
Jonathan tetap dalam keadaan linglung saat dia ditarik pergi oleh Stefani dan masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan oleh gadis itu sebelumnya. Matanya terus memandang kedua tangannya yang tadi telah memberikan pukulan kepada Carlos. Suara langkah kaki mereka menuju taksi terdengar seperti gema dalam keheningan.
"Mau ke mana, Neng?" tanya sopir taksi dengan ramah.
"Ke apartemen..." jawab Stefani dengan nada lembut.
"Oke," sahut sopir taksi tersebut, lalu mobil bergerak melaju menuju alamat yang disebutkan oleh Stefani. Wajah Jonathan masih penuh dengan keraguan dan rasa bingung, sebagai akibat dari peristiwa yang baru saja terjadi.
Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Jonathan, namun raut wajahnya mencerminkan perasaan campur aduk yang sulit diungkapkan. Di dalam taksi yang bergerak, Stephanie berusaha memberikan kedamaian dengan menyentuh lengan Jonathan dengan lembut, mencoba memberikan dukungan tak terucapkan.
"Tuan Jho, apakah Anda membawa obat?" tanya Stefani, tetapi pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban apapun dari Jonathan.
Karena tidak ada respons, Stephanie memutuskan untuk mencari sendiri. Dia merogoh kantong-kantong Jonathan, mencari obat yang mungkin bisa membantu mengurangi tekanan yang dirasakannya saat ini. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada obat yang ditemukan di dalam kantong celana maupun pakaian Jonathan.
Tak lama kemudian, taksi sampai di depan apartemen Jonathan. Stephanie membantu Jonathan keluar dari taksi dan membayar sopir sejumlah uang sebelum kendaraan itu meninggalkan mereka. Jonathan masih terlihat pucat dan lemah, tetapi Stephanie tetap gigih dalam usahanya untuk membantu.
Dengan susah payah, Stefani menuntun Jonathan untuk naik ke apartemen menggunakan lift. Beruntung, Jonathan dalam keadaan pasrah dan mudah ditarik seperti layang-layang dengan talinya. Ketika pintu apartemen terbuka, Stefani masuk dengan mudah, mengingat kode yang pernah dihafalnya sebelumnya.
Stephanie berkata dengan lembut. "Mari, Tuan Jho. Mari kita masuk."
Jonathan membuka mulut tapi tidak mengeluarkan suara.
Tingkah Jonathan yang lemah ini tidak luput dari perhatian Stephanie, yang semakin bertekad untuk memberikan dukungan dan bantuan sebanyak mungkin pada pria yang baru saja mengalami kejadian traumatis tersebut.
Stephanie dengan lembut menuntun Jonathan ke dalam kamarnya dan membantu melepaskan sepatunya. Pandangannya masih kosong dan ketidakresponsifannya membuat Stephanie semakin khawatir. Tiba-tiba saja Stefani mengingat bahwa Jonathan memiliki dokter khusus untuk mengatasi kondisi kesehatannya.
Setelah meletakkan sepatu Jonathan dengan hati-hati, Stephanie merogoh kantong celana Jonathan untuk menemukan telepon genggamnya. Dia berusaha mencari informasi kontak telepon dengan cepat.
Dengan hati-hati, dia mengetik pesan singkat dan menunggu jawaban dari dokter tersebut.
Beberapa saat kemudian, telepon berdering, dan Stephanie mengangkatnya dengan cepat.
"Halo, ini dokter Khans."
"Halo, dokter. Saya Stephanie, teman dekat Tuan Jonathan. Saya ingin bertanya... Tuan Jonathan sepertinya sedang dalam keadaan yang kurang baik. Apakah dokter bisa ke sini?"
__ADS_1
Dokter Khans di seberang sana mengernitkan dahi mencoba untuk mengingat siapa itu Stefani. beberapa saat kemudian, barulah dokter kans menyadari siapa itu Stefani dan hubungannya dengan Jonathan.
"Ah, Stephanie. Ya, saya tahu tentang Anda.Jonathan sering berbicara tentang Anda. Apakah Anda sekarang bersama dengannya?"
Stephanie yang tidak mengerti isi pikiran dari dokter ini menjawabnya dengan jujur.
"Iya, kami ada di apartemen. Tapi saya khawatir dengan kondisinya , dok ?"
"Baiklah, dengarkan. saya tidak bisa datang ke sana karena jadwal saya ketat saat ini.Tapi jangan begitu khawatir, ada beberapa hal yang perlu Anda tahu tentang kondisi mental Tuan Jonathan. Dia menderita gangguan kepercayaan diri yang cukup dalam. Dia sering merasa takut akan menyakiti orang lain, termasuk dirinya sendiri. Kondisi ini juga membuatnya merasa cemas dan sulit mempercayai orang lain."
"Tapi mengapa dia terlihat sedemikian parah sekarang?"
Stephanie menggigit bibirnya dan berusaha mengerti pembicaraan dokter tadi. bukankah itu artinya kejadian Jonathan dan Carlos benar-benar memperburuk penyakit mental Jhonatan.
Dokter Khans di seberang mencoba menjelaskan lagi dengan tersenyum. menurutnya Jonathan ini sama sekali tidak sakit tapi dia memiliki rasa percaya diri yang rendah mengingat kejadian sebelumnya. Jonathan hanya akan sembuh jika dia berhasil menumbuhkan rasa percaya dirinya itu kembali. tapi dia belum menemukan seseorang yang bisa mendorongnya ke arah itu. hanya saja dokter Hans berpikir apakah Stefani adalah sosok yang bisa melakukannya.
"Ketika Jonathan merasa terdesak atau tidak aman, kondisi ini bisa kembali memburuk. Dia cenderung menyalahkan dirinya sendiri untuk segala hal dan sulit merasa percaya pada siapa pun, termasuk dirinya sendiri. Itulah mengapa kehadiran Anda sangat penting, Stephanie. Dia sepertinya sangat percaya pada Anda, dan itu bisa membantu mengurangi stres dan kecemasannya."
"Tapi.. tapi dokter saya harus pulang , ini juga sudah mulai gelap"kata Stefani yang beralasan
"sekarang tolong antu dia merasa aman dan diberi dukungan. Jika Anda bisa membantu dia melewati momen sulit seperti ini, itu akan sangat membantu dalam pemulihannya."
Stephanie yang mendengar pembicaraan dokter Khans itu merasa tidak percaya. Bagaimana mungkin Tuan Jonathan memiliki kepercayaan yang begitu dalam terhadap dirinya sendiri.
Walaupun tidak percaya tapi bayangan ketika Jonathan memukul Carlos dan teriakannya waktu itu, menjelaskan segalanya.
"dia menyakiti Ani ...dia menyakiti Ani"
Stephanie merasa seakan-akan dihadapkan pada jurang tanpa tepi, tidak tahu harus berbuat apa. Sementara dia berusaha mencari cara untuk membantu Jonathan, telepon genggamnya tergenggam erat dalam genggamannya.
Tanpa ragu, dia mencari nomor telepon mananya yang selalu memberinya dukungan.
Setelah beberapa nada berdering, telepon di seberang terangkat, dan suara ibunya terdengar di ujung sana.
"Ani , Ke mana saja kamu nak kamu itu perginya nggak biasanya kamu nggak gini,Ada apa sayang?"setelah mendengar suara mamanya baru kemudian Stefanie menyadari Jika dia keluar dari rumah tanpa izin dari mamanya terlebih dahulu
__ADS_1
Tapi sekarang masalahnya beda lagi, tidak peduli dengan rasa bersalah Stephanie langsung berkata "Halo, Ma. Ani.. ani tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tuan Jonathan... dia dalam keadaan yang buruk. Ani tidak tahu bagaimana cara membantunya."
"Apa yang terjadi? Ceritakan padaku, Nak."jelas suara Sari terdengar cemas di seberang sana.
Sari lebih akrab dengan Jonathan dan berpikir mungkin penyakit Jonathan kambuh padahal ini sudah beberapa tahun tidak pernah mengalami kambuh seperti itu.
Tentu saja sari menjadi khawatir.
"Tadi, Tuan Jonathan... dia..."Stephanie menceritakan kronologi pertengkaran Jonathan dan Carlos di apartemen bobrok itu.
"Sekarang dia .. dia terlihat sangat linglung dan tidak sadar. Ani menghubungi dokter Khans, tapi ani merasa seperti dihadapkan pada hal yang sangat sulit,mah, dokter Khans bilang...."
Stephanie lagi-lagi tidak menyembunyikan apa yang dikatakan oleh dokter Khans tadi pada dirinya sebuah perkataan yang benar-benar membuat Stefani bingung harus melakukan apa.
"Ani ingin pulang, Ma. Ani tidak ingin bersama Tuan di sini,ani... Ani bingung mah "
" Ani, dengarkan mama baik-baik. Apa kau ingat jika Jonathan adalah suamimu? terlepas Antara Kau setuju atau tidak, tugasmu adalah untuk bersamanya, terutama saat dia sedang kesusahan seperti ini. Jangan berpikir untuk kembali ke rumah. mama tidak ingin kau melarikan diri dari tanggung jawabmu."
Stephanie tidak percaya jika mamanya mengatakan seperti itu, Dia pikir Mama pasti mendukung keputusan Stefani entah apapun itu seperti biasanya.
"Tapi, Ma..."
"Tidak ada 'tapi tapian '. Ani harus tegar, Jaga suami mu,Jonathan dan pastikan dia mendapatkan perawatan yang dia butuhkan. Jangan harap bisa pulang jika kau tidak memastikan dia cepat pulih."
"Mama, udah jelas Mama itu tahu tujuan Jonathan itu penyakitan tapi kenapa Mama masih berdebat dengan mengatakan dia itu adalah suami Ani.Mama yang kemarin itu nggak masuk hitungan mah itu hanya dadakan doang kok. San sekarang Ani sudah menyesalinya ma"
Mungkin Sari yang di seberang sana merasakan ketidaknyamanan yang dimiliki oleh Stefani kali ini. Jadi dia berbicara dengan nada yang lebih lembut.
"Sayang, sebagai orang muslim kau harus percaya dengan ungkapan jodoh di tangan Allah. satu helai daun punya gugur ke bumi semuanya harus mendapatkan izin dari Allah. Terlebih lagi dengan hubungan kalian yang diridhoi oleh Allah terlepas antara kau setuju atau tidak"
"Mama tahu ini pasti sulit untukmu tapi, jangan sia-siakan tanggung jawabmu sayang ,mama percaya Ani bisa melaluinya."
Tanpa memberi kesempatan Stephanie untuk berbicara lebih lanjut, Sari tiba-tiba menutup teleponnya secara sepihak.
"Mamaa..mamaa..
__ADS_1