
Stephanie dan Jonathan tiba di depan apartemen Carlos dan Charlie dengan mobil Jonathan yang sudah berada di area parkir. Keduanya turun dari mobil dan segera berjalan menuju pintu apartemen dengan langkah kecil.
Ketika mereka tiba di pintu apartemen, Jonathan menekan tombol bel.
Suara bel bergema di dalam ruangan, dan keduanya menunggu dengan sabar.
Keduanya tidak tau jika saat ini, Carlos ada janji dengan Tommy lagi untuk pergi menghabiskan malam.
Jadi Carlos berpikir jika yang datang adalah Tommy.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka, dan Carlos muncul di baliknya dengan wajah terkejut.
"Bibi? Papa Jho?Apa yang kalian lakukan di sini?"
" Charlos ,maaf ya ,aku terpaksa melaporkan masalah sekolah dengan papa mu.Dia papa mu Charlos,dia berhak untuk tau " Stefani tidak mau di salah fahami oleh charlos tapi ini sudah resiko pekerjaan kan.
Dari pada di tanya,dia langsung saja menjelaskan.
Carlos mengangguk ragu tapi tetap saja membuka pintu lebar-lebar untuk mempersilahkan mereka masuk.
Dari belakang punggung keduanya, Charlos menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rencana gagal.
Sementara itu, Jhonatan memasuki apartemen dengan penuh perhatian, melihat sekeliling untuk mencari tanda-tanda Charlie.
Setelah mereka , Jhonatan menemukan Charlie sedang duduk di meja dengan ekspresi murung. Charlie terkejut melihat kedatangan Stephanie dan Jonathan.
Ini bukan apa yang sudah mereka rencanakan sebelumnya kan. kalos dan Charlie sudah berencana agar mereka bertengkar lagi malam ini di depan Tomi dan itu membuat Tommy semakin yakin menarik Carlos di dalam pihak mereka.
Nantinya akan mudah untuk Carlos masuk lebih dalam ke dalam geng itu.
Tommy bukanlah siapa-siapa di dalam geng itu tapi, Jack adalah sasaran asli di sini.
Justru untuk menjadi mendapatkan kepercayaan Jack .Tommy masih harus digaet ke sisi mereka dan dia harus dibuat percaya jika Carlos benar-benar sudah menjadi bengkok.
Inilah kenapa ketika Jonathan melihat Charlie cemberut, itu sebenarnya diarahkan untuk Tommy lihat.
Ketika yang datang adalah Jonathan tentu saja Charlie juga terkejut dan berpikir mirip dengan Carlos tadi.
Game over.
"Kalian berdua juga di sini? Ada apa?"
" Carlos, Charlie,papa ingin berbicara dengan kalian berdua. Papa mendengar ada masalah dan ingin membantu jika bisa."
" Tapi papa Jho,papa benar-benar datang tanpa pemberitahuan. aku udah ada janji dengan temanku bahkan sebentar lagi dia akan datang Jadi maaf ya aku tidak bisa lama menemani papa Jho "
__ADS_1
Charlie mengernit mendengar jawaban dari Charlos.Mungkinkah kalau masih ingin bermain terlepas dari kehadiran papa mereka.
Tapi sebenarnya ide ini tidak buruk, semakin jelek ,maka Tommy akan semakin percaya.
Charlie bangkit dan berjalan menuju papanya Jho, Papa bukannya aku mau mengadu tapi kalau se akhir-akhir ini berteman dengan selalu menghabiskan waktu di klub malam. Jika Mama Yana tahu, Mama juga akan marah kan!"
Jhonatan entah kenapa ketika nama Yana disebut ,hatinya seperti luka yang sembuh tapi berdarah lagi.
Walaupun mereka sekarang bisa dikatakan sudah berteman baik. Tapi jika Charlos benar-benar menjadi pribadi yang buruk karena berada di Indonesia .Mungkin Yana akan menyalahkannya dalam hal itu.
Jonathan tidak ingin Yana berpikiran begitu ,jadi dia mulai menatap Charlos dengan pandangan yang tidak tahu harus berkata apa.
Anak sudah begitu besar tapi dia bahkan tidak pernah mengajarinya satu huruf pun. Apakah di sini Jonathan berpikir apakah dia masih memiliki hak untuk mengajari Charlos tentang buruk dan baik.
Stephanie sudah tahu mengenai mental Jonathan yang bisa sedikit terganggu karena beberapa masalah, jadi dia harus mengambil alih situasi kan, begitu pikirnya.
Stephanie tanpa takut maju dan berkata dengan sedikit galak.
Dalam hati dia berharap dengan wajahnya sedikit galak tentu akan membuat Charlos berpikir dua kali. Tapi bagaimana Stefany tahu malah wajah yang galak itu di mata kalau itu adalah sesuatu yang imut dan sangat langka.
"Charlos, sudah berapa kali aku gak nasehatin jangan ikut-ikut si Tommy itu. Kamu itu udah besar tidak perlu diajarin lagi mana yang baik mana yang buruk. Tapi konsekuensinya itu sama papamu dia bertanggung jawab di Indonesia. jika ada kejadian bukankah nanti papamu yang kau merasa bersalah. Kamu pengen papa kamu sakit?"
Yana sama sekali tidak pernah menyembunyikan masalah penyakit papanya pada kedua anaknya itu. Bukannya ingin egois tapi Yana ingin anak-anak mengerti kenapa Yana dan Jonathan harus bercerai .Walaupun mereka sebenarnya masih akur dan baik-baik saja.
Jhonatan ingin berbicara lebih tapi mulutnya tidak bisa terbuka mungkin ada reaksi sisa dari penyakit mentalnya yang dahulu apalagi dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk berbicara dengan anak-anak.
Tapi melihat Stefani yang bisa maju dan mewakili dirinya, Jonathan memandang ke arah Stefani , alih-alih memikirkan anak-anak.
Ahh di Amsterdam sana pun dia belum pernah melihat kecantikan yang seperti itu.
dalam adegan ini tidak disangka lagi ada tiga pemandangan yang aneh. di mana Stefani sedang bercetak pinggang menasehati kalau dengan beberapa kata secara serius.
Ada satu sisi di mana Charlie menatap dengan acuh tidak acuh.
Tapi di sisi lain Jonathan dan Carlos menata Stefani dengan ide yang berbeda.
Bagi Jonathan Stefani seperti induk ayam yang sedang menjaga anak-anaknya di balik sayap sementara dirinya mematuk musuh dengan paruh.
"Hai, apa-apaan sih, kenapa aku bisa berpikir seperti itu hahaha"
Sebenarnya Charlos juga ingin menatap keindahan itu lebih lama. Tapi buru-buru bel berbunyi lagi dan itu tentunya adalah Tommy yang datang.
Stefani juga mendengar suara bel itu dan dia buru-buru berlari untuk membuka pintu malam ini apapun yang terjadi kalau tidak bisa pergi meninggalkan apartemen.
Carlos yang terpana tidak sempat menghentikan Stefani dan membiarkan Stefani membuka pintu dengan wajah garangnya.
"Tommy, kamu pulang nggak malam ini kalau nggak kemana-mana. dasar virus kamu, bawa penyakit ke mana-mana,pergi" usir Stefani dengan galak nya.
__ADS_1
Tommy yang baru saja datang menganga dengan lebar, dia tidak akan pernah menyangka jika Stefani yang begitu nekat , dengan benar-benar berada di apartemen bersama dua pria tampan.
Ckckck.
Charlos sempat tidak sadar tapi dia memiliki mental yang kuat ,buru-buru dia menghentikan Stefani dan tampil lagi dengan ide aslinya.
"Bibi, apa-apaan ini ,Tommy adalah temanku dan kau tidak punya hak untuk menghentikan aku berteman dengan siapapun yang aku suka kan. Tommy, Ayo kita pergi"kata Charlos.
Mereka sudah merencanakan ini beberapa hari dan harus batal hanya karena Stefani, wow impossible.
Carlos mendorong Stefani sedikit Untung saja saat itu Jonathan bisa menangkap Stefani karena berdiri tidak jauh dari gadis itu. jika tidak mungkin Stefani sudah berlutut di lantai.
"Charlos, apa yang kau lakukan Papa ingin bicara sama kamu dan kamu begitu kurang ajarnya untuk pergi? Charlos berhenti kata apa-apa dan jangan pergi"kata Jonathan untuk pertama kalinya malam ini.
Melihat bagaimana kurang ajarnya Charlos dengan Stefani, dia sudah bisa melihat perilaku putranya ini sedikit mengkhawatirkan.
Stephanie yang dipeluk secara tidak sengaja oleh Jonathan buru-buru bangkit. Ada rasa malu untuk kejadian itu tapi juga ada rasa sebel karena kalau bisa berlaku tidak sopan pada nya .
Charlos sebenarnya masa tidak nyaman sih tapi ini adalah resiko pekerjaan .Jadi dia menampilkan wajah garangnya yang berapi-api bahkan wajah itu ditujukan kepada Jonathan alias papanya sendiri.
"Papa Jho, kami sudah memiliki janji sejak beberapa hari yang lalu tapi kenapa harus batal hanya karena kedatangan kalian yang tidak tepat waktu?.Papa Jho,aku sudah besar dan aku bisa bertanggung jawab dengan diriku sendiri. please papa Jho berikan aku kebebasan Oke"
"tidak Charlos kau tidak bisa...
Belum habis kata-kata dari Jonathan Carlos mengangkat tangannya dan berkata.
"Diam,aku belum pernah makan sebutir nasi pun yang dihasilkan dari mu, jadi hak apa yang Papa Jho punya untuk mencegah aku bersenang-senang Hem,idiot"
Deg.
Inilah yang ditakutkan oleh Jonathan, dengan kata seperti itu Jonathan benar-benar tidak memiliki kata lain untuk menyanggahnya.
Kata-kata itu benar-benar menusuk hati Jonathan karena itu memang benar. Sejak ketahuan Yana sedang hamil bahkan sampai sebesar ini ,memang tidak ada sepeser pun uang yang digunakan untuk membesarkan anak-anak.
Jadi dia memang tidak memiliki hak bukan.
Melihat Jonathan tidak bergerak kalau juga sedih tapi mau diam bagaimana lagi ini adalah sebuah misi. Dia segera keluar dari apartemen dengan cara membanting pintu.
Charlie juga tidak tahu harus berkata apa , tapi demi misi, mereka harus menyakiti hati dari papa Jho.
Sorry papa Jho.
Sementara Stefani langsung menarik Jonathan agar bisa duduk di sofa dan memberikan dia segelas air putih.
Wajah Jonathan sedikit pucat dan dia tidak mengeluarkan satu patah pun dari mulutnya.
Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya Stefani jika penyakit lama Jonathan kambuh.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Jonathan tidak tersinggung dengan kata-kata itu.
Ah kasian Tuan Jonathan.