Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Butuh Waktu


__ADS_3

Suara notifikasi pesan masuk di ponsel Shazna,saat wanita itu masih bergelung di balik selimut tebalnya. Tampak mata wanita itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka lebar.


Ia meraba meja yang terletak di samping tempat tidur. Dimana ia meletakkan benda persegi empat itu semalam. Shazna bangun dari tidurnya dan duduk dengan bersandar di kepala ranjang.


Ia terlihat mengernyitkan dahi, melihat sebuah pesan gambar dari nomor tak di kenal. Rasa penasaran menelisik hatinya, hingga ia membuka pesan dari nomor tak di kenal itu .


Deg


Debar dalam dadanya meningkat saat melihat foto siapa yang terpampang di layar ponselnya. Ada nyeri yang terasa di sudut hatinya. Ia menarik nafas dalam, menenangkan dirinya agar tak tersulut emosi.


Ia kembali menatap foto di ponsel, tampak seorang wanita yang di kenalnya berbaring di atas ranjang. Dan yang menyesakkan adalah, lelaki yang tertidur di samping ranjang pasien dengan tangan menggenggam tangan wanita yang tampak terpejam. Wanita itu adalah Dilla yang di temani oleh Fattan yang tampak terpejam.


Ada sesak yang menyeruak. Ada peri yang hadir menyapa dalam dada.


" Inikah yang membuat kamu melupakan aku kemarin ?", pertanyaan yang terucap lirih dari bibirnya.


Ia sudah cukup terluka dengan apa yang terjadi kemarin,dan kini paginya di sambut dengan hal yang membuat dirinya kecewa. Shazna tampak memejamkan mata dan menghirup nafas dalam. Mengisi rongga dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


Haruskah ia menelan mentah-mentah apa yang dilihatnya ?, jika menuruti hati yang di landa cemburu. Ya tentu ia hanya ingin marah pada kekasihnya itu. Namun ada logika yang membantah dalam dirinya. Bukankah ada baiknya ia meminta penjelasan terlebih dahulu ?.


Shazna meletakkan kembali ponsel di atas meja. Wanita itu menyibakkan selimut dan turun dari ranjang. Mengikat rambut pendeknya sebelum keluar dari dalam kamar.


Belum langkah membawanya keluar dari kamar,dering ponsel membuat dirinya menghentikan langkah. Wanita itu kembali mendekati meja,dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.


Nama sang kekasih tertera di sana. Wanita itu menghirup nafas dalam. Menenangkan jiwanya yang bergemuruh terbakar cemburu. Ia tak boleh gegabah,akan ada yang tertawa bahagia jika ternyata ia termakan fitnah.


" Sayang ", suara lega di seberang sana saat ia mengangkat sambungan telepon sebelum sempat ia berucap.


" Akhirnya kamu angkat telepon aku,aku minta maaf kemarin sibuk seharian sampai gak hubungi kamu", belum ada kata yang terucap dari bibir Shazna namun Fattan sudah mengeluarkan rentetan kata.


" Video call ya ", ujar Fattan yang ingin melihat wajah sang kekasih, tanpa menunggu persetujuan dari Shazna. Ia mengubah menjadi panggilan video. Shazna tampak dengan malas menerima panggilan tersebut.


Senyum lebar tergambar di bibir lelaki yang kini muncul di layar ponselnya.


" Sayang ", panggil Fattan, Shazna tampak acuh menatap tanpa senyum pada lelakinya. Fattan menyadari perubahan sikap sang kekasih yang tampak dingin tak bersahabat.

__ADS_1


" Maaf soal kemarin,aku beneran sibuk ", jelas Fattan dengan wajah yang kini berubah sendu. Shazna menarik nafas dalam, menatap malas pada layar ponsel yang masih terpampang wajah Fattan.


" Sibuk ngurusin perempuan lain sampai lupa kekasihnya sendiri ," ketus Shazna yang membuat Fattan tampak sedikit terkejut. Entah tahu darimana wanitanya tentang ia yang di sibukkan dengan keadaan Dilla.


"Gak gitu sayang,emang kemarin setelah kerja bakti aku mesti ngurus Dilla dia mengalami kecelakaan kecil di sini", sahut Fattan yang mencoba menjelaskan, namun tak mampu meredakan gemuruh cemburu yang sudah terlanjur menguasai hati Shazna.


" Seneng ya, cuma kecelakaan kecil aja, mesti di temenin semalaman. Di genggaman tangannya penuh kasih sayang ", sinis Shazna yang membuat Fattan mengernyit tak mengerti.


" Maksudnya apa ,Yang ?", lelaki itu masih berusaha bertanya dengan lembut meski sang wanita tampak sinis.


Fattan memang semalam menunggu Dilla yang masih dirawat,ia sempat ketiduran sesaat di samping ranjang Dilla tapi ia tak pernah merasa menggenggam tangan wanita itu. Dan tunggu....


" Kamu tahu dari siapa ?", lanjut Fattan yang baru menyadari darimana sang kekasih tahu ia menunggui Dilla semalam.


" Tau ah ", kesal Shazna yang langsung mematikan sambungan telepon. Wanita itu mendaratkan punggung di sandaran kursi. Menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.


Awalnya ia ingin mendengar penjelasan dari Fattan, namun nyatanya hati yang terbakar cemburu terlalu mudah untuk meledak. Rasanya terlalu sulit mengendalikan emosi dalam diri.

__ADS_1


Wanita itu menatap layar ponsel yang menampilkan foto kekasihnya. Fattan masih mencoba menghubungi. Namun Shazna tetap mengabaikan. Ia butuh sedikit waktu untuk menenangkan hatinya yang sedang bergejolak.


" Maaf Tan ", ucap Shazna sesaat sebelum menonaktifkan ponsel miliknya. Ia butuh waktu untuk meredakan amarah dan menerima penjelasan dengan kepala dingin.


__ADS_2