Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Apalagi ini ??


__ADS_3

Beberapa hari setelah kepergian Dilla, belum ada kabar dari wanita itu. Fattan pun belum sempat memberi tahu Vito tentang perginya sang adik tanpa pamit. Ia di sibukkan dengan segala kegiatan di desa yang telah ia rancang.


Pembuatan wc umum sedang dalam proses. Kendala jalan yang kurang mumpuni membuat pekerjaan sedikit terhambat. Semua berjalan tak sesuai rencana,tapi Fattan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan di sini. Ia harus bisa mengubah pola hidup masyarakat di sana. Bertahap ia mulai bisa mengubah kebiasaan buruk masyarakat. Dari yang biasanya semua di lakukan di sungai dari mandi, mencuci hingga buang air besar,kini kebiasaan tersebut mulai bisa di ubah.Meski terkadang masih ada satu dua orang yang tetap melakukan hal tersebut meski sudah di larang.


" Siang dok !", ketukan serta sapaan dari seseorang membuat Fattan mengalihkan perhatiannya dari lembaran kertas di hadapannya.


" Ya,bu Lira. Silahkan masuk ;", ucap Fattan pada bidan Lira yang tersenyum dan mengangguk kemudian melangkah masuk je dalam ruangan Fattan.


" Duduk bu ", perintah Fattan,Lira duduk berseberangan dengan lelaki yang kini menatap ke arahnya.


" Maaf mengganggu Dok, tadi ada orang dari balai desa, membawa surat untuk dokter ", ucap Lira seraya menyodorkan amplop pada Fattan yang langsung diterima oleh itu.


" Terima kasih Bu Lira ", ucap Fattan dengan sopan


" Sama-sama Dok, kalau begitu saya permisi. Masih ada jadwal kunjungan ke posyandu ", tutur Lira sembari bangkit dari duduknya.


" Oh ya silahkan", sahut Fattan mempersilahkan Bu Lira yang kini sedang aktif mengajak masyarakat untuk memberi imunisasi lengkap, serta penimbangan balita secara rutin. Kehadiran mereka di desa tersebut cukup mampu mengubah kebiasaan masyarakat sekitar di bidang kesehatan serta kebersihan lingkungan.

__ADS_1


Fattan membuka amplop tersebut, selembar kertas berisi surat dari rumah sakit pusat. Surat yang menginstruksikan dirinya untuk kembali ke rumah sakit pusat. Surat panggilan resmi dari direktur yang menanyakan tentang salah satu anggotanya yang kembali sendiri.


Dilla, lagi-lagi ia membuat ulah. Entah apa yang di laporkan olehnya. Sampai ia di panggil untuk kembali,di saat ia hampir menyelesaikan pekerjaan di desa. Ada resah namun juga bahagia yang menggelayut dalam dada.


Bayang wanitanya menari di pelupuk mata. Rindu yang menggebu itu sebentar lagi terobati. Ia bisa memeluk wanitanya dan mencurahkan segala kerinduannya.


Ada seulas senyum tipis saat membayangkan tentang Shazna. Meski ada rasa khawatir tentang surat panggilan untuk dirinya. Yah,dia adalah pemimpin rombongan yang datang ke desa dan kini salah satu anggotanya kembali tanpa ijin darinya. Dan sialnya, wanita itu adalah Dilla yang notabene masih memiliki hubungan dekat dengan direktur. Karir Fattan yang mungkin akan jadi taruhan.


Lelaki itu menghela nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Apapun yang terjadi nanti ia harus menghadapinya. Tak ada yang perlu ia takutkan.


Hari itu keduanya akan bertemu dengan klien di salah satu restoran. Mereka keluar dari ruangan dan kini keduanya berada dalam lift yang hanya berisi Shazna dan atasannya. Shazna berdiri sedikit di belakang sang atasan.


" Malam Minggu besok,saya minta tolong kamu untuk menghadiri makan malam dengan relasi bisnis saya. Nanti kamu akan pergi dengan anak bungsu saya . Saya tidak bisa menghadiri acara itu karena sudah membuat janji dengan istri ", ungkap lelaki itu tanpa menoleh ke arah Shazna.


" Baik pak ", hanya itu yang terucap oleh Shazna atas perintah sang bos. Perintah atasannya adalah bagian dari pekerjaannya. Tak ada lagi obrolan dari keduanya sampai pintu lift terbuka di lantai satu.


Dan dua pasang mata itu melihat pada satu objek yang sama. Lelaki bertubuh tinggi yang terlihat tampan dengan kulit bersih dan putih. Tampak tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.

__ADS_1


" Pa kebetulan,Diaz mau ketemu Papa ", ucap lelaki yang tampak menenteng tas punggung. Sang ayah tampak menghela nafas dalam melihat putra bungsunya yang masih tersenyum menatap pada dirinya yang kini telah keluar dari lift.


" Ada apa ?", tanya pak Setiawan pada anaknya. Kemudian lelaki itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.


" Kata Mama, malam Minggu besok aku mesti hadiri acara makan malam sama sekertaris Papa. Diaz mau mastiin aja Pa. Kalau sekertaris Papa tuh bukan tante-tante " ucap lelaki yang kelihatannya memang masih muda. Kurang lebih berumur 23 tahun.


Pak Setiawan menghembuskan nafas panjang seraya menggelengkan kepala. Kemudian ia menggeser tubuhnya yang menghalangi Shazna yang diam membatu di belakang sang atasan.


" Apa menurut kamu,dia tante-tante ?", tanya Pak Setiawan pada sang anak, membuat Diaz menoleh ke arah wanita yang berdiri sedikit di belakang sang ayah. Seketika mata itu terbelalak melihat makhluk cantik yang tersenyum dan mengangguk kecil pada dirinya.


" Sudah nanti-nanti saja kenalannya,Papa sudah hampir terlambat ini", tegur Pak Setiawan yang melihat gelagat sang anak yang akan mengulurkan tangan pada Shazna .


" Ah Papa gak asyik ", gerutu Diaz yang tak dihiraukan oleh ayahnya.


" Ayo Shaz, sudah terlambat kita ! ", ajak Pak Setiawan tanpa menoleh dan meneruskan langkah. Shazna mengikuti langkah sang atasan, melewati Diaz yang masih terpaku di tempat dengan tatapan mengikuti Shazna yang mengangguk kecil saat melewati dirinya.


" Buset cantik banget, spek bidadari ini mah ", gumam Diaz seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2