Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Ada Apa dengan Dilla ?


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, Fattan dengan segala kesibukannya di desa. Dari bertugas di sebuah klinik desa tersebut, hingga ikut dalam kegiatan desa, membersihkan sungai yang digunakan masyarakat desa . Untuk mandi dan mencuci ,dari sampah yang tadinya di buang sembarangan.


Hari itu di desa tampak ramai, warga sedang kerja bakti mengumpulkan sampah yang masih tersisa di sungai yang kini mulai tampak lebih bersih. Di desa tersebut masih cukup jarang sumur sehingga lebih banyak warganya yang menggunakan sir sungai untuk keperluan sehari-hari, kecuali untuk memasak. Mereka mengambil air bersih dari sumur umum yang terletak cukup jauh dari pemukiman warga.


Fattan berjalan di depan menuruni jalan menuju sungai yang cukup curam. Seperti biasa Dilla selalu menempel lelaki itu. Hal yang sudah tidak lagi mengherankan untuk warga desa.


'' Aduh mas, pelan-pelan jalannya licin,'' rajuk manja Dilla. Fattan menghela nafas dan melihat alas kaki yang di gunakan wanita itu. Meski bukan hak tinggi namun wedges yang di gunakan Dilla cukup mempersulit langkahnya.


'' Lagian kamu ngapain pake sandal kayak gitu. Udah tau kan kita mau ke sungai. Tadi seharusnya kamu pakai sandal jepit aja biar enak jalannya,'' ucap Fattan sedikit keras. Ia sudah cukup di buat kesal berkali-kali oleh adik sahabatnya itu.


Dilla yang manja,yang setiap hari mengeluhkan keadaan di sana. Belum lagi rengekan gadis itu yang ingin shopping ,ke salon,dan banyak lagi keinginannya.


'' Ih mas Fattan ,masa aku pake baju kayak gini pakainya sandal jepit sih,gak matching dong,'' protes Dilla, Fattan menghirup nafas dalam. Mengurai rasa kesal yang menyelimuti hati.

__ADS_1


'' Gini aja deh Dil, kamu ikut ke bawah dan gak usah banyak protes. Atau kamu naik lagi ke atas tunggu kita di atas aja. Kita ke sini bukan untuk main-main ya. Jadi tolong, kamu bersikaplah sedikit lebih dewasa,'' Fattan tak mampu lagi menahan gejolak amarahnya. Tanpa menunggu jawaban dari Dilla, Fattan meninggalkan gadis yang masih termangu itu.


Dilla menatap nanar Fattan yang berjalan diikuti beberapa orang yang melewati dirinya. Ia tak menyangka Fattan bisa sekeras itu terhadap dirinya. Gadis itu hanya bisa berkaca-kaca, sampai sebuah tepukan kecil di pundaknya menyadarkan gadis itu dari lamunan.


'' Mau turun ?,'' tanya Lira yang ternyata masih berada di belakang Dilla. Gadis itu hanya mengangguk. Kemudian membuka wedges yang ia pakai agar mempermudah ia menuruni jalan curam tersebut.


'' Mbak Lira, apa sih kurangnya Dilla sampai mas Fattan gak pernah bisa sekali saja melihat Dilla ?,'' tanya Dilla yang sebenarnya sadar lelaki yang di sukai dirinya tak pernah membalas perasaannya. Lira tersenyum, keduanya berjalan perlahan.


'' Cinta itu bukan sesuatu yang bisa kita paksakan. Bukan masalah kurang atau lebih,tapi tentang rasa yang sudah terlanjur mengikat hati ,'' keduanya berhenti sejenak, menatap pada orang-orang yang sudah mencapai dasar jalan curam.


Wanita itu tak bisa memungkiri jika memang semua telah sia-sia. Mengikuti Fattan hingga ke desa terpencil dengan harapan mampu membuat lelaki itu berpaling dari kekasihnya. Nyatanya lelaki itu sama sekali tidak tergoda dengan dirinya. Mungkinkah saatnya dia menyerah ?.


Meninggalkan Dilla yang galau sendiri, Fattan beserta warga telah memulai kegiatan mereka. Memungut sampah plastik yang cukup banyak, mereka memasukkan ke dalam kantong-kantong yang telah di persiapkan. Fattan membaur bersama masyarakat di sana.

__ADS_1


Sembari membersihkan sungai Fattan sedikit demi sedikit membicarakan tentang hidup sehat, pembicaraan ringan yang membuat mereka tak merasa digurui. Agar mereka bisa menerapkan sedikit demi sedikit, tak lagi membuang sampah di sungai . Atau buang air besar juga di sungai yang mereka gunakan untuk mandi dan mencuci. Fattan sedang mengupayakan agar ada wc umum. Ia tak bisa sertamerta mengarahkan tanpa memberi solusi.


Cukup lama mereka berada di sungai, kantong-kantong sampah kosong telah terpasang di pinggir sungai , sebagai wadah jika ada sampah di sana. Saat beristirahat Fattan baru menyadari keberadaan Dilla yang tak berada dalam rombongan.


'' Bu Lira , Dilla tadi gak jadi turun ?,''tanya Fattan pada Lira saat mereka duduk lesehan di atas batu besar. Lira yang ditanya mengedarkan pandangannya,dan tak mendapati orang yang ia cari.


'' Tadi waktu saya turun , memang masih di setengah jalan. Saya pikir dia menyusul dok,'' sahut Lira.


'' Ya sudah , mungkin menunggu di atas ,'' ujar Fattan, meski Dilla cukup menjengkelkan namun ia tak bisa abai sebab gadis itu adik dari sahabatnya.


'' Pak dokter, pak dokter ! ,'' suara teriakan dari atas terdengar membuat mereka yang berada di sana terhenyak.


'' Bu Dilla Pak , bu Dilla ,'' suara panik wanita paruh baya yang berlari turun. Fattan tersentak, pikirannya tertuju pada gadis yang selalu mengekor pada dirinya.

__ADS_1


'' Dilla kenapa bu ?,'' tanya Fattan panik. Ia akan sangat merasa bersalah jika terjadi sesuatu pada gadis yang sudah di anggapnya sebagai adik.


'' Bu Dilla terluka, beliau sudah di bawa ke klinik,'' terang Ibu itu. Fattan. Beranjak dan bergegas dari sana. Dengan bertelanjang kaki lelaki itu berlari menaiki jalan terjal itu. Meninggalkan orang-orang yang sesaat kemudian mengikuti dirinya meninggalkan sungai.


__ADS_2