
Kehilangan Stephanie kali ini benar-benar membuat semua orang kebingungan lagi.
Charlie sudah bersiap mengantisipasi masalah ini sebelumnya dengan mengaktifkan GPS pada telepon genggamnya.
Ketika di lokasi yang terdeteksi oleh GPS, mereka bergerak dengan mobil bersama Jonathan. Tapi begitu tiba, mereka mendapati bahwa lokasi tersebut jauh dari ibukota, berada di sebuah rumah sederhana yang terkunci.
"Charlie, apa kau yakin ini tempatnya?" tanya Jonathan yang khawatir, sehingga dia tidak memegang kemudi karena takut Jonathan akan kehilangan kendali.
"Ya, Papa, malahan teleponnya ada di sini," jawab Charlie.
"Iya, tapi kan ini rumah kosong!" kata Jonathan dengan kekhawatirannya.
Charlie memeriksa sekitar dan menyadari bahwa penduduk yang terdekat berjarak sekitar 200 meter. Jadi, jika ada situasi seperti Stefani terkurung di dalam rumah ini, kemungkinan tidak ada yang akan mengetahuinya.
Charlie segera keluar dari mobil dan mengeluarkan kunci serbaguna yang selalu dibawanya.
"Charlie, kau punya kuncinya?" tanya Jonathan.
"Papa, ini adalah kunci serbaguna yang bisa membuka hampir semua jenis kunci, nampaknya Papa kurang up-to-date ya, hahaha. Begitulah cara anak muda seperti saya bergaul," kata Charlie setengah bercanda.
Jonathan mungkin tidak terlalu mengenal putranya, mungkin ini adalah gaya mereka berbicara di Amsterdam. Jadi dia hanya memandangnya dan berharap mereka bisa segera masuk.
Mereka berhasil membuka pintu pagar dan masuk ke dalam rumah. Charlie kemudian membuka pintu rumah dengan kunci serbagunanya.
Krik!
Pintu terbuka, dan jelas bahwa tidak ada siapa-siapa di dalam rumah ini.
"Ani! Ani, apa kau di sini?" teriak Jonathan dengan cemas, membuka pintu-pintu kamar yang dapat dia buka. Namun, dia akhirnya hanya menemukan telepon genggam Stefani.
"Charlie, teleponnya ada di sini, tapi dia tidak ada. Charlie?"
Charlie juga bingung dengan situasi ini. Dia tidak memiliki pengalaman lapangan. Kemampuannya berdasarkan teknologi. Tanpa bantuan telepon genggam, dia merasa terbatas.
Sama seperti Carlos, dia bisa membantu Carlos hanya karena Carlos terus-menerus memakai gelang pelacak. Tanpa itu, dia juga tidak akan bisa mengetahui lokasi terkini saudara kembarnya.
"Di sini tidak ada CCTV yang bisa melacak lokasi terakhir. Jadi, aku harus mencari cara lain. Ah, jika ini Carlos, apa yang akan dia lakukan?" pikir Charlie dalam hatinya.
Sama seperti Charlie, Jonathan terlihat 10 tahun lebih tua dari penampilan aslinya. Wajahnya penuh kerutan, dan dia sedang memikirkan kemungkinan terburuk yang sedang dialami oleh istri kecilnya.
"Papa, tolong berpikir positif. Kami sangat membutuhkan kekuatan dan dukungan Papa pada saat seperti ini. Jadi, jangan sampai jatuh sakit," kata Charlie, berusaha memberikan semangat kepada Jonathan.
"Ya, aku tidak boleh menghancurkan diri dengan pikiran negatif. Mungkin Stefani hanya sedang marah dan tidak ingin menghubungi kita, jadi dia tinggalkan teleponnya di sini," ujar Jonathan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Tapi... Tapi bagaimana jika dia diculik? Aku harus kuat. Aku bukan lagi anak yang lemah dan mudah menyerah seperti dulu. Jika aku tidak bisa menghadapi situasi ini, aku tidak pantas menjadi suaminya," pikir Jonathan dalam hati.
__ADS_1
"Charlie, ayo kita pulang. Papa akan mengambil langkah-langkah berikutnya. Kamu bisa membantu Papa, siapa tahu penculik akan menghubungi kita untuk meminta tebusan," kata Jonathan dengan suara pelan.
Charlie juga memikirkan kemungkinan tersebut, tetapi dia tahu ada sesuatu yang harus dia lakukan terlebih dahulu dengan Ana. Ana pasti memiliki nomor telepon Mirae.
"Oke, Papa. Ayo kita pulang. Papa harus tetap kuat dan tidak boleh sakit lagi. Kami sangat membutuhkan Papa," kata Charlie.
Namun, Charlie merasa menyesal atas keputusan datang ke Indonesia dengan misi ini. Mungkin jika mereka tetap berada di Amsterdam, kehidupan pernikahan antara Jonathan dan Stefani tidak akan begitu rumit.
Mereka mungkin akan menghadapi beberapa masalah, tetapi semua ini mungkin tidak terjadi jika bukan karena misi yang mempertaruhkan Stefani.
Charlie merasa bersalah dan jika Stefani benar-benar diculik oleh geng itu karena alasan dia dan Carlos, mereka mungkin tidak akan pernah bisa memaafkan diri mereka sendiri seumur hidup.
Sementara itu, Stefani yang sedang dicari oleh Jonathan sebenarnya berada di bawah dengan speedboat menuju sebuah pulau yang tidak dikenali. Ya, ini adalah salah satu dari Kepulauan Seribu.
Stefani jelas tidak tahu kemana diankan di bawa.
Stefani ditutup matanya dan dibukanya ketika dia sudah tiba di sebuah kamar bersama beberapa gadis seusianya. Namun, mereka sepertinya bukan warga negara Indonesia.
Gadis-gadis itu terlihat lesu, menunjukkan bahwa ini bukanlah hari pertama mereka dibawa ke sana.
"Mirae... Mira, kamu... kamu menculikku, Mira? Kenapa kamu lakukan ini? Bukankah kita teman?"
Mirae hanya berdiri di pintu dan tersenyum, "Aku bilang kita akan pergi ke pesta, dan inilah pestaku. Selamat datang di pesta ulang tahunku yang murah, hahaha."
Seorang pria bule berbicara di telinga Merah, dan gadis itu tertawa geli.
"Ani..." Mirae mendekatinya dan membelai wajah cantik Stefani. Gadis ini terikat dengan tali, dengan tangan diikat di belakang, sehingga dia tidak bisa melawan.
Stefani hanya bisa menahan rasa sedihnya, tetapi matanya tampak berkaca-kaca.
"Ani, kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi miskin. Di sekolah, tidak ada yang ingin tahu siapa Mira, apalagi alasannya jika bukan karena aku ini adalah orang miskin."
"Kamu tahu, sebenarnya kamu cukup beruntung ada seseorang yang tertarik padamu dan bersedia membayar mahal untuk ini. Jadi, Ani, jangan pernah salahkan aku karena menjadi serakah, tapi salahkan dirimu sendiri, kenapa kamu bisa menjadi cantik, hahaha."
"Mira, tolong, Mira, tolong lepaskan aku. Jika kamu melepaskanku, aku tidak akan menceritakan ini pada siapa pun, aku akan membayarmu dengan uang, plis, Mira, ohh, uang, aku... aku akan membayarmu dengan uang juga, kalau kamu," kata Stefani.
"Oh, sayangku, aku memang suka uang, tapi aku masih harus menghargai pelanggan yang membayar aku pertama kali, jadi maaf ya," kata Mira sambil meninggalkan lokasi dan menutup pintu.
Stephanie berteriak lagi, memanggil Mira berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari balik pintu, sehingga Stefani hanya bisa menangis.
Beberapa gadis dengan kewarganegaraan berbeda segera bangkit dan membuka ikatan Stefani. Stephanie tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada semua orang.
Salah satu dari gadis-gadis itu bertanya dalam bahasa Inggris, "Do you know Mira? Mira is a bad girl, and she's the one who brought us here."
Stefani merasa bingung karena bahasa Inggrisnya tidak begitu lancar, dan dia hanya bisa menggelengkan kepala dengan cemas.
__ADS_1
Gadis-gadis lainnya mengekspresikan rasa simpati terhadap Stefani yang tidak mampu berbicara dalam bahasa Inggris. Salah satu dari mereka berkata dalam bahasa Inggris, "We might die here because we'll never get any help."
Yang lain berkata, "Let's check Stefani. Does she have a phone?"
Segera salah satu dari mereka maju dan memeriksa Stefani, Stephanie tidak mengerti bahasa Inggris tapi jika hanya telepon dengan mudah dia mengerti jika orang-orang ini sedang mencari telepon genggam pada dirinya.
"No phone,I have no phone"
Gadis-gadis lainnya menyayangkan Stefani yang tidak memiliki telepon di dalam kantongnya. Salah satu dari mereka berkata dalam bahasa Inggris, "If there's no phone, there's no hope."
Mereka merasa putus asa, dan kekecewaan tergambar di wajah mereka. Akhirnya, mereka semua menangis lagi karena merasa terjebak di situasi yang sulit ini.
Stefani merasa sangat bersalah karena tidak bisa membantu mereka atau memberikan informasi yang diperlukan, dan dia pun ikut menangis.
No phone...
"Ahh telepon itu tadi tinggal di rumahnya Mira, tidak itu sebenarnya bukan tinggal tapi sengaja ditinggalkan oleh penjahat itu, Huhuhu Mama,Ani takut huhuhu mas,mas Ani takut mas"kata Stefani pelan.
Dia takut tapi dia tidak berani untuk menangis keras-keras.Jika bisa biarkan para penjahat itu lupa dengan keberadaannya di sini.
Biarkan saja .
"Mas , ini mungkin salah aku karena pergi tanpa minta izin.huhuhu aku salah mas"
Selagi Stefani sedang menangis di tempat yang berbeda merah bertemu dengan beberapa pria sekaligus.
Di sekolah Mira adalah seorang gadis tertutup yang tidak dilirik oleh beberapa teman sekelas tapi di sini Dia adalah seorang gadis yang sedikit angkuh dan juga sombong.
Namun begitu Mira bukanlah satu-satunya gadis di sini.Dalam lingkaran yang dikenali oleh Mira seorang gadis lemah akan ditindas dan gadis kuat akan lebih menonjol.
Jadi di sinilah dia.
Pria bule dengan tinggi 1,8 m menyapa Mirae dengan ciuman bibir yang di sambut oleh Mira dengan panas.
Setelah beberapa saat,pria itu bertanya, "Mira, apa kau sudah mendapatkan gadis itu?"
"Apa yang tidak bisa dilakukan oleh Mira ini, bos."
Pria itu tersenyum dan mencium Mira lagi sekilas. "Kau tahu, Mira, gadis itu berharga 100 juta. Aku tidak tahu apa yang istimewa darinya, tapi kita bisa bersenang-senang dengan 100 juta hahaha."
"Jadi, kapan kita akan menerima uangnya, bos?"tanya Mira yang tidak peduli dengan nasib Stefani yang dia pedulikan hanyalah uang 100 juta.
"Pokoknya tidak lama lagi," jawab pria tersebut.
100 juta dalam urusan mereka hanyalah uang minum saja. awalnya pekerjaan ini bahkan tidak akan dilirik oleh siapapun tapi ketika Mira melihat foto target dia mengenalinya sebagai Stefani.
__ADS_1
Melihat target yang begitu mudah, mana mungkin Mirae melewatkannya begitu saja. Entah siapa yang sudah memesan gadis ini ,tapi 100 juta masihlah uang kan.