Terjebak Pernikahan Dadakan.

Terjebak Pernikahan Dadakan.
tanggung jawab


__ADS_3

Kata orang ketika seseorang diberikan kemampuan itu bukanlah sesuatu yang tanpa sebab. Dengan sebuah kemampuan maka anda akan disertai dengan sebuah tanggung jawab.


Inilah yang dirasakan Stefani saat ini, dia benar-benar berterima kasih atas kartu kredit unlimited tapi dia juga merasa bertanggung jawab atas tugasnya diembankan kepada pundaknya saat ini.


Ini bukan berarti dirinya adalah seorang gadis matre karena mamanya juga bukan orang yang tidak memiliki uang. Dia sudah menjadi sekretaris sebelum menikah dan hanya Stefani adalah Putri satu-satunya jadi kehidupan Stefani masih di atas rata-rata.


Namun begitu gadis mana yang saat ini tidak menyukai uang apalagi diberikan dengan jujur dan dengan alasan yang bagus.


Dengan cepat Stephanie menerima tanggung jawab yang diembankan. Namun itu bukan berarti dia menerima posisinya sebagai seorang istri. Dalam hal ini dia hanya berpikiran jika ini adalah hubungan kerjasama antara majikan dan bawahan. Jadi secara resmi kartu unlimited ini adalah gajinya ketika dia bekerja untuk melihat perkembangan dua kembar identik ini.


Lalu inilah yang dia lakukan sekarang.


Stephanie mengikuti teman-teman sekelasnya, Carlos, dan Charlie ke supermarket dengan perasaan yang agak tidak nyaman. Seharusnya ini adalah momen yang menyenangkan, seperti yang biasa dilakukan oleh remaja pada umumnya, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


"Hem teman teman,aku baru saja berbicara dengan pak Jhonatan, dia bilang , tidak perlu untuk pergi berbelanja.Ada asisten pribadi yang akan mengurus ini.Jadi maaf, rencana ke supermarket nya akan di batalkan saja"Kata Stefanie pelan.


"Ahh Ani, serius ?gagal deh mau ke bioskop sama si tampan "Kata ana dengan cemberut.


Sementara itu kalau menetap Stefany dan mencoba mencari tahu apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Mereka adalah orang yang baru saja mengenal nama tapi bukan pribadi.


Tapi kemudian dia tersenyum dan membiarkan Stefani dengan apa yang dia pikirkan.


Karena rencana untuk berbelanja ke mall benar-benar dibatalkan. Teman-teman tidak lagi memiliki semangat untuk menjelajahi apartemen mewah ini ,apalagi tuan rumahnya sudah kembali.


Jadi mereka langsung merencanakan untuk kembali ke rumah masing-masing.


Sementara itu Stefani sebelum kembali benar-benar meminta nomor telepon Carlos dan Charlie.


Dalam pikirannya kalah dan jali ada tanggung jawabnya sekarang .Jadi wajar jika dia minta nomor telepon.


Namun begitu perilaku ini disorakin oleh teman-teman sekelas karena mereka berpikir ini adalah modus.


"Hahaha tidak apa-apa di modusin sama pembongkat cantik hahaha" kata Carlos tertawa kecil ketika mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


Sementara Stephanie jadi memerah, karena malu tidak tahu apa yang dipikirkan yang jelas dia bukan pembokat tahu.


"Oh sudah lah, kalau Charly karena kartu ini jadi aku tuh harus tahu kalian itu ke mana. kota Jakarta bukanlah tempat di mana kamu bisa main-main"kata Stefani pada dua kembar itu ketika mereka sudah sampai di pintu.


"aeh jadi harus lapor nih kalau mau ke mana-mana, bi..bi.?"kata Carlos yang kembali diteriakin oleh ana.


"Ya bibi, masa sih mau keluar juga laporan jangan-jangan kalau mau pacaran sama gue nanti Carlos juga harus laporan? Hei sadar diri kamu itu pembokat bukan ibu mereka oke!"


Deg.


Stefani terdiam mendengar pembicaraan ana tapi Carlos dan Charly hanya tertawa dan tersenyum.


"Oh Oke bibi kami berencana hari ini ingin pergi klub malam tapi belum tahu ke klub malam yang mana.Apa bibi ingin ikutan juga ingin melihat apa yang kami lakukan di klub malam?"


"Apa? klub malam itu tidak baik ,jangan pergi ke sana. kalau terjadi apa-apa sama kalian nanti aku juga yang harus melapor kepada Pak Jonathan. Tidak bisakah kalian di rumah dan mengerjakan PR?"


Carlos dan Charly saling pandang sebelum mereka sama-sama menjawab dengan serempak."Hem.. tidak bisa hehehe "


Stephanie ingin mengatakan beberapa hal lagi tapi terlanjur pintu sudah ditutup dari dalam jadi dia tidak bisa tinggal lagi di tempat itu. Mau tidak mau Stefani harus mengikuti langkah teman-temannya dan berjalan kembali ke area parkir di mana sepeda motornya menunggu.


"Ani aku lihat kamu memiliki ketertarikan yang aneh pada Carlos dan juga Charly aku sih juga tapi nggak seperti itu juga say. laki-laki itu semakin dikekang maka akan semakin memberontak. jadi cobalah bergerak perlahan"


Tommy yang di yang mendengar perkataan anak itu mengangguk kepala dan dia setuju. lagian Carlos dan juga Charlie adalah pria dari luar negeri yang memiliki cara pergaulan yang bebas. Bagaimana mungkin mereka dikekang ketika tiba di Indonesia.


Terlebih lagi dengan gadis muda seperti Stefani ini.


"nggak apa-apa Stefani mereka ngajak aku kok pergi ke klub malam ini. nanti kalau ada apa-apa aku akan kabarin, suer deh bibi"


"Tommy mereka boleh manggil aku bibi tapi kamu jangan. aku nggak suka ya?"


Semuanya tertawa lagi melihat tingkah pola Stefani. meninggalkan itu semua mereka pada akhirnya bergerak menuju rumah masing-masing.


Sama seperti Stefani yang tiba di kediamannya tidak lama kemudian.

__ADS_1


Stefani menghentikan sepeda motornya di depan rumah yang terletak di lingkungan perumahan yang tenang. Rumahnya memiliki desain yang sederhana namun terawat dengan baik. Eksterior rumah terlihat rapi dengan dinding berwarna krem yang dilengkapi dengan beberapa jendela dan pintu kayu berwarna cokelat tua.


Garasi rumah berada di sebelah kanan, dengan pintu yang terbuka lebar untuk Stefani memasukkan sepeda motornya. Garasi tersebut cukup luas untuk menampung beberapa kendaraan. Di sebelah garasi, terdapat tanaman hias yang menjadikan halaman rumah terlihat lebih hijau dan segar.


Stefani dengan cermat memasukkan sepeda motornya ke dalam garasi, memastikan bahwa kendaraannya terparkir dengan rapi dan aman. Setelah itu, dia mengunci garasi dan berjalan menuju pintu depan rumah. Di sekitar rumah, terdapat beberapa tanaman pot yang diletakkan dengan indah, memberikan sentuhan alami dan keindahan pada eksterior rumah.


Saat Stefani berjalan mendekati pintu depan, dia mengucapkan "Assalamualaikum" sebagai salam kepada Mama nya yang ada di dalam rumah.


tentu saja Mama Stefani belum bisa menjawabnya karena stroke ringan yang diderita.


Jadi perawat Sari datang dan membuka pintu.


di rumah Stephanie memang ada dua orang pembantu tapi mereka hanya datang ketika mengerjakan tugas setelahnya mereka kembali lagi ke rumahnya sendiri.


Jadi di dalam rumah ini sering hanya ada mereka berdua saja ,ibu dan anak. sekarang karena mamanya sakit jadi Jonathan memperkerjakan perawat yang dikhususkan untuk Sari.


Begitu Stefani pulang perawat tadi menceritakan perkembangan yang didapatkan oleh mama Stefani ini.


Stephanie hanya menganggukkan kepala ,dia pergi membersihkan diri dan mengganti pakaiannya sebelum bertemu dengan mamanya di dalam kamar.


Saat ini Sari sudah bisa tersenyum dan berbicara patah-patah. Ini adalah perkembangan luar biasa dari sehari setelah mengalami stroke ringan kemarin.


Namun begitu Mama Stephanie ini tidak bisa bangkit dari tempat dia berbaring. Mungkin karena memiliki perawat jadi Sari selalu bersih setiap harinya.


Stephanie dengan ringan memeluk mamanya dan berbaring di ranjang yang sama dengan beliau.


Walaupun mamanya tidak banyak bicara tapi Stefani masih saja menceritakan kejadian hari ini. Di mana dia diberikan kartu kredit unlimited oleh Jonathan sebagai gaji untuk melihat perkembangan dua kembar di sekolah.


Tentu saja Sari mendengar itu tapi dia hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ada sedikit harapan yang terpancar di matanya namun tidak lama harapan itu redup lagi.


Di sisi lain Stefani tidak melihat cahaya tersebut, dia terus saja bercerita pada mamanya.


Betapa dia merasa Carlos dan Charlie itu sangat tampan.

__ADS_1


__ADS_2