
" Jadwal saya apa aja hari ini ?'' tanya Brandon setelah masuk ke dalam ruangannya , seperti biasa akan diikuti oleh sekertaris yang juga menjabat sebagai tunangan.
Brandon belum duduk di kursi kebesarannya, lelaki berkulit putih pucat itu bersandar di meja kerjanya. Dengan tangan melingkar di pinggang sang kekasih. Tatapannya menikmati wajah ayu yang selalu menentramkan hatinya.
Shazna membuka Pad untuk melihat jadwal Brandon hari itu.
" Jam sembilan ada rapat dengan tim marketing. Jam sebelas ketemu klien di luar sekalian makan siang. Jam dua meeting dengan Pak Irman di kantor beliau. Setelah itu free, belum ada jadwal," lapor Shazna , kemudian wanita itu menengadah menatap wajah sang kekasih yang masih menatap dirinya.
Brandon menarik tubuh Shazna hingga menempel pada dirinya. Lalu menyematkan sebuah kecupan di kening wanitanya.
" Makasih sayang," ucap Brandon dengan senyum yang terkembang di bibir tipis lelaki itu.
" Kan sudah tugas aku sayang," jawab Shazna balas tersenyum pada Brandon yang masih memeluk pinggang Shazna.
Brandon membelai rambut panjang Shazna, tatapan lembut penuh cinta itu seakan membius Shazna. Wanita itu terpaku,diam menatap mata teduh sang lelaki.
Perlahan Brandon menundukkan wajah,dan mengecup sekilas bibir merona merah pagi hari itu. Setelahnya ia mendekap erat tubuh sang kekasih dalam pelukan. Brandon tampak memejamkan mata seraya menghirup aroma wangi yang menguar dari tubuh sang kekasih.
''Sayang,ayo kita nikah," ucap Brandon sambil melepaskan pelukannya. Shazna menatap wajah Brandon, mencari keseriusan dari ucapan lelaki itu. Dan tak di dapatinnya raut bercanda di wajah Brandon.
'' Aku pingin setiap malam ada kamu dalam dekapan ku,dan setiap aku membuka mata ada kamu di sampingku. Aku ingin selalu ada di samping mu, berbagi beban yang kamu punya. Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku tidak punya alasan untuk itu,'' tutur Brandon dengan tatapan sendu terarah pada dua bola mata yang juga menatap dirinya.
Brandon sudah cukup mengenal wanitanya yang tak pernah mau berhutang budi pada siapapun. Termasuk pada dirinya, Shazna tak pernah memanfaatkan apa yang ia miliki. Wanita itu tak pernah mau menerima bantuan dari dirinya, untuk pengobatan sang ayah.
Shazna mengusap lembut pipi mulus lelaki itu. Tatapan matanya begitu dalam. Namun sesaat kemudian wanita itu menunduk dan melepaskan tangannya dari pipi lembut sang kekasih.
'' Haruskah kita melawan arus ?,'' ucap lirih Shazna. Brandon mengangkat wajah Shazna dengan sebelah tangannya.
__ADS_1
'' Kamu mau kan , berlayar bersama ku ? . Meski mungkin arus yang kita lewati akan sedikit deras '' ujar Brandon yang mengerti akan keraguan dari tunangannya tersebut.
'' Kamu percayakan sama aku ?,aku cinta kamu Shazna Rivania dan ingin menghabiskan sisa hidupku hanya bersama kamu,'' lanjut Brandon dengan kembali membawa tubuh sang wanita dalam pelukan.
Shazna memejamkan mata,ia tak pernah ragu dengan ketulusan yang di miliki lelaki itu. Tapi penghalang restu yang terlanjur menjadi penyekat hubungan mereka membuat dirinya seakan pesimis dengan hubungan yang mereka jalani.
" Apa kamu yakin,kita tidak akan jatuh dan terbawa pusaran air yang akan menyeret kita ke dalamnya,? '' tanya Shazna dengan suara rendah. Brandon menghela nafas, ia sangat mengerti apa yang di rasa kekasihnya.
Pertunangan mereka yang hanya bentuk ikatan tanpa kehadiran keluarga Brandon adalah sebuah batasan yang telah jelas mereka berikan. Shazna memang tak tahu dengan jelas apa alasan orang tua Brandon tak memberi restu. Tapi yang nampak jelas pembeda diantara mereka adalah status sosial.
Brandon melepaskan pelukannya,ia menggenggam tangan wanitanya.
'' Ayo kita lewati ini sama-sama. Minggu depan aku akan membawa kamu bertemu Mama. Setelah itu apapun yang Mama katakan biarkan aku yang menyelesaikan," ucap Brandon dengan tatapan mata berusaha untuk meyakinkan Shazna.
Shazna tersenyum tipis, berusaha menyakinkan hati untuk melewati segalanya dengan lelaki di yang berada di hadapannya.
'' I love you,'' ucap Brandon.
'' I love you too, honey '' balas Shazna. Shazna memundurkan langkah memberi jarak di antara keduanya.
'' Aku keluar dulu,'' pamit Shazna namun pergelangan tangannya masih dalam genggaman lelaki berkacamata itu.
'' Jangan terlalu capek, seharusnya hari ini kamu gak usah kerja,'' sahut Brandon .
'' I'm oke,gak usah khawatir,'' ujar Shazna dengan senyum manis yang menghias bibirnya. Brandon melepas tangan saat Shazna memberi kode dengan tatapan matanya. Agar lelaki itu melepaskan genggaman di pergelangan tangannya.
Shazna mencondongkan tubuh dan mengecup pipi Brandon kemudian berbisik di telinga lelaki itu.
__ADS_1
'' Semangat sayang.''
Tak menunggu balasan, Shazna cepat-cepat melangkah meninggalkan Brandon yang sedang memegangi pipinya dengan raut wajah terkejut. Pasalnya jarang sekali Shazna berinisiatif mencium dirinya terlebih dahulu.
'' Sayang,'' seru Brandon saat menyadari wanitanya telah berada di ambang pintu. Wanita itu hanya tertawa kecil kemudian menutup kembali pintu ruangan Brandon.
'' Duh pagi-pagi sumringah banget,yang udah dapat suntikan semangat,'' suara Gracia mengagetkan Shazna yang sedang menutup pintu ruangan Brandon.
Shazna memukul kecil lengan sang sahabat.
'' Ngagetin aja kamu,'' sungut Shazna seraya melangkah ke arah meja kerjanya.
'' Kok gak ambil libur aja sih kamu,emang udah sehat ?,'' tanya Gracia yang mengikuti Shazna sampai di meja kerja.
'' Udah gak lemes banget kok. Tenang aja masih sanggup di bawa kerja,'' jawab Shazna tak lupa diakhiri dengan senyum manis.
'' Jangan di paksain, nanti yang ada makin ngedrop kamu. Kenapa sih kamu gak mau ambil hak istimewa kamu sebagai tunangan pak bos ?,'' sambung Gracia yang tahu sahabatnya tak pernah memanfaatkan hubungannya dengan Brandon untuk kemudahan dalam bekerja.
'' Profesional sayang, udahlah aku udah baik-baik aja. Don't worry,'' jawab Shazna sambil mengibaskan tangan. Gracia berdecih kesal. Kemudian melangkah menjauh menuju ruangannya yang terletak bersebelahan dengan ruangan Shazna. Shazna menatap punggung wanita berambut pendek uang kemudian menghilang di balik pintu.
Shazna menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi. Tangannya meraih toples plastik kecil berisi vitamin yang di kirim oleh sang mantan.
'' Bahkan kamu masih sama perhatiannya seperti dulu Tan,tapi waktu sudah seharusnya merubah semuanya itu,'' lirih Shazna sembari membuka laci meja dan menaruh vitamin yang berada di tangannya.
Setelahnya mata Shazna lagi-lagi tertuju pada cincin yang berada di jarinya.
'' Apa aku mampu melawan arus yang ada,?'' tanya Shazna pada dirinya sendiri. Terbayang betapa sengit tatapan wanita yang telah melahirkan sang kekasih saat harus berhadapan dengan dirinya. Restu itu terlalu sulit untuk di genggamannya.
__ADS_1