
Akibat kejadian malam itu , kesehatan Stefani terpengaruh. karena terlalu khawatir Jonathan langsung membawa Stefani ke rumah sakit untuk di observasi . Padahal sebenarnya itu tidak diperlukan juga karena Stefani hanya ketakutan ringan.
"Mas ,ini beneran deh Mas ,aku itu baik-baik aja kok, cuman terkejut doang"kata Stefani.
Stefani benar-benar merasa dia baik-baik saja tapi kok malah dibawa ke rumah sakit.
"Mas itu nggak akan tenang kalau kamu itu belum ketemu sama dokter. udah dengarkan kata Mas aja ya, Ani cuman perlu santai dan duduk cantik"kata Jhonatan.
"Tapi mas...
"Sayang, kalau ribut ntar Mas cium loh"
Ancaman ini langsung membuat Stefani ditutup mulut. Sejauh mereka berhubungan Jonathan belum pernah menciumnya. Stephanie juga tidak pernah berpikir ke arah itu. Mendapatkan ancaman semacam itu tentu saja dia sedikit khawatir sekaligus sedikit menunggu.
"mas apa ini nggak akan memalukan?"
"Nggak, Mas punya uang kan"
Tapi yang dipikirkan oleh Jonathan sebenarnya adalah berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Dia pernah mengalami ketakutan yang ekstrem dan itu menyebabkan ketergantungan yang luar biasa pada mantan istrinya Yana.
Tapi saat ini dia tidak ingin Stefani mengalami hal sekecil apapun, apalagi jika itu berkaitan dengan gangguan mental.
Tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain, Jonathan hanya mendaftarkan Stefani ke rumah sakit.
Hari-hari berlalu dengan perlahan, dan seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatan Stefani akhirnya mulai membaik. Tapi saat ini dia masih absen dari sekolah untuk beberapa hari guna memulihkan diri sepenuhnya dari kejadian traumatis tersebut, itu pun kata Jhonatan.
Sementara itu, di tengah keramaian kantin, Charlie merasa ada yang tidak beres setelah mendengar percakapan di sudut ruangan. Nama Stefani dan Jonathan terlontar dari mulut mereka.
"kupikir bibi itu libur karena demam atau diajak sama papa juga untuk jalan-jalan, tapi mereka bilang diculik? apa yang terjadi, kenapa aku tidak tahu?"
Dia memesan menu soto malang sebagai alasan untuk dekat dengan meja di mana Ana dan teman-temannya berbicara.
Semakin dia dekat dengan meja Ana semakin Charlie merasa khawatir.
__ADS_1
"jangan-jangan ini ada kaitannya dengan misi yang kami bawa. Tapi Charlos sudah hati-hati kok" pikir nya lagi.
"halo everyone masih ada kursi di sini?"siapanya pada semua orang dan menunjuk satu kursi kosong.
"Hey, Charly! Bergabunglah!" seru Ana, membuat Charly merasa lebih nyaman. Segera cari mengambil tempat di kursi yang kosong tersebut.
"ana aku tadi mendengar kau bicara tentang penculikan Stefani, jadi aku belum dengar dengan jelas apa kau bisa menceritakannya lagi?"tanya Charlie to the point.
Anna melirik sebentar dan mendengus setelahnya.
"Kamu tuh ya Charlie ,jadi anak itu perhatian dikit lah. kejadiannya sudah lebih dari 3 hari loh. Masa kamu nggak tahu aku aja orang luar tahu"
"Ah cerita aja napa, ntar ditraktir deh sebagai permohonan maaf"kata Charlie yang mengeluarkan 2 helai kertas berwarna merah.
"Ahh benarkah"
Begitu Charly mengangguk semua anak-anak berebutan untuk menceritakan kisah yang mereka dengar .Di mana Stefani sedang pergi di malam hari dengan Jonathan dan tiba-tiba dihentikan oleh sekelompok orang dan ketika itu mereka menyadari jika itu adalah orang orang dengan niat yang buruk.
"Eh. tunggu dulu Ana ada sesuatu yang janggal deh di sini. ngapain coba si Ani jalan-jalan malam-malam sama papanya Charlie? Ahh apa mereka menjalin hubungan?"tanya carry tiba-tiba.
"Ohh nggak mungkin lah ngapain Ani suka daun tua yang muda aja ada sebelah kok"Kata Rani yang melirik ke arah Charlie.
Sementara itu ana baru sadar Jika dia sudah membuat kesalahan . Dia segera menutup mulutnya dengan kedua belah tangan dan menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata jika dirinya tidak tahu.
"Ana Kenapa perilakumu sedikit ganja apa jangan-jangan ada sesuatu yang kau sembunyikan? Ahh jangan-jangan tebakan carry itu benar papanya Charly memiliki hubungan dengan Ani?"
"omg oh my ,God oh, my lord'
"Charlie apa kau tahu sesuatu tentang mereka berdua. apa kau tidak masalah jika Ani menggaet papamu?"
Di tengah diskusi ini, semua mata tiba-tiba beralih ke Charly. Charly memilih untuk tetap tenang, menunjukkan rasa acuh tak acuh terhadap pembicaraan itu. "Mereka adalah orang dewasa, jadi tidak ada yang bisa dilakukan. Aku hanya anak, apa urusanku?"
Setelah berkata begitu Charlie memutuskan untuk meninggalkan tempat meskipun soto malangnya belum sempat dihabiskan.
__ADS_1
"Charly sayangku Kau mau pergi ke mana...
"Charlie...
"Ohh kalau nggak dapat anak dapat bapaknya juga nggak apa-apa, lumayan"
Segera suara tawa tertinggal di kantin, tapi kali tidak peduli dengan pembicaraan yang remeh itu.
Dia berjalan menuju rooftop sekolah yang sepi. Dengan tenang, dia mengeluarkan telepon genggamnya dan mulai mengakses berbagai informasi yang diterimanya dari Charlos.
Perlahan, jari-jemari Charlie bergerak di atas layar telepon, menggulir dan menyentuh berbagai aplikasi dengan cekatan. Dia memeriksa laporan terbaru tentang pergerakan kelompok yang sedang dipantau oleh Charlos.
Tingkahnya yang terlihat acuh tak acuh sebenarnya hanya untuk menutupi fokusnya pada tugas yang diemban. Matanya tetap menatap layar, mengumpulkan informasi terbaru dan menganalisis situasi dengan cermat.
"tidak ada informasi terkait rencana penculikan bibi? Apakah informasiku tidak cukup?"pikirnya di dalam hati.
Hampir setengah jam dia fokus dengan telepon genggamnya tapi sampai sekarang .Belum ada informasi mengenai sangkut pautnya penculikan yang gagal itu dengan kelompok yang sedang diincar oleh Carlos.
Di tengah kesibukan nya bermain poker, Charlos merasakan getaran pendek di gelangnya. Ia segera berbicara pada temannya yang duduk di sampingnya,"Excuse me, I need to use the restroom for a moment."
Teman Charlos mengangguk mengerti,"Sure, don't take too long unless you want to miss out. "
Charlos pun beranjak dari tempat duduknya dan menuju toilet pria. Sebelum masuk, ia memeriksa sekelilingnya untuk memastikan tidak ada yang mencurigakan. Setelah memastikan toilet kosong, ia masuk dan mengunci pintunya.
Baru setelah itu, ia membuka telepon genggamnya yang telah mengirim pesan singkat berkode acak. Dalam pesan itu, Charlie memberikan informasi yang penting, "Bibi hampir diculik tiga hari lalu. Selidiki apakah ada kaitannya dengan geng ini. Bibi dalam keadaan baik. Aku akan memantaunya dari sini. Jangan khawatir dan lakukan tugas kamu. Kirim berita secepatnya untuk konfirmasi."
Charlos membaca pesan tersebut dengan seksama, memastikan tidak ada yang menyaksikan. Setelah selesai membacanya, ia segera menghapus pesan tersebut dengan cepat, menghindari jejak yang dapat dicurigai.
Kemudian, Charlos keluar dari toilet dan mencuci tangannya di wastafel. Ia melihat seorang pria memasuki toilet, dan dengan cepat meninggalkan ruangan tersebut. Ia kembali ke tempat duduknya, memastikan tidak ada yang mencurigai apa yang baru saja terjadi.
Kembali duduk di kursinya, Charlos berbicara pada temannya dalam bahasa Inggris, "Did I miss something?"
Teman Charlos menjawab dengan senyum, "If you're lucky, nothing's missed. Hurry up and sit down, help me beat him."Keduanya pun tertawa mengobrol dengan santai.
__ADS_1