
Selama lebih dari satu minggu, Stefani telah tinggal di apartemen Jonathan. Sepanjang periode tersebut, Jonathan telah menunjukkan sikap yang romantis dan penuh perhatian terhadap Stefani. Meskipun pada awalnya Stefani merasa sulit menerima perubahan ini, seiring berjalannya waktu, dia mulai terbiasa dengan sikap penuh perhatian dari Jonathan.
Setiap hari, Jonathan selalu membuat usaha untuk membuat Stefani tersenyum. Dia mengatur sarapan pagi yang lezat, mengajaknya berjalan-jalan sore hari, dan bahkan menghadirkan bunga-bunga segar di apartemen sebagai kejutan. Sikap penuh perhatian ini membuat Stefani merasa dihargai dan diistimewakan.
Namun, di tengah semua kebahagiaan ini, ada hal yang membuat Stefani merasa bingung. Ridho, mantan tunangannya, entah bagaimana telah mendapatkan nomor telepon barunya. Setiap kali Stefani melihat ponselnya, dia menemukan pesan-pesan dari Ridho yang penuh dengan kerinduan dan keluhan. Stefani merasa bingung dan terkadang juga sedikit terganggu dengan interaksi ini, karena dia sedang mencoba untuk menikmati momen bahagia bersama Jonathan.
Namun, dia tidak ingin mengganggu suasana romantis yang telah diciptakan oleh Jonathan. Meskipun perasaannya bercampur aduk, Stefani berusaha untuk tidak membiarkan perasaan bingungnya mengganggu kebahagiaan yang sedang dia rasakan. Setiap kali dia mendapat pesan dari Ridho, dia mencoba untuk mengabaikannya dan kembali fokus pada hubungannya dengan Jonathan.
"Tuan..eh mas benar, aku adalah istrinya entah suka atau tidak. aku mencoba menerima ini ditambah lagi Mama juga meminta aku untuk mencoba. tapi kenapa ridho malah datang dan mencoba mengembalikan masa-masa bahagia kami yang sudah hilang?"
Stephanie tidak menampik jika ada kalanya dia masih merasa nyaman bersama ridho dibanding dengan Jonathan sendiri. Mungkin ini ada sangkut pautnya dengan usia.
"Ya Allah berikanlah aku jalan untuk mempermudah segalanya. Jika benar dia adalah jodoh yang engkau kirim untukku ya Allah maka tunjukkan jalan dan berjalanlah aku kemudahan. tapi jika tidak maka aku ikhlas menerima takdir mu"Bisik Stefani.
Saat ini, Stephanie sedang berada di taman sekolah, di tempat di mana biasanya dia akan bersenda gurau dengan teman-temannya atau duduk santai di kantin sambil menikmati makan siangnya.
Namun berbeda dengan hari-hari biasanya, kali ini karena kehadiran pesan-pesan dari Ridho, Stefani tidak memiliki semangat untuk melakukan semua itu. Dia merasa ragu dan bingung tentang apa yang harus dia lakukan di masa depan.
Tiba-tiba, Anna muncul dengan cengiran cerah di wajahnya dan duduk di kursi kosong di sebelah Stefani. "Ani, ngapain sih kamu bengong lagi mikirin apa?" tanyanya dengan santai.
Stefani terkejut dengan kedatangan Anna dan tergagap-gagap dalam menjawab, "Ehh, enggak, nggak ada apa-apa kok hehehe."
Anna dengan lembut melingkarkan lengannya di sekitar bahu Stefani dan menepuknya dengan lembut. "Kita sudah berteman selama berapa lama, sih? Kok kamu masih menyembunyikan masalahmu? Apa Ani tidak lagi dianggap sebagai temanmu? Kamu tahu kan, Ani dan Ana itu adalah the best friend forever yang tak terpisahkan."
Stephanie mendengarnya dengan senyum dan tertawa renyah. Ini adalah dialog yang sering mereka lakukan, memanggil diri mereka sebagai Ani dan Ana, sebagai saudara yang tidak terpisahkan.
"Enggak, aku serius, nggak ada masalah yang perlu diungkapkan," jawab Stefani, berusaha mempertahankan senyum palsunya.
"Betul?" Anna mendongak, dengan ekspresi mencibir.
"Betul, Ana. Maksudku, masa aku bohong sama kamu? Kita kan the best friend forever," sahut Stefani dengan nada lucu.
Anna memutar ponselnya dan memutar sebuah video sebelum menyerahkannya kepada Stefani. Stefani terkejut dan memperhatikan layar, tiba-tiba terpampang video di mana Jonathan mengucapkan ijab kabulnya.
Ketika Stefani menyaksikan momen itu, dia merasa terkejut. Bagaimana bisa? Bagaimana Anna bisa memiliki video ini?
"Ana, kamu..."
"Ah, jangan pura-pura, ya. Tapi jangan tanya dari mana aku dapatkan ini. Ah, the best friend forever ternyata bisa dibohongi juga, ckckck," goda Anna dengan senyum usil di wajahnya.
xxx
__ADS_1
Ani awalnya terkejut dan bingung, tidak tahu harus berkata apa. Namun, seiring berjalannya waktu, dia merasa lebih rileks. Setidaknya sekarang ada seseorang yang dia bisa berbicara dengan bebas, tanpa harus menyembunyikan perasaannya.
Entah mengapa, semakin lama Stefani semakin banyak berbicara. Dia menceritakan segala perasaannya dan pikirannya dan akhirnya, Stefani mulai menangis karena tertimpa emosi. Ana segera merangkulnya dengan erat, merasa bahwa dia mengerti perasaan Stefani.
"Kamu tahu, aku setuju dengan kata-kata mama kamu. Jodoh memang sudah dituliskan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan tidak bisa dihindari. Aku sarankan kamu untuk mencobanya," kata Ana dengan suara lembut.
"Kau ingat ketika kita bertemu di mall? Sebenarnya hari itu aku sudah tahu, kok, kamu aja yang tidak jujur. Tapi ketika aku mengomentari ketampaan Tuan Jonathan, sejujurnya aku merasa jujur. sepertinya kamu itu harus hati-hati ada begitu banyak gadis di luaran sana yang suka dengan tipe Tuan Jonathan itu.eit Tapi itu tidak termasuk aku ya. Aku malah pengen pensiun jadi teman kamu,aku sepertinya akan melamar untuk menjadi menantu, hahaha."
"Ana yang seriuslah"
"aku serius kok siapa suruh kamu punya anak tiri yang tampan, dua lagi, kasih ke aku satu kan lumayan tuh"
Ana?"
"Ani..."
"Ana.. jangan bercanda"
"Mama mertua..."
"Ana..."
Keduanya terlibat dalam candaan mereka sendiri, memecah suasana yang awalnya sedih menjadi lebih cerah.
Stefani mencoba membela diri, "Tapi..."
"Nggak ada 'tapi-tapian' di sini. Ridho sudah selingkuh sebelumnya, kan? Sok tampan, sok akrab, sok baik. Sekarang dia ingin balikan, padahal dulu dia yang berbuat tidak baik. Kamu nggak takut ketularan HIV, ?"
Stefani terkejut mendengar pertanyaan tersebut. "Eh, apa..."
Ana memberikan nasehat kepada Stefani untuk menjauhi Ridho dan berusaha membangun hubungan yang lebih dekat dengan Jonathan. Dia berbicara dengan tulus dan berjanji untuk merahasiakan tentang pernikahan Stefani dan Jonathan jika saatnya tiba.
Perlahan-lahan, Stefani merasa semakin nyaman berbicara dengan Ana tentang perasaannya. Ana pun mulai bertanya tentang hubungan Stefani dan Jonathan akhir-akhir ini. Stefani merasa senang bisa membicarakan hal ini tanpa harus bersembunyi.
"Jonathan benar-benar berusaha keras untuk membuatku bahagia, Ana. Dia selalu romantis dan penuh perhatian setiap kali kami berdua," kata Stefani dengan senyum bahagia.
"Oh, so sweet. Ani, kamu itu beruntung banget sudah menemukan yang tampan, mapan, dan tentu saja sangat baik. Pokoknya 100 deh!" sahut Ana dengan candaan.
Namun, Ana langsung bertanya tentang sesuatu yang belum diceritakan Stefani, "Tapi, PJ-nya mana?"
"PJ?" Stefani sedikit bingung.
__ADS_1
"Pajak jadian lah. Kamu dan Jonathan sudah serius, kan? Hei, tadi bicaranya hampir setengah jam tapi bicaranya cuma omong kosong. Sekarang ini mana ada makan siang yang gratis," ujar Ana sambil tersenyum menggoda, tangannya menadah seperti menunggu sesuatu.
Stephanie tidak lagi dalam situasi keuangan yang sulit, bahkan dia memiliki kartu unlimited dari Jonathan. Setuju dengan pernyataan Ana, Stefani tersenyum dan berkata bahwa hari ini adalah "edisi terbatas" di mana Ana bisa meminta apa pun, tapi hanya untuk hari itu saja. Keduanya tertawa, merasa bahagia karena memiliki teman yang bisa diandalkan untuk berbagi segala hal.
Singkat cerita, Ana nekat pergi melihat apartemen di mana Stefani dan Jonathan tinggal. Stephanie yang masih remaja dan lugu merasa senang dengan kedatangan tamu yang tak terduga ini. Mereka berdua membuat janji untuk pulang bersama setelah sekolah. Sebelum pulang, mereka mampir ke supermarket untuk membeli camilan dan es krim.
Ketika Jonathan kembali ke rumah sekitar jam 06.00 sore seperti biasa, dia terkejut melihat Stefani tidak sendirian. Ana sudah berada di sana dan melambaikan tangannya dengan gaya yang sedikit mengejek. Jonathan tersenyum menyambutnya.
"Hai Tuan Jho, maaf ya, aku Ana, ingat?"
"Oh, hai Ana. Kamu..."
"Aku udah tahu, Tuan Jo. Tapi tidak masalah, aku mendukung Tuan Jo dan temanku ini. Aku cuma ingin melihat dan mampir saja, tidak akan mengganggu kok," kata Ana sambil tersenyum malu-malu.
Awalnya Jonathan khawatir Stefani akan merasa malu karena Ana mengetahui identitasnya, tapi kemudian dia merasa lega karena Ana terlihat tidak terganggu. Dia meminta Ana untuk santai dan pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.
Ketika Jonathan keluar lagi dengan pakaian santainya, Ana terkesan dengan penampilannya. Dia berbisik pada Stefani, "Waw, keren. Ani, apakah dia punya sixpack?"
Stefani mendengar itu dan tersenyum tapi dia menggangguk setelahnya. mereka sudah tinggal dan tidur di kamar yang sama dalam satu minggu. Bagaimana mungkin dia tidak melihat bentuk perut kotak-kotak itu yang terkadang membuat dia ngiler.
Jonathan tidak tahu apa yang dibicarakan oleh kedua gadis itu, tapi dia membiarkan mereka berdua berbicara lebih lama. Mungkin kehadiran Ana membuat Stefani merasa lebih rileks, karena Jonathan melihat Stefani sering terlihat murung belakangan ini.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Jonathan mengajak Ana untuk tinggal dan makan malam bersama. Ana setuju dengan senang hati. Jhonathan pikir bahwa Ana di apartemen ini bisa membuat Stefani sedikit lebih tenang.
"emang Tuan Jonathan bisa masak?"
"Bisa meski nggak sebagus koki di luaran sana tapi masih lebih bagus dia daripada aku"kata Stefani yang jujur.
"Ani seorang pria tampan itu adalah pria yang bisa bekerja di luar dan di dalam rumah. kau lihat dalam film Korea, mereka begitu tampan sekali bahkan ketika ada di dapur.Eh intip yuk "
"Tapi...
"ayolah ni, aku ingin lihat setampan apa Tuan Jonathan di dapur"
Stephanie sudah melihatnya dan dia sebenarnya enggan untuk memamerkan kejadian ajaib itu untuk dilihat oleh Ana tapi untuk sekarang Stefani siap untuk pamer.
Jadi tanpa disadari oleh Jonathan, dia sebenarnya sudah menjadi objek perhatian dua gadis yang bersembunyi di belakang pintu.
"Aii, Ani, tampan banget ni. Ani kau dapat harta karun ,Ahhhh papa mertuaku sungguh tampan," bisik Ana dengan antusiasme.
Suara Ana terdengar agak keras, Jonathan sempat mendengarnya, tapi dia hanya tersenyum dan kembali fokus pada memasaknya.
__ADS_1
Anak-anak.. Ckckck