Terjebak Pernikahan Dadakan.

Terjebak Pernikahan Dadakan.
obsesi


__ADS_3

Pada akhir pekan yang dinanti-nantikan, Stefani merasa gelisah saat akan bertemu dengan ibu Jonathan di rumah mewah keluarga Aldelis.


Stefani berdiri di depan lemari pakaian dengan ekspresi bingung. Hari ini adalah pertemuan pertamanya dengan mama Jonathan dan dia ingin terlihat sempurna. Namun, berbagai pilihan pakaian yang tergantung di depannya membuatnya semakin bingung.


Sementara itu, ada Jonathan melangkah masuk ke dalam kamar . "Sudah bingung memilih pakaian, sayang?" tanyanya sambil menghampiri Stefani.


Sekarang Stefani sudah tidak menolak ketika Jonathan memanggil dirinya dengan sebutan sayang. "Iya, mas,aku tidak tahu pakaian mana yang harus aku kenakan"


Jonathan tersenyum penuh pengertian. "Jangan khawatir, mas akan membantu Ani memilih." Ia memandangi deretan pakaian dengan penuh pemikiran sejenak sebelum mengambil salah satu pakaian dan mengeluarkannya dari gantungan.


"Pakaian ini cocok untuk istri kecil nya Jhonatan, nyonya aldelis" ujarnya sambil menunjukkan pakaian tersebut kepada Stefani. Pakaian itu adalah gaun berwarna lembut dengan potongan yang elegan.


"makasih Mas tapi apa nggak kelihatan tua kalau pakai pakaian ini?"


Jonathan meraih pundak Stefani dengan lembut. "Kamu selalu cantik apa pun yang kamu kenakan, ani .Tapi mas ingin ani merasa percaya diri dan nyaman ketika bertemu mama." Tiba-tiba, ia mendekap Stefani dari belakang, memeluknya dengan erat.


Stefani terkejut sejenak oleh kejutan tersebut, tapi segera ia merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam pelukan Jonathan. Dia memandang ke arah cermin di depannya, matanya bertemu dengan mata Jonathan melalui cermin.


"Dengan pakaian ini, Ani pasti cantik," gumam Jonathan dengan lembut, menghapus semua keraguan dalam pikiran Stefani.


Perasaan hangat mengalir dalam diri Stefani. Terima kasih, mas" bisiknya dengan tersenyum, merasakan hatinya yang berbunga-bunga karena kata-kata Jonathan.


Segera kedua nya siap, dan mereka berangkat ke rumah keluarga Aldelis menggunakan mobil.


Dulu Stephanie pernah beberapa kali pergi kediaman aldelis tapi dalam kapasitasnya sebagai putri dari sekretaris group.


Rumah besar itu masih tampak megah dengan arsitektur yang indah, menunjukkan kemewahan dan kelas keluarga tersebut. Ketika pintu besar rumah itu terbuka, Stefani dapat melihat sosok Mama Jonathan yang memakai cadar dengan pakaian yang sopan.


Mama Jonathan tersenyum hangat di balik cadarnya ketika melihat Stefani memasuki rumah. Wajahnya bersinar bahagia, dan matanya tampak bersinar dengan sukacita. "Selamat datang, Ani Mama sangat senang Ani mau datang."


Suara Mama Jonathan terdengar lembut dan penuh kehangatan. Suasana rumah itu langsung terasa hangat dan nyaman seolah mengundang Stefani untuk merasa seperti di rumah sendiri. Mama Jonathan melangkah mendekati Stefani dan memeluk nya hangat.


"Terima kasih, nyonya," ucap Stefani dengan senyuman.


"Silakan panggil aku 'Mama' saja, sayang. Mama sungguh senang kita bisa bertemu dalam hubungan menantu dan mertua ini," kata Mama Jonathan sambil tersenyum penuh makna. "Jonathan memang beruntung memiliki istri sebaik Ani."


"Terima kasih, Mama"


Mama Jonathan mengangguk dengan senyuman lembut. "Ayo, mari masuk ke dalam. mama sudah menyiapkan teh untuk kita. Kita bisa duduk-duduk dan mengobrol lebih lanjut."


Jhonathan pergi berbicara dengan papanya seputar bisnis sementara itu Mama Jhonatan berbincang dengan Stefani.


"Ani ,mama menyesal atas campur tangan mama dalam hubungan Jhonatan dengan istri-istri sebelumnya. Kamu diterima dalam keluarga ini, tapi kamu bebas untuk memutuskan hubungan ini jika tidak merasa nyaman," kata mama Jonathan yang sekarang bercadar dengan hijab besarnya.


Pendapat ayah Jonathan pun sama. "Kami memberi Jhonatan kebebasan untuk mencari kebahagiaannya sendiri sekarang .Jika kalian bahagia, kami juga akan mendukung, begitu kan mah" ucap ayah Jonathan.


Sebuah kisah tentang kegagalan Jhonatan di masa lalu jadi pelajaran buat Mama Jhonatan.


Ini juga lah yang merubah adik laki laki Jhonatan tidak bekerja di aldelis grup tapi pergi untuk membuka perusahaan sendiri .


Ini bukan rahasia untuk Stefani tapi mendengar pengakuan Mama Jhonatan, rasanya ada yang berbeda.


Malam itu, Stefani di jamu di rumah aldelis , yang membuat Stefani sedikit rileks dengan statusnya.


Setelah makan malam, Jhonatan membawa Stefani pulang.Di sini Mama Jhonatan bersedih lagi.Jika dulu dia tidak keras, mungkin Jhonatan masih mau tinggal di rumah alih-alih apartemen.

__ADS_1


Tapi nasi sudah jadi bubur , penyesalan sudah tinggal penyesalan saja.


Papa Jhonatan memeluk Mama Jhonatan ketika mereka melihat mobil itu pergi.


"Ma biarkan anak anak menjalani hidup mereka sendiri, jangan ikut campur lagi, oke"


"Ya pah,mama ngerti.lihat lah Charlos dan Charlie, mereka jarang sekali ke sini kan pah,mama kangen pada mereka padahal sudah satu kota lho"keluh mama Jhonatan.


"Tidak apa-apa mah, mereka tidak besar di sisi kita jadi begitulah adanya "


Ada riak penyesalan di mata mama jhonathan, jika saja dia bisa memutar waktu, mungkin Jhonatan sudah alam bahagia.


Sementara Mama Jhonatan masih teringat tentang masa lalu, Jhonatan menyetir mobil nya dengan Stefani di sisinya.


Tapi perjalanan mereka terhenti tiba-tiba berhenti.


Chiiiit...


"eh kenapa mas?"


"Nggak tahu ni, seperti nya ban kempes deh"belum selesai Jhonatan bicara tiba-tiba saja ,sebuah mobil muncul dari belakang dengan cepat dan menyalip mereka. Mobil tersebut memotong jalur mereka dan memaksa mereka berhenti.


Segera jhonathan mendapatkan firasat buruk dan Stefani yang memucat di tempat.


" Ani,tetap di dalam mobil dan jangan bergerak, hubungi polisi,ni!" seru Jonathan tegas.


Tapi sebelum Stefani bisa merespons, beberapa pria keluar dari mobil tersebut dan mendekati mobil mereka.Stefani menggigil di kursinya tapi masih menyempatkan diri memanggil polisi dari telepon nya.Sementra itu Jonathan memutuskan untuk turun dan menghadapi mereka.


" siapa kalian?"kata Jhonatan


"Tidak perlu tahu siapa kami, serah kan gadis itu jika tidak ingin mati ," kata salah satu dari mereka dengan nada mengancam.


Salah satu dari mereka memegang pisau dengan pandangan ganas di matanya, siap untuk melukai Jhonatan yang berani menghadang mereka.Tapi Jonathan tidak gentar.


Ketika salah satu penculik mencoba mendekati Jonathan dengan pisau terangkat, Jonathan dengan cepat merespons.


Ia melompat maju, menghindari serangan pisau dan dengan gerakan yang cepat dan presisi, dia mengarahkan serangan ke bagian tangan penculik yang memegang pisau. Tangan penculik itu terpaksa melepaskan pegangannya dan pisau pun terjatuh ke tanah.


"akhhhh,sialan, semuanya cepat serang dia"


Sekarang Jonathan harus menghadapi lima orang lainnya yang tidak kalah ganasnya. Dengan kelincahan dan keterampilan bertarung yang luar biasa, Jonathan mampu menghindari serangan-serangan musuhnya. Ia menggunakan serangan-serangan balik yang cepat dan efektif, menghantamkan pukulan ke titik-titik lemah para penculik.


Seiring pertarungan berlangsung, Jonathan berhasil melumpuhkan beberapa dari mereka. Seorang penculik terjatuh setelah menerima pukulan telak ke perutnya, sementara yang lain terkena serangan ke bagian kaki mereka. Penculik-penculik yang lain menjadi semakin ragu dan panik karena pertarungan yang tidak seimbang ini.


Dalam momen kritis, Jonathan berhasil meraih pisau yang telah terjatuh dan segera melompat menuju salah satu penculik.


"Ayo ,maju lah "


Nyali penculik segera cuit, dengan tangan kosong saja mereka kewalahan apalagi dengan pisau di tangannya.


"Ani apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan penuh perhatian.


Stefani mengangguk, matanya masih mencerminkan ketakutan. "Ya, mas aku... aku baik-baik saja"


Tiba-tiba, suara sirene polisi terdengar semakin dekat.Jonathan menoleh ke arah suara tersebut,sedikit lengah para penculik kabur dari tempat itu.

__ADS_1


Tapi sebelum mobil polisi tiba, mobil penculik tiba-tiba bergerak dan dengan cepat melaju menjauh. Polisi tiba di tempat kejadian dengan cepat, tetapi mobil penculik berhasil kabur.


Stefani dan Jonathan bernapas lega ketika melihat mobil penculik menghilang dari pandangan. Meskipun polisi sudah datang, mereka tidak dapat menghentikan para penyerang.


"Kamu baik-baik saja, ni ?" tanya Jonathan khawatir.


Stefani mengangguk, matanya penuh ketakutan."Iya, mas, Ani..Ani takut mas "


"nggak apa-apa,udah aman kok"kata Jhonatan yang sedang memeluk Stefani.


Dalam pelukan Jonathan, Stefani merasa aman, tahu bahwa dia memiliki seseorang yang akan selalu melindunginya.


Jadi malam itu, Jhonatan dan Stefani harus pergi ke kantor polisi untuk menyelesaikan formalitas.


Sementara itu Para penculik yang berhasil kabur dari tempat kejadian akhirnya bertemu dengan Rhidho. Wajah Rhidho memerah karena kemarahan saat melihat kegagalan mereka.


"Darn! Kenapa kalian gagal?!" Rhidho berteriak, memandang marah kepada para penculik.


Salah satu dari mereka berusaha menjelaskan, "Maaf, kami tidak bisa melakukannya karena ada polisi yang tiba tiba datang!"


Rhidho semakin marah dan dengan cepat, tangannya meluncur ke arah wajah salah satu penculik dan menamparnya dengan keras. "Bodoh! Kalian pikir aku membayar kalian untuk gagal?!"


"Aku membayar kalian untuk tugas ini dan kalian gagal! Sialan!" Rhidho mengeluarkan kata-kata kasar dengan suara tinggi.


Tapi situasi berubah drastis saat salah satu penculik memberontak.


"Punya uang saja udah belagu"


Dia meraih tangan Rhidho dan mencoba membalas serangan. Terjadi perkelahian singkat di antara mereka, dengan pukulan dan tendangan terjadi saling berbalas.


"Kamu pikir kami takut padamu, Rhidho?!" teriak penculik itu sambil menendang nya.


Rhidho memandangnya dengan marah, dan tanpa ragu, dia menghentikan perkelahian dengan pukulan keras yang membuat penculik itu terjatuh ke tanah.


"Aku membayar kalian untuk mengambil gadis itu dan membawanya padaku! Tidak ada alasan untuk gagal!" kata Rhidho dengan tegas, wajahnya masih dipenuhi kemarahan.


Namun, para penculik lainnya merasa takut dan tidak ingin merasa lebih jauh kemarahan Rhidho. Salah satu dari mereka berbicara dengan suara bergetar, "Tidak, Rhidho, kami akan menyelesaikan tugas ini. Kami akan mengambil gadis itu."


Rhidho menatap mereka tajam, mengeluarkan napas panjang dalam usaha untuk meredakan kemarahannya. "Baiklah, kalian punya satu kesempatan lagi. Tapi jika kalian gagal lagi, jangan harap ada pembayaran."


Setelah beberapa momen ketegangan, para penculik yang lain akhirnya menyetujui dan meninggalkan tempat itu. Rhidho tetap terlihat marah, tetapi dia tahu dia tidak punya pilihan lain selain memberi mereka kesempatan kedua.


Setelah mereka pergi, Rhidho merasa frustrasi dan kesal. Dia meraih kepalanya dengan tangan, berusaha meredakan emosinya yang memuncak. "Tidak ada yang bisa menghentikanku. Aku tidak akan biarkan dia bersama Jonathan," gumamnya dengan amarah yang tak terbendung.


Dalam keadaan yang tertatih-tatih dan wajahnya lebam akibat perkelahian, Rhidho meninggalkan lokasi dengan sepeda motornya. Kepalanya masih terasa berdenyut karena emosi yang tak terkendali dan tindakannya yang mendatangkan masalah.


Saat dia memacu sepeda motornya di jalanan yang sudah mulai gelap, pikirannya melayang pada Stefani. Wajahnya terbayang dengan jelas, dan dia berpikir tentang cara untuk membuat Stefani menjadi miliknya, baik suka maupun tidak.


"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada orang lain yang akan bisa. Aku tidak akan membiarkan dia bersama Jonathan, tidak akan lagi." Suara marah dan determinasi terdengar jelas dalam pikirannya, segala nya segera berubah menjadi sebuah obsesi terhadap Stefani.


Di tengah perjalanan, Rhidho berhenti sejenak dan mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi seseorang yang sudah dia bayar mahal . "Pastikan kamu mengikuti Stefani selama 24 jam penuh. Aku ingin tahu setiap langkahnya, setiap gerakannya. Aku akan membayar lebih jika kamu berhasil memberiku informasi yang aku butuhkan," ucapnya dengan tajam.


Setelah pembicaraan singkat, Rhidho melanjutkan perjalanannya. Meskipun dia tidak bisa berada di dekatnya setiap saat, dia merasa bahwa dia masih memiliki kendali atas situasi.


"Ani adalah milikku, dan aku tidak akan mengizinkan siapapun merampasnya dariku," batin Rhidho dengan tekad yang semakin kuat. Dia tidak peduli apa yang harus dia lakukan, dia hanya tahu bahwa dia akan berjuang dengan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkannya.

__ADS_1


Saat dia melintasi jalan yang sempit dan kurang diterangi, pikirannya semakin terobsesi. Dia membayangkan rencana-rencana yang mungkin dia lakukan untuk menjauhkan Stefani dari Jonathan.


Dalam kegelapan malam yang semakin pekat, pikiran Rhidho semakin terpuruk. Obsesinya terhadap Stefani terus membakar api kemarahannya.


__ADS_2