
Fattan tampak menghela nafas panjang,saat ia berusaha menghubungi sang kekasih dan ternyata tak ada jawaban. Panggilannya tersambung namun sang wanita mengabaikannya. Ia masih berusaha menghubungi Shazna beberapa kali,dan hasilnya sama.
Lelaki itu terlihat mengusap kasar wajahnya dengan mata tak lepas dari layar ponsel yang masih menyala. Nama " My Love " terlihat di layar ponselnya.
" Yang, please angkat dong. Aku tau aku salah. Aku minta maaf,tapi jangan diemin aku kayak gini".
Sederet pesan singkat yang Fattan tulis di aplikasi hijau. tampak dua centang di sana, namun sayang beberapa waktu menunggu centang itu masih juga berwarna abu-abu, tak kunjung berubah biru.
Fattan menatap putus asa pada layar ponselnya. Matahari tampak mulai menyingsing ke arah barat. Namun lelaki itu masih berdiri gusar dengan tatapan tak lepas dari ponsel. Entah yang ke berapa puluh kali ia mencoba menghubungi sang kekasih. Namun tak jua ada jawaban.
Sampai akhirnya lelaki itu memilih menghubungi Mama dan meminta bantuan untuk menghubungkan dirinya dengan Shazna yang ia pikir sedang marah pada dirinya.
Dering ke tiga,suara sang Mama masuk di genderang telinga dokter tampan itu.
" Halo Ma ", sambut Fattan saat telepon tersambung.
" Iya Tan,tumben ingat Mama", ucap sang Mama yang memang jarang di hubungi oleh anaknya itu. Fattan meringis mendapat perkataan yang terlontar dari Mama.
" Ya maaf Ma, Fattan sibuk,udah gitu di sini susah banget sinyal. Jadi Fattan jarang telepon Mama", Fattan mendengar suara decakan dari sang Mama.
__ADS_1
" Iya nak,mama ngerti. Yang penting kamu di sana sehat dan baik-baik saja. Tapi kalau bisa kamu harus luangkan sedikit waktu kamu untuk menghubungi Shazna. Mama tahu hubungan jarak jauh itu tidak mudah. Jangan sampai kejadian yang dulu terulang", ujar Mama di seberang sana membuat Fattan risau. Lelaki itu menengadah, menatap langit yang mulai menampakkan warna jingga.
" Itu masalahnya Ma", suara Fattan yang terdengar lirih, namun masih terdengar jelas di telinga sang Mama.
" Ada apa ?", tanya Mama lembut, setelah mendengar suara lemas sang anak.
" Fattan hari ini lupa menghubungi Shazna karena terlalu sibuk. Dan sepertinya Shazna marah sama Fattan Ma", suara putus asa Fattan membuat Mama menghela nafas.
" Dia gak mau angkat telepon dari Fattan", sambung Fattan.
" Ya sudah Mama hubungi dia dulu", ucap Mama yang tau kerisauan dari sang putra. Senyum terkembang di bibir dokter muda tersebut.
" Dasar kamu", ucap Mama dengan suara yang terdengar menahan senyum. Tak menunggu lama sambungan terputus.
Fattan berjalan ke arah sebuah pohon besar, memilih duduk di sana. Dengan ponsel yang tak lepas dari tangannya. Wajahnya menatap langit yang kini menyisakan semburat jingga. Di ufuk barat terlihat matahari yang hanya tampak sebagian saja.
Pikirannya berkelana, berlarian pada masa saat ia masih berseragam abu-abu. Senja mengingatkan dirinya pada sang kekasih. Dulu saat keduanya masih bersama,sering mereka menghabiskan waktu di pantai. Menatap indahnya senja yang merona.
Segaris senyum samar terukir di bibir lelaki itu. Ia rindu, sangat rindu pada wanita sama yang tak pernah sekalipun hilang dari hatinya. Cinta yang memperangkap dirinya pada satu hati yang tak pernah mampu ia rubah.
__ADS_1
Dering dari ponselnya membuat Fattan tersadar dari lamunan. Dilihatnya layar ponsel yang menyala. Tertera nama sang mama di sana.
" Ya Ma, gimana ?", pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir lelaki tampan itu. Ada nada penuh harap yang terdengar di telinga wanita yang telah melahirkannya.
" Telpon mama juga gak di angkat", sahutan dari seberang sana membuat lunglai lelaki yang telah duduk tegap, berharap mendapat kabar dari sang kekasih.
" Kamu tenang saja dulu,nanti mama cari tahu. Mungkin dia sedang sibuk saja". Mama berusaha menenangkan hati sang anak.
" Iya Ma", jawaban Fattan tak bersemangat. Setelah berbincang sejenak, Fattan menutup telpon.
Dengan tatapan kosong, lelaki itu berdiri. Menatap senja yang perlahan menghilang. Membawa risau yang masih bersemayam di dadanya.
" Apa kamu baik-baik saja,sayang ?", lirih bibir itu berucap, seraya mata menatap langit. Yang mulai membayang gelap. Tergambar seraut wajah wanita yang dirindukannya.
Langkah lunglai Fattan meninggalkan tempat dimana ia biasa berkomunikasi dengan sang kekasih. Meninggalkan sejuta gundah yang membuat sesak dalam dada.
Di sisi lain, tampak berdiri seorang wanita menatap laut lepas. Rambut pendeknya berkibar tertiup angin. Sesekali kakinya yang mematung berdiri di tepi pantai tersapu oleh ombak. Matanya menatap arah matahari yang mulai menghilang tertelan malam.
Di tempat yang berbeda, sepasang kekasih itu menatap arah yang sama. Menikmati senja dengan rasa gundah yang sama,meski dengan alasan yang berbeda.
__ADS_1