
Shazna mengambil tissue yang di berikan lelaki yang menghampiri dirinya. Menghapus air mata yang mengalir membasahi wajah cantik itu. Lelaki yang ternyata Fattan itu membuka tutup botol air mineral. Menyodorkan pada Shazna tanpa sepatah kata terucap dari bibir lelaki tersebut. Shazna menoleh sesaat pada lelaki yang menatap dalam dirinya.
'' Thanks,'' ucap Shazna sembari mengambil botol dari tangan Fattan. Fattan tersenyum tipis dan mengangguk. Shazna meminum air mineral langsung dari botol. Setelahnya wanita itu tertunduk, menatap sepasang sepatu yang dikenakannya.
'' Siapa wanita tadi ?,'' tanya Fattan setelah beberapa saat keduanya duduk dalam diam. Shazna menghela nafas sambil mengangkat kepalanya. Tapi tatapan wanita itu lurus ke depan.
'' Ibu tunangan ku,'' jawab Shazna tanpa ekspresi. Fattan menyandarkan tubuhnya di kursi. Pandangan lelaki itu tampak berkabut. Hatinya menciut, menyadari bahwa wanita di sampingnya memang tak lagi sendiri.
'' Tak merestui hubungan kalian ?,''tanya Fattan tanpa menoleh Shazna. Wanita itu hanya mengangguk. Kemudian Shazna berdiri dari duduknya.
Melihat pergerakan orang di sampingnya, Fattan menoleh. Tatapan keduanya bertemu, sesaat mereka terdiam.
" Makasih," ujar Shazna seraya memutus tatapan mata mereka dengan tangan mengangkat botol air minum yang tinggal berisi setengah airnya. Fattan mengangguk dengan senyum tipis.
Shazna hendak melangkah saat kepalanya terasa berdenyut. Reflek tangannya memegangi kepala. Fattan yang melihat Shazna memegangi kepalanya langsung berdiri dan memegangi pundak wanita itu.
" Shaz !," seru Fattan dengan raut wajah panik.
Dengan sedikit terhuyung Shazna meraih sandaran kursi dan kembali duduk di sana . Fattan yang panik berlutut di hadapan Shazna sambil memegang tangan wanita itu.
'' Kita ke rumah sakit aja, wajah kamu pucat,'' ucap Fattan yang melihat wajah Shazna yang tampak memucat. Shazna yang masih memejamkan mata hanya menggeleng pelan.
__ADS_1
'' Gak apa-apa, nanti juga enakan kok,'' jawab Shazna sambil mengerjapkan mata.
'' Gak apa-apa gimana Shaz ?,tekanan darah kamu rendah banget kemarin. Seharusnya hari ini kamu istirahat . Kamu itu terlalu kecapekan kamu kurang tidur,'' ucap Fattan,raut wajah lelaki itu begitu khawatir melihat keadaan wanita pujaannya.
'' Kamu belum sempat makan kan tadi ?, belum minum obat juga. Sekarang cari makan dulu setelah itu minum obat,'' tambah Fattan, Shazna menatap lelaki yang masih berlutut di hadapannya itu dengan tatapan risau. Ia tak bisa menyangkal hati. Jika debar itu masih ada meski samar .
'' Aku mesti balik ke kantor,jam istirahat udah selesai,'' ujar Shazna sembari melihat jam tangannya. Fattan tampak berdecak lirih, kemudian tanpa permisi, Fattan berdiri dan mengangkat tubuh Shazna.
'' Fattan gila kamu, turunin,'' desis Shazna dalam gendongan Fattan yang tak di gubris sama sekali oleh lelaki bertubuh tinggi itu. Shazna memukul lengan Fattan sambil meronta hendak turun dari gendongan Fattan. Tapi lelaki itu tak bergeming, berjalan dengan langkah pasti menuju mobil miliknya yang terparkir tak jauh dari sana.
'' Aku gak akan biarin kamu balik ke kantor,kamu harus makan dengan baik dan istirahat yang cukup. Biar kesehatan kamu cepet pulih,'' tutur Fattan sambil mendudukkan Shazna di kursi depan dan memakaikan seat belt pada Shazna. Shazna tersenyum sinis menanggapinya.
'' Apa karena kamu dokter,kamu merasa punya wewenang untuk memaksa seperti ini ?,'' tanya ketus Shazna saat Fattan masih menunduk dan memasang sabuk pengaman. Fattan mengangkat wajahnya, membuat wajah mereka begitu dekat bahkan mungkin berjarak kurang dari sejengkal.
'' Bukan karena aku dokter, tapi karena aku Fattan dan kamu adalah Shazna,'' sahut Fattan dengan wajah yang semakin dekat dengan wajah Shazna, membuat wanita itu memalingkan wajah.
Melihat Shazna yang tampak salah tingkah, Fattan memundurkan tubuhnya dan berdiri tegak, kemudian mengitari mobil untuk masuk dan duduk di balik kemudi. Tanpa bertanya pada Shazna, Fattan melajukan mobilnya menjauh dari arah kantor tempat Shazna bekerja.
Shazna tak lagi bertanya,ia memilih diam di sepanjang perjalanan. Pandangan matanya lurus ke depan. Tak memperdulikan mata lelaki di sampingnya yang berkali-kali mencuri pandang padanya.
Sampai di sebuah rumah bercat putih bersih dengan halaman yang tidak terlalu luas namun terlihat asri. Pohon mangga dan pohon jambu air tampak rimbun di kiri kanan halaman. Sebuah taman kecil dengan berbagai bunga tampak terawat dengan baik. Lapangan basket di samping rumah serta sebuah di sampingnya terdapat sebuah kolam kecil ,di tengahnya terdapat air mancur. Sebuah ayunan terdapat di sisi lain kolam.
__ADS_1
Shazna terpaku saat kakinya turun dari mobil. Pemandangan di hadapannya seakan tak asing di alam bawa sadarnya. Namun ia tak bisa mengingat dimana ia pernah melihat penataan seperti itu.
'' Gimana sudah seperti rumah impian kamu kan ?,'' suara Fattan menyadarkannya dari lamunan. Benar,ia pernah bermimpi memiliki rumah sederhana namun asri. Dan lelaki itu membangun rumahnya sama persis seperti impiannya dulu.
'' Apa maksud kamu dengan semua ini Tan ?,'' tanya Shazna dengan mata tak lepas dari pemandangan sekeliling rumah.
'' Rumah impian kita,aku buat rumah ini untuk aku persembahkan buat kamu Shaz. Karena aku selalu yakin, kalau kamu adalah takdirku. Orang yang akan menjadi nyonya di rumah ini,'' jawab Fattan yang berdiri di samping Shazna yang masih tertegun dengan apa yang ia lihat.
'' Kenapa ?,'' tanya Shazna. Ia menatap wajah lelaki di sampingnya. Keduanya saling melempar tatapan. Fattan memberikan sebuah senyum lembut, membuat Shazna cepat-cepat membuang muka.
'' Karena, perasaanku masih sama seperti dulu Shaz,'' lirih Fattan. Shazna menarik sudut bibirnya. Melukiskan sebuah senyum miring tanpa menatap Fattan.
'' Kamu yang memutuskan untuk meninggalkan aku dan ternyata kamu yang masih terkurung dalam lingkaran masa lalu. Kamu membiarkan diri kamu berhenti di tempat,'' Shazna berhenti berucap sejenak. Menoleh Fattan dan menatap Fattan dengan sebuah tatapan datar.
'' Aku bukan lagi Shazna yang dulu. Aku sudah terlalu jauh berlari meninggalkan cerita masa laluku. Bangun dokter Fattan Ghifari jangan biarkan tidur membuai mu hingga kamu menganggap itu akan menjadi nyata,'' lanjut Shazna tanpa melepas tatapannya pada Fattan.
Tanpa Shazna duga, lelaki itu meraih tangan Shazna menggenggam dua belah tangan wanita itu.
'' Selama yang melingkar di jari kamu bukan cincin pernikahan selama itu juga aku akan berusaha mewujudkan impian ku, untuk menjadikan kamu nyonya di rumah ini ,'' ucap Fattan sembari mengusap cincin yang melingkar di jari sang wanita.
'' Dan setelah apa yang aku lihat hari ini, semakin membuat aku yakin untuk mengembalikan semua di tempat yang seharusnya. Karena seharusnya kamu di sisiku,'' lanjut Fattan seraya membawa tangan Shazna mendekati wajah hendak di kecupnya. Namun Shazna menarik paksa tangannya sebelum Fattan sempat mengecupnya.
__ADS_1
'' Dasar gila kamu Tan,'' sungut Shazna yang hanya di balas tawa kecil Fattan. Lelaki itu kembali meraih tangan Shazna.
'' Ya aku memang selalu gila jika itu tentang kamu Shaz, sekarang ayo masuk !. Aku akan masakan kamu makan siang,'' ajak Fattan seraya menarik kecil pergelangan tangan Shazna agar wanita itu mengikuti langkahnya memasuki area rumah.