
Stephanie membuka matanya dengan pelan dan merasakan bahwa dia telah terbangun di kamar yang berbeda. Tiba-tiba, ingatannya kembali. Ini adalah kamar Jonathan. Sebuah gelombang panik melintas dalam pikirannya. "Apa yang aku lakukan di sini?" gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Stephanie segera bangkit dari tempat tidurnya.
Sejenak, Stephanie merasa lega karena pakaian nya masih lengkap, lalu dia melihat ke arah hanger dan mendapati seragam SMA-nya yang tergantung dengan rapi.
"Tapi tas sekolahku dan sepatuku, gimana mau ke sekolah jika begini ?" batin Stephanie
Dia merangkak keluar dari tempat tidur, berjalan menuju sudut ruangan, dan melihat tas sekolahnya duduk di sana dengan sepatunya yang berjejer rapi. "Itu jelas milikku... Tapi kapan ini sampai di sini?"
Stephanie mengambil pakaian sekolahnya dan dengan cepat pergi ke kamar mandi untuk mandi.Tidak lama kemudian, dia kembali dengan seragam sekolah yang lengkap.
Stephanie keluar dari kamar dengan langkah pelan ,namun kemudian dia terhenti tiba-tiba saat melihat Jonathan tengah sibuk di dapur. Dadanya seketika terasa berdesir hebat saat melihat pemandangan yang menakjubkan di hadapannya.
Di sana, Jonathan berdiri dengan celemek yang terikat rapi di pinggangnya. Sinar pagi yang lembut memancar masuk melalui jendela dapur, menerangi wajahnya yang tampan. Dia tengah sibuk dengan beberapa bahan makanan di atas meja, matanya fokus pada panci dan wajan.
Stephanie merasakan hatinya berdegup lebih cepat saat melihat bagaimana kemeja lengan panjang Jonathan tergulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kuat dan tangannya yang terampil dalam memasak. Setiap gerakan Jonathan terlihat begitu lancar dan penuh perhatian.
Sebentar saja, Stephanie terpaku dalam pandangan itu, seolah-olah waktu berhenti sejenak. Namun, saat Jonathan memanggilnya dengan suara hangat.
"Ani sudah siap ke sekolah?"
"Eh ini .. hehehe"
" mari bantu mas,tata makanan di meja ya Mas mau bersiap-siap ke kantor.Entar kita sarapan bareng , Oke "
Jhonathan tersenyum kecil menyebutkan dirinya dengan sebutan "mas". ada reaksi memerah di wajahnya dan dia buru-buru pergi dengan alasan untuk membersihkan diri.
Tapi di saat yang sama, Stefani merasa gugup dan merasa jantungnya ingin jatuh ke tanah.
"Hah ?mas?mas apaan tuh? Mas 24 karat kah?"pikir nya geli tapi ada sensasi aneh di saat yang sama.
Stephanie dengan hati yang berdegup kencang melangkah ke dapur, di mana dia melihat wajan dengan nasi goreng buatan Jonathan masih ada di atas kompor. Dengan cermat, dia memindahkan nasi goreng ke dalam piring dan menambahkan telur mata sapi di atasnya. Ada juga potongan roti panggang dan dua gelas kopi latte yang tertata rapi di meja makan.
"Tentu saja Mama yang memberitahukan kepadanya bahwa aku suka kopi latte," batin Stephanie sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
Ketika Jonathan muncul lagi, kali ini sudah mengenakan setelan kantornya dan membawa tas jinjing, Stephanie langsung merasa sedikit canggung. Dia hendak menyampaikan bahwa dia bisa memesan taksi untuk pergi ke sekolah, tapi Jonathan langsung memotong pembicaraannya dengan meletakkan sendoknya kembali di piring.
"Ani, mulai sekarang jangan panggil saya Tuan. Panggil saya Mas. Aku adalah suamimu yang bertanggung jawab atasmu sampai akhirat. Jadi, panggil saya Mas, bukan Tuan. Oke?" ucap Jonathan dengan nada serius.
Stephanie mencoba merespons, tapi perkataannya dipotong ketika Jonathan menggenggam tangannya. Meski Stephanie menarik tangannya dengan lembut, Jonathan tampaknya mengerti bahwa Stephanie membutuhkan waktu untuk menerima situasi ini.
"Ini bukan permintaan, tapi kewajiban. Aku adalah suamimu, bukan Tuan. Tapi tidak apa-apa, mas memberimu waktu untuk mengatasinya. Jadi, jangan pikir terlalu banyak dan nikmati sarapanmu," kata Jonathan serius.
Stephanie tidak tahu bagaimana merespons. Dadanya terasa penuh dengan kegugupan dan perasaan yang bercampur aduk. Dia mencoba mengunyah nasi goreng dengan cepat, menghabiskan sarapannya dengan segera.
Jonathan melihat Stephanie hendak membersihkan meja, tapi dia buru-buru menghentikannya. "Tidak perlu membersihkan. Nanti pembantu yang akan melakukannya. Ayo, kita harus pergi," ujarnya sambil memimpin Stephanie menuju pintu lift.
Stephanie mengikuti Jonathan dengan hati yang masih berdebar-debar. Namun, ketika tangan Jonathan meraih tangannya dan merangkulnya saat mereka berjalan, Stephanie merasa dadanya terasa hangat.
Jonathan membawa Stefani ke sekolah dengan mobil pribadinya. Selama perjalanan, suasana terasa agak canggung karena Stefani tidak banyak berbicara. Namun, Jonathan memutuskan untuk memecahkan keheningan dengan berbicara tentang perasaannya dan pengalamannya dengan Carlos.
"Ani, jangan berpikir bahwa aku terlalu cerewet, ya. Tapi menurut dokter, berbicara tentang perasaan kepada seseorang yang dipercayai bisa membantu penyembuhan. Karena aku mempercayaimu, maka kau akan selalu menjadi orang pertama , tempat aku berbicara tentang isi hatiku. Seperti sekarang ini," ujar Jonathan dengan nada hangat.
Stefani masih belum merespons, tidak tersenyum, tapi Jonathan tidak merasa terganggu oleh itu. Mereka akhirnya tiba di sekolah.
"Ani, Mas takut pada Allah. Tidak takut pada manusia. Pernikahan kita adalah untuk seumur hidup dan tak perlu dirahasiakan. Tapi jika kau merasa khawatir, aku menghormati itu," tambah Jonathan dengan sedikit kekecewaan akan keputusan Stefani.
Namun, meski kecewa, Jonathan masih menghentikan mobilnya sedikit jauh dari gerbang sekolah. Stephanie berusaha untuk keluar, tapi lagi-lagi dia dihentikan oleh Jonathan.
"Ani, belajarlah salim terlebih dahulu jika ingin pergi," kata Jonathan sambil mengulurkan tangannya.
Stefani mengambil napas dalam-dalam dan akhirnya menuruti permintaan Jonathan. Dia meraih tangan yang diulurkan Jonathan dan mencium punggung tangan itu dengan lembut. Jonathan merasa senang karena Stefani tidak menolak, bahkan memberikan ciuman di dahi sebagai balasan.
"Muah, sekolah yang baik ya istriku sayang"
Wajah Stefani memerah seperti tomat, dan Jonathan hanya bisa tersenyum.
Namun, begitu pintu mobil dibuka, Stefani segera meluncur keluar dan bergegas menuju sekolah tanpa menoleh ke belakang. Sementara itu, Jonathan tertawa kecil dan hanya pergi ketika pandangan dari kaca mobil tidak lagi melihat siluet Stefani.
Stefani merasa linglung sepanjang hari di sekolah. Bahkan, dia tak mau banyak bertanya kepada teman-temannya atau fokus pada pelajarannya. Hati dan pikirannya terasa terkunci pada perasaan yang terus menghantuinya.
__ADS_1
Di sisi lain, Charlie juga tidak bertanya tapi justru melihat saja dari kejauhan. Dia mungkin sudah berpikir sesuatu yang terjadi antara Stephanie dan papanya tadi malam.
Karena mereka adalah suami istri jadi Charlie sama sekali tidak berpikir jika itu aneh.
Setelah sekolah berakhir, Stefani pulang langsung ke rumah, tapi saat dia mencoba membuka pintu, dia terkejut karena rumah terkunci. Tatapan bingungnya langsung tertuju pada pintu yang terkunci rapat.
"Mama?ini Ani mah, mama, assalamualaikum!!"
Tapi Ani tidak mendengar jawaban apapun dari dalam rumahnya yang membuat Ani tiba-tiba merasa tidak nyaman.
Seorang tetangga dari sebelah akhirnya mendekatinya dan memberikan penjelasan.
"Ani, mamamu memberi tahu bahwa dia harus ke Padang untuk urusan tertentu. Tapi kunci rumah di bawa mamamu. Jadi, dia menyuruhmu tidur di tempat Jonathan dulu sampai mamamu kembali," ujar tetangga itu dengan ramah.
Namun, Stefani tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. "Tapi Tante, mengapa Mama tidak menghubungi Ani lewat pesan? Kenapa harus lewat Tante?" Stefani merasa heran dengan perilaku aneh mamanya.
Kisah pernikahan Stefani dengan Jonathan ternyata sudah menyebar di kalangan tetangga. Mereka tahu bahwa Stefani telah menikah dengan Jonathan, jadi permintaan sari agar Stefani menginap di rumah Jonathan tidak terlalu mengagetkan.
Beberapa tetangga merasa kasihan pada Stefani, sementara yang lain melihat pernikahan ini sebagai suatu berkah.
Meskipun Jonathan tidak muda tapi dia adalah pria mapan yang masih tampan.
"Tante ingin menasehati Ani, banyak orang yang menikah dengan perbedaan usia yang mencolok seperti kalian. Tapi itu bukan alasan untuk tidak bahagia. Kuncinya adalah ikhlas. Kadang-kadang, keikhlasanlah yang membuat orang meraih kebahagiaan, Nak,"
"apa yang terjadi menjelaskan jika Jonatan lah jodohmu bukan mantan tunanganmu itu. Jangan melawan kehendak Allah , jika kau menerima dan ikhlas maka kebahagiaannya akan Kau dapatkan pasti akan berlipat ganda. Allah tidak akan menurunkan sesuatu yang menyulitkan umatnya, percayalah itu Ani"tambah tetangga itu sebelum pergi, meninggalkan Stefani yang bingung dengan apa yang baru saja didengarnya.
Ani tidak lantas pergi ke apartemen Jonathan tapi dia terduduk di tangga rumahnya. di sini Ani sedang dilanda sebuah perasaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya
Semua perasaan menjadi campur aduk di sini, sikap Mama juga menunjukkan jika dia mendorong Stefani untuk langsung ke dalam pelukan Jonathan.
Para tetangga juga menasehati hal yang sama, seolah-olah mereka paling tahu apa yang terbaik untuk Ani.
Tapi mereka tidak pernah berpikir jika Ani masih begitu muda dan ingin mengalami hal-hal yang dialami oleh remaja pada umumnya.
Jika dia menikah dengan ridho mungkin hal ini tidak akan terjadi karena dia memiliki perasaan dengan ridho tapi dengan Jonathan...
__ADS_1
Apakah mungkin Stephanie bisa bahagia dengan Jonathan.