
Shazna duduk di ayunan yang berada di taman belakang rumah, setelah mereka makan siang bersama. Sedang Fattan berdiri tak jauh darinya, bersandar pada pagar taman.
'' Jadi rencana kamu ke depannya gimana ?,'' tanya Fattan dengan tatapan tak lepas dari Shazna yang berayun perlahan.
'' Cari kerja,udah buat beberapa cv sih, tinggal masukin ke perusahaan-perusahaan yang ada lowongan aja,'' sahut Shazna .
'' Aku ada temen butuh asisten, kamu mau kalau mau aku rekomendasikan ,'' ujar Fattan, Shazna menatap sekilas lelaki itu sebelum berayun kembali.
'' Thank's ,aku usaha sendiri aja dulu,'' jawab Shazna, Fattan tersenyum mendapati jawaban yang sudah ia duga .
'' Kamu ternyata masih Shazna yang sama, Shazna yang dulu aku kenal'' ucap Fattan membuat Shazna melengkungkan bibirnya. Fattan cukup faham wanita itu yang lebih senang berusaha sendiri untuk mencapai keinginannya.
'' Aku juga berharap dalam hati kamu masih tersisa rasa yang dulu,'' tambah Fattan membuat Shazna menoleh lelaki itu dengan tatapan jengah. Shazna turun dari ayunan , menoleh sekilas ke arah Fattan dan berujar sambil lalu.
'' Kalau untuk itu jangan terlalu banyak berharap.''
Shazna melangkah meninggalkan taman, hatinya belum pulih atas kisah cintanya yang baru kandas. Bagaimana mungkin ia mengukir kisah kembali dengan masa lalunya ?. Bahkan ibarat luka ,bekas itu masih mengangah dan basah.
__ADS_1
'' Shaz !," panggil Fattan seraya meraih pergelangan tangan Shazna, menghentikan laju langkah wanita itu. Shazna menatap tak suka pada Fattan. Lelaki itu menunduk, dengan raut gusar tergambar di wajahnya. Namun genggaman tangan di pergelangan tangan Shazna tak jua melemah.
'' Aku ,aku gak punya banyak waktu Shaz,'' ucap Fattan terbata. Membuat Shazna mengernyitkan dahi tak mengerti maksud lelaki yang masih menggenggam erat tangannya.
'' Maksud kamu ?,'' tanya Shazna di tengah rasa risau yang tiba-tiba menyeruak dalam benaknya.
'' Minggu depan ,aku ikut rombongan sukarelawan ke daerah pedalaman. Belum bisa aku pastikan kapan aku kembali. Tapi tolong ,'' ucapan Fattan terhenti, lelaki itu mengambil sesuatu dalam saku celananya. Sebuah cincin ia keluarkan tanpa kotak tanpa wadah apapun. Hanya sebuah cincin sederhana yang Fattan sodorkan pada Shazna.
'' Tolong kamu terima ini ,''lanjut Fattan sembari meletakkan cincin di telapak tangan Shazna .
'' Maksud kamu ?, kamu melamar ku ?,aku ,'' Shazna terbata-bata , namun Fattan segera menutup telapak tangan Shazna dan tersenyum tipis.
Shazna terpaku di tempat, dengan tatapan tak lepas dari tangannya yang tergenggam. Ada gemuruh rasa yang memporak-porandakan hatinya. Membuat mata wanita itu berkaca-kaca.
'' Berapa lama ?,'' tanya Shazna tanpa menatap Fattan .
'' Aku sendiri tidak tahu. Tapi paling lama satu tahun,'' jawab Fattan,ia pun tak bisa memberi kepastian.
__ADS_1
'' Yakin selama itu ,kamu bisa aku tunggu ?,'' tanya Shazna yang kini memberanikan diri menatap wajah sendu di hadapannya.
'' Sembilan tahun saja tidak merubah apapun tentang perasaanku padamu,ini tak lebih dari setahun. Apa kamu masih meragukan aku ?,'' Fattan membalikkan pertanyaan. Lelaki itu menatap dalam bola mata berkaca-kaca di hadapannya.
'' Manusia bisa saja berubah,''ucap Shazna, Fattan menyelipkan helaian rambut Shazna yang terbang tertiup angin.
'' Aku tidak menyangkal tentang itu. Tapi jaminan ku hati ini Shaz,'' ucap Fattan seraya membawa telapak tangan Shazna menyentuh dada bidangnya. Air mata tak lagi bisa terbendung, tanpa permisi butir bening itu meleleh di pipi Shazna.
Fattan meraih tubuh sang wanita dan membawanya ke dalam pelukan.
'' Kenapa ?,'' lirih Shazna di sela isak tangisnya.
'' Mungkin Tuhan masih mau menguji cintaku,'' sahut Fattan semakin mengeratkan pelukannya. Shazna terisak dalam pelukan lelaki yang namanya belum seutuhnya terhapus dalam hati. Fattan adalah cinta pertamanya. Pelukan pertamanya dan bahkan ciuman pertamanya. Sulit untuk menghapus tentang lelaki itu dalam hidupnya. Dan kini saat luka kembali basah, lelaki itu menawarkan penangkalnya. Saat ia merasa nyaman dengan keberadaan lelaki itu,kini ia harus di tinggalkan kembali. Oh, rencana apa yang tertulis dalam takdir cintanya ?.
Fattan melepaskan pelukannya, mengusap air mata itu dengan dua ibu jarinya.
'' Apa kamu bersedia menungguku ?,''tanya Fattan membuat siang hari itu terlihat kelambu. Dalam deraian air mata yang masih mengenang di pipinya, Shazna mengangguk pasti. Reflek Fattan kembali memeluk tubuh itu. Keduanya tenggelam dalam bingkisan kisah masa lalu mereka.
__ADS_1
Dan awan terang di atas sana, menjadi saksi tentang dua hati yang masih terikat pada satu rasa. Hati yang masih setengah dalam melepaskannya.