
Fattan berusaha tak perduli pada Dilla yang terlihat jelas marah pada dirinya. Ia meninggalkan wanita itu untuk pergi ke klinik. Sepanjang perjalanan lelaki itu memikirkan masalahnya , sungguh iapun tak ingin menyakiti Dilla.
Ia tak menyangka gadis kecil yang dulu sering ia temui menaruh rasa yang besar terhadap dirinya. Bahkan setelah perpisahan cukup lama diantara mereka. Fattan dulu memang sering bersama Dilla, menggantikan Vito untuk menjemput di sekolah. Atau sekedar mengajaknya berjalan-jalan di hari libur. Sungguh apa yang ia lakukan tak lebih hanya untuk menyenangkan gadis kecil yang telah ia anggap sebagai adik.
Namun nyatanya saat gadis itu beranjak menjadi wanita dewasa, justru mengharapkan lebih dari dirinya. Cinta kah rasa itu,atau sekedar obsesi dari seorang wanita yang merasa dia adalah miliknya.
'Ah , memusingkan saja ' kesal Fattan dalam hati.
Ia ingin segera mengakhiri drama menyebalkan dalam hidupnya. Ia hanya ingin menikmati sisa hidup bersama Shazna. Menatap wajah cantiknya di pagi hari. Mencium wanitanya penuh cinta. Mendekapnya sepanjang malam, sungguh bayangan indah yang ingin segera ia wujudkan.
' Aku kangen kamu,Shaz ' lirih batinnya menyisakan seulas senyum tipis di bibirnya. Ingin sekali ia segera kembali dan memeluk wanitanya, mencurahkan segala rindu yang membeku.
Fattan kembali memfokuskan diri pada tujuannya untuk segera ke klinik. Ia harus segera memeriksa keadaan ibu dan bayi yang di kabarkan sudah lahir.
Di desa ini ia harus serba bisa,sebab tak ada dokter spesialis kandungan ataupun spesialis anak. Ia di tuntut harus bisa belajar cepat menangani berbagai kondisi. Untungnya Lira sebagai bidan sudah cukup berpengalaman. Sehingga wanita itu, sudah sangat terbiasa menangani ibu melahirkan.
Sampai di klinik,ada beberapa orang di sana. Tampak beberapa anggota keluarga yang menunggui sang ibu yang melahirkan.
" Selamat pagi dokter !", sapa salah satu anggota keluarga yang langsung berdiri dan menyambut kedatangan Fattan seraya mengulurkan tangan, yang disambut oleh Fattan tak lupa dengan seulas senyum ramah.
__ADS_1
" Pagi Pak,bu ", balas Fattan santun. sedikit berbasa-basi sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan.
" Pagi dok ", sapa bidan Lira yang langsung sigap berdiri melihat kedatangan sang dokter.
" Pagi bu Lira ?, bagaimana semuanya lancar ?", tanya Fattan yang berdiri sesaat di depan meja kerja Lira.
" Lancar dok, tinggal menunggu kunjungan dokter, kalau semuanya baik-baik saja. Siang nanti bisa pulang ", jelas Lira yang di angguki Fattan.
Kini Fattan memasuki ruang rawat di kawal Lira, keduanya memeriksa keadaan ibu dan bayi. Semua di nyatakan baik- baik saja dan sehat. Setelah melakukan pemeriksaan keduanya berjalan beriringan keluar ruangan.
" Bu Lira bisa istirahat dulu, pasti ngantuk. Dari semalam kurang tidur ", saran Fattan. Lira tampak memijit tengkuk dengan tangannya sendiri dan memutar kepalanya yang terasa berat.
" Iya dok, kalau gitu saya pamit pulang dulu. Ada Wandy yang akan membantu dokter ", ujar Lira yang di sahut dengan senyum oleh Fattan.
Setelah semua prosedur selesai,ibu dan bayi di persilahkan pulang. Ada beberapa pasien rawat jalan yang sudah menunggu untuk di periksa. Sepertinya hari ini aku akan cukup sibuk.
Kesibukan seperti ini lah yang bisa membuat Fattan bertahan sejauh ini. Karena di saat sibuk pikirannya tidak melulu tentang Shazna. Wanita yang telah menguasai seluruh jiwanya.
" Dok, Dokter !", suara terengah-engah, dengan nafas tersengal. Lira berlari menerobos ruangan Fattan yang kini tinggal lelaki itu yang duduk di kursi kerjanya. Fattan menoleh asal suara menatap Lira dengan dahi sedikit mengernyit. Lelaki itu belum bersuara, membiarkan wanita itu mengambil nafas dan menenangkan diri.
__ADS_1
" Duduk bu Lira ", ucap Fattan mempersilahkan Lira untuk duduk, ketika terlihat wanita itu sedikit tenang. Lira menuruti perintah sang dokter. Fattan tampak meraih botol kecil berisi air mineral yang di simpan di dekat meja kerjanya.
" Minum dulu ", ujar Fattan sembari menyodorkan botol minuman. Lira menerima dan membuka tutup botol tersebut. Fattan tak memberi pertanyaan,ia hanya memperhatikan Lira dalam diam.
" Terima kasih dok ", ucap Lira setelah meneguk setengah dari air mineral kemasan itu.
" Dila dok,dia pergi dari rumah Pak Kades membawa semua barang-barangnya. Saya sudah berusaha menahannya tapi dia tetap pergi diantar oleh dua orang yang tidak saya kenal. Tapi sepertinya Dila cukup mengenal mereka ", jelas Lira pada Fattan.
Fattan tampak menghela nafas kasar. Wanita itu kembali berulah.
'' Dia bilang mau kemana ?", tanya Fattan yang kini menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan tatapan masih terarah pada Lira di hadapannya.
" Pulang katanya Dok ", sekali lagi Fattan hanya bisa menghela nafas.
" Ya sudah,dia sudah cukup dewasa untuk memilih jalannya sendiri. Nanti tinggal saya kabari saja keluarganya. Semoga tidak terjadi apa-apa ", ucap Fattan dengan nada biasa saja. Meski sesungguhnya ada rasa khawatir yang singgah di hatinya. Tapi ia tak mau memperlihatkan rasa itu dengan jelas.
" Apa tidak terlalu bahaya dok, membiarkan Dilla pulang sendiri ?", tanya Lira, wanita itu cukup khawatir meski tak terlalu menyukai sikap wanita muda yang baginya sangatlah manja.
Fattan membuang pandangannya,ada rasanya ia pun sama khawatirnya dengan Lira. Tapi mengejar wanita itu, akan membuat dirinya semakin terperangkap. Karena pasti itu yang Dilla inginkan. Dirinya mengejar wanita itu dan mempertahankan untuk tetap di sana.
__ADS_1
" Sebenarnya saya juga tidak terlalu yakin, tapi Ibu pasti tau,apa yang akan terjadi jika aku menghentikan keinginan nya ", sahut Fattan dengan tatapan menerawang.
" Saya mengerti maksud dokter, mungkin memang sebaiknya kita percaya saja dengan pilihan dia untuk pergi dari sini. Bahkan tanpa ijin dari dokter ", ujar Lira yang sesungguhnya tak sama dengan rasa was-was di hatinya.