Terjebak Pernikahan Dadakan.

Terjebak Pernikahan Dadakan.
pengen cerai


__ADS_3

Jhonathan mulai menunjukkan minat yang lebih dalam terhadap Stefani dengan mengirimkan pesan singkat setiap hari, bertanya tentang kesehariannya.


Awalnya, Stefani menganggap itu sebagai tindakan biasa-biasa saja, tetapi seiring berjalannya waktu, jumlah pesan dan intensitas kontaknya meningkat.


Stefani merasa ada sesuatu yang aneh karena ini bukanlah perilaku biasa dari seorang majikan, terutama jika sudah melebihi batas wajar. Kesempatan ini memungkinkan Stefani merenung tentang niat sebenarnya dari perhatian yang tiba-tiba ini.


Stephanie dengan raut wajah bingung datang menghampiri Mama nya , ingin meminta saran.


"Mama, ani merasa ada sesuatu yang aneh deh mah. Tuan Jhonathan terus mengirimiku pesan setiap hari, bertanya tentang keseharianku.Ani merasa cemas banget "


Sari tersenyum mendengar nya,dia masih ingat pembicaran antara dia dan Jhonatan kemaren.


" Oh, itu wajar, Sayang. Apa kamu lupa jika Jhonathan sebenarnya adalah suami kamu?"


Stephanie tiba-tiba saja terkejut, wajahnya berubah menjadi pucat.Dia benar-benar melupakan hal tersebut."Suami? Tapi... Ani ..ani benar-benar lupa mah. Tapi mah,ini kan hanya di atas kertas sn Tuan Jhonatan juga setuju kemaren"


" Sayang, apapun yang terjadi kalian adalah suami istri yang hubungannya diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Ani harusnya ingat. bukannya Ani sendiri yang memintanya kemarin?"kata Sari yang mencoba mengingatkan putrinya ini.


mendengar perkataan mamanya itu tiba-tiba saja Stefani merasa ingin menangis.Oh bisakah dia membalikkan waktu agar mencegah pernikahan yang aneh itu.


"Mama Ani.. Ani tidak tahu. Semuanya terasa seperti kabut.Ani benar-benar lupa mah. Tapi rasanya tidak wajar, kan? Mama sendiri yang bilang kan kalau tuan Jonathan itu punya penyakit khusus? Dia...dia tidak bisa melakukan apapun dengan wanita.Apa .. apa Mama berbohong dengan Ani?"katanya dengan suara sekecil nyamuk.


Mama sering menceritakan masalah ini dengan Stefani ketika mereka berada di rumah. Stephanie tentu saja tidak pernah berpikir jika mamanya berbohong.


Dengan informasi seperti itu ,makanya Stefani berani mengajukan diri dan menikah secara simbolis di atas kertas demi menutupi rasa malunya di hari H.


Tapi jika Tuan jhonathan sebenarnya normal,maka...


Oh tidak, ini tidak mungkin kan.


Sari memegang tangan Stephanie dengan lembut,dia bahkan memeluk putrinya itu dengan penuh rasa kasih dan Sebenarnya ada rasa tertekan di sudut hati Sari.


seperti kata Jonathan Stefani masih begitu muda dan jalannya masih begitu dia masih berhak menemukan pria muda dan jatuh cinta seperti para remaja lainnya.


Tapi Allah berkehendak lain dan mereka hanyalah manusia yang tidak bisa menolak kehendak dari Allah subhanahu wa ta'ala.

__ADS_1


"Ani Tuan Jonathan memang memiliki penyakit tapi itu bukan berarti dirinya tidak jantan.Hahah sayang,kau pikir dari mana asalnya Charlos dan charlie, Hem?"


"Tapi.. tapi Mama yang bilang kemaren kan?"kata Stefani yang sudah berkaca kaca.


Sari menarik putrinya dan memintanya untuk duduk di sofa. Secara perlahan Sari mulai menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi dengan Jonathan.


"Jadi alergi mah, tapi... tapi Ani kan cewek juga, kemaren itu, tuan Jho...


Stefani tidak kuasa menceritakan pada mamanya .Jika dia dan Tuan Jonathan sempat beberapa kali bersinggungan kulit tapi dia tidak melihat jika Jonathan memiliki reaksi alergi.


"Sayang, Mama tahu apa yang ingin kau katakan dan sebenarnya Jonathan juga sudah menanyakan hal itu pada mama"kata Sari yang membuat Stefani membelalakkan matanya tidak percaya.


Sari terkekeh-kekeh kecil dan mengungkapkan pendapatnya tentang reaksi alergi Jonathan dan kenapa Jonathan tidak mengalami alergi yang sama jika berdekatan dengan Stefani.


"Jadi...


"Ya kata dokter pribadinya kemungkinan besar Jonathan memiliki keyakinan tertentu sama Putri Mama ini.Jadi kau tahu bukan sayang hahaha, Mama juga bilang sama Jonathan mama setuju kok jadi ibu mertuanya yang asli Hahahaha "kata sari tertawa.


"Mama, ini pasti nggak bener Mama. Tuan curhatan itu udah tua ma, Ani.. Ani itu bahkan cocok dengan putranya.Kami..kami..ahh mama "kata Stefani dengan kesal.


Di sana lah akhir Stefani menangis sedih.


Dahulu, Stefani hanya berpikir bahwa pernikahan ini hanyalah formalitas semata, sebuah tanda di atas kertas yang mungkin akan datang dan pergi.


Dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menjadi istri dari seseorang yang usianya begitu berbeda. Pikiran tentang perbedaan usia ini membuatnya merasa tidak nyaman.


Setiap kali Stefani mengimgat Jonathan, perbedaan usia mereka terasa semakin mencolok. Dia merasa seperti ada jurang besar antara mereka berduaan .


"Aku bahkan sebenarnya lebih cocok dengan Carlos deh, ahh ya Allah ada apa ini, Huhuhu, Ani nggak mungkin jodoh dengan Jonathan yang udah tua kan, huhuhu"


Dia merasa seperti dia telah kehilangan kendali atas nasibnya sendiri, dan hal ini menciptakan perasaan keengganan yang dalam terhadap statusnya sebagai istri sah dari Jonathan.


Dia memutuskan bahwa saatnya telah tiba untuk membicarakan masalah ini dengan Jonathan dan mencari solusi yang baik-baik.


"Aku harus membicarakan masalah ini dengan Tuhan Jonathan jika bisa minta dia untuk cerai "gumam nya pelan.

__ADS_1


Ketika dia tengah dalam pemikiran ini, tiba-tiba teleponnya bergetar dengan lembut di atas meja. Dia mengambil teleponnya dan melihat pesan dari Jonathan. Tangan Stefani bergetar sedikit saat dia membuka pesan tersebut, merasa tegang dan ragu tentang apa yang akan ada di dalamnya.


Pesan dari Jonathan muncul di layar, penuh dengan ehem-ehem, entah lah maksudnya apa.


"Halo Stefani, apa kabar hari ini? Aku harap semuanya baik-baik saja. Aku hanya ingin menanyakan bagaimana situasimu hari ini. Apakah ada hal khusus yang kamu butuhkan atau apakah kamu memerlukan bantuan tambahan? Oh ya ,kita makan malam yuk,ada restoran baru di kota?mau nggak?"


Bacaan pesan tersebut menggugah campuran perasaan dalam diri Stefani. Kepedulian Jonathan terhadap dirinya sangat terasa, tetapi dalam keruhnya situasi ini, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Jonathan hanya semakin membuatnya bimbang.


Ke dalam hening yang dikuasai oleh pertanyaan yang belum terjawab, Stefani merasa semakin terperangkap dalam kebingungan yang membelenggu. Dia memandang layar teleponnya, mata masih tertuju pada pesan dari Jonathan yang penuh dengan kepedulian. Namun, pikirannya juga melayang pada gambaran perbincangannya dengan mamanya, di mana sang ibu jelas mendukung Jonathan.


Seperti awan gelap yang menggumpal di langit pikirannya, perbincangan batin mulai memenuhi benak Stefani.


"Nggak..nggak mungkin Ani jadi ibu tiri nya Charlos dan charlie?tidak mungkin,ahhh..tidakkk.!"


Stefani merasa udara di dalam ruangan semakin berat, hampir membuatnya merasa sesak napas. Dalam rangkaian perbincangan batin, satu keputusan muncul seperti kilatan cahaya di tengah gelapnya pertanyaan.dia perlu mencari ruang untuk merenung, mencari kejernihan dalam pikirannya yang kacau.


Mengangkat wajahnya dari telepon, Stefani menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Dia akhirnya mengambil keputusan yang menenangkan hatinya.


Memutuskan untuk meninggalkan sementara semua pertanyaan tak terjawab dan mendapatkan udara segar di luar, dia memakai jaketnya dan pergi meninggalkan rumah dengan langkah perlahan, berharap menemukan sudut baru untuk merenung dan memikirkan jalan yang akan dia ambil selanjutnya.


Dalam benak Stefani, perbincangan batin mulai berputar mengenai tempat di mana dia seharusnya menghabiskan waktunya.


Taman kota,mall atau ke rumah ana untuk curhat.


Ani bingung lagi nih.


Setelah pertimbangan yang panjang, Stefani akhirnya memilih untuk pergi ke taman kota. Suasana alam dan ketenangan yang dimilikinya tampaknya menjadi tempat yang paling cocok untuk merenung dan mencari jawaban atas semua pertanyaan yang menghantuinya.


Untuk pertama kalinya, stefani pergi ke luar tanpa izin dari Mama nya.Dia mengambil langkah pertama keluar rumah menuju taman, berharap waktu yang dia habiskan di sana bisa membantu menuntunnya menuju keputusan yang benar-benar tepat.


Ani pengen cerai Tuan.


Ani nggak kuat, soalnya anak tiri Ani juga tampan, Tuan.


Ani pengen cerai.

__ADS_1


__ADS_2