
Adegan dimulai dengan Stefani dan teman-teman sekelasnya tiba di depan apartemen mewah Carlos dan Charlie. Mereka datang dengan sepeda motor masing-masing, menciptakan kesan yang energik dan ceria.
Apartemen tersebut terletak di lantai atas bangunan tinggi, dengan pemandangan kota yang indah di sekitarnya. Eksterior apartemen dipenuhi dengan sentuhan arsitektur modern, dengan kaca-kaca besar yang memantulkan cahaya matahari.
Saat mereka memarkirkan sepeda motor mereka, Stefani merasa terpesona dengan kemewahan apartemen tersebut. Mereka memasuki gedung dan naik ke lantai yang dituju.
"Wah canggih ya, jika aku punya uang aku juga pengen apartemen seperti ini oh kebebasan adalah hal yang paling aku suka"kata ana yang memandang ke atas apartemen milik Carlos dan Charlie ini berada di lantai ke 20.
Semua siswa termasuk Stefani saat ini tinggal bersama orang tua mereka. Jadi mereka tidak merasakan arti sebuah kebebasan dengan tinggal sendiri di sebuah apartemen mewah seperti yang dialami oleh saudara kembar ini.
Saat ini Carlos dan Charlie tidak ikut karena mereka bilang ada sesuatu yang harus dilakukan. Karena itu kelompok ini dibiarkan pergi lebih dulu bersama Stefani yang sudah memegang kunci apartemen.
Di depan area lift,Stefani sedang berdiri di tengah-tengah teman-teman sekelasnya yang bersemangat. Mereka saling dorong-mendorong dengan candaan khas remaja.
"Ayok Ani ,jangan ketinggalan! Liftnya udah datang nih!"
"Yeah, kita harus cepat ke lantai 20! Apartemen Carlos dan Charlie pasti keren banget!"
Stefani sedikit ragu, tetapi teman-temannya menariknya dengan paksa ke dalam lift yang sudah terbuka. Mereka masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai 20.
"Aduh, gue gak sabar nih! Kita bakal melihat apartemen mewah yang katanya bisa bikin kita ngiler!"
"Betul! Gimana ya rasanya hidup di apartemen kelas atas gitu? Mungkin mereka punya kolam renang pribadi kali!" kata ana terang terangan.
"Eh, jangan lupa cari apartemen 200 B ya! Itu nomor apartemen Carlos dan Charlie."
"Pasti aja, lagi-lagi duo kembar ini bikin kehebohan di sekolah. Ahh belum masuk aja jangan tunggu gue udah deg-degan ?"
"Enggak tau deh, tapi yang jelas mereka punya aura tersendiri. Lagian, mereka kan bukan orang sembarangan. Keluarga Aldelis, dong!"
Teman-teman terus asyik berbincang-bincang sambil menunggu lift naik ke lantai 20. Setelah beberapa detik, pintu lift akhirnya terbuka di lantai tujuan mereka.
__ADS_1
"Mari kita cari apartemen 200 B. Gue pengen lihat seperti apa apartemen kelas atas yang katanya bikin orang ketagihan ini!"
Mereka berjalan di lorong yang dihiasi dengan lampu-lampu indah. Akhirnya, mereka menemukan apartemen dengan label "200 B".
Ana tiba-tiba membelalak ketika melihat nomor yang sedang mereka cari terpampang di depan mata.
"Ini dia, guys! Apartemen Carlos dan Charlie!"
Adegan dimulai di depan pintu apartemen 200 B. Teman-teman sekelas Stefani berdiri di depannya dengan penuh semangat.
"Cepat ani, buka pintunya! Kita semua penasaran banget nih!"
Stefani agak ragu tapi melihat ekspresi antusias teman-temannya, dia tak kuasa menolak.
"Tapi, apa kita boleh masuk begitu saja? Kan ini apartemen pribadi Carlos dan Charlie." Kata Stephanie yang masih ogah untuk masuk ke hunian anak tirinya ini.
"Tenang, Ani! Carlos udah ngasih izin kok. Dia bilang kita boleh mampir kapan aja!"
Stefani mengeluarkan kartu kunci yang diberikan oleh Carlos dan mengikuti petunjuknya untuk memasukkan kata sandi. Dia memasukkan angka-angka dengan hati-hati.
"Baiklah, kata sandinya adalah 2-8-1-9."
"Ayo Ani, cepatlah. Kita semua gak sabar nih!"
Stefani dengan hati-hati menempatkan kartu kunci ke dalam slot dan memasukkan kata sandi. Tiba-tiba, lampu di depan pintu berwarna hijau dan terdengar bunyi pintu terbuka.
"Yay, berhasil! Pintunya terbuka, mari masuk!"
Mereka semua bergerak masuk ke dalam apartemen dengan riuh rendah. Mereka terpesona dengan suasana yang mewah dan indah di dalam apartemen tersebut.
Teman-teman Stefani berjalan ke setiap ruangan dengan ekspresi terkejut di wajah mereka.
__ADS_1
"Wow, coba lihat ini! Ruang tamunya begitu luas dan elegan. Kayak di hotel bintang lima!" Ana berseru dengan gembira ketika melihat ruang tamu yang begitu luas dan elegan. Seolah-olah dirinya belum pernah melihat keindahan seperti itu.
Yanti pula berlari ke arah balkon dan menemukan ada kolam yang tidak begitu besar di sana.Dia berseru dengan keras " Woi lihat kolam renang di balkon, guys! Gila, kita bisa berenang di sini!"
"Sungguh luar biasa, semuanya terlihat begitu indah dan mahal. Aku bahkan tidak bisa membayangkan hidup di tempat sekelas ini."
"Ini adalah impian semua orang, bukan? Aku ingin punya apartemen seperti ini suatu hari nanti."
Sementara itu, Stephanie bergerak pergi ke dapur. Dia melihat sekeliling untuk mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membuat minuman dingin.
"Hmm, sepertinya ada beberapa minuman di kulkas. Aku bisa membuat minuman dingin untuk teman-teman sekelas." gumam Stefani.
Dia mulai mengambil botol jus dan es batu dari kulkas, berencana untuk membuat minuman yang menyegarkan bagi mereka.
Ketika Ana melewati dapur dia melihat Stefani yang sibuk membuatkan mereka minuman. Tiba-tiba dia merasa Stefani seperti seorang ibu yang sedang melayani teman-teman putranya datang.
"Eh, ada apa denganmu, ani? Kamu tidak terlalu terkesan dengan semua ini?"hanya ini penjelasan yang bisa didapatkan oleh ana ketika melihat Ani menyibukkan dirinya di dapur.
"Aku... aku hanya merasa bahwa ini semua sedikit berlebihan, aku lebih suka yang sederhana." kata Stefani berkilah.
Ana merasa tidak percaya dengan apa pendengarannya siapakah orang yang tidak menyukai kemewahan.
"Ah Mungkinkah Ani merasa malu karena ini adalah apartemen milik bos dari mamanya sendiri. jadi dia merasa nggak nyaman gitu"pikir ana
"ya sudahlah kalau kau nyaman jadi pembokat, teruskan saja profesi mu itu ,kami akan menjelajah lagi hahaha"kata Ana yang langsung berlarian lagi bergabung dengan teman-teman yang lain.
Teman-teman lain terus menjelajahi setiap ruangan apartemen, mencari tahu hal-hal apa yang mungkin kurang atau perlu dibeli.
"Hmm, sepertinya mereka perlu membeli beberapa peralatan dapur tambahan. Kita bisa mencarinya di supermarket nanti."
"Dan mungkin beberapa dekorasi tambahan untuk mengisi ruang kosong ini. Kita bisa membuat apartemen ini menjadi lebih hidup."
__ADS_1
Perbincangan mereka terus berlanjut dengan semangat remaja yang labil, membicarakan hal-hal yang dapat mereka lakukan untuk membuat apartemen ini menjadi lebih sempurna. Sementara itu, Stephanie tetap fokus di dapur, berusaha memberikan kontribusinya dengan membuat minuman dingin yang menyegarkan untuk teman-teman sekelasnya.