
Shazna tampak membuka mata, sesaat wanita itu terlihat mengernyitkan dahi. Menatap sekeliling dan merasakan sebuah tangan berada di atas telapak tangannya. Shazna menoleh ke arah samping, melihat Fattan yang terlelap dengan tubuh setengah duduk.
Wanita itu menatap Fattan cukup lama, tatapan yang menyiratkan tentang kegelisahan wanita itu. Dengan perlahan, Shazna memindahkan tangan Fattan. Wanita itu bergerak pelan, berharap lelaki yang masih terlelap itu tak menyadari pergerakannya. Shazna turun dari ranjang, menoleh ke arah meja yang terletak di dekat Fattan. Di sana tampak tas serta ponsel miliknya.
Shazna melangkah dengan hati-hati kemudian mengambil barang-barang miliknya. Saat menekan tombol di ponsel,ia mendapati jika ponsel miliknya dalam keadaan mati. Tak mau membuat Fattan terbangun karena suara ponsel yang di aktifkan. Shazna melangkah keluar kamar.
Shazna meninggalkan kamar tamu, setelah keluar dari kamar, wanita itu mengaktifkan kembali ponsel miliknya. Wanita itu berjalan dengan wajah menunduk,saat membuka ponselnya yang entah sejak kapan dalam keadaan mati.
'' Non Shazna, mau kemana ?,'' suara Bi Rumi membuat Shazna mengangkat wajah,dan menatap wanita paruh baya yang sedang menyapu ruang tamu.
'' Mau pulang bi, sudah sore,'' sahut Shazna sambil tersenyum.
'' Lho gak diantar sama Mas Fattan ?,'' tambah Bi Rumi yang kini menghentikan kegiatannya.
'' Fattan nya ketiduran Bi. Biarin aja, kayaknya dia capek. Saya pakai taksi online saja. Kalau gitu Shazna pamit dulu Bi,'' ucap Shazna dengan lembut tak lupa seulas senyum tipis tergambar di bibir wanita itu.
'' Iya non, hati-hati,'' sahut Bibi yang di tanggapi dengan anggukan oleh wanita itu. Dengan langkah pasti, Shazna keluar dari rumah minimalis modern yang tampak sempurna dimatanya. Karena di setiap sudut rumah tersebut adalah keinginan dirinya dulu. Setiap yang pernah ia katakan pada Fattan ternyata di wujudkan lelaki itu.
Menunggu beberapa saat, taksi online yang di pesannya datang. Shazna duduk di kursi belakang. Tatapan mata wanita itu tampak nanar. Ingatannya kembali pada kejadian siang tadi. Apa yang di ucapkan oleh ibu dari kekasihnya sungguh melukai hatinya.
Namun ada ego yang justru membisiki dirinya agar tetap bertahan dengan Brandon. Ada kekerasan hati yang seakan ingin membuktikan diri. Jika wanita yang dianggap tak layak ini adalah wanita pilihan anak lelakinya. Seorang lelaki yang siap mempertaruhkan segalanya demi seorang wanita yang dianggap tak pantas.
__ADS_1
Namun ada kerapuhan di sisi lain hatinya yang mengingatkan diri, jika terus memaksa ada hati yang di persiapkan untuk terluka. Shazna memejamkan mata, menikmati gejolak hati yang sedang bertarung dengan ego diri .
Suara ponsel yang bergetar, menyadarkan Shazna dari lamunan yang mengembara. Nama sang tunangan tertera di sana. Segera wanita itu mengangkat panggilan lelakinya.
'' Ya,hallo,'' sapa Shazna yang membuat seseorang di seberang sana lega luar biasa.
'' Sayang, kamu dimana ?, aku hubungi dari tadi gak diangkat dan terakhir ponsel kamu mati.'' ucap Brandon
'' Maaf aku pergi gak bilang,ada hal yang harus aku urus tadi. Aku udah di jalan kok, sebentar lagi nyampe rumah,'' Shazna berusaha menjawab setenang mungkin. Meski hatinya merasa begitu terluka,tapi ia tak berniat untuk memberi tahu sang kekasih tentang pertemuannya dengan wanita yang telah melahirkan lelaki itu.
'' Syukurlah,aku khawatir dari tadi. Ya udah kita ketemu di rumah. Aku juga sedang jalan ke rumah kamu. Love you sayangku,'' ucap Brandon yang tak mendapat balasan dari Shazna sampai panggilan itu berakhir. Wanita itu terlihat menghela nafas. Tatapannya tertuju pada jalanan yang cukup ramai sore itu.
Sampai di depan rumah Shazna, wanita itu segera turun dari mobil. Matanya langsung tertuju pada lelaki yang sudah berdiri dengan bersandar pada kap mobil. Brandon yang melihat kekasihnya turun dari mobil beranjak dari tempatnya berdiri. Menghampiri sang kekasih dengan sebuah senyum yang terkembang lebar di bibir lelaki itu.
'' Maaf,'' lirih Brandon di telinga Shazna.
'' Untuk apa ?,'' tanya Shazna yang tak mengerti , mengapa justru lelaki itu yang tiba-tiba minta maaf. Padahal dirinya lah yang telah membuat ulah.
'' Untuk hari ini,gak seharusnya kamu menghadapi nya sendiri sayang. Maaf aku yang tak ada di samping kamu saat kamu butuh,'' ucap Brandon dengan suara bergetar. Lelaki itu terasa semakin mengeratkan pelukannya. Dengan sesekali mencium rambut sang kekasih.
'' Kamu tahu apa yang terjadi hari ini ?,'' tanya Shazna yang masih berada dalam pelukan lelaki jangkung itu. Brandon melepaskan pelukannya. Menatap wajah cantik di sang wanita. Ia menangkup wajah Shazna dengan kedua telapak tangannya. Brandon mengangguk dengan tatapan keduanya saling mengunci.
__ADS_1
''Aku bingung harus mencari kamu dimana,dan aku ke ruang keamanan melihat cctv sesaat sebelum kamu pergi keluar. Dan aku melihat mama datang dan masuk ke ruangan kamu. Dia pasti mengatakan hal uang membuat kamu terluka. Maafkan aku yang tidak bisa melindungi kamu,'' tutur Brandon. Tatapan keduanya masih saling tertaut. Hingga tanpa sadar, sebuah kristal bening mengalir di pipi Shazna.
Brandon yang melihat itu, merasa begitu bersalah. Ia kembali memeluk tubuh sang kekasih dengan bibir yang berkali-kali melafazkan kata maaf. Wanitanya justru semakin tergugu dalam pelukannya. Shazna hanya ingin menangis, melepaskan himpitan rada di dadanya.
Beberapa saat mereka berdiri sambil berpelukan. Sampai Shazna mulai bisa menenangkan diri. Wanita itu melepaskan diri pelukan sang kekasih. Menatap wajah lelaki berkacamata di hadapannya dengan tatapan mata menyiratkan kesedihan. Brandon menghapus air nata di pipi kekasihnya.
'' Maaf,'' lirih Brandon serupa bisikan pada Shazna. Kemudian menarik wajah Shazna dan di kecupnya kelopak mata wanita itu.
Shazna menggelengkan kepala dengan tatapan mata tak lepas dari wajah lelaki nya.
'' Jangan minta maaf, bukan salah kamu,'' ucap Shazna pada Brandon.
'' Aku yang sudah membawa kamu pada situasi saat ini. Maafkan aku yang justru membawa masalah di hidup kamu,'' lagi-lagi lelaki itu menarik tubuh kekasihnya dalam hangat dekapannya.
'' Tapi aku tidak bisa melepas mu,aku mencintaimu kamu Shazna Rivania, tetap di sampingku. Tolong percayai aku untuk menyelesaikan semuanya,'' sambung Brandon. Tak ada kata yang keluar dari bibir Shazna wanitanya,ia hanya mengangguk dalam pelukan sang kekasih.
Brandon menengadah menatap langit yang cukup cerah sore itu. Tangan lelaki itu tak henti mengusap lembut kepala sang kekasih. Hatinya teriris melihat sang kekasih kembali menangis. Lelaki itu tampaknya sedang menghalau air matanya yang hendak turun dengan sesekali menatap langit.
Di ujung jalan rumah Shazna, sebuah mobil terparkir dengan penumpang yang memegang erat kemudi. Menatap sepasang kekasih yang sedang berpelukan dengan tatapan terluka. Rahang lelaki itu mengetat, menandakan ia sedang menahan amarah.
Fattan yang mendapati Shazna tak ada lagi di rumahnya, mengejar wanita itu sampai di dekat rumahnya. Ia harus menghentikan laju mobilnya saat ia melihat pemandangan menyakitkan itu.
__ADS_1
'' Kenapa harus sesakit ini,'' lirih Fattan yang semakin mengeratkan genggamannya pada kemudi. Dan tanpa permisi, butiran air itu mengalir perlahan dari pelupuk matanya.