
'' Kok kamu di sini ?,'' tanya Shazna pada lelaki yang masih memandang jauh pada hamparan air di hadapannya. Sesaat Shazna menatap dari samping lelaki dari masa lalunya itu. Sadar wanita di sampingnya menatap pada dirinya. Fattan menoleh, sesaat tatapan mereka saling mengunci. Sampai Shazna memalingkan wajah.
'' Karena aku gak mau kamu melewati hal menyakitkan ini sendiri. Cukup aku sudah menyakiti dan meninggalkan kamu dulu,'' sahut Fattan yang kini bergantian menatap sang wanita dari samping.
'' Kamu sedang mencoba menebus masa lalu ?,'' kali ini Shazna bertanya tanpa menatap wajah Fattan. Ia menatap gulungan ombak yang datang bersama bias sinar matahari yang menguning.
'' Tidak, karena keputusanku di masa lalu tak mungkin aku tebus. Maaf untuk semua hal yang telah aku lakukan di masa lalu. Maaf atas ego yang lebih aku kedepankan dulu,'' ujar Fattan,dua manusia itu termenung menatap ke depan. Cukup lama tak ada sahutan dari Shazna.
Hening, menemani mantan sepasang kekasih itu. Hanya suara ombak yang terdengar. Tampak burung terbang di angkasa luas,di ujung barat mentari semakin rendah, menyisakan semburat jingga yang mempesona.
'' Tidak ada yang perlu di maafkan. Mungkin aku pernah berada di saat terpuruk. Menyalahkan keadaan yang terjadi. Tapi sebenarnya memang garis takdir tak mungkin kita hindari. Dan aku ter takdir harus melewati semua itu,'' sahut Shazna tanpa memalingkan wajah dari jingga di yang begitu indah. Fattan tersenyum mendengarnya .
Kini lelaki itu menatap dalam wanita yang masih mengisi hatinya. Kemudian ia bangkit berdiri, melangkahkan kaki semakin mendekati air. Di bawa senja yang merona, Shazna terpaku menatap pemandangan di hadapannya. Warna emas yang terpancar dari sang surya menerpa wajah yang ternyata masih memancarkan pesona yang tak terbantahkan.
Shazna tersenyum sendiri, menertawakan hati yang terpesona pada sang mantan yang mungkin sengaja sedang memamerkan pesonanya. Shazna beranjak dan melangkah mendekati Fattan. Berdiri di samping lelaki yang sedang menatap senja.
__ADS_1
'' Siapa tadi yang pergi dengan tunangan kamu ?,''tanya Fattan yang menyadari Shazna telah berada di sampingnya. Shazna tersenyum getir, menundukkan wajah menatap kaki yang tak memakai alas .
'' Kamu melihatnya ?,'' tanya Shazna,Fattan mengangguk meski tak di lihat oleh Shazna.
'' Dia calon istri Brandon,'' sambung Shazna yang sukses membuat Fattan menoleh pada Shazna yang masih menunduk memainkan pasir di kakinya. Lelaki itu tampak terperangah mendapati jawaban Shazna.
'' Maksud kamu ?,'' Fattan bertanya dengan dahi mengernyit.
'' Wanita yang dipersiapkan ibunya untuk mendampingi Brandon,'' terang Shazna yang kini telah mengangkat kepala, menatap langit yang mulai memudarkan warna jingga.
'' Aku hanya melihat kesungguhan lelaki yang katanya sedang memperjuangkan hubungan ini. Aku lihat sampai dimana ia mampu bertahan. Sampai waktunya tiba,aku akan dengan rela melepaskan. Jika memang hubungan ini tidak pantas untuk di perjuangkan,'' ungkap Shazna membuat sebuah lengkungan di bibir Fattan.
Fattan berada di sana sore itu, bukan sebuah kebetulan. Lelaki itu melihat Brandon yang digelayuti seorang gadis di lengannya siang tadi . Dan sore ia sengaja menghampiri kantor sang mantan kekasih untuk memastikan keadaan wanita itu. Benar dugaannya wanita itu tak baik-baik saja.
Senja tenggelam bersama malam yang datang. Dua orang itu melangkah beriringan beranjak dari tepi pantai.
__ADS_1
'' Cari makan dulu yuk !," ajak Fattan seraya sebelah tangannya meraih tangan Shazna. Wanita itu sejenak terpaku hingga menghentikan langkahnya. Fattan menoleh, seraya tersenyum lembut tanpa melepas genggaman tangannya.
Fattan menunduk dan baru menyadari wanita itu tak mengenakan alas kaki. Fattan melepaskan genggamannya, kemudian mengusap kepala Shazna dengan lembut.
'' Tunggu sebentar,'' ucap lelaki yang berhasil membuat sang mantan mematung di tempat dengan debaran dada yang tak biasa.
Sampai Fattan telah meninggalkan dirinya, Shazna baru tersadar dari keterpakuan. Wanita itu memegang dadanya merasakan debaran yang belum reda.
'' Apa-apaan kamu Shaz,'' gumam Shazna pada dirinya sendiri, sambil menggelengkan kepala menyadarkan dirinya.
Tak berselang lama, Fattan kembali dengan sandal jepit di tangannya. Lelaki itu menunduk, meletakkan sandal di hadapan Shazna. Fattan menengadahkan kepala menatap Shazna dengan sebuah senyum di bibir lelaki itu. Shazna tersenyum tersipu , kemudian mengangkat kaki dan memakai sandal yang di bawakan oleh Fattan.
Fattan kembali menegakkan badannya. Tanpa berucap sepatah kata, kembali lelaki itu menggenggam tangan Shazna. Keduanya beriringan melangkah menjauh dari tepi pantai. Menuju tempat makan yang terdapat di sekitar sana.
Dalam diam, keduanya terus melangkahkan kaki. Ada banyak kecamuk rasa yang menghampiri keduanya. Ada bayang masa lalu yang turut hadir. Mengajak memori untuk bernostalgia tentang rasa yang sesungguhnya belum seutuhnya punah.
__ADS_1