
Stephanie merasa tak punya pilihan lain selain kembali ke apartemen Jonathan. Namun, ketika ia tiba, Jonathan belum pulang sesuai jadwal rutinnya.
Beberapa waktu sebelumnya, Jonathan telah mengirim pesan bahwa ia akan pulang sekitar jam 06.00 sore. Kebiasaan ini menjaga kesehatan dan kesejahteraannya setelah dua pernikahan yang tidak berhasil.
Dengan rutinitasnya yang teratur, seperti masuk kantor pukul 07.00 dan pulang makan siang seperti pekerja pada umumnya, Jonathan selalu meninggalkan kantor sekitar jam 06.00, satu jam lebih lambat dari yang lainnya. Ini demi menjaga kesehatan dan keseimbangan mentalnya.
Stephanie mengetahui rutinitas Jonathan ini melalui ibunya, jadi ia tidak terkejut ketika Jonathan tidak ada di apartemen. Dengan bingung, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan bahkan tidak ada mood untuk memasak.
"Mungkin lebih baik aku tidur di kamar lain saja daripada bersama Tuan Jho," pikir Stephanie.
Namun, ketika ia mencoba membuka pintu kamar tersebut, ia menemukan bahwa pintu itu dikunci. Dengan rasa kesal, Stephanie memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, sembari berharap Jonathan segera kembali.
"Sambil menunggu Tuan Jonathan pulang," pikirnya.
Maka ia memasuki kamar Jonathan, di mana malam-malam indah telah dihabiskan bersamanya. Namun, apa yang ditemukannya saat membuka pintu membuat matanya melebar kaget.
"Wah, ini rasanya sangat berbeda."
Dulu, kamar Jonathan didominasi warna hitam abu-abu dengan sentuhan putih di beberapa bagian. Tetapi sekarang, kamar itu berwarna biru cerah. Furniture-furniture yang ada di dalamnya pun berbeda.
Ada sentuhan feminin yang kuat terpancar dari sana, seperti lemari pakaian besar berwarna pink dan meja rias yang cantik. Ketika matanya terpaku pada meja rias, ia melihat sejumlah kosmetik bermerk yang dikenalnya, meskipun masih terbungkus dan belum pernah digunakan.
"Ini pasti ulah Mama," keluh Stephanie.
Dengan rasa penasaran, Stephanie mencoba membuka pintu lemari yang tidak terkunci. Namun, begitu pintu terbuka, ia merasa tercengang lagi.
Semua yang ada di dalam lemari bukanlah miliknya. Semua barang sesuai dengan selera Stephanie, dari pakaian hingga tas dan sepatu bermerek.
Stephanie tidak percaya jika barang-barang ini bukanlah barang branded jadi dia mencari tahu dengan searching di Google.
Setelah mendapatkan gambar dan harga di Google Stefani terduduk di ranjang dengan tidak bisa berkata apa-apa.
Dress mini dengan logo Gucci yang tercetak, memberikan sentuhan gaya yang khas, seharga sekitar Rp 2.500.000.
Tas selempang Gucci dengan motif monogram ikonik, memberikan nuansa mewah pada tampilan, seharga sekitar Rp 7.000.000.
Sneakers Gucci dengan desain modern dan logo yang mencolok, memberikan kesan sporty dan stylish, seharga sekitar Rp 5.000.000.
Dress mini dengan potongan elegan dan aksen signature Chanel, seharga sekitar Rp 3.500.000.
Tas flap dengan logo Chanel yang khas dan tali rantai, memberikan kesan klasik yang mewah, seharga sekitar Rp 12.000.000.
Sepatu balerina Chanel dengan desain timeless dan detail merek yang halus, memberikan tampilan yang anggun, seharga sekitar Rp 4.800.000.
"ini gila guys, gila banget"Kata Kiki yang ingin menjerit bahagia. Wanita mana yang tidak suka dengan barang-barang branded ini.
Tapi kemudian jari-jemarinya mengencang lagi.
__ADS_1
"Hum ingin berpikir cantik jika Stefani mudah dirayu? Ckckck jangan harap"
Meskipun masih ada sedikit rasa kebahagiaan tapi kekesalannya juga masih seimbang. Dengan wajah jelek Stefani menarik sebuah handuk yang ditemukan dalam lemari tersebut. jangan pernah tanya berapa harga handuk ini karena itu juga merek Chanel.
Stephanie memasuki kamar mandi Jonathan dengan hati yang masih agak kesal, tapi segera pandangannya berubah saat ia melihat suasana yang berbeda dengan kamar mandinya sendiri. Terang benderang dan penuh dengan nuansa yang menenangkan, kontras dengan kesan tergesa-gesa yang biasanya ia rasakan di kamar mandi Stefani.
Di dalam kamar mandi Jonathan, tergantung dari cermin dinding, terpampang latar belakang dinding yang dihiasi dengan mural hutan yang rimbun. Dinding-dinding berwarna hijau lembut dan terdapat lukisan daun-daun hijau yang realistis. Lantai kamar mandi dirancang dengan batu alami yang memberikan nuansa alami dan menyatu dengan konsep hutan yang diusung.
Wangi lembut bunga dan aroma kayu mampu memenuhi udara, menciptakan sensasi seperti berada di alam terbuka.
Stephanie, yang semula agak kesal, tak dapat menahan senyum terkesan melihat keindahan dan ketenangan di kamar mandi ini.
"Begitu cantiknya... Rasanya seperti aku berada di tengah hutan yang tenang. Suasananya sangat menenangkan. Ternyata Jonathan memiliki selera yang luar biasa. Senang sekali aku menemukan tempat seperti ini"
Namun, Stefani masih tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar, "Mungkin wajar saja ada kamar mandi seindah ini, mengingat kondisi Jonathan yang memiliki penyakit mental. Ini mungkin tempatnya merasa rileks."
"Meskipun begitu, aku tidak akan pernah lemah. Tidak peduli seberapa besar rayuan yang Jonathan lontarkan, bahkan berhubungan dengan kekayaan sekalipun."
Meskipun awalnya agak kesal, Stefani perlahan-lahan mulai merasa rileks saat ia memanjakan dirinya dalam bak mandi. Air hangat yang mengalir menenangkan saraf-sarafnya, dan dengan tenang ia melupakan segala kekesalannya.
waktu berlalu tanpa disadari saat Stefani menikmati momen tersebut. Ketika ia akhirnya keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat Jonathan, sedang berganti pakaian kerjanya dengan santai.
"Tu—"
"Eh mas, bukan Tuan," tegur Jonathan memotong.
Namun, setelah beberapa langkah, Jonathan berbalik dan tiba-tiba mencium dahi Stefani sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
Stephanie merasa bengong sesaat, namun kemudian ia langsung memarahi Jonathan atas tindakan tak terduga tersebut, karena itu dilakukan tanpa izin.
"Dasar pria, main sosor aja"gumam nya pelan
Meskipun demikian, ketika Jonathan mengusulkan untuk pergi makan malam dan meminta Stefani untuk berpakaian bagus, Stefani masih bersedia.
Tidak ada pakaian yang dibawanya dari rumah karena itu dia terpaksa memakai pakaian yang mahal di dalam lemari. jadi di sini Stefani sama sekali tidak memiliki pilihan selain daripada memakainya. lagi pula Stefani juga tidak berniat untuk memasak karena tidak ada mood.
Setelah berpakaian dan merias wajahnya sedikit Stefani menunggu Jonathan di ruang tamu.
Jonathan keluar dari kamar dengan pakaian yang lebih santai. Dia menggunakan kemeja linen berwarna putih yang terbuka hingga dada dan celana chino berwarna khaki. Penampilannya membuat wajahnya terlihat segar dan awet muda di mata Stefani.
Namun, Stefani segera mencubit bahannya sendiri untuk mengingatkan dirinya agar tetap rasional dan tidak terlalu terpukau dengan pesona Jonathan yang hanya mengenakan pakaian santai.
Jonathan tak tahu apa yang dipikirkan oleh Stefani, tetapi dia tetap berdiri di depan Stefani yang pura-pura acuh tak acuh di ruang tamu.
"Hem, Nyonya Aldelis, apakah Anda memiliki referensi untuk makan malam ini?" kata Jonathan dengan senyum khasnya.
Ucapan "Nyonya Aldelis" membuat Stephanie terkejut, tapi dia memilih untuk hanya tersenyum kecil sebagai respons atas julukan itu. Melihat dia yang tidak merespons, Jonathan hanya tertawa kecil.
__ADS_1
"Kalau Nyonya Aldelis bingung, maka saya akan memilih tempatnya. Ayo pergi," kata Jonathan sambil meraih tangan kecil Stefani dan memegangnya erat.
Meskipun bingung dengan perkembangan yang tak terduga, Stefani mengikuti langkah Jonathan. Jantungnya berdetak cepat, dan meski berkeringat, ia membiarkan Jonathan membawanya ke pintu lift. Ketidakpastiannya membuatnya merasa campur aduk, tetapi saat ini dia hanya mengikuti alur yang Jonathan buat.
Saat Stephanie masih terperangah dalam lautan perasaannya sendiri, tanpa ia sadari, hadiah misterius yang diberikan oleh Jonathan telah dibawa ke dalam mobil pribadinya. Keduanya memacu mobil menuju sebuah restoran eksklusif di pusat Jakarta, tempat yang memiliki reputasi untuk memberikan pengalaman makan malam yang istimewa.
Sesampainya di restoran, cahaya lembut dari lampu gantung di atap menciptakan suasana yang intim dan misterius. Nuansa kayu hangat dan tata ruang yang elegan memancarkan aura romantis, sesuai dengan suasana yang Jonathan rancang untuk malam ini.
Para pelayan dengan pakaian seragam yang rapi menyambut kedatangan mereka di pintu masuk dengan ramah. Mereka dengan hormat membantu memandu keduanya menuju meja yang sudah disediakan. Jonathan mengambil kursi untuk Stefani, memberikan perlakuan yang penuh sopan dan perhatian.
Pelayan dengan ramah menyodorkan menu makanan kepada Jonathan dan Stefani.
Ketika mereka duduk, Stefani dengan senyum malu-malu meminta, "Bolehkah Tuan yang memesan?"
Jonathan melihat Stefani dengan hangat dan setuju, "Tentu sayang "
Ia memesan hidangan yang lezat dan disajikan dengan tampilan yang menarik, menjaga agar menu tersebut cocok dengan selera Stefani.
Jonathan memesan "Chicken Alfredo Fettuccine" dengan saus krim yang lezat dan potongan daging ayam yang lembut. Hidangan ini dikenal dengan rasa yang memikat dan sesuai dengan selera remaja seperti Stefani.
Jonathan juga memesan hidangan yang cocok untuk dirinya sendiri, "Grilled Beef Tenderloin" dengan saus bernama "Special garlic Blend".
"Jangan merasa gugup, sayang. Ini bukanlah yang terakhir kalinya kita menikmati sajian di restoran ini," ucapnya dengan lembut. "Kita masih memiliki banyak waktu di depan kita, dan kelak kamu bisa makan di tempat seperti ini kapanpun kamu suka."
Suaranya penuh keyakinan dan cinta, membuat raut wajah Stefani perlahan-lahan berubah dari gugup menjadi hangat.
Jonathan melanjutkan dengan menarik jari jemari kecil Stefani untuk dia genggam, "Tapi tahu tidak, mas ingin memastikan bahwa setiap pengalaman yang kita bagikan begitu spesial dan tak terlupakan. Ada tempat yang selalu ingin mas kunjungi bersamamu, Ani .kira kira di mana Ani ingin pergi untuk bulan madu kita nanti?"
Deg..deg..deg..
Stefani merasa dadanya berdebar kencang mendengar pertanyaan Jonathan. Dia tidak mampu berkata-kata tapi senyum malu terukir di bibirnya dan pipinya memerah.
Baik Stefani maupun Jonathan, tidak tau jika seorang pelayan di restoran.Sedang menatap Stefani dari kejauhan dengan pandangan penuh kerinduan. Dia meremas ujung baju nya dengan perasaan yang berkecamuk.
Di tengah suasana yang semakin romantis dengan iringan musik lembut dari piano, Jonathan dan Stefani masih dalam dunianya sendiri. Jonathan tidak seperti pria muda yang lainnya dia lebih berterus terang dan to the point tentang apa yang dia rasakan.
Ditambah lagi dengan iringan musik dan tangan yang masih digenggam oleh Jonathan membuat Stefani tidak bisa tidak tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke sisi lain karena malu.
Tapi justru karena itulah mata Stefani tak sengaja menangkap pandangan penuh kerinduan dari pelayan tadi.
Hati Stefani tiba-tiba terkejut, dan ekspresi terkejutnya membuat pesan romantis yang diucapkan oleh Jonathan perlahan-lahan tergantikan oleh perasaan lain.
Dia mengenali sosok itu,ini adalah Ridho mantan tunangannya. Setelah beberapa detik, raut wajah Stefani berubah menjadi kesedihan yang mendalam.
Momen romantis yang seharusnya indah tiba-tiba berubah menjadi adegan yang menyedihkan. Pandangan matanya terpaku pada sosok yang sekarang menjadi kenanjilgan.
Meski Jonathan masih memegang tangannya dengan lembut, hati Stefani merasa berkecamuk. Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkanan senyum malu di bibirnya seakan lenyap begitu saja.
__ADS_1