Terjebak Pernikahan Dadakan.

Terjebak Pernikahan Dadakan.
tragedi di jalan raya


__ADS_3

Di sudut kantin yang ramai, Stephanie, Charlie, dan Carlos duduk bersama di meja panjang. Mereka belum memesan makanan dan minuman, ada begitu banyak siswa yang berebut memesan makanan.Jadi saat ini menunggu dengan ceria sambil berbincang.


Selagi berbicara Stefani merekomendasikan menu apa yang enak menurut selera nya. Jadi Charlie dan Charlos hanya mendengar kan tanpa mau memotong pembicaraan nya.


Sampai lah kemudian, pelayan kantin datang dan bertanya apa yang mereka inginkan.


Stephanie tersenyum kepada pelayan yang mendatangi meja mereka. "Aku ingin pesan Nasi Goreng Spesial untukku, tolong dengan telur ceplok dan ayam panggang di atasnya. Dan untuk minumannya, Es Teh Manis, ya."


Pelayan mencatat pesan Stephanie dengan senyum ramah, lalu melirik ke arah Charlie dan Carlos dengan pertanyaan dalam matanya.


Charlie berpikir sejenak, lalu berkata, "Aku akan coba Soto Ayam, ya. Dan untuk minuman, mungkin Teh Botol."


Carlos mengangguk setuju pada pilihan Charlie, lalu saat pelayan menoleh padanya, dia berkata, "Sama seperti Charlie, berikan aku juga Soto Ayam. Dan... saya rasa saya akan coba Es Kelapa Muda."


Setelah mencatat pesanan mereka, pelayan tersenyum dan pergi menuju dapur. Stephanie menoleh ke Charlie dan Carlos dengan wajah bersemangat. "Kalian pasti akan suka dengan makanan Indonesia. Nasi Goreng dan Soto Ayam adalah makanan khas yang enak banget!"


Charlie mengangguk setuju, "Aku penasaran, kayaknya makanan Indonesia itu beneran lezat."


Carlos menggumam setuju, tapi ekspresinya agak ragu. "Soto Ayam, ya? Aku sih biasanya tidak terlalu suka kuah ayam."


Stephanie tertawa ringan, "Tapi percayalah, Soto Ayam di sini berbeda dan enak banget. Kamu akan suka, Carlos, percayalah padaku!"


Carlos tersenyum melihat semangat Stephanie, merasa cukup penasaran untuk mencoba. "Baiklah, kita lihat apakah Soto Ayam Indonesia ini bisa mengubah pendapatku."


Tapi entah bagaimana, Charlos berpikir,apa pun yang di rekomendasikan oleh Stefani pasti rasanya enak pake banget kan.


Ya orang cantik memang begitu, tapi eh tunggu dulu.


"Apa yang sedang aku pikir kan, ckckck.Ah siapa suruh punya ibu tiri yang cantik dan masih muda kan"


Sementara itu Charlie mengangguk sambil tertawa, "Siapa tahu, kan? Yang penting kita semua bisa menikmati makanan baru ini bersama."


Ketika makanan datang, Carlos tampak fokus mendengarkan cerita panjang Stefani tentang makanan ini dan itu, seakan-akan dunia mereka hanya ada di dalam percakapan mereka. Matanya tertuju pada wajah Stefani dengan penuh perhatianndan senyumnya sering kali muncul sebagai tanggapan atas cerita-cerita Stefani.


Sementara itu, Charlie diam-diam mengamatinya dari sudut matanya. Ia melihat perubahan sikap Carlos yang begitu mencolok. Carlos yang dulu risih dan terkadang terganggu oleh kehadiran Stefani, sekarang malah tampak patuh dan menikmati segala hal yang dia lakukan.


Charlie menggelengkan kepala dengan senyuman tipis, seolah mengerti bahwa kembaran nya ini telah terkena "virus" Stefani. Ia menyadari bahwa Carlos mulai melihat Stefani dengan cara yang berbeda. Seolah Stefani telah berhasil mempengaruhi Carlos dengan pesona dan keceriaannya.


Ketika Stefani menatap Carlos dengan tulus sambil tersenyum, Carlos pun membalas senyuman itu dengan hangat.Perubahan sikap Carlos terhadap Stefani memang mencolok, dan semua orang di sekitarnya bisa melihatnya.

__ADS_1


Charlie merasa ada sesuatu yang tidak beres. Carlos tampak tenggelam dalam cerita-cerita Stefani dan sepertinya lupa dengan tugas mereka. Dalam kebingungannya, Charlie mengambil telepon genggamnya dengan cepat. Ia tahu ini saat yang tepat untuk mengambil inisiatif.


Dengan pandangan cermat, Charlie membuka pesan singkat kepada Tommy. Tidak boleh ada ruang untuk kekeliruan. Pesan ini harus dikirim dengan benar dan tanpa jejak yang mencurigakan. Ia mengetik dengan cepat, membuatnya seolah-olah pesan ini berasal dari Carlos.


"Hey Tommy, besok pagi jam 8 kita ketemu di tempat biasa. Siapkan semuanya. Malam ini tidak bisa, Stefani mengawasi. Dia akan melaporkan semuanya ke papa. Sampai besok!"


Charlie menghela nafas lega setelah menekan tombol kirim. Pesan itu telah terkirim dan pesan tersebut cukup jelas. Tommy pasti akan mengerti apa yang harus dilakukan. Charlie meletakkan teleponnya dengan hati-hati, berharap pesan tersebut akan meredakan situasi dan menjaga kepercayaan Tommy pada rencana mereka.


Ini belum berakhir kan,seperti kemarin, di area parkir sekolah, Stephanie mengamati Carlos dan Charlie yang berjalan menuju mobil.


Dia akan memastikan lagi dua kembar itu benar-benar tiba di apartemennya sendiri tidak keluyuran kemana-mana.


Tanpa ragu, dia berbalik dan berjalan menuju ke sepeda motornya yang terparkir tidak jauh dari sana.


Dia dengan cekatan mengambil helmnya dan memasangkannya, lalu meluncurkan sepeda motornya dari tempat parkir.


Sementara itu, Charlie diberikan kunci oleh Carlos yang artinya dia tidak berniat untuk mengemudi hari ini.


Melihat dari gerakan nya , Charlos seperti akan keluar dari mobil.


" Charlos...


Stefani segera terperangah ketika menyadari Charlos sudah ada di depan sepeda motornya.


"Charlos, Kenapa disini? ayo pulang gih"kata stefani.


"Heh bibi,ini juga akan pulang kok.sini kuncinya "


"Eh tapi kau kan naik mobil?"


"Bibi, aku tuh cuma kasihan kan. daripada mengikuti dari belakang lebih baik aku temenin ,hem"Dia berkata begitu tapi tangannya mengambil alih kunci tanpa permisi.


Akibatnya Stephanie harus meninggalkan sepeda motornya dan melihat saja ketika Charlos naik sepeda motor dan menepuk menepuk kursi belakang sepeda motornya .


Ini sebuah isyarat agar Stefani duduk di belakang.


Merasa sedikit jengkel Stefani masih tetap memaksakan diri untuk duduk. Menurut pemikirannya Carlos ada benarnya juga sih.


"Hei Ani, kok barengan sih sama Charlos"seorang seseorang berteriak kepada Stefani ketika melihat Stefani meninggalkan lokasi sekolah berduaan dengan Carlos.

__ADS_1


Akhir-akhir ini Charlos dan charlie bisa dikatakan sebagai bintangnya SMA. tentu saja akan ada beberapa gadis yang iri melihat mereka bergerak berduaan seperti itu.


Belum Stefani menjawab tiba-tiba Carlos berkata."Hei gadis cantik kan wajar ditemenin sama cowok tampan hahaha"


Tus...


Satu cubitan tajam mendarat di pinggang Charlos,sehingga dia mengaduh tapi dia bukannya marah malahan tertawa lebih keras lagi.


Kulit Charlos begitu tebal dan dia merasa seperti sedang digelitikin dengan bulu angsa yang lembut.Jelas saja dia tertawa.


"pada ketawa lagi, ayo jalan sana"kata Stefani malu.


Mereka melaju dengan cepat di tengah kepadatan lalu lintas Jakarta.Carlos sengaja mengemudi sepeda motor matic dengan cara zigzag, seolah-olah mencoba melawan aturan-aturan jalan. Stefani yang duduk di belakangnya merasa terhuyung-huyung dan merasa hati-hati ketika dia melihat rambu-rambu lalu lintas yang hampir terkena.


Stefani tidak bisa menahan emosinya dan berteriak, "Carlos, hati-hati! Kita ada di jalan raya, bukan di sirkuit balap!"


Namun Carlos hanya tertawa dan semakin memacu kecepatan sepeda motornya. Dia merasa senang dengan sensasi adrenalin, tanpa memedulikan peringatan dari Stefani. Mereka meluncur melewati kendaraan-kendaraan lain dengan cepat, membuat beberapa pengendara lain kesal dan membunyikan klakson dengan keras.


Tin...tin... tin....


Sambil berteriak, Stefani mencoba memberi peringatan, "Carlos, tolong hentikan! Kamu bisa membahayakan kita!"


Carlos merespons dengan mengerem tiba-tiba, menyebabkan sepeda motor hampir terjatuh. Stefani menjerit dan mencengkeram pinggang Carlos dengan erat. Mereka hampir menabrak kendaraan di depan mereka.


"Kamu gila, Carlos! Apa yang sedang kamu lakukan?" pekik Stefani dengan wajah penuh kemarahan.


Carlos hanya tertawa, tetapi kemudian melihat ekspresi kesal Stefani. Dia merasa bersalah dan menurunkan kecepatan motornya. "Maaf, bibi ,Aku hanya ingin memberimu sensasi sedikit."


Stefani masih merasa kesal. "Sensasi? Kamu hampir membahayakan nyawa kita berdua! Kamu tahu betapa pentingnya keselamatan di jalan raya?"


Carlos mengangguk, menyadari kesalahannya. Mereka melanjutkan perjalanan dengan kecepatan yang lebih wajar, tetapi masih dalam suasana yang agak tegang.


Di tengah perjalanan, Stefani tidak tahan lagi dan mencubit pelan lengan Carlos. "Ingat Carlos, aku juga ingin hidup lebih lama. Jadi, tolong jaga kecepatan dan tingkatkan kewaspadaanmu."


Carlos tersenyum dan mengangguk, kali ini dengan lebih serius. "Baiklah, bibi Aku minta maaf , Oke."


Mereka melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati, menghindari kesalahan-kesalahan yang berbahaya. Stefani tetap mencengkeram pinggang Carlos dengan erat, sementara Carlos fokus mengemudikan sepeda motornya dengan lebih bijak.


Tapi hanya Charlos yang tau, jika hatinya sedikit berbunga dengan stefani di belakang nya.

__ADS_1


__ADS_2