Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Hati yang Terluka


__ADS_3

Keputusan untuk mengakhiri hubungan dengan Brandon sepaket dengan keputusan untuk resign dari perusahaan. Rasanya tidak mungkin ia harus bekerja pada mantan kekasih yang jelas masih saling menyayangi. Ia pun tak ingin semakin terluka dengan melihat keberadaan wanita lain di sisi Brandon.


Brakkk


Suara gebrakan di meja terdengar nyaring. Lelaki berkacamata itu tampak mengguyar rambutnya dengan frustasi. Selembar kertas berisi surat pengunduran diri tergeletak di meja kerjanya, menyambut paginya yang kelam hingga bertambah suram.


" Shazna ," lirih Brandon , lelaki itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Menatap langit-langit kantor dengan tatapan nyalang. Brandon mengusap kasar wajahnya.


Ia tak bisa menyalahkan Shazna atas apa yang di putuskan wanita itu. Karena ia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Seandainya bisa ia ingin memiliki keduanya,atas nama bakti dan cinta. Tapi bolehkah ia se egois itu ?.


Jelas jawabannya adalah tidak, hati wanita mana yang mau di duakan ?.


Sudah dua hari semenjak kejadian malam itu ia tak bertemu dengan Shazna. Selama dua hari ia memilih tak masuk kantor. Dua hari lelaki itu menenggelamkan diri dalam kubangan rasa sakit. Menikmati dengan setengah kesadaran. Dua hari lelaki itu menjadi pemabuk amatir. Meski kenyataannya ia tak pernah bisa melupakan rasa sakitnya kehilangan.


Brandon menghela nafas panjang. Ia bangkit dari kursi kebesarannya. Mengambil jas yang tersampir di sandaran kursi. Rasanya ia tak akan bisa bekerja dengan benar. Rasa rindu ingin melihat wanita yang masih memiliki seluruh hatinya tak bisa terbendung.


'' Gi,tolong handle rapat hari ini,'' ujar Brandon dalam sambungan telepon pada sang asisten. Lelaki itu melangkah meninggalkan ruangan setelah memberi pengarahan pada Gio yang sudah tiga hari ini di buat pusing oleh kelakuan bos yang sedang patah hati itu.

__ADS_1


Brandon pergi mengendarai mobilnya menembus jalanan yang mulai terik karena matahari yang mulai meninggi. Sampai di depan sebuah rumah sederhana ia menghentikan laju mobilnya.


Cukup lama lelaki itu berdiam diri di dalam mobil. Menatap nanar pada bangunan yang tampak sepi di hadapannya. Tak ada orang yang terlihat keluar ataupun masuk . Pintu tertutup rapat,dan mobil si pemilik rumah pun tak tampak di sana.


Brandon menghela nafas panjang,ia tak ingin mengganggu Shazna, ia hanya ingin melihat dan memastikan wanita itu baik-baik saja. Dan meleburkan rasa rindu yang membekukan hati. Namun sepertinya waktu sedang tak bersahabat dengannya. Hampir satu jam ia di sana tak ada tanda-tanda wanita yang di tunggunya keluar rumah.


Dering ponsel, menyadarkan dari lamunannya yang mengembara jauh. Sebuah nama membuat dahinya mengernyit. Sebab ia tak sedang tak ingin di ganggu gadis itu. Tapi ternyata dering ponselnya tak mau berhenti meski telah ia abaikan. Akhirnya di panggilan ke tiga Brandon mengangkat telpon dari Kellie.


'' Hallo,'' ucap Brandon malas, seketika Brandon menjauhkan ponsel dari telinga saat suara melengking milik Kellie menyambutnya.


'' Gimana apanya ?,'' tanya Brandon dingin. Malas rasanya berurusan dengan gadis labil nan manja ini.


'' Om lupa ?,'' Kellie kembali bertanya, Brandon semakin mengernyitkan dahi, membuat lipatan di dahinya semakin kentara.


'' Aaah om pasti lupa ,'' suara di seberang sana semakin melengking. Sudah bisa di bayangkan seperti apa wajah cemberut gadis tersebut.


'' Udah deh,gak usah drama. Memangnya ada apa ?,'' kesal Brandon yang merasa semakin pusing kepalanya.

__ADS_1


'' Ih om kok gitu. Om kan udah janji mau nemenin Kellie ke butik buat cari baju ,'' suara Kellie terdengar semakin kesal. Brandon menghela nafas.


'' Oke,kamu dimana ?,'' tanya Brandon tak mau memperpanjang masalah.


'' Di kantor, tadi habis rapat sama asisten om. Kirain bakal om yang dateng. Eh malah pak Gio,'' sungut Kellie.


'' Ya udah aku jemput,'' ucap Brandon datar, kemudian mematikan sambungan telepon tanpa permisi.


Sekali lagi, Brandon menatap rumah itu. Dengan perasaan yang masih sesak , Brandon meninggalkan rumah Shazna. Baru dua hari tak melihat wanita itu saja sudah membuat sesak di dada. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan selanjutnya tanpa Shazna.


Brandon melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan tampak lengang di waktu siang. Namun ia tak ingin cepat-cepat melajukan mobil untuk sampai di perusahaan keluarga Bramantyo. Sesungguhnya saat ini ia hanya ingin sendiri.


Saat melintasi taman kota, Brandon semakin melambat kan laju mobilnya. Ia menyipitkan mata, memastikan penglihatannya yang melihat sosok wanita yang begitu di rindunya. Tak salah dengan penglihatannya, benar Shazna di sana. Mendorong kursi roda sang ayah dengan seseorang yang cukup di kcddenalnya.


'' Fattan ,'' geram Brandon seraya mengeratkan genggaman pada setir mobil. Hatinya terasa terbakar melihat Shazna tertawa lebar bersama mantan yang jelas masih menyimpan rasa.


'' Apa ini alasan kamu sebenarnya memutuskan hubungan Shaz ?,''tanya Brandon pada dirinya sendiri. Mencari sebab lain untuk menyalahkan atas hati yang sedang terluka.

__ADS_1


__ADS_2