
Stefani bergerak dengan gesit, mengikuti setiap langkah Carlos dan Charlie dengan sepeda motornya. Wajahnya penuh tekad dan mata terfokus pada saudara kembar tersebut. Meskipun terlihat kesal, Carlos dan Charlie hanya menggelengkan kepala tanpa kata-kata, seolah mereka telah terbiasa dengan sikap ini.
Ketika mereka akhirnya tiba di apartemen, Carlos dan Charlie turun dari mobil dengan wajah lega. Namun, sebelum mereka benar-benar bisa merasa bebas dari pantauan Stefani, gadis itu sudah berada di dekat mereka.
"Duh, akhirnya sampai juga, ya? Kalian berdua memang bisa diandalkan" ujar Stefani sambil mengatur napasnya yang agak terengah-engah akibat mengendarai sepeda motornya dengan cepat.
Carlos dan Charlie hanya tersenyum tipis, tahu bahwa Stefani hanya khawatir. Mereka berdua tahu benar bahwa Stefani memiliki niat baik di balik kekhawatirannya yang berlebihan.
Stefani tidak bisa menahan senyumnya saat melihat wajah Carlos yang tampak kelelahan. Dia mengambil kesempatan untuk sedikit bercanda seraya menepuk kepala Charlos .
"Carlos, kau tahu kan kalau kebiasaan begadang bisa membuat ketampananmu hilang?"
Carlos mengernyitkan dahi, agak kaget dengan komentar Stefani yang tiba-tiba.
Saat tangan lembut Stefani mendarat dengan lembut di atas kepalanya, Carlos merasa seperti dunia seakan berhenti berputar sejenak. Dia merasakan sentuhan hangat itu menyentuh kulitnya dan dengan cepat merambat ke dalam dirinya. Jantungnya berdesir dengan ritme yang berbeda, seolah waktu melambat dan fokusnya terpusat pada tangan itu.
Deg ...deg...deg ...
Ketika dia menatap wajah Stefani dari dekat, segala hal di sekitarnya menjadi samar. Matanya terpesona oleh kecantikan dan kelembutan wajah Stefani. Wajahnya yang halus dan mata cokelatnya yang menawan membuat Carlos merasa seperti dia tenggelam dalam pandangan itu.
Ekspresi tercengang tergambar jelas di wajah Carlos. Matanya melebar dan bibirnya sedikit terbuka tanpa dia sadari. Dia merasa seperti dalam keadaan trance, terperangkap dalam momen tersebut.
Meskipun hanya sekejap, dalam detik-detik itu, dia merasakan koneksi yang kuat dengan Stefani, seperti ada ikatan khusus di antara mereka.
Namun, segera realitas kembali memenuhi pikirannya. Carlos cepat-cepat mengalihkan pandangannya, menyadari bahwa dia harus mengendalikan diri dan tidak terlalu larut dalam perasaannya. Dia merasakan detak jantungnya yang cepat dan berusaha untuk kembali mengatur napasnya.
"D-Dengan senang hati, bibi," gumam Carlos dengan suara yang agak canggung, mencoba untuk tidak memperlihatkan betapa terkejutnya dia. Dia mencoba menyingkirkan perasaan yang tiba-tiba muncul dalam dirinya, tetapi jejak sentuhan dan pandangan tadi masih terpatri di benaknya.
Stefani tersenyum lebar, menepuk lembut kepala Carlos. "Ya, begadang terus-terusan akan membuat mata panda muncul dan kulitmu jadi kusam. Kau harus istirahat lebih banyak, nak. Semoga tidurmu nanti tidak diganggu oleh mimpi-mimpi aneh."
Charlie tertawa kecil mendengar komentar itu, sementara Carlos hanya menggelengkan kepala dengan senyum. "Baiklah, baiklah, bibi .Aku akan tidur lebih awal. Sampai jumpa, lagi,da..by by."
Stefani mengangguk puas, melihat reaksi Carlos yang mengalah. "Bagus. Ingat, tidak boleh nakal ya."
__ADS_1
Charlie bergabung dalam percakapan, "Ya ya, kami akan berusaha mematuhi perintahmu, bibi. Sampai jumpa!"
Dengan senyuman dan kedua jari yang terangkat sebagai tanda perpisahan, Stefani melambaikan tangan saat Carlos dan Charlie masuk ke dalam apartemen. Dia melihat mereka berdua dengan ekspresi hangat, merasa lega bahwa mereka tiba dengan selamat.
Setelah itu, dengan cengiran yang tak bisa dihilangkan, Stefani berbalik dengan sepeda motornya dan melaju pergi dari apartemen, meninggalkan Carlos dan Charlie untuk menghabiskan sisa malam mereka dalam kesejukan tempat tinggal mereka.
Stefani memegang kunci sepeda motornya siap untuk pergi, tetapi tiba-tiba dia menghentikan gerakannya. Dia merenung sejenak, lalu dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari saku dan membuka kamera. Dia mengarahkan kamera ke arah dirinya sendiri dan mengambil video pendek.
"Hai, tuan Jonathan! Aku hanya ingin memberitahumu bahwa misi hari ini sudah selesai dengan sukses," Stefani berkata dengan senyum cerah di wajahnya. Latar belakang video menampilkan Carlos dan Charlie sedang naik ke apartemen mereka.
"Mereka sudah tiba di apartemen mereka dengan selamat, tidak ada masalah sama sekali," lanjut Stefani, ekspresi percaya diri terpancar dari matanya. "Jadi, jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Semangat, tuan Jonathan!"
Dengan senyum yang bersemangat, Stefani mengakhiri video pendeknya. Dia merasa lega setelah melapor tugasnya kepada Jonathan dan memberikan kabar baik tentang keberhasilan Carlos dan Charlie. Setelah mengirim video tersebut, dia melanjutkan perjalanannya dengan sepeda motornya, membawa semangat dan harapan yang tinggi untuk misi-misi mendatang.
Di saat yang sama,Jonathan sedang duduk di ruangan tertutup yang elegan.Hari ini ada pertemuan bisnis dengan kolega nya.
Jonathan tiba-tiba terganggu ketika dua perempuan dengan pakaian terbuka dan gaya yang provokatif memasuki ruangan. Mereka mengaku sebagai sekretaris dari perusahaan mitra yang ingin menjalin kerjasama bisnis. Meskipun mereka mengenakan setelan formal, pilihan pakaian mereka yang terbuka telah memancing rasa jijik dalam hati Jonathan.
"Halo tuan Jhonatan,saya..bla..bla..
Dalam hati, Jonathan merasa gelisah. Alergi aneh yang dimilikinya terhadap wanita membuatnya merasa tidak nyaman. Tubuhnya merasa gatal-gatal dan perutnya bergolak, dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan reaksi fisiknya.
"Tuan Iskandar tidak bisa hadir,dia..
Dua orang wanita itu terus saja memberikan alasan terkait atasan yang tidak bisa datang.
Namun Jonathan yang sudah lama di bidang ini ,sehingga dia mengetahui jika orang yang namanya disebut tadi.
Sebenarnya sengaja mengirimkan dua wanita itu sebagai perantara.
Kau tau, ini sudah biasa di dunia bisnis
Jonathan memaksa senyuman palsu di wajahnya dan mencoba berbicara tentang urusan bisnis dengan suara tetap tenang. Namun, matanya kadang-kadang tidak bisa menghindari melirik ke arah wanita-wanita itu, dan rasa jijik terus mengganggu pikirannya.
__ADS_1
Tubuhnya merasa tegang dan keringat dingin mulai mengucur di dahinya. Ia berusaha menjaga penampilan profesionalnya, tetapi kecemasan dan rasa jijiknya semakin sulit dikendalikan.
Namun, ketika telepon genggamnya berbunyi, suara familiar itu membuatnya memutar otak dan mencari alasan untuk mengalihkan perhatiannya.
Dengan cermat, Jonathan mengambil teleponnya dan membuka pesan yang baru saja masuk. Matanya terfokus pada layar dan ekspresinya berubah saat ia melihat wajah Stefani muncul dalam sebuah video. Seiring video itu diputar, Jonathan merasa seolah-olah udara di sekitarnya menjadi lebih segar.
Wajah cantik Stefani, senyum hangatnya dan matanya yang penuh semangat mengisi layar teleponnya. Jonathan merasa seperti melihat sinar matahari setelah hujan lebat. Perasaan ketidaknyamanan yang sebelumnya mengganggu pikirannya langsung menghilang. Hanya dalam beberapa detik, wajah Stefani mampu meredakan tegangnya.
Dia mendengarkan dengan seksama pesan yang disampaikan Stefani. Meskipun konten pesan itu adalah pelaporan tentang Carlos dan Charlie, yang sebenarnya adalah pekerjaan rutin Stefani sebagai mata-mata.
Tetapi wajah Stefani sendiri yang tampil dalam video itu membuat Jonathan merasa lebih baik. Suara Stefani yang berbicara tentang keberhasilan tugasnya, dengan senyum yang menghiasi bibirnya, memberi Jonathan perasaan damai dan bahagia.
Jonathan bahkan tersenyum kecil, seolah-olah dia mendapatkan energi positif dari video tersebut.
Aneh kan.
Ketika video berakhir, Jonathan merasa lebih ringan. Dia menyimpan teleponnya dengan senyum di wajahnya, merasa lebih percaya diri dan rileks.
Jonathan yang merasa mendapatkan semangat baru, segera duduk tegak. Dia mengamati mereka berdua dengan tatapan tajam. Ada ketegasan dalam ekspresi wajahnya yang tidak bisa disangkal oleh siapapun di ruangan itu.
"Dengan segala hormat, Nona Nona," ujar Jonathan dengan suara yang tenang tetapi penuh otoritas. "Saya sangat menyesal harus mengakhiri pertemuan ini dengan tiba-tiba.Dan kesepakatan kita batal "
Wanita cantik yang mengaku sebagai sekretaris sedikit terkejut oleh pernyataan Jonathan. "Apa maksudmu, Tuan Jonathan?" tanyanya dengan nada bingung.
Jonathan menatapnya dengan tajam. "Saya telah menjelaskan bahwa saya tidak ingin berhubungan dengan pihak mana pun yang melibatkan unsur-unsur tertentu. Namun, tampaknya kesepakatan ini telah dilanggar oleh Anda."
Sekretaris tuan Iskandar memandang Jonathan dengan tatapan penuh penyangkalan. "Saya tidak mengerti apa yang Anda maksud, Tuan Jonathan. Kami datang ke sini untuk membicarakan kerjasama bisnis yang saling menguntungkan."
Jonathan tersenyum tipis. "Tidak perlu berpura-pura tidak tahu. Saya tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Kesepakatan bisnis ini saya batalkan di tempat."
Kedua wanita memandang Jonathan dengan kaget dan bingung. Mereka merasakan perubahan atmosfer yang begitu cepat dan tiba-tiba. Wajah mereka mencerminkan kebingungan dan ketidakpercayaan.
Jonathan bangkit dari kursinya dengan tegas. "Terima kasih atas waktu kalian. Namun, pertemuan ini telah selesai."
__ADS_1
Dengan langkah mantap, Jonathan meninggalkan ruangan pertemuan tanpa melirik sekali pun ke arah kedua wanita itu.
Kedua wanita itu terdiam dalam kebingungan. Mereka hanya bisa menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Jonathan, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Kesepakatan bisnis yang mereka harapkan tiba-tiba lenyap begitu saja dan mereka dibiarkan terdiam dalam keheningan yang membingungkan.