Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Teman Ngobrol Yang Asyik


__ADS_3

Tak ingin membuat keributan Shazna memilih meninggalkan Dilla. Tak ada yang perlu di jelaskan pada wanita itu. Diaz pun tak banyak bertanya ia mengikuti langkah Shazna menjauh dari Dilla yang tampak menyeringai sembari mengambil menatap ponsel miliknya.


" Lihat saja apa yang akan terjadi,mas Fattan itu emang tercipta buat aku ", ucap Dilla penuh percaya diri. Matanya masih tertuju pada Shazna yang kini justru di genggaman pergelangan tangannya oleh Diaz.


Shazna memang tidak menolak saat Diaz menggenggam pergelangan tangannya. Sebab pikirannya terlalu penuh. Ia tak menyangka malam ini dia akan sesial itu.


" Ayo pergi saja dari sini !", ajak Diaz seraya menarik pelan tangan Shazna. Wanita itu tak menjawab, namun mengikuti langkah Diaz keluar dari ballroom hotel.


" Ada yang ingin kamu ceritakan ?," tanya Diaz setelah keduanya duduk bersebelahan di dalam mobil. Mereka masih di tempat parkir. Shazna menghela nafas panjang. Kemudian menatap sekilas pada Diaz yang sedang menatap ke arahnya.


" Tunangan Kellie, adalah atasan sekaligus mantan pacar saya. Saya lebih dulu menjalin hubungan dengan Brandon. Tapi karena ada suatu hal kami harus berpisah. Dan Brandon di jodohkan dengan Kellie ", tutur Shazna yang merasa saat ini memang di butuhkan telinga untuk mendengar kisah hidupnya.


" Dari yang aku lihat dia masih cinta sama kamu. Kenapa gak perjuangkan cinta kalian?,"


Shazna tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepala.


" Ada kalanya cinta untuk di perjuangkan namun adakalanya cinta untuk kita lepaskan. Mungkin ini bentuk cinta tak harus memiliki ?". Shazna menoleh ke arah Diaz. Tampak lelaki itu tertawa mendengar ucapan Shazna.

__ADS_1


" Terlalu klise gak sih ?," tanya Diaz yang hanya mendapat angkatan kedua bahu dari Shazna.


" Kamu sudah move on ?," lanjut Diaz. Shazna mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


" Kamu juga sudah bertunangan ?, secepat itu ?," Diaz menatap tak percaya pada wanita cantik di hadapannya. Shazna tersenyum tipis, kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi mobil.


" Kita tidak bisa melupakan orang yang pernah ada dalam hidup kita, mungkin bukan lagi cinta. Tapi pasti ada ruang khusus yang tersisa. Karena kenangan akan tetap ada. Tapi untuk terus mengurung diri dalam kenangan, aku pikir itu sama sekali tidak bijak. Kita punya hidup yang harus tetap berjalan. Untuk apa kita meratapi apa yang sudah terjadi ," ucap Shazna dengan tatapan lurus ke depan. Diakhir kalimatnya Shazna menoleh kearah Diaz yang masih saja menatap kearahnya.


" Aku suka cara berpikir kamu. Dan tentang wanita bernama Dilla itu ?," Diaz tampak tidak ingin pergi dari sana sebelum rasa penasarannya terjawab.


" Dia wanita yang mencintai tunangan saya ," jawab Shazna dengan lesu. Entah apa yang akan terjadi saat Dilla mengadu pada Fattan.


" Ckckck, rumit banget deh hidup kamu ", ujar Diaz yang kemudian menyalakan mesin mobil. Shazna tak menyahut wanita itu duduk bersandar dengan tatapan nyalang ke depan.


" Udah tenang mbak, nanti aku jelasin kalau tunangan mbak salah paham . Apa perlu aku jelasin sekarang ?", tanya Diaz seraya melajukan mobilnya perlahan keluar dari area parkir. Ia bisa melihat ada keresahan di wajah wanita itu.


" Dia tidak di sini sekarang, sedang tugas di luar pulau ".

__ADS_1


" Tentara ?," tanya Diaz yang mulai sedikit menambah kecepatan mobilnya saat melalui jalanan yang cukup lengang.


" Dokter ," jawab Shazna. Diaz tampak manggut-manggut, kemudian membelokkan arah laju mobilnya menuju sebuah restoran.


" Makan dulu mbak, sayang kan udah keluar sama wanita cantik gak di ajak kencan sekalian ," ujar Diaz yang di akhiri dengan tawa pemuda itu.


" Mas Diaz ada-ada aja ," ujar Shazna dengan gelengan kepala. Diaz yang santai membuat Shazna tak canggung bersama anak atasannya itu. Meski mereka baru saling mengenal.


" Mas Diaz, kenapa gak kerja di kantor Bapak ?," tanya Shazna setelah keduanya duduk berseberangan di sebuah dalam restoran yang menyajikan berbagai macam menu western.


" Masih pengen berpetualang Mbak,lagi menekuni hobby aja", jawab Diaz yang terhenti saat pelayan datang. Keduanya memesan sesuai keinginan masing-masing.


" Jadi, sekarang sedang menekuni bidang apa ?," lanjut Shazna yang cukup penasaran dengan kehidupan pemuda yang baginya terlalu mudah akrab.


" Fotografer, sebelum nanti di haruskan ngambil S2 bisnis dan harus gantiin Papa di kantor ya puas-puasin aja dulu buat bebas", terang Diaz. Keduanya terlibat obrolan santai sampai makanan mereka datang.


Saat menyantap makanan pun di selingi obrolan ringan. Shazna seperti menemukan seseorang yang mudah dan menyenangkan untuk di ajak bicara. Sosok Diaz yang meskipun santai namun tetap sopan. Membuat nyaman berada di dekat lelaki itu tanpa ada rasa was-was.

__ADS_1


__ADS_2