
Shazna pergi dari restoran meninggalkan Brandon yang masih terpukul dengan keputusan Shazna yang di rasa tiba-tiba. Lelaki itu berjalan lunglai,tak perduli orang yang menatapnya dengan tatapan heran. Langkah lelaki itu sampai di tempat parkir restoran.
Air matanya kembali menetes saat ia masuk ke dalam mobil. Menelungkup kan wajah di stir mobil, seakan dunianya telah hancur tak bersisa. Pada siapa ia menyalahkan rasa sakit yang kini terasa di dadanya ? . Haruskah ia menyalahkan Shazna atas luka yang harus ia rasa ?. Tidak, wanita itu pun terluka. Dan lebih egoisnya lagi ia yang tak bisa tegas mengambil keputusan.
Ia yang mengajak wanita itu untuk berjuang demi hubungan mereka. Nyatanya ia sendiri tak tahu harus bagaimana . Wanita mana yang mau menunggu dalam ketidakpastian ?. Dan pasti tak ada wanita yang mau di duakan atau di nomor duakan. Shazna tidak salah. Ia hanya mempermudah dirinya diantara kebimbangan yang ada.
Namun kehilangan orang yang di cintai sakitnya tak bisa terungkap dengan kata. Cukup lama lelaki itu berdiam diri di dalam mobil. Menikmati rada sakit yang terasa menghimpit.
Brandon mengangkat wajahnya yang tampak berlinang air mata. Menghapus dengan dua telapak tangannya.
'' Shazna,'' lirih lelaki itu. Brandon memejamkan mata, kemudian menghirup nafas dalam. Menyalurkan oksigen untuk masuk ke dalam paru-parunya nya. Berhati rada sesak itu sedikit berkurang.
Brandon menyalakan mesin mobil. Kemudian lelaki itu keluar dari area parkir. Melaju dengan kecepatan tinggi. Membela jalanan malam. Ia tak lagi perduli dengan keselamatan dirinya. Ia hanya ingin membebaskan rada yang terasa menyiksa. Pada akhirnya ia tak pernah bisa memilih tentang jalan hidupnya sendiri. Bahkan pendamping pun ia tak bisa memilih.
Mereka bilang hidup ada pilihan,tapi di kehidupan seorang Brandon, hidupnya telah di tentukan. Semenjak kecil hidupnya berada dalam aturan yang mengungkung kebebasannya. Saat remaja ia telah di bentuk menjadi orang yang di persiapkan untuk mengganti tahta milik sang Ayah. Dia tak lebih dari boneka yang dikendalikan orang lain dalam setiap pergerakannya.
__ADS_1
Saat ia merasa telah menemukan seseorang yang membuat hatinya terjatuh pada rasa bernama cinta. Ia pikir ia bisa memilikinya. Ternyata ia salah, pendamping pun ternyata telah di tentukan dengan siapa.
Laju mobil itu kian cepat, menembus jalanan yang kian sepi. Tak tentu arah lelaki itu melajukan kuda besinya. Sampai tiba-tiba lelaki itu berhenti di sebuah jembatan sepi. Brandon menepi, kemudian turun menatap malam yang kian pekat.
Brandon berdiri di tepi jembatan yang terpasang pembatas. Lelaki itu menatap dalam air yang tampak gelap, hanya pantulan cahaya bulan yang terlihat. Semilir angin membuai wajah Brandon. Ia berdiri berpegangan pada pembatas jembatan. Memejamkan mata dan menghirup udara malam .
Kelebat bayang kebersamaan dirinya dengan Shazna menari indah di pelupuk matanya. Wanita yang telah berhasil membuat dirinya terkesima dalam pertemuan pertemuan. Shazna telah mencuri seluruh hati dan cintanya.
'' Aaarrrgghh !!!!!'', teriak Brandon tak perduli jika ada yang mendengar. Ia hanya ingin sedikit melampiaskan segala sesak di dada.
Brandon terpekur sendiri, menikmati rasa sakitnya patah hati.
'' Shazna,'' rintih lirih lelaki itu, menyebut nama yang masih memiliki seluruh hati dan raganya. Brandon bangkit dari duduknya . Berjalan dengan langkah tertatih ia masuk ke dalam mobil.
Kembali lelaki itu berkendara tanpa arah. Ia belum ingin kembali ke rumah. Ia ingin sendiri, meratapi rasa lara ini. Sampai saat ia melintas di depan sebuah club malam. Brandon menghentikan laju mobilnya. Beberapa kali menimang akhirnya ia memutuskan turun dari mobilnya.
__ADS_1
Suara musik menghentak menyambut. Dengan aroma rokok dan minuman menyengat hidung. Wanita berpakaian seksi meliuk-liukkan tubuhnya seperti menggoda. Namun tak bisa memperangkap seorang Brandon. Matanya tak tertarik dengan suguhan tubuh-tubuh molek mereka. Ia hanya ingin minum. Melupakan rasa sakitnya sejenak, meski ia tahu saat tersadar nanti rasa itu tetap akan ada. Tapi sejenak ia ingin melupakannya.
Beberapa saat yang lalu, sebelum Brandon akhirnya terdampar di sebuah club malam. Tampak Shazna berdiri di balik tiang di area parkir restoran. Wanita itu masih mengamati lelaki yang sedang menangis di dalam mobil. Pilu rasa hatinya melihat lelaki itu terluka. Tapi ia bisa apa ?,ia pun tak mungkin bertahan dalam ketidakpastian. Di tempat yang sama sepasang mantan kekasih itu menangis dalam diam. Menikmati rasa sakit dalam hati-hati masing-masing.
Shazna tak lepas menatap mobil Brandon sampai lelaki itu pergi dengan kecepatan tinggi. Shazna tahu, Brandon yang terluka membahayakan dirinya sendiri.
'' Hallo Gi, sorry malem-malem telpon. Bisa minta tolong gak ?,'' Shazna berbicara pada seseorang di seberang sana. Pada asisten Brandon yang lebih dikenal dengan sebutan Gi itu .
'' Tolong kamu awasin pak Brandon ya ,aku takut dia kenapa-kenapa,'' sambung Shazna setelah mendengar pertanyaan dari seberang sana.
'' Coba cari di club deh,aku juga gk tau dia mau kemana. Kamu bisa cari tau keberadaan dia gak ?, lewat ponsel dia mungkin,''lanjut Shazna yang di tanya keberadaan Brandon oleh Gi.
'' Gak ada apa-apa kok, please tolong kamu jagain dia malam ini ya,'' ucap Shazna sebelum menutup telpon. Siapa yang percaya di tak terjadi apa-apa, suara wanita itu pun terdengar serak dan menahan tangis. Wanita itu berjongkok di balik pilar yang terdapat di area parkir. Menundukkan kepala dengan air mata yang masih berderai.
Sampai sebuah sapu tangan di sodorkan di hadapannya. Membuat Shazna menengadah dan memicingkan mata melihat siapa yang ada di hadapannya.
__ADS_1
'' Masih mau lanjut nangisnya ?,aku temenin ,'' ucap lelaki yang tak lain adalah Fattan. Shazna melengos, membuang muka dari tatapan mata Fattan. Fattan berjongkok di hadapan Shazna dan meraih wajah wanita itu untuk di hapus air matanya.