan punya nomor aku Hem "


Mendengar itu tentu saja Tommy kecewa. Dia melalakkan matanya terhadap Stefani, bukankah dia yang mendorong mereka agar tidak mengikutinya.


Meskipun sedikit kesal tapi Tommy mengangguk dan berkata,"Oke kita akan ketemuan di lain hari.Tapi ingat jangan sampai ketahuan sama bodyguard-nya ya"


"Hahaha Tommy jangan masuk ke dalam hati .dia adalah seorang gadis hati-hati lo ,ntar jatuh cinta"kata Ana yang tiba-tiba datang entah dari mana.


Melihat kedatangan ana,Tommy jadi bungkam, semua orang satu sekolahan tahu jika Tommy pernah mengincar anak tapi ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.


Kemudian Tommy mendengar alasan di balik penolakan itu yaitu Ana tidak menyukai tingkah laku Tommy yang suka bergaul dengan lingkungan malam.


Ditambah lagi dengan gaya Tommy yang menggunakan cincin di telinganya. Gaya itu saja sudah membuat ana ilfil.


Tomi bukannya takut kepada Ana tapi dia sedikit malu dengan begitu dia melambaikan tangan dan pergi dengan cepat dari tempat itu.


Sementara itu Carlos dan Charly melambaikan tangan juga kepada Tommy sahabat baru mereka.


"makasih ya Ana udah ngusir lalat itu"status Stefani dengan Ana.


Ana tidak menjawab Stefani tapi dia malah memandang ke arah dua kembar yang tampan ini.


"kalau Charly aku ingatkan ya jangan sekali-kali berteman dengan Tommy dia adalah pria yang tidak baik. kalian itu udah tampan begini nanti ketularan jadi entah gimana gitu"kata Ana dengan serius.


Charlie menganggukkan kepala tapi tidak dengan Carlos. dia menggelengkan kepalanya sedikit dan berkata."kami laki-laki it's okay, beb"


namun begitu dia berbisik ke telinga Stefani.


"Jika kamu mengadu kepada papa aku juga akan membuka rahasiamu di sekolah.Jika kau dan papa sudah menikah !"


deg


Jantung Stefani serasa ingin copot ketika mendengarnya. Menurut perkiraan dari tampilan mereka, Stefani pikir Carlos itu adalah pria baik-baik, tapi sekarang dia sudah mengancamnya.


Berani nya dia..

__ADS_1


Tapi sebenarnya Stefani ingin melakukan itu tadi jika tidak dilarang oleh Carlos, hehehe.


__ADS_2