
Charlie, di mata semua orang, adalah seorang pelajar biasa yang kembali ke sekolah dengan rutinitas membuat PR atau bermain game. Namun, sebenarnya, dia memiliki pekerjaan yang rumit dan padat waktu. Karena rutinitasnya yang sibuk, dia tidak selalu bisa memantau apa yang dilakukan oleh Stefani setelah pulang sekolah.
Charlie berpikir bahwa Stefani kemungkinan akan kembali ke apartemen tempat papanya tinggal, menganggapnya sebagai tempat yang paling aman bagi Stefani.
Namun, dia tidak menyadari bahwa Stefani, yang sedang melambaikan tangannya mengucapkan kata perpisahan, sebenarnya berinisiatif untuk pergi bersama teman sekelasnya ke tempat yang sebelumnya belum pernah dia kunjungi.
Rumah Mirae.
Stephanie duduk di kursi belakang sepeda motor, sementara Miras bertindak sebagai pengemudi di depan. Ini karena Stefani tidak akrab dengan jalan menuju rumah Mirae.
Stephanie awalnya tidak terlalu memikirkan perjalanan ini, tetapi seiring berjalannya waktu, dia mulai merasa bingung dengan berbagai putaran dan jalan yang mereka lalui.
"lho kok rumahnya jauh amat ?kalau memang sejauh ini gimana caranya Mirae bisa sekolah tepat waktu ya. setahuku Mirae nggak punya sepeda motor apalagi mobil" pikir Stefani.
mereka sudah jalan lebih dari satu jam dengan sepeda motor jadi ini yang meragukan Stefani namun dia cenderung akan berpikir baik tentang teman sekelasnya.
Namun begitu dia tetap bertanya,"apa masih jauh mira ?"
"nggak jauh kok itu di depan aja lagi"kata Mirae yang berada di depan.
Mereka semakin menjauh dari kota dan masuk ke wilayah yang terasa seperti sebuah desa yang tidak dikenal. Kondisi sekitarnya semakin jauh dari keramaian kota, dengan semak semak hijau yang berjejer di sepanjang jalan.
Stephanie mulai bertanya kepada Mirae, "Apakah di benar-benar jalan ke rumahmu, Mirae? Dan kenapa terlalu jauh dari sekolah?"
Mirae menjawab sambil tersenyum, "Iya, ini jalan ke rumahku, ni. Aku orang miskin, jadi rumahku berada di pedesaan. Tapi jangan khawatir, kamu akan suka tempat ini."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan Stephanie yang semakin penasaran tentang tempat yang akan mereka tuju.
Lima menit kemudian, mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar besi berwarna biru. Seorang wanita tua berdiri di depan pagar dan menyambut Mirae dengan hangat.
"Wah, kamu pulang telat lagi hari ini," katanya dengan ramah.
Mirae menjawab, "Aku pulang, Nenek, dan membawa temanku untuk acara ulang tahun."
Wanita tua yang disebut nenek itu memandang Stefani dari ujung kaki sampai ujung kepala, kemudian tersenyum lagi. "Oh, jadi ini tamu yang kau katakan. Ayo masuk, nenek sudah menunggu dari tadi, tidak apa-apa."
Stefani yakin bahwa ini adalah rumah teman sekelas, jadi dia masuk mengikuti mereka. Namun, ketika dia masuk ke dalam rumah, tidak ada tanda-tanda pesta ulang tahun yang dikatakan oleh Mirae tadi.
"Mir, katamu ada ulang tahun kok nggak sepertinya begitu deh?" tanya Stefani, merasa firasat buruk.
__ADS_1
Mirae menjawab dengan santai, "Ani, kok kamu sepertinya khawatir. Acaranya bukan di sini, tapi di tempat lain. Tunggu sebentar, aku harus ganti baju dulu. Masa bintangnya harus pakai pakaian sekolah, hahaha."
Stefani merasa sedikit canggung dan berkata, "Bukannya kamu harus memberi tahu aku lebih dulu, jadi aku juga bisa ganti baju. Malu nanti jika hanya aku yang masih memakai pakaian sekolah." Dia merasa tidak nyaman dengan pakaian yang tidak cocok untuk pergi ke pesta ulang tahun.
Mirae tersenyum dengan nakal dan melambaikan tangannya kepada Stefani, lalu menariknya ke dalam kamar. Dia membuka lemari pakaian dan menunjukkan berbagai pilihan kepada Stefani. "Pakaianku tidak banyak, tapi juga tidak buruk. Pilih satu, dan ayo kita pergi setelah itu."
Stefani setuju, dan tidak lama kemudian, keduanya sudah berganti pakaian yang lebih sesuai untuk pergi ke pesta ulang tahun. Namun, ketika Stefani ingin pergi dengan sepeda motornya, dia menyadari bahwa telepon genggamnya tertinggal di kamar Mirae, tempat dia berganti pakaian tadi.
"Duh, Mira, teleponku tinggal di kamarmu," kata Stefani.
Mirae mendesak bibirnya dan menarik tangan Stephanie, seraya berkata, "Kita sudah telat, nanti saja ketika pulang kita bisa mengambil teleponnya lagi. Lagian, pintu rumah dan pagar juga sudah dikunci.Ribet jika harus membukanya hanya untuk mengambil telepon genggam." begitu alasan Mirae dari awal hingga akhir.
Meskipun Stephanie merasa sedikit tidak nyaman meninggalkan telepon genggamnya, dia tidak ingin menyusahkan Mirae dengan membuka pintu pagar dan rumahnya kembali hanya untuk mengambil telepon. Dengan begitu, mereka meninggalkan lokasi dan juga telepon genggam Stephanie yang tertinggal di sana.
Stefani dan Mirae terus bergerak menggunakan sepeda motor, semakin menjauh dari ibukota. Stephanie mulai merasa khawatir karena dia tidak tahu sama sekali kemana mereka pergi, dan dia tidak memiliki telepon genggamnya. Dalam hatinya, dia sedikit cemas karena tidak meminta izin kepada ibunya untuk pergi.
Akhirnya, Stephanie berkata kepada Mirae, "Kalau masih jauh, aku nggak jadi pergi. Aku khawatir mama menunggu aku pulang karena aku tidak minta izin tadi."
Mira tertawa dengan sinis dan berkata dari posisi depan, "Kenapa takut amat sih? Jadi anak sekali-sekali memboloslah seperti sekarang ini, hahaha."
Stephanie semakin merasa bahwa teman sekelasnya ini agak aneh. Dia bertanya lagi, "Sebenarnya kita mau ke mana sih? Kok jauh amat?"
Mira menjawab dengan nada yang sedikit kesal, "Kamu itu kan ikut aja lah, nggak ada apa-apa kok. Khawatir amat, kayak anak perawan aja."
Emang kita masih perawan kan,jadi apa masalahnya.
Stefani merasa semakin bingung dengan jawaban-jawaban Mirae yang terkesan tidak masuk akal baginya. Dia mencoba menepuk pundak Mirae dan meminta untuk berhenti, tapi gadis itu tidak merespon dan malah menambah kecepatan sepeda motornya, membuat Stefani takut. Stefani terpaksa memeluk pinggang mirae dengan erat.
Mirae berteriak keras, sehingga suaranya bisa terdengar oleh Stefani dengan kecepatan sepeda motornya, "Jangan khawatir, sayang! Semuanya akan baik-baik saja. Aku yang berulang tahun hari ini, jadi kita harus sampai tepat waktu pada tujuan, jika tidak para tamu akan bosan, hahaha!"
Stefani tidak bisa menjawab karena dia sedang ketakutan dengan kecepatan yang dibawa oleh teman sekelasnya ini. Akhirnya, dia diam-diam menutup mata. Untungnya, sekitar 15 menit kemudian, sepeda motor berhenti, dan ketika Stefani membuka mata, mereka berada di lokasi tepi laut.
Stephanie membuka mata dan melihat sebuah speedboat kecil di pinggir laut. Tidak ada tanda-tanda pesta di sekitar mereka, jadi dia bertanya kepada Mirae, "Di mana tempat acaranya? Kok nggak ada apa-apanya di sini?"
Mirae menjawab sambil tertawa, "Bukan di sini, sayang!" Katanya sambil menarik tangan Stefani menuju speedboat tersebut.
Stefani menduga bahwa mereka akan pergi naik speedboat, yang berarti perjalanan mereka mungkin akan melalui laut. Oleh karena itu, dia menolak dengan tegas dan menepis tangan Mirae dengan sedikit kasar. Dia berkata dengan wajah yang penuh keraguan, "Kamu ini sepertinya aneh. Tidak seperti orang yang sedang berulang tahun. Rumah kamu jelas-jelas jauh dari sini, dan sekarang acaranya malah harus melewati perairan seperti ini. Apa kamu sedang berbohong dan berpikir aku bodoh?"
Mirae adalah teman sekelas yang kurang populer, dan banyak orang tidak tahu banyak tentangnya. Melihat Stefani menolak dengan kasar, Mirae mulai menunjukkan wajah aslinya dengan senyuman yang menyeramkan.
__ADS_1
Tiba-tiba, dua orang pria mendekat begitu Mirae bertepuk tangan. Mirae berkata dengan sinis, "Hari ini adalah hari ulang tahunku, dan kau tidak hanya menolak untuk membelikan hadiah, tapi juga menolak untuk datang. Teman macam apa kau ini?"
Dia kemudian dengan cepat melangkah masuk ke dalam speedboat, sementara Stefani ditarik dengan paksa oleh dua pria tersebut.
Stefani berteriak kepada Mirae, "Mira, aku tidak tahu kau akan sekejam ini. Tolong lepaskan aku. Apapun niatmu, tolong jangan libatkan aku. Kita kan sahabat!"
Miraesama sekali tidak peduli dengan teriakan Stefani. Dia hanya tersenyum manis dan duduk cantik di bangku penumpang, sedangkan Stefani saat ini terikat dengan tali. Salah satu dari dua pria yang datang sebelumnya duduk di kursi pengemudi, dan speedboat mereka mulai bergerak, meninggalkan buih-buih di lautan sebagai jejak.
Jonathan merasa semakin bingung dan khawatir karena Stefani masih belum juga pulang ke apartemen. Dia bertanya dalam hatinya, "Apakah Ani masih marah? Tapi sebelumnya dia masih pulang meskipun marah, tidak seperti ini?"
Setelah berkonsultasi dengan dokter Khans tentang hubungannya dengan Stefani, Jonathan memutuskan untuk memberikan Stefani lebih banyak privasi agar gadis itu tidak merasa tertekan dalam pernikahan yang terjadi antara mereka berdua. Ini adalah langkah yang diambil Jonathan untuk memberi Stefani ruang yang lebih besar.
Oleh karena itu, Jonathan memutuskan untuk menarik semua penjaga pribadinya, sehingga Stefani sekarang tidak lagi terpantau oleh tim keamanannya. Namun, saat ini, khawatir tentang keberadaan Stefani membuatnya semakin cemas dan bingung.
Jonathan, semakin khawatir, mencoba menghubungi Charlie dalam upaya mencari tahu keberadaan Stefani.
Tut Tut Tut...
Setelah panggilan kedua, Charlie akhirnya mengangkat teleponnya.
Jonathan dengan panik bertanya,"Charlie ,kamu.. kamu ada di mana nak?"
dari nada suaranya saja Charlie sudah merasakan firasat yang tidak nyaman jadi dia balas bertanya."Ada apa, pah?"
Lalu dengan kekhawatiran yang semakin memuncak, Jhonatan melanjutkan, "Apakah bibimu, ada di sana?"
Charlie langsung berdiri dan terkejut."Bibi? maksud Papa ,bibi Ani kan?"
"ya Charlie,bibimu kan hanya satu, jadi dia ada sama kamu atau enggak sih"
Dia menjawab dengan tegas, "Tadi, bibi udah pulang kok dari sekolah, aku melihatnya dengan mata kepala sendiri."
Mendengar jawaban itu, Jonathan semakin khawatir dan bertanya lebih lanjut, "Tapi bibimu nggak pulang sampai sekarang, jadi ke mana dia pergi?"
Charlie, juga khawatir dengan kondisi mental Jonathan yang sering tidak stabil, mencoba mengurangi ketegangan dengan memberi tahu informasi bohong.
"Papa, sebenarnya aku lupa memberitahumu sesuatu, dan aku minta maaf. Tadi, sebelum pulang dari sekolah, bibi sudah mengatakan bahwa dia tidak akan pulang selama dua hari dan akan menginap di rumah temannya. Aku tidak tahu siapa temannya itu, yang jelas bibi selamat dalam 2 hari ini. Aku hanya lupa memberitahumu, Papa."
Di seberang telepon, Jonathan merasa hancur dan bingung. Dia merosot ke atas sofa dan merasa sedih, mencoba memahami bahwa Stefani telah memberi tahu orang lain tentang rencana ini, tetapi tidak padanya.
__ADS_1
Sebenci itu kah Ani yang terpaksa menikah dengan nya.
Sebenci itu kah