
Charlie duduk di meja komputernya di apartemennya yang remang-remang, wajahnya dipenuhi dengan ketegangan dan ketidakpastian. Dia telah berbulan-bulan menginvestigasi kelompok kriminal yang dicurigai terlibat dalam jaringan yang lebih besar daripada ini.
Tapi kenapa informasi tentang penculikan Stephanie tidak benar-benar dia dapatkan.
Kamar apartemennya dipenuhi dengan layar monitor yang berkedip-kedip, menampilkan diagram dan kode-kode rumit.
Ketika jari-jemarinya menari di atas keyboard,Charlie bergumam dalam hati, "Apakah benar-benar tidak ada hubungan antara kelompok itu dengan para penculik?" Dia merasa frustasi karena setiap jejak yang dia ikuti tampaknya tidak membawanya lebih dekat pada jawaban.
Tiba-tiba, gelang komunikasi di pergelangan tangannya bergetar dengan lembut, mengirimkan sinyal kecil yang mengantar kode-kode khusus sebagai pesan. Charlie segera tau jika pesan tersebut berasal dari Charlos.
Dalam pesannya, Charlos mengatakan bahwa dia juga tidak menemukan hubungan apa pun antara penculikan dan kelompok yang mereka intai.
"mungkin saja mereka adalah kelompok yang berbeda tapi ini tidak boleh dianggap remeh"pikirnya di dalam hati
Charlos juga mengirim informasi baru berupa peta dan lokasi yang dia temukan selama pengintaian terbaru. Charlie segera memasukkan data tersebut ke dalam komputernya.
Pada awalnya, informasi itu hanya berbentuk sejumlah angka-angka yang tampaknya tidak berarti. Tapi jika Charlie mulai mengotak-atik komputer, dia bisa menggabungkan data tersebut dan merubahnya menjadi sebuah peta yang lebih lengkap.
Sambil berfokus pada layar komputernya, Charlie mulai melihat peta tersebut berkembang dengan detail yang semakin jelas.
Data-data angka-angka tersebut diolah menjadi visualisasi yang memberikan gambaran tentang lokasi dan kemungkinan hubungan antara kelompok tersebut.
Kemudian, dia menemukan sebuah video kecil dengan durasi 1 menit yang secara acak muncul di layar komputernya, menampilkan potongan-potongan aktivitas yang mungkin terkait dengan gang ini.
Keesokan paginya, Charlie bersiap-siap untuk pergi sekolah seperti biasanya. Dia mengenakan seragam sekolahnya dan meraih telepon genggamnya sebelum meninggalkan apartemennya.
Tapi segera dia melihat layar ponselnya bergetar dengan panggilan masuk dari nomor Stefani, dia merasa sedikit terkejut. Stefani jarang menghubunginya secara langsung.
Charlie menjawab panggilan itu, "Halo, bibi"
Stefani berbicara dengan suara serius di telepon "Halo, Charlie. Aku butuh bicara denganmu. Bolehkah kita ketemuan nanti malam di sebuah cafe? Itu penting."
Charlie merasa ragu dan memberikan beberapa alasan, "Maaf bibi, aku sedang sibuk malam ini dan aku punya banyak pekerjaan sekolah yang belum diselesaikan."
Namun, Stefani dengan tekadnya menjawab, "Charlie, ini benar-benar penting, dan tidak akan memakan waktu lama. Aku berharap kamu bisa membuat waktu untuk ini."
Charlie merasa tertekan oleh keadaan, dan setelah sebentar berpikir, dia akhirnya berkata, "Baiklah, bibi. Kita bisa ketemuan di cafe malam ini. Hem pukul berapa?"
Stefani memberikan lokasi dan waktu pertemuan, dan setelah mereka menetapkan rencana, panggilan telepon itu berakhir. Namun, Charlie tidak bisa menghilangkan rasa penasaran. Seiring pertemuan mendekat, dia bertanya, "Apakah Papa Jho mengetahui tentang pertemuan ini?"
"Tentu, Charlie. Papa mu sudah mengetahui dan bahkan mengizinkan pertemuan ini. Ini sangat penting baginya juga."
Setelah menutup teleponnya dengan Charlie, Stefani merasa senang bahwa pertemuan tersebut sudah diatur. Saat itu Jonathan yang berpakaian lengkap sedang mendekap Stefani dari belakang. Sebuah kebiasaan yang dia lakukan akhir-akhir ini.
Terkadang dia pikir Stefani itu memiliki aroma tubuh yang anehnya, bisa menenangkan Jonathan. Sebagai pekerja kantor yang memimpin perusahaan sebesar itu. Tentu ada begitu masalah yang terkadang membuat dia pusing, di tambah lagi dengan masalah Charlos yang menolak untuk pulang.
Tapi setiap kali dia bisa mencium aroma tubuh Stefani ,semua kelelahan dan kegalauan hatinya hilang begitu saja menjadi aman dan damai.
Jadi Itulah kenapa dia suka memeluk Stefani hanya sekedar untuk mencium aroma tubuhnya dari dekat.
Ini sudah seperti aroma terapi bagi Jonathan.
Awalnya, Stefani merasa sedikit risih, tetapi seiring berjalannya waktu, dia mulai terbiasa dengan gestur mesra ini.
__ADS_1
Stefani berkata, "Mas, udah janji ya nggak akan ikut malam ini."
Jonathan menjawab dengan nada ringan, "Oke, tidak masalah, tapi jangan lama-lama. Jangan sampai jatuh cinta juga dengan Charly, papanya lebih ganteng."
Stephani tertawa kecil namun dia tidak bisa menampik bahwa wajahnya memerah karena rayuan itu.
"Hahaha PD amat sih,padahal udah tua juga kali kan.Udah bisa dimasukin ke dalam museum"
"Hei...
"Ahh sorry bercanda doang hehehe"
"Ohh Ya udah Mas berangkat dulu ya, hati-hati di rumah ,jangan selingkuh juga lewat online!"
"Eh masa sih selingkuh lewat online? ada-ada aja kali Mas ini!"
Selagi berbicara dan bercanda,Stefani kemudian mengantarnya ke pintu sebelum berangkat ke kantor.
Stefani sudah mengerti sekarang, dia memberikan salam dan berkata, "Mas, kapan aku bisa sekolah? Aku suntuk di rumah."
Jonathan tersenyum dan menjawab, "Ani bisa pergi jalan-jalan ke mall atau taman, sayang. Tapi pastikan memberitahuku dulu agar mas,biar tidak khawatir."
Stephani terkikik dan berkata dengan nada sedikit menggoda, "Emangnya, bocah, bisa hilang?"
Jonathan semakin gemes melihat istri kecilnya ini, dia mengapit tangannya yang besar dan menjepit wajah kecil Stefani sehingga terlihat seperti kelinci lucu.
Tentu saja gerakan ini membuat bibir Stefani lebih maju, tanpa diduga Jonathan mencuri ciuman pertama Stefani dalam hubungan mereka.
"Muaah... siapa suruh jadi imut seperti ini, kan udah dicium hehehe"
Untuk menutupi perasaannya sendiri, dia buru-buru meninggalkan pintu apartemen ,di mana Stefani masih bengong sesaat baru kemudian sadar dan menjerit.
Aaaaaaa....
Jhonathan tersenyum simpul, mendengar jeritan itu dari jauh. kata orang ini sih bukan senyum lebar tapi senyum dikulum.
Hei tahukah kalian ini adalah pertama kalinya Jonathan merasakan reaksi berbeda antara lawan jenis.
jika dikatakan cinta pertamanya adalah Yana itu mungkin perbedaan pendapat. perasaan yang dimiliki oleh Jonathan saat itu adalah sebuah ketergantungan yang dia alami akibat dari trauma masa kecil.
Jadi wajar jika perasaan yang dia rasakan hari ini berbeda jauh .Dan bisa dikatakan ini adalah pertama kalinya. Dia merasakan jantung nya berdetak begitu kencang.
" bisakah aku cemburu pada putraku sendiri?"bikin Jonathan yang memegang jantungnya ketika dia sudah masuk ke dalam mobil.
Meskipun seorang CEO tapi Jonathan tidak memiliki kebiasaan membawa sopir pribadi. Dia selalu mengemudikan mobilnya sendiri dan jika memeluk keperluan khusus barulah dia memanggil seorang sopir.
"apa Stefani bisa menjaga hatinya ya? kalau sudah masih muda mereka itu seusia, tapi...
Berpikir seperti itu, ada rasa asam di udara. Ini membuat wajah Jonathan juga berkerut karena tingkat keasamannya.
"Oh Apakah ini rasanya cemburu? Ahh gak mungkin juga lah sama Putra sendiri?"
Dalam begitu banyak pertanyaan pada akhirnya dia membuang pemikiran aneh seperti itu. jadi Jonathan bekerja seperti biasanya. Hanya reaksi yang terjadi bukanlah seperti biasanya.
__ADS_1
Rasa tidak nyaman dan bau asam yang berada di sekelilingnya ,bahkan dirasa jelas oleh asisten.
Kau tau, dia meminta para asisten menelpon Stefani setiap 1 jam bertanya apakah ada yang diperlukan di rumah.
Atau dia ingin mengenakan pakaian model apa nanti malam untuk pertemuan dengan Charlie.
"ibu Stefani mengatakan baju yang warna biru itu loh, yang model sepaha kan"
"Ohh ganti, itu terlalu pendek"
"Tuan ,ada gaun bagus warna biru, cantik Tuan, cocok untuk ibu Stefani. panjangnya sampai mata kaki"
"Ahh nggak baik cantik-cantik amat yang di yang bakalan diketemukan itu adalah anak tiri. ntar kalau kepincut kamu yang aku pecat.Ganti , jangan kepanjangan juga ntar jadi gamis, kan jelak jatuhnya "
"Tuan kata ibu Stefani semua pakaian di lemari sependek itu.jadi...
"katakan ,pergi pesan yang baru lewat online aja jangan ke mall"
"Tuan....
"Tukar warna pink terlalu muda nggak cocok untuk nyonya aldelis"
"Tuan...
"ganti warna hitam, siapa yang mau mati?"
"Tuan, ibu bilang Tuan aja yang hubungin langsung video call kek gitu"kata asisten itu pada akhirnya.
Semuanya salah, hitam salah ,putih salah ,pendek salah ,panjang apalagi.
"kamu tuh digaji untuk ngapain sih, saya lagi sibuk, dan kamu sekarang itu bebas. Kalau perlu, pergi ke apartemen dan bantu dia cari pakaian yang cocok"kata Jonathan yang langsung ribut.
Asisten segera terkesiap, dia tidak pernah melihat Jonatan memiliki reaksi seperti ini.
"Baik tuan, kalau begitu saya pergi dulu"
"Oh satu lagi pergi periksa cafe yang akan didatanginya nanti. letakkan beberapa kamera agar aku bisa melihatnya dari sini. tapi jangan kasih tahu mereka oke"kata Jonathan tiba-tiba.
Meskipun tidak mungkin untuk kali mengambil ibu tirinya ,tapi jika ini adalah masalah hati, hati nurani itu terkadang dikesampingkan.
Ketika keluar dari ruangan CEO, asisten itu hanya geleng-geleng kepala. tapi baru dua langkah dia pergi tiba-tiba suara ceo-nya terdengar lagi dari dalam ruangan.
"jangan kamu yang pergi , kamu itu cowok ntar jelalatan lagi.suruh Vani, katakan yang bagus jika tidak bagus siap-siap bonus akhir tahun dipotong"
"Ya Tuan "jerit asisten itu yang bernapas lega.
Paling tidak bukan dia yang akan menjadi kambing hitam.
Jadi asisten itu mendatangi seorang gadis bernama Fani gadis ini sebenarnya sudah berusia 26 tahun tapi masih perawan. dia cukup pintar berdandan juga.
"Ani sekarang tuan menugaskan kamu pergi ke apartemen tuan. bantu ibu Stefani untuk memilih pakaian untuk ketemuan dengan putranya tuan di cafe"
"Ehh aku? lho kok aku pak?"
__ADS_1
"Ya kamu kan cewek, ntar kalau aku ke sana bisa dipecat. tapi ingat ya ,pakaian itu nggak boleh terlalu cantik, terlalu memperlihatkan kemudaannya .tapi juga tidak boleh menampilkan kemewahan. Nggak boleh kepanjangan roknya ,kependekan juga nggak boleh dan warnanya jangan yang bla ...bla... bla...!"
Vani..."????