
Ketukan pintu terdengar berkali-kali di pintu depan rumah Shazna. Wanita yang sedang menyelimuti sang ayah yang telah terlelap itu tampak mendengus kesal, mendengar ketukan uang di rasa tak sabaran itu.
'' Siapa sih malam-malam,'' gerutu Shazna seraya menutup pintu kamar sang Ayah dan melangkah menuju pintu depan. Dengan sedikit kesal Shazna membuka pintu dan tak di sangka siapa yang berdiri di sana.
'' Mas,'' ucap Shazna terputus melihat Brandon berdiri dengan penampilan berantakan. Rambut yang biasa tersisir rapi kini tampak acak-acakan. Kemeja kerjanya keluar sebagian dari celana yang ia kenakan dengan lengan baju yang tergulung sampai siku. Dan dasi yang telah terlepas dari leher lelaki yang kini melepas kacamata yang biasa bertengger di hidungnya.
Tanpa aba-aba , Brandon menarik tubuh Shazna masuk ke dalam pelukannya. Shazna mendorong tubuh jangkung itu, namun tak membuat Brandon melepaskan pelukannya. Justru lelaki itu semakin erat memeluk tubuh Shazna yang membatu di tempat.
'' Please sebentar sayang,aku kangen,''ungkap Brandon dengan nada lemah. Shazna tak menolak ataupun menerima pelukan Brandon. Wanita itu tampak mematung. Melihat betapa lelaki itu hancur membuat hatinya terasa tersentil. Namun untuk kembali memulai dengan lelaki itupun ia tak akan pernah mungkin bisa.
Brandon melepaskan pelukannya, menatap wajah Shazna yang tampak diam tanpa ekspresi. Membelai wajah yang begitu dirindukannya. Shazna meraih tangan Brandon dari wajahnya. Wanita itu menggeleng lemah.
'' Gak bisa kayak gini mas,'' lirih Shazna, Brandon menatap dalam wanita di hadapannya. Meraih tangan Shazna dan di genggamannya dengan lembut.
'' Aku gak bisa sayang,aku gak bisa tanpa kamu,'' ucap Brandon dengan mata berkaca-kaca. Baru dua hari dan hidupnya berantakan tanpa Shazna. Shazna menggeleng lemah sembari menarik tangannya dari genggaman Brandon.
Shazna menggeleng pelan, menatap wajah kusut di hadapannya. Sungguh hatinya pun teriris melihat lelaki penuh cinta itu tampak putus asa.
'' Gak mungkin lagi mas,gak ada pilihan,'' ucap Shazna lemah.
'' Kenapa gak mungkin ?,kita tetep bisa sama-sama,gak perduli mana merestui atau tidak. Yang penting kamu tetap di sampingku Shazna,'' ucap Brandon yang kini kembali meraih pipi Shazna dan di belainya dengan lembut, sorot mata itu begitu memilukan.
'' Terus bagaimana dengan Kellie ?,'' sambung Shazna.
__ADS_1
'' Mereka menginginkan status pernikahan, biarkan dia tetap menjadi istri ku. Dan kamu akan tetap menjadi pemilik hatiku. Ayo kita jalani sama-sama,aku gak perduli orang akan bicara apa tentang kita. Aku hanya mau kamu,'' ucap Brandon penuh keputusasaan . Shazna tak bisa membendung laju air matanya. Saat melihat mata sayu penuh pilu di hadapannya.
'' Pernikahan bukan permainan mas,jangan main-main dengan ikrar suci di hadapan Tuhan,'' ujar Shazna mencoba mengembalikan kewarasan seorang Brandon yang sedang terpuruk.
'' Tapi hidupku memang tak lebih dari permainan,'' lirih Brandon yang kini tertunduk. Kemudian lelaki itu menengadah dan menghapus air matanya dengan telapak tangan lebarnya.
'' Aku tak pernah bisa menentukan hidupku sendiri, karena aku cuma wayang bagi dalang yang memainkan kehidupan ku,'' ucap Brandon dengan senyum getir yang mengulas di bibir lelaki itu. Terlihat luka yang tergambar jelas di bola mata itu. Shazna menggenggam tangan Brandon.
'' Ayo cari angin di luar !," ajak Shazna yang merasa butuh waktu untuk berbicara dari hati ke hati. Ia tak ingin mereka saling melepaskan dengan saling membenci. Biar mereka saling menyakiti setidaknya perpisahan mereka tidak meninggalkan rasa benci di hati keduanya.
Brandon menurut saja,saat Shazna menyuruhnya masuk ke dalam mobil milik Shazna. Wanita itu mengemudikan dengan pelan, menembus jalanan malam yang mulai tampak sunyi. Keduanya masih membisu dalam diam.
Sampai Shazna menghentikan laju mobilnya di sebuah lapangan yang cukup luas. Tampak sepi, hanya ada beberapa lampu di pinggir lapangan. Masih ada beberapa orang tampak duduk di pinggir lapangan. Namun cukup jauh dari tempat Shazna berhenti.
Keduanya menengadah menatap langit yang menampakkan wajah gelapnya. Hanya ada beberapa bintang yang mengerling di atas sana.
'' Aku pikir dengan melihat kamu bahagia bakal lebih mudah buat aku melepas kamu. Tapi ternyata baru melihat kamu tertawa dengan lelaki lain, rasanya sakit di sini,'' ucap Brandon seraya memegang dadanya sendiri. Shazna menoleh, menatap lelaki yang berbicara seraya menatap langit yang pekat. Seperti hati dua anak manusia yang sedang dilanda gundah.
'' Dan itu juga yang aku rasakan saat aku harus melihat kamu dengan wanita lain. Aku tahu ini gak akan mudah buat kita. Tapi lebih baik sakit karena saling melepaskan dari pada kita bertahan dan menanam bom waktu yang bisa kapan saja meledak. Tolong hargai keputusan ku. Aku tidak mau dianggap menjadi wanita tidak tahu diri,'' ujar Shazna.
Brandon tersenyum tipis, menatap wanita yang selalu cantik di matanya.
'' Maaf aku yang selalu egois , yang hanya memikirkan perasaanku saja. Benar yang kamu katakan, tidak mungkin kita bertahan dengan hubungan abu-abu seperti ini. Bahkan aku tidak tahu harus membawa hubungan kita kemana. Dengan menjadikan kamu wanita simpanan ku sama saja aku merendahkan harga dirimu,'' ucap Brandon diakhiri senyum getir.
__ADS_1
Shazna menggenggam tangan Brandon keduanya saling menatap dengan tatapan yang dalam.
'' Everything gonna be oke, trust me,'' ujar Shazna. Brandon membalas dengan menggenggam tangan Shazna.
'' Jalani saja dengan ikhlas apa yang sudah tertulis dalam lembar takdir kita,'' imbuh Shazna.
'' Boleh aku peluk ?, mungkin untuk yang terakhir,'' ucap Brandon, Shazna tersenyum dan mengangguk kecil.
Brandon merengkuh tubuh Shazna dalam pelukannya. Menghirup dalam wangi wanita itu. Menyimpan dalam memori batinnya. Untuk menjadi sebuah kenangan yang mungkin akan menjadi sebuah kenangan terindah dalam hidupnya. Ia harus rela melepaskan saat ia sendiri tak bisa menjanjikan sebuah kebahagiaan.
'' Terus untuk urusan kerja ,harus banget mengundurkan diri ?,'' tanya Brandon setelah melepaskan pelukannya.
'' Sorry aku butuh waktu untuk menata hatiku kembali,'' sahut Shazna.
'' Kalau kamu gak kerja terus ayah gimana ?,'' tanya Brandon yang merasa wanita itu masih membutuhkan pekerjaan.
'' Don't worry,aku masih ada tabungan. Dan aku pasti dapat kerja secepatnya,'' jawab Shazna menenangkan kekhawatiran lelaki yang masih menatapnya penuh cinta.
'' Jangan benci aku, aku tahu aku jadi lelaki tidak tegas dan plin-plan. Tapi tolong jangan benci aku,'' ucap Brandon dengan tatapan mengiba. Shazna mengangguk mantap.
'' Aku gak mungkin membenci kamu. Aku tahu apa yang membuat kamu tidak tegas. Mungkin semua terlihat sebagai bentuk balas budi. Tapi bisa jadi itu memang rencana yang sudah Tuhan garis kan untuk kita. Percaya rencana Tuhan akan jauh lebih indah akhirnya dari pada rencana yang kita rangkai sendiri,'' tutur Shazna.
Keduanya saling menatap dalam senyum. Memberi kekuatan pada hati masing-masing. Menyakinkan diri bahwa inilah jalan terbaik yang harus mereka lalui.
__ADS_1