Terjebak Pernikahan Dadakan.

Terjebak Pernikahan Dadakan.
Jonathan shock


__ADS_3

Di tengah-tengah suara hingar-bingar musik dan cahaya berkelap-kelip, Stephanie merasakan kehancuran dalam dirinya yang hampir mendorongnya untuk menangis. Teriakannya pecah, berusaha menjangkau hati Charlos yang tengah terjebak dalam tindakan yang meresahkan.


"Charlos, ingatlah siapa aku, Charlos!" pekik Stefani, suaranya memohon dan terhenti di tengah-tengah kekacauan yang sedang berlangsung.


Charlos, terobsesi dengan dorongan nalurinya yang salah, tidak mendengar atau memahami permohonan Stefani. Dia masih terus berusaha untuk mencium Stephanie dengan paksa, tanpa menyadari betapa mengerikan dan tidak bermoral tindakannya.


Namun, tiba-tiba sesuatu terjadi. Seseorang datang menghentikan semua ini dengan tindakan tegas. Kerah Charlos ditarik dan dia terlempar ke lantai. Matanya membulat ketika dia melihat siapa yang telah menghentikannya, dan dia hampir saja berteriak.


"Papa Jho!"


Namun, Jonathan, ayah Charlos, sudah lebih dulu marah melihat perilaku anaknya yang benar-benar keluar kendali. Suara Jonathan dengan tegas menggema di tengah keramaian.


"Bagus kalau kau ingat ini adalah papamu, tapi kau sudah keterlaluan, Charlos," ucap Jonathan dengan nada yang penuh kekecewaan dan kemarahan. Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh kasih, kini tampak keras dan penuh otoritas.


Jonathan, meskipun tidak pernah terlibat dalam pertengkaran fisik, masih memiliki kekuatan dan keberanian dalam dirinya. Dia bukan hanya seorang ayah, tapi juga seorang lelaki dengan segelintir otoritas yang ingin dia tegakkan demi kebaikan anaknya.


Buk..buk ...


tinju Jonathan melayang dan itu mengenai pipi Carlos yang langsung tidak bisa menghindar.


Charles memang memiliki kemampuan atau teknik bela diri namun papanya bukanlah targetnya sekarang melainkan seseorang yang ingin dia lindungi secara mental.


jadi di sini kalau tidak melawan sama sekali, dia hanya terkekeh-kekeh dan terkadang limbung setiap kali Jonathan melayangkan tinjunya.


sebenarnya di dalam hati kalau menyukai papanya yang emosi seperti ini. paling tidak dia bisa menyalurkan kemarahannya dengan cara yang eksklusif.


ketika dia tertawa terkekeh-kekek di sini beberapa orang bahkan Jonathan sendiri menganggap jika


Jonathan dengan wajah penuh kemarahan dan kekecewaan melayangkan tinjunya dengan tepat ke pipi dan perut Charlos. Meskipun Charlos memiliki kemampuan bela diri yang tidak kecil, dia sama sekali tidak berniat untuk menghindari serangan ayahnya. Baginya, ini adalah cara Jonathan menyalurkan emosinya, dan dia bahkan merasa nyaman dengan hal itu.


"Ahahaha, Papa Jho, ini sama sekali tidak sakit. Kau lemah, ahahaha," seruan mengejek Charlos sebenarnya ditujukan agar Jonathan semakin terdorong untuk memukulnya lebih keras. Bagi Charlos, ini adalah cara untuk mengalihkan amarah Jonathan dengan cara yang dia anggap lebih baik.


Namun di mata beberapa orang yang menyaksikan kejadian tersebut, Charlos seakan sedang mengejek Jonathan karena kelihatannya pukulannya tidak memberikan efek apapun.


Komentar miring pun bermunculan, menganggap Charlos kuat dan Jhonatan itu lemah.

__ADS_1


Sementara itu, Stephanie merasa ketakutan karena kejadian tadi. Dia merasa ngeri melihat Jonathan memukul Charlos, dan ekspresi takut masih terpancar di wajahnya. Setelah mengalami kejadian kurang menyenangkan tadi,dia juga harus menghadapi pertikaian ini, yang mengacaukan suasana yang semakin tegang.


Sementara Charlie, yang menyaksikan kejadian ini ,hanya menggelengkan kepala. Dia tahu niat sebenarnya dari Charlos, bahwa Charlos memang ingin mengalihkan amarah Jonathan dan tidak benar-benar ingin melawannya.


Charlos memiliki karakter yang suka dengan ilmu bela diri, dan dia menghormati cara Jonathan mengekspresikan emosinya, walaupun di dalam hati, Charlie tahu ada alasan yang lebih dalam.


Stephanie segera sadar dan langsung menimbulkan keberanian untuk menyeruak lebih depan,dia juga berteriak dengan suara keras yang mencoba meredam situasi yang semakin kacau.


"Hentikan semua ini, tuan! Dia adalah putramu!"


Namun, teriakan Stefani tidak berhasil menarik perhatian Jonathan. Dalam benak Jonathan, masih terukir jelas bagaimana Stefani dilecehkan tadi dan kemarahan itu membutakan dirinya. Dia bahkan lupa bahwa di depannya ada putranya sendiri.


"Tidak, dia mengganggu Ani, dia mengganggu Ani," kata Jonathan dengan keras setiap kali tinju itu terayun dan menghantam Charlos yang tidak melawan.


Di sisi lain, Stephanie merasa terhentak oleh respons keras Jonathan. Teriakannya menghilang di tengah gemuruh suara dan keramaian dan dia tiba-tiba membeku di tempat.


Entah mengapa, di saat itulah dia merasa seperti terhipnotis oleh keberanian Jonathan yang seolah menguasai situasi. Pemandangan ini, di tengah suasana yang kacau dan penuh emosi, membuatnya merasa seolah waktu berhenti sejenak.


Sejenak, dia memandang Jonathan dengan mata terbuka lebar.


Dia melihat keberanian dan kekuatan dalam sosok ayah yang tegar, yang mengatasi situasi yang rumit dengan kepala dingin. Terdengar aneh, tapi tiba-tiba, dalam pandangan Stephanie, Jonathan terlihat... macho. Dan ya, bahkan tampan.


"Ana benar ,Tuan Jonathan memang tampan"gumamnya tiba-tiba.


Stephanie tiba-tiba merasa mampu menenangkan dirinya sendiri dan dengan tindakan tegas, dia menarik Jonathan yang masih terus ingin memukul Carlos. Meski Jonathan masih berada dalam kondisi yang aneh dan terpancing emosi, tapi tindakan Stefani berhasil membuatnya berhenti sejenak.


Hanya saat Stefani memeluknya dengan lembut, Jonathan merasa kembali ke dalam realitas. Di antara tatapan mereka, dia melihat Charlos tergeletak di lantai dengan wajah yang babak belur.


Dalam posisi tubuh yang masih dipeluk oleh Stefani dari belakang,membuat Jonathan menatap kedua tangannya dengan tatapan tidak percaya. Dia seakan tidak bisa mengakui bahwa tangan ini adalah tangan yang tadi memukul putranya.


Dalam keheningan itu, Charlos berusaha bangkit dengan gerakan yang goyah. Dia merangkak mendekati Jonathan, menghapus jejak darah di sudut bibirnya.


Melihat susah payahnya Charlos dengan suara gemetar, pelan-pelan Jonathan memanggilnya.


"Char... Carlos, ayo pulang, Nak." Suaranya lembut penuh dengan rasa bersalah dan kekhawatiran.

__ADS_1


Namun, Carlos menepis tangan Jonathan dan menatapnya dengan mata tajam. Dalam hati, Carlos sama sekali tidak merasa marah pada Jonathan.


Dia tetap memegang teguh misinya, berakting sebagai anak yang bertengkar dengan ayahnya. Meskipun kejadian ini tidak diinginkan, Carlos merasa bahwa situasi ini cocok dengan misinya saat ini


Dengan suara keras, Carlos berbicara dengan pandangan tajam, "Puas? Apa kau sudah puas memukulku, Papa Jho? Kalau sudah puas, pulanglah dan bawa gadismu itu."


"Charlos... Papa minta maaf kalau tapi Ayo pulang Agar Papa bisa merawat lukamu"kata Jhonatan.


"Apa? papa Jo ingin merawat lukaku? Hahaha, luka yang kau tanam sejak kecil masih di dalam dan tidak akan pernah sembuh papa Jo. kau tahu sejak dari dalam kandungan belum ada segenggam beras pun yang aku habiskan dari mu. Tapi baru beberapa hari tiba di Jakarta kau sudah menganggap dirimu hebat?"


Jonathan menggigil mendengar apa yang dikatakan oleh Carlos. Itu adalah perkataan yang tidak ingin dia dengar dalam seumur hidup ini.


Lutut Jonathan lemah secara tiba-tiba untuk ada Stefani yang menopangnya dari belakang.


Stephanie juga jelas merasakan bagaimana tubuh Jonathan menggigil dan mau tidak mau Stefani juga merasa kasihan dengan Jonathan.


Sementara mata Jonathan masih fokus kepada wajah Charlos yang penuh dengan luka lebam. Sesekali dia melirik kedua tangannya yang sudah memberikan luka tersebut kepada Putra kesayangannya.


Sampai detik itu Jonathan masih tidak percaya Jika dia adalah pelaku yang membuat Carlos terluka.


"sekarang pulang dan bawa gadis mu itu, aku sudah terlalu besar untuk kau urus"kata Carlos dengan kejam dan dia pergi dari tempat itu dengan tertatih-tatih dan juga limbung layaknya orang yang sedang mabuk.


Di sisi lain, Charlie yang selama ini diam dan menatap adegan dengan tangan berlipat di dada dengan sikap yang acuh tak acuh.


Jika ada piala Citra untuk akting dalam katagori mata mata,mungkin Charlos lebih cocok untuk piala itu dibanding dengan aktris yang lainnya.


Sementara itu Stephanie merasakan rasa kasihan terhadap Jonathan yang tampak bingung dan terombang-ambing dalam situasi ini.


"Tuan,a.. Ayo kita pulang tuan"kata Stefanie yang langsung menarik Jonathan untuk keluar dari tempat itu sementara Jonathan tidak memiliki pikiran lain dia sedang dalam keadaan kosong.


Jadi ketika Stefani menariknya ,dia hanya menurutnya saja seperti kerbau yang dicucuk hidung.


"bibi ,Tolong bawa papa pulang ke apartemennya dan temani dia ,Oke. aku akan menyusul Carlos dan memberikan dia pelajaran"kata Charlie dengan nada yang serius.


Tentu saja Stefani setuju dan menganggukkan kepalanya. Jadi dia menarik Jonathan untuk keluar dari apartemen tersebut dan memesan taksi alih-alih pergi dengan mobil.

__ADS_1


Stephanie tidak memiliki SIM untuk membawa mobil.


__ADS_2