
Tidak ada yang mengetahui jika Charlos dan Charlie sebenarnya sedang membuat adegan yang sangat mengerikan yang tidak pernah dibayangkan oleh siswa SMA.
Begitu juga dengan stefania , yang lebih sering fokus melihat perkembangan mereka berdua terutama jika sudah berada di sekitar sekolah.
Yang bikin khawatir tentu saja , Charlos yang semakin lama semakin dekat dengan Tommy. Dan dia diindikasi sedang bertengkar dengan kepalanya sendiri yaitu Charlie.
Jika ini adalah masalah biasa-biasa saja ,mungkin stefani tidak khawatir.Tapi ketika mereka berdua sudah hampir bertengkar itu sudah luar biasa bagi dia.
Pada jam istirahat, biasanya kembaran itu pasti berada di kantin seperti Stefani dan teman-temannya saat ini .Tapi sampai Stefani mendapat pesanannya di atas meja ,dia sama sekali tidak melihat dua orang itu .
Entah kenapa dia seperti sedang mendapatkan firasat buruk.
Tiba-tiba saja Ana masuk ke kantin dengan wajah yang panik dan nafas yang ngos-ngosan karena berlari. Dia segera mendekati Stefani yang sedang duduk di meja makan.
Ana segera berbicara sambil ngos-ngosan." A..... ani... kamu... kamu harus cepat pergi ke taman... Carlos dan Charlie... mereka... mereka sedang bertengkar!"
Tentu saja Stefani jadi kaget." Apa? Bertengkar?"
Tanpa ragu, Stefani meninggalkan makanannya dan berlari cepat ke taman sekolah. Dia juga terengah-engah karena berlari dengan cepat untuk mencapai taman secepat mungkin.
Di taman sekolah, dia melihat Carlos dan Charlie berdiri di tengah-tengah, tampaknya sedang berhadapan satu sama lain dengan ekspresi yang tegang.
Tidak, mereka berdua benar-benar saling mengirimkan bogem mentah ke arah yang lainnya.
Stephanie tidak akan pernah menyangka kika dia bisa melihat kondisi hari ini. Di sini Stephanie mulai menyerahkan diri baru dan bahkan berpikir jika dirinya terlalu lemah dalam memperhatikan perkembangan anak-anak itu.
"Carlos! Charlie! Hentikan!" pekik Stefani dengan keras.
Carlos dan Charlie berhenti dan menoleh ke arah Stefani yang datang dengan terburu-buru.
"Ini bukan urusanmu, bibi !kauPergi saja!"
Stefani juga bisa marah kan, tapi dia tidak bisa seperti mereka berdua ,main tonjok dan jotos gitu.Ya g bisa di lakukan oleh nya hanyalah berteriak dan menasehati"Tapi... tapi kalian itu saudara kembar, kalian tidak perlu bertengkar seperti ini.
" Kamu tidak mengerti, bibi! Ini adalah masalah kami sendiri!"kata Charlie yang tidak kalah tingginya.
Mereka ingin baku hantam lagi tapi Stefani buru buru berdiri di tengah tengah mereka berdua.
" Saya tahu kalian memiliki perbedaan, tapi kalian harus mencari cara untuk menyelesaikannya dengan baik, bukan dengan bertengkar"
__ADS_1
Charlie segera menghela nafas."aku sudah mencoba bicara, tapi sepertinya tidak ada jalan keluar.Kau Charlos ,kau berubah setelah berteman dengan Tommy, sudah ku bilang,dia tidak bagus"
"Charlie kau...kau nampak ni?"kata Carlos dengan memamerkan tinju nya pada Charlie.
Stefani mendengar nama Tommy di sebut, sekarang dia tahu asal muasal pertengkaran ini.
Stefani awalnya tidak akan berpihak pada siapapun tapi jika sudah ada Tommy di tengah,pasti ini bukan lah hal yang baik.
Dia menatap Charlos dengan tatapan garang nya , tapi justru jadi tatapan centil di mata orang orang karena tubuh Stefani yang kecil.
"Ohh jadi ini karena Tommy ya, Charlos aku tidak tahu masalah nya tapi aku juga tidak suka dengan kau berteman dengan Tommy.Aku ingat kan Charlos, tidak peduli apa ,jangan bergaul dengan dia ,kau mengerti?'kata Stefani dengan berkacak pinggang.
Belom sempet Charlos menjawab, tiba tiba saja, Tommy yang namanya di sebut kan langsung tampil ke depan.
Dia jahat, Tommy mengakui itu.Tapi bukan giliran Stefani untuk mengatakan nya.
Dia maju dan menarik Stefani ke arahnya.Segera saja tangan Stefani di genggam paksa oleh Tommy sehingga gadis itu meringis kesakitan.
"Ani , kurang ajar benget kamu, ini masalah laki laki, untuk apa kau ikut campur hah? lagian sadar diri nya,kau hanya orang bayaran papa Charlos di sini.Jadi apa hak kamu mengatur dengan siapa Charlos berteman?"
Deg...
Stefani beku sesaat,dia juga sedang berpikir apakah kartu kredit unlimited bisa memberikan dia hak itu atau...
Dengan berpikir begitu , Stefani jadi tidak takut.Dia balas menatap Tommy dengan garang dan...
Plak...
Segera semua orang yang tadinya heboh dan berisik , sekarang jadi diam dan sunyi sepi.
Tommy baru kali ini di tampar orang seorang wanita.Dia juga terkejut badan lupa dengan genggam tangan itu.
"Aku tidak ada hak, tapi apa kau ayah mereka? Dasar pria jahat, jika mau buat dosa buat aja sendiri, ngapain ajak ajak anak orang"kata Stefani.
Charlie dan Charlos tidak sempat bergerak ketika Tommy meraih kuncir Stefani kala gadis itu sedang berbalik.
"ahhh...
"Is...
__ADS_1
"Adou , sakit tuh..
Siapa yang bisa membayangkan jika Stefani yang kecil, sebenarnya berani menendang "bola bola" Tommy yang membuat pria itu berguling-guling di tanah.
"Rasakan.."kata Stefani pada Tommy.
Tommy mengerang sambil memegang "bola bola" nya dengan wajah yang mengerikan .Beberapa urat wajah nya sampai keluar begitu juga dengan urat lehernya.
Mungkin kah bola bola itu pecah?
Stefani seperti tidak peduli dengan orang lain.Dia berjalan langsung ke hadapan Charlos dan Charlie.
Tanpa sadar, Carlos dan Charlie segera merapatkan kaki mereka dan menutup nya dengan dua tangan sekaligus.
Mereka berdehem dan kecut di saat yang sama.
Kata orang ibu tiri memang garang dan tidak manusiawi dengan anak anak tiri mereka, apakah Stefani seperti itu.
"Ahh bibi.. hehehe..
"Apa hah?mau juga ?"kata Stefani yang bercekak pinggang lagi.
"Ti..tidak bibi, ini...
"Sudah lah awas ya, jika kalian bertengkar lagi, rasakan hal yang sama seperti Tommy.Sekarang pergi ke kantin, sebentar lagi udah masuk kelas kan, jika telat makan , nanti bisa kena maag"kata Stefani.
Seperti kerbau yang di cucuk hidung nya, Carlos dan Charlie memiliki otak kosong.Mereka hanya bisa mengikuti langkah kaki Stefani dan diam diam melirik Tommy yang masih berada di tanah.
Ketika Stefani mengatakan beberapa hal untuk menasehati Carlos, pria itu juga tidak bergeming bahkan tidak menjawab.Kata kata itu hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.
Carlos piawai dalam ilmu bela diri, tapi jurus Stefani tadi, benar-benar bisa mematikan pihak lawan.
Dia pikir apakah jurus ini bisa di implementasikan pada misi.
Ataukah Stefani juga seorang mata-mata?
Dilain pihak, Tommy yang masih merasa kesakitan, mulai menyimpan dendam. Tadinya dia juga berpikir jika bola-bola berharganya mungkin saja pecah .Tapi dia sudah memeriksanya dan itu baik-baik saja, hanya ada rasa sakit yang tidak tertahankan di sana.
Sakit ini mungkin akan hilang, tapi malu nya itu tuh.
__ADS_1
Awas kau Stefani, tunggu pembalasanku.
Ahhh...